Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
145. Bau terasi


__ADS_3

Mata Steven sontak terbelalak saat melihat papan nama sebuah ruangan yang bertuliskan


...'Ahli Psikiater Dokter Ikbal Erlangga'...


Kemudian, dia pun dipaksa masuk oleh Bejo dan Jarwo. Di dalam sana ada seorang Dokter tampan yang mungkin usianya 30 tahun duduk di kursi, dia tersenyum manis saat melihat kedatangan Steven dan Angga.


"Selamat sore Pak Angga dan Pak Steven," sapanya dengan ramah.


"Selamat sore, Dok. Maaf lama, tadi macet," ucap Angga seraya duduk di kursi kosong yang terhalang meja oleh dokter tampan itu.


Steven didudukkan secara paksa lagi oleh Bejo dan Jarwo, sebab dia tampak enggan.


"Papa ini apa-apaan, sih? Papa pikir aku gila?! Sampai dibawa ke psikiater?!" teriak Steven marah. Rahangnya terlihat mengeras, matanya merah. "Aku itu ... eeemmmpptt!" Bibir Steven langsung dibungkam oleh tangan Angga, dia malas untuk mendengar ocehannya.


"Kalau kamu nggak gila ngapain marah? Santai saja kenapa, sih? Kenapa harus pakai urat segala?!" sentak Angga. Dia jauh lebih marah. Bahkan matanya sudah melototi anaknya. Dilihat jakun Steven naik turun, dia menelan ludah.


Bukan lantaran takut, tetapi menahan mual mencium aroma telapak tangan Angga yang tidak sedap.


"Kita hanya mau konsultasi. Papa lihat otakmu agak geser, Stev. Papa hanya takut kamu gila beneran," tambahnya. Kemudian melepaskan bibir Steven.


"Tangan Papa bau terasi! Abis ngapain, sih?" Steven mengusap wajahnya berkali-kali. Demi menghilangkan bau. Dia juga sampai menarik beberapa lembar tissue di atas meja dan mengusap wajahnya.


"Enak saja bau terasi. Papa nggak habis ngapain-ngapin kok." Angga mencium telapak tangannya. Sontak matanya membulat. Benar kata Steven, telapak tangan kanannya itu bau terasi. Akan tetapi dia bingung mengapa bisa bau terasi. Seingat Angga dia tak memegang hal yang aneh-aneh.


"Benar 'kan bau terasi?"


"Bukan tangan Papa yang bau terasi. Tapi mulutmu, Stev!" tukas Angga.


"Enak saja. Mana ada mulutku bau terasi?! Mulutku wangi ya, Pa. Kalau nggak wangi Citra nggak akan ketagihan ciuman sama aku!" protes Steven tak terima.


"Nggak kebalik? Kamu kali yang ketagihan. Dedek Gemes ciuman sama kamu karena kamunya saja yang suka nyosor, Stev. Dia melakukannya juga terpaksa."


"Enak saja terpaksa. Mana ada?" Steven menatap sengit Angga. "Aku bukan pria yang suka memaksa! Memangnya Papa?!"


"Kok jadi kamu ngatain Papa?! Papa itu pria baik dan suami idaman, Stev! Kamu kurang—“


"Eekhemm!" Dokter Ikbal berdehem. Sengaja dia melakukan hal itu demi merelai perdebatan. "Maaf ... kalau begini berarti dua-duanya ikut konseling?"


Angga menggeleng cepat. "Nggaklah, Dok. Cukup Steven saja. Kan dia yang gila. Kalau aku nggak!" bantahnya seraya menatap sinis ke arah Steven.


Steven berdecak sebal. "Papa sembarangan banget, ya, kalau ngomong. Aku baru denger sih ada seorang ayah mendoakan anaknya gila."

__ADS_1


"Papa nggak do'ain kamu, Stev. Papa bicara soal fakta. Tanya Jarwo kalau nggak percaya." Angga menarik turunkan dagunya ke arah Jarwo.


"Sebaiknya Pak Angga dan yang lain tunggu diluar. Tinggalkan saya dan Pak Steven saja," saran Dokter Ikbal. Mengusir mereka secara halus.


"Baik, Dok," ucap Angga seraya berdiri. "Tapi mohon dimaklumi kalau Steven suka teriak-teriak. Mamanya waktu ngidam pengen makan toa masjid."


Setelah itu, Angga, Jarwo, Bejo dan perempuan berambut pendek itu keluar dari sana. Meninggalkan Steven dan dokter itu.


"Pak, saya dan Jarwo ingin keluar dulu sebentar, ya? Mau ngopi," ucap Bejo meminta izin. Angga kini baru saja duduk di kursi panjang di dekat pintu ruangan Dokter Ikbal.


"Kamu saja yang beli sendiri. Beli kopinya tiga sama untukku juga. Jarwo biar di sini dan kita ngopi di sini. Takutnya Steven tiba-tiba kabur."


"Oh, ya sudah kalau begitu. Bapak mau kopi apa?"


"Luwak."


"Aku kopi susu," sahut Jarwo.


"Uangnya, Pak." Bejo menadahkan tangannya ke arah Angga.


"Pakai uangmu dulu, aku nggak pegang uang cash."


"Kacang."


"Aku nasi Padang," jawab Jarwo.


"Nasi Padang bukan cemilan!" protes Angga.


"Iya juga, ya, Pak. Tapi aslinya saya laper." Jarwo menyentuh perutnya yang tiba-tiba berbunyi. Kemudian tak lama perut Angga juga dan disusul Bejo.


"Ah ya sudah deh. Kita makan nasi Padang dulu sambil nunggu Steven. Ngopinya nggak jadi."


"Katanya takut Pak Steven kabur kalau ditinggal?" tanya Jarwo.


"Ya makannya di sini. Sudah sana pergi, Jo! Pakai uangmu dulu!" titahnya pada Bejo. Pria itu pun mengangguk patuh, kemudian berlalu pergi dari sana.


"Memang boleh kita nunggu sambil makan, Pak? Kayaknya nggak enak sama yang lain." Jarwo menatap sekitar. Banyak beberapa dokter, perawat, suster serta beberapa orang yang hendak berobat. Yang menunggu antrian Konseling Psikiater juga ada tiga orang. Duduk agak jauh dari mereka.


"Boleh, siapa sih yang bilang nggak boleh," jawab Angga dengan yakin. "Oh ya, menurut pandanganmu ... Steven itu gila atau nggak, sih, Wo?" Meskipun Angga yakin Steven gila, tetapi dia ingin tahu pendapat dari orang lain.


"Waktu itu saya sempat merasa Pak Steven seperti gila. Tapi sekarang kayaknya sih nggak, Pak."

__ADS_1


"Nggaknya gimana? Dan kapan kamu merasa Steven gila?"


"Pas Pak Steven hampir tertabrak mobil waktu itu. Saya melihat sendiri kalau dia seperti berhalusinasi. Seolah-olah bicara dengan Nona Citra. Tapi setelah dipikir-pikir ... itu mungkin terjadi karena Pak Steven rindu sama Nona Citra. Jadi mungkin terbawa suasana."


"Tapi yang dia lakukan bukannya sudah mendekati gila, ya? Memborgol tangannya dan tangan Dedek Gemes. Bisa-bisa nanti Dedek Gemes dipasung supaya nggak bisa pergi darinya, Wo."


"Mungkin karena takut kehilangan, bisa juga, Pak. Ada trauma. Ya semoga saja sih Pak Steven—" Ucapan Jarwo terhenti lantaran pintu ruangan itu terbuka dengan lebar. Steven dan Dokter Ikbal keluar dari sana. Wajah pria tampan itu tampak biasa saja tanpa ekspresi, akan tetapi wajah Dokter Ikbal begitu ceria.


"Sudah, Dok? Kok cepat? Padahal aku belum makan nasi Padang." Angga langsung berdiri berikut dengan Jarwo.


"Sudah. Tapi saya ingin bicara dengan Bapak. Silahkan masuk, Pak," ajak Dokter Ikbal. Angga mengangguk, kemudian masuk ke dalam sana.


Kursi bekas bokong Angga diduduki oleh Steven. Tak lama kemudian Bejo datang membawa nasi bungkus dan air mineral.


"Lho, kok Pak Angga berubah? Kelihatan lebih muda," katanya dengan langkah mendekat.


"Aku Steven. Mana nasi Padang Papa?! Berikan padaku." Steven sudah merebut duluan tanpa Bejo memberikannya. Kemudian, dia pun segera membuka bungkusnya lalu makan dengan sendok yang kebetulan ada di dalam plastik.


***


Di rumah Angga.


Tok ... tok ... tok. Sindi mengetuk pintu kamar Steven. Salah satu tangannya menjinjing paperbag.


Ceklek~


Pintu itu pun dibuka oleh Citra.


"Lho, kok kamu belum mandi? Ini 'kan sudah sore, Cit." Sindi menatap Citra dari ujung kaki ke ujung kepala. Pakaiannya sama seperti saat pulang dari kantor Steven.


"Mandinya nunggu Om Ganteng, Ma. Dia bilang mau mandi bareng."


"Mandi sekarang saja. Mama mau ngajak kamu ke restorannya Kak Nissa. Kamu pasti belum pernah ke sana. Banyak menu yang enak-enak lho. Dan resepnya dari Mama tentunya, kamu harus coba," ujarnya dengan bangga.


"Sebentar, aku telepon Om Ganteng dulu ya, Ma." Citra masuk ke dalam kamar lalu menuju nakas, kemudian menelepon Steven. Dia sudah dibelikan ponsel baru.


Sindi juga ikut masuk ke dalam lalu meletakkan apa yang dibawanya di atas meja.


"Halo, Cit. Kamu kangen sama aku, ya? Sebentar lagi aku pulang kok. Tunggu, ya?" ucap Steven saat panggilan itu baru saja di angkat. Suara Steven terdengar begitu ceria.


...Kepedean amat sih, Om 😆...

__ADS_1


__ADS_2