Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
142. Ceritanya panjang


__ADS_3

"Kalian nggak becus, sana pergi!" umpat Steven mengusir. Tangannya mengibas.


"Berikan kami tipsnya dulu, Pak." Salah satu sekuriti menadahkan salah satu tangannya ke arah Steven.


"Tips apaan? Kuncinya saja nggak ketemu!" berang Steven marah.


"Tapi setidaknya kami sudah datang dan berusaha mencari, Pak."


Steven berdecih sebal. "Dasar mata duitan!" Kemudian menarik laci dan mengambil dompet kulitnya. Dia pun mengambil uang 50 ribuan lalu memberikan pada sekuriti itu. "Bagi dua dan nggak usah protes!"


Padahal mereka memang ingin protes, sayangnya tidak jadi lantaran Steven sudah melarangnya. Juga dengan sebuah pelototan tajam.


Keduanya pun lantas berlalu pergi dari sana.


"Kita ke kamar mandi, Cit," ucap Steven seraya berdiri.


"Ke kamar mandi mau apa? Cari kunci?" tanya Citra bingung. Akan tetapi dia mengikuti langkah kaki suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi.


Mereka berdua di depan wastafel, lalu Steven mengambil sikat gigi baru dan menuangkan pasta gigi di atasnya. Setelah itu memberikan pada Citra.


"Ayok gosok gigi dulu, habis itu cuci muka. Kita akan pergi ke kantor!" titah Steven.


"Ke kantor? Kantor apa?" Kening Citra mengerenyit. Dia menatap Steven yang saat ini tengah menggosok gigi dengan cepat.


"Kantorku. Aku ada meeting penting, Cit." Setelah selesai menggosok gigi. Steven menggosokkan gigi Citra dengan sikat gigi yang sejak tadi gadis itu pegang. Merasa tidak sabar.


"Maksudnya aku ikut ke kantor, Om?" tanyanya dengan mulut berbusa.


"Iya."


"Aku nggak mau, Om!" Citra menggeleng cepat. "Aku malu."


"Malunya kenapa? Kamu malu jadi istriku?"


"Bukan malu jadi istri Om, tapi ngapain aku ikut-ikutan ke kantor? Kan aku nggak ada kepentingan. Meeting akan banyak orang. Aku belum mandi dan coba lihat penampilanku?" Citra menjatuhkan pandangannya ke tubuhnya sendiri.


Pakaian yang dipakai dia dan Steven adalah pakaian yang sama saat tadi siang. Keduanya tidak berganti pakaian.


Tidak mungkin Citra ke kantor dengan memakai tanktop dan celana pendek. Rasanya malu dan tidak pantas.

__ADS_1


"Kita nggak perlu mandi. Kan ini sudah gosok gigi dan cuci muka. Orang lain nggak akan tahu kita belum mandi."


Setelah selesai dengan urusan kamar mandi, mereka pun keluar sama-sama. Steven membuka lemari, kemudian mencari-cari sesuatu pada pakaian Sindi.


"Sekarang Om cari apa? Itu pakaiannya Mama Sindi dan aku nggak bisa ganti baju. Kan kita diborgol," keluh Citra.


"Kamu nggak perlu ganti baju. Pakai ini saja."


Steven mengalungkan sebuah syal berwarna merah dengan motif bunga-bunga di leher Citra, demi menutupi dadanya supaya tidak terlalu terbuka. Lalu memakaikannya rok tutu berwarna merah, supaya paha mulusnya tidak terekspos jelas.


*


"Om ... memangnya nggak ada jalan lain selain aku ikut ke kantor? Memangnya nggak ada alat untuk melepaskan borgol ini?" Rasanya Citra ingin menangis karena keadaan. Tangannya juga terasa sakit sekali, terus ditarik-tarik Steven.


Sekarang, keduanya telah keluar dari hotel menuju parkiran. Steven menoleh ke kanan dan kiri mencari-cari Jarwo, sebab dia tak menemukan mobil pria itu.


"Om ... tanganku sakit. Aku mau borgol ini dilepas!" Citra meringis, air matanya meleleh membasahi pipi. Dia merasa kesal sebab pertanyaannya tadi tidak dijawab oleh Steven. Pria itu sibuk mencari Jarwo.


"Nanti aku akan suruh satpam di kantorku untuk membantu melepaskan borgol ini. Kamu jangan nangis dan sedih gitu." Steven mengusap air mata Citra. Mengecup bibirnya dan mengelus rambutnya. "Kamu ikut dulu ke kantor, ya? Aku janji akan mengobati tanganmu setelah borgolnya terlepas."


"Nona Cantik! Om Tua!" seru seekor burung yang baru saja terbang menghampiri mereka. Dia adalah Kevin. Burung Kakatua itu lantas hinggap di kepala Steven, namun dengan cepat Steven menepisnya.


"Kebiasaan! Kau selalu kurang a—"


"Cerita panjang, di mana Pak Jarwo? Aku harus ke kantor sekarang, Jo! Ada meeting!" sahut Steven.


"Jarwo pergi sama Pak Angga dan Bu Sindi, nganterin mereka pulang."


"Ya sudah, kau saja. Antarkan aku ke kantor dan jangan banyak bertanya!" titah Steven.


"Ayok." Bejo langsung berlari menuju mobilnya, lalu membukakan pintu untuk Steven dan Citra masuk. Kevin juga ikut masuk.


Mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi, Bejo yang mengemudi.


Krukuk-krukuk. Terdengar suara cacing di perut Citra.


"Om ... aku laper," ucap Citra seraya menyentuh perutnya.


Steven yang tengah menatap ponsel langsung menoleh. Di sempat membaca beberapa chat masuk dari Sofyan, pria itu terus bertanya dia ada di mana.

__ADS_1


"Beli roti saja, ya?" tawar Steven. "Bejo, nanti mampir ke mini market!" titahnya pada Bejo yang mana dianggukan olehnya.


"Aku nggak mau roti." Citra menggeleng cepat. "Aku mau bubur, Om. Bubur yang waktu itu Om pesan."


"Kapan aku pesan bubur?"


"Pas kita baru tinggal bareng di apartemen."


"Tapi itu nggak searah dari kantorku, Cit. Sementara makan roti saja dulu buat ganjel perut, ya? Habis meeting kita beli dan makan bareng," tawar Steven dengan lembut. Citra hanya mengangguk. Sebenarnya dia kepengennya sekarang, tetapi untuk memaksa rasanya tak mungkin. Dilihat Steven seperti tengah cemas. Mungkin dia memikirkan tentang meetingnya.


*


*


Ceklek~


Pintu ruang rapat itu terbuka saat Steven baru saja mengetuk pintu. Dan yang membukanya adalah Dika, asistennya.


Di dalam sana bukan hanya Sofyan dan Guntur saja, tetapi ada tiga orang lagi. Mereka rekan bisnis Steven.


"Maaf terlambat, banyak masalah yang musti diselesaikan dan ini istriku, namanya Citra," ujar Steven mengenalkan gadis yang berada di sampingnya.


Mereka berenam dengan Dika tampak bingung. Selain berpenampilan santai, Steven juga datang dengan istrinya.


Sofyan mengangkat bokongnya, kemudian melangkah menghampiri Steven. Agak mendekat ke telinga kanan seraya berbisik.


"Kamu gila ya, Stev? Sudah datang telat tapi pakai baju bebas? Ditambah kenapa harus bawa istrimu? Kamu masih kurang liburannya?" Nada suara Sofyan terdengar menekan. Jujur, dia merasa kesal pada Steven. Juga karena tak enak pada beberapa orang yang lain, yang telah menunggu adiknya sejak setengah jam yang lalu. Padahal pertemuan ini Steven sendiri yang membuatnya.


"Maaf, Kak. Ini semua gara-gara borgol." Steven mengangkat lengannya. Memberitahu Sofyan. Pria itu tampak terkejut dengan kedua mata yang membulat.


"Kok bisa kalian diborgol? Ditangkap polisi?"


"Ceritanya panjang. Kita mulai meetingnya sekarang, supaya nggak memakan waktu." Steven menatap wajah orang-orang yang tengah duduk di kursi rapat itu. Wajah mereka terlihat bete, dia jadi tidak enak. Citra sendiri sejak tadi diam saja sambil tersenyum. Jujur, dia merasa canggung dan malu. "Nggak apa-apa Citra ikut. Itung-itung mengenalkan kepada beberapa orang kalau aku sudah menikah, Kak," tambahnya memberikan alasan.


"Ya sudah, terserah kamu. Eh, tunggu dulu!" Sofyan menahan lengan Steven saat pria itu baru saja melangkah masuk.


"Ada apa lagi?"


"Itu di rambutmu ada putih-putih. Apa itu, Stev?" Sofyan menunjuk rambut kepala adiknya, dia juga mendekat seraya mengendusnya. Mata Sofyan sontak membulat kala mencium aroma tidak sedap. Dan cepat-cepat menutup hidung sambil menjauhkan tubuhnya dari Steven. "Jorok banget kamu, Stev!"

__ADS_1


"Jorok kenapa, Kak?" tanya Steven dengan mata mendelik.


...Ga karuan banget ya, Om. Gara-gara borgol 😆 ini sih menyiksa diri namanya...


__ADS_2