Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
389. Burung jantan


__ADS_3

"Pak Steven tidak kenapa-kenapa, Nona," jawab Dokter itu memberitahu.


"Tidak kenapa-kenapa?" Sindi dan Citra berucap bersama. Dan keduanya tampak bingung. "Tidak kenapa-kenapa kok bisa pingsan, Dok? Mana mimisan juga?" Citra kembali bertanya.


"Dia hanya mengalami keterkejutan. Seperti syok," jawab Dokter, kemudian menambahkan. "Kalau boleh saya tau ... sebelumnya apa yang terjadi, sebelum Pak Steven seperti itu, Nona?"


"Awalnya aku menawari Aa supaya nyu—"


"Cit! Biar Mama saja yang menjelaskan," potong Sindi cepat. Sebab dia tahu, pasti menantunya itu akan jujur. Tapi sepertinya, pembahasan ini tidak terlalu pantas jika diucapkan secara terang-terangan. Dan walau bagaimanapun Dokter di depannya itu adalah seorang pria. "Jadi Steven sedang mengalami amnesia, Dok. Terus tadi ... istrinya hanya mengajak Steven bermesraan, layaknya dulu ... sebelum dia mengalami amnesia. Tapi Steven justru pingsan dan mimisan. Itulah yang buat menantuku bingung ... apa penyebabnya." Untuk sebentar Sindi melirik ke arah Citra, dan perempuan itu langsung menganggukkan kepalanya.


"Oh begitu ternyata ...." Dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berarti benar apa yang saya ucapkan tadi, kalau Pak Steven hanya mengalami syok sampai hilang kesadaran. Mungkin ... apa yang dilakukan Nona Citra terhadap Pak Steven terasa seperti hal baru. Mengingat Pak Steven 'kan amnesia."


"Tapi setauku ... Aa selama ini nggak pernah mimisan, Dok. Dan masa, sih, hanya karena syok orang bisa mimisan?"


"Benar, Dok." Sindi menyahuti. "Steven dari kecil pun nggak pernah mimisan."


"Apa sebelumnya Pak Steven ada penyakit? Atau sebelum mengalami amnesia?"


"Dulu Steven sempat mati suri, karena awalnya dia gagar otak gara-gara jatuh dipohon mangga, Dok." Yang menjawab Sindi.


"Mungkin itu bisa jadi penyebabnya, Bu," sahut Dokter. "Seseorang yang mengalami mimisan memang identik karena penyakit berat, tapi ada pula hal lain seperti mengalami demam, sakit kepala, terkena benda tajam atau pengaruh udara yang panas. Tapi di sini Ibu dan Nona nggak perlu khawatir ... karena kondisi Pak Steven sekarang sudah baik-baik saja begitu pun mimisannya yang sudah berhenti."


"Apa perlu, Aa Steven dirujuk ke rumah sakit, Dok?" tanya Citra.


"Kalau misalkan dalam waktu sejam atau dua jamman hidungnya kembali mengeluarkan darah ... Nona boleh membawanya ke rumah sakit. Apalagi Pak Steven mengeluh sakit kepala. Tapi kalau tidak, tidak perlu, Nona."

__ADS_1


"Baik, terima kasih ya, Dok."


"Sama-sama, Nona, Bu ...." Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu saya permisi."


"Mari saya antar sampai pintu, Dok," ajak Sindi, lalu menoleh ke arah Citra. "Cit ... sekarang kamu masuk ke kamar lagi, tapi langsung istirahat saja, ya? Nggak perlu ngapain-ngapain sama Steven."


"Iya, Ma." Citra mengangguk patuh.


Setelah melihat Sindi melangkah pergi, dia pun segera masuk kamar dan menutup pintu. Dilihat sekarang Steven masih memejamkan mata, hanya bedanya sudah tak ada darah di hidungnya.


"Apa Aa masih pingsan? Atau sekarang dia tidur?"


Kedua kakinya melangkah menghampiri Steven. Niatnya memang bertanya padanya, hanya saja tidak mendapatkan jawaban.


"Semoga saja apa yang dikatakan Dokter itu benar ... Aa hanya syok. Nggak ada penyakit lain." Citra membuka baju labasannya, kemudian duduk di atas kasur dan mengecup kening Steven. "Tapi apa bisa sampai berlebihan gitu, ya? Masa cuma dikasih susu gantung Aa udah syok? Bukannya kebanyakan pria suka sama buah dada wanita? Ya meskipun Aa amnesia ... tapi dia 'kan tetap saja laki-laki normal." Citra masih bertanya-tanya sebetulnya. Tapi karena tak ada yang menjawabnya, alhasil dia hanya berbaring disamping Steven sambil memerhatikan wajahnya.


***


Keesokan harinya.


Tuk! Tuk! Tuk!


Steven perlahan mengerjapkan mata, ketika merasakan pipi kanannya seperti dipatuk berulang-ulang oleh sesuatu. Awalnya dia pikir—yang melakukan hal itu adalah Citra. Tapi saat membuka mata—justru itu adalah kelakuan burung Kakatua yang tidak lain adalah Kevin.


"Apa-apaan kau!" Tangan kanan Steven langsung mengibas kasar burung itu, karena merasa tak terima dengan apa yang dilakukannya.

__ADS_1


Namun, sayang kibasan yang dia lakukannya kurang tepat sasaran. Karena tidak kena dan burung itu justru terbang.


"Selamat pagi Kakak Steven!" sapa Kevin.


Steven menarik tubuhnya untuk duduk, kemudian menatap Kevin dengan raut bingung. Aneh rasanya, mendengar seekor burung itu dapat berbicara.


"Kenapa Kakak baru bangun? Dasar pemalas! Lihat si kembar anakmu! Mereka bahkan sedang berjemur dengan Nona Cantik! Tapi kau justru baru bangun!"


"Apa kau bisa bicara?" tanya Steven yang sudah berdiri.


"Aku memang bisa bicara. Pertanyaan Kakak ini sungguh konyol!" Kevin melengos, kemudian terbang pergi keluar dari jendela kamar Steven yang kebetulan memang terbuka.


Pria itu menuju jendela, ingin melihat Kevin terbang ke mana. Dan rupanya burung jantan itu menghampiri seorang perempuan yang tengah berjemur dengan kedua bayinya pada halaman rumah.


Si kembar El diletakkan pada troli bayi dengan kedua mata yang memakai penutup mata.


"Apa yang berjemur itu Citra dan si Kembar?" gumam Steven.


Dengan genitnya, burung itu terlihat mengelus-elus pipi kanan Citra dengan jambul kuningnya.


Dan perempuan itu tampak tertawa dengan apa yang dilakukan Kevin, sama sekali tak terlihat seperti risih. Tapi justru, Steven lah yang merasa risih di sini. Dadanya pun mendadak merasakan panas entah mengapa.


"Burung punya siapa sih itu? Kok genit banget. Fiks sih ... pasti itu burung jantan. Tapi kok Citra diem aja. Apa nggak takut dia kena flu burung? Kan kasihan sama si Kembar nanti, kalau tertular."


Steven pun langsung keluar dari kamarnya, berniat ingin menghampiri Citra kemudian mengusir burung itu pergi. Sebal juga rasanya.

__ADS_1


...Belum berubah, ya, Om, ternyata masih cembukur sama Kevin 🤣...


__ADS_2