
"Masa, sih?" tanya Atta tak percaya.
"Memangnya umur manusia bisa diukur dari itu ya, Jun?" tanya Baim heran.
"Nggak sih, cuma kalau nonton film yang jahat itu kuat biasanya. Jadi susah mati," jelas Juna.
"Kalau begitu, setelah kita besar kita jadi orang jahat saja, Jun. Biar panjang umur," saran Atta.
"Bener tuh," timpal Baim.
Juna menggeleng cepat. "Jangan lah. Kita harus jadi orang baik biar masuk surga. Memangnya kalian mau, masuk neraka?" Juna menatap kedua temannya dan mereka menggeleng cepat. "Kata Opaku ... kalau anaknya jahat ... itu bisa narik orang tuanya ke neraka, meskipun orang tuanya baik. Tapi sebaliknya, kalau anaknya baik ... meskipun orang tuanya jahat, bisa narik mereka ke surga."
"Wah, hebat juga, ya." Atta tampak antusias. "Tapi Opamu tahu dari mana? Kan dia belum pernah mati, Jun?"
"Nggak tahu." Juna menggeleng. "Mungkin dari buku atau internet, dia baca."
"Berarti nanti kamu bisa narik mantan Papimu dong, ya, kalau dia masuk neraka," kata Baim.
"Semoga saja—"
"Juna! Atta! Baim!" Bu Kepsek dari jarak yang cukup kejauh menyeru, tangannya melambai seakan meminta mereka untuk menghampiri.
Ketiganya pun lantas berlari mendekat, kemudian langkah mereka berhenti tepat disaat ada seorang wanita muda berumur 21 tahun yang baru saja datang.
Cantik, berambut pirang dengan panjang sebahu. Kulitnya putih tetapi tubuhnya agak berisi. Dia bernama Aulia, istri Abi yang berarti ibu tiri Juna.
Juna tak terlalu mengenal wanita itu, mungkin baru kali ini dia bisa melihat dengan jelas wajahnya. Sebab selama ini melihat hanya sekedar tak sengaja.
Saat menikah lagi Abi sama sekali tak memberitahu, Juna malah tahunya dari Atta dan Baim. Karena orang tuanya diundang dalam acara pernikahan itu.
"Juna Sayang, apa kabar kamu, Nak," ucap Aulia seraya berjongkok untuk memeluk Juna. Tetapi bocah itu langsung mendorongnya.
"Nggak usah sok akrab deh! Lebay tau!" omel Juna marah.
Mengetahui dia lah wanita baru dihidup Abi, Juna langsung menaruh sejuta kebencian kepadanya. Dia berasumsi jika perpisahan di antara orang tuanya dikarenakan Aulia. Dan memang semenjak menikah lagi serta sibuk kerja, Abi sama sekali tak peduli padanya.
Aulia mendengkus kesal. Dia sebal dengan respon dari bocah itu. 'Menyebalkan sekali dia. Kalau bukan karena Mas Abi, nggak sudi aku menyapanya.'
"Ada apa Ibu memanggil Juna dan teman-teman? Kan Juna sama mereka lagi nungguin Papi Tian diperiksa?" tanya Juna sambil menatap wajah Bu Kepsek.
__ADS_1
"Papi Abi kondisinya kritis, Jun. Dia kehilangan banyak oksigen," jelas Bu Kepsek. "Ibu meminta kalian ke sini karena Mamimu ingin tahu penyebab dua Papimu berantem." Mami yang dimaksud Bu Kepsek saat ini adalah Aulia. Dia juga tahu jika wanita itu istrinya Abi.
"Dia bukan Mamiku, Mamiku hanya Nissa!" tegas Juna tak terima. Kemudian menoleh ke arah Baim. "Tadi kamu jadi merekam duel mereka nggak, Im?"
"Jadi." Baim mengangguk.
"Tunjukkan kepada Bu Kepsek dan Tante itu. Betapa hebatnya Papi Tian mengalahkan Papi Abi," titah Juna.
Baim merogoh ponselnya di dalam kantong celana. Kemudian memutar rekaman video itu dan mereka pun langsung menontonnya secara bersamaan.
Disaat itu juga, Nissa dan Angga datang. Sebelumnya, Nissa menelepon sopir sebab sempat menelepon Tian nomornya tidak aktif. Dan Joni langsung menceritakan segalanya.
Jadi Nissa datang ke rumah sakit bersama Angga, supaya pria itu menjadi penengah karena takut kalau Tian dan Abi berantem lagi.
"Mami! Opa!" seru Juna saat melihat kehadiran dua orang yang dia sayangi. Kemudian memeluk erat tubuh Nissa.
"Kamu nggak usah menyalahkan siapa-siapa, karena sudah jelas suamimu yang nggak tahu diri itu yang mulai duluan!" ketus Angga berbicara sembari menatap sinis wajah Aulia. Dia juga ikut melihat rekaman video dari ponsel Baim.
"Tapi kenapa kamu bisa merekam mereka berantem? Kenapa nggak dipisahkan?" tanya Aulia menatap Baim. Kemudian beralih pada Atta yang sejak tadi diam saja. "Kamu juga, kenapa justru bersorak? Kok girang melihat mereka berantem?" Wajah Aulia tampak merah. Dia sepertinya emosi.
"Aku merekamnya karena iseng aja, supaya menjadi bukti siapa yang menang," jawab Baim.
"Tapi seharusnya kalian nggak boleh melakukan hal itu." Sekarang Angga yang membuka suara. Dia akan mencoba menegur ketiga bocah itu. "Orang yang lagi berantem itu harus dipisah, bukan malah bersorak memberikan semangat untuk menambah pukulan."
"Tapi orang yang ikut tinju juga direkam, Opa," sahut Juna menatap Angga. "Ada suporternya juga. Terus salahnya di mana?"
"Kalau tinju 'kan memang lomba, bukan berantem sungguhan. Kalau kedua Papimu itu berantem sungguhan. Dan kalian malah secara nggak langsung mengadu domba dengan memberikan semangat. Ah kalian ini ada-ada saja, itu nggak boleh," tegur Angga dengan wajah serius menatap ketiga bocah laki-laki yang sama-sama menundukkan kepalanya.
"Benar apa yang dikatakan Opa Angga," kata Bu Kepsek menambahkan. "Ibu bukannya pernah mengajari soal itu, kan, kepada kalian. Lebih baik menghindari perkelahian, daripada ada yang menjadi korban. Buktinya sekarang Pak Abi yang jadi korban."
"Papi Tian juga jadi korban. Wajahnya bonyok dan sekarang diperiksa sama Dokter," sahut Juna membela Tian.
"Bener, Bu." Atta ikut menyahut. "Mereka berdua korban, kan sama-sama mukul. Kecuali kalau Om Abi saja yang dipukuli sama Om Tian. Itu baru dia jadi korban."
"Aku juga lihat kepala belakang Om Tian sampai benjol. Kayaknya gara-gara awalnya didorong sama Om Abi," tebak Baim yang ikutan membela Tian.
"Pinter ya kalian ini," balas Aulia dengan geram.
"Ada benarnya yang kalian katakan. Tapi tindakan kalian tetap salah," kata Bu Kepsek yang masih menegur. "Sekarang kalian minta maaf sama Bu Aulia dan Bu Nissa. Gara-gara kalian yang nggak berniat meminta tolong orang untuk memisahkan, jadi suami mereka masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Kami minta maaf," jawab mereka bersamaan sambil menurunkan pandangan.
"Kalian menyesal nggak melakukan hal itu?" tanya Bu Kepsek dengan nada tegas.
"Menyesal, Bu." Ketiganya mengangguk cepat.
"Nggak boleh diulangin lagi, ya?"
"Iya."
"Awas, Ibu akan mengawasi kalian mulai sekarang!" kata Bu Kepsek sedikit mengancam. Ketiga bocah itu langsung saling menggenggam tangan satu sama lain. "Setelah Pak Abi sadar dan kondisi Pak Tian membaik, saya harap mereka bisa berdamai ya, Bu." Bu Kepsek menatap Aulia dan Nissa bergantian. "Nggak perlu diperpanjang apalagi sampai lapor polisi segala."
"Iya, Bu." Hanya Nissa yang menjawab, sedangkan Aulia memilih berlalu pergi meninggalkan mereka.
Setelah itu, Bu Kepsek pamit pulang. Sedangkan Angga, Nissa dan ketiga bocah laki-laki itu melangkah menuju ruang pemeriksaan dokter umum. Untuk melihat kondisi Tian.
"Yang ... Papa ...," ucap Tian yang bertepatan sekali dia keluar. Wajah tampannya itu terlihat bengkak dan merah, tetapi sudah dibaluri salep.
"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" Nissa mendekat lalu menangkup kedua pipi Tian. Juna dan teman-temannya ikut berlari dan langsung memeluk pria itu.
"Aku baik-baik saja. Kok kamu dan Papa ada di sini?" tanya Tian kemudian mengecup pipi kiri Nissa.
"Iya. Aku dikabari sopirku kalau kamu dan mantan suamiku berantem. Bagaimana kondisimu? Boleh pulang apa nggak sama dokter?"
"Boleh kok. Tapi kondisi Pak Abi bagaimana? Maafin aku ya, Yang. Aku kebawa emosi jadinya berantem sama dia," sesal Tian dengan wajah sendu.
"Nggak apa-apa. Tapi kondisi Mas Abi katanya lagi kritis, Yang."
"Parah banget, ya? Duh bagaimana ini? Aku jadi merasa bersalah banget."
"Nggak apa-apa, Pi." Juna merelai pelukannya begitu pun dengan teman-temannya. "Papi nggak perlu khawatir, Papi Abi akan baik-baik saja. Sekarang kita pulang, yuk!" ajaknya seraya menggenggam tangan Tian. Pria itu mengangguk kemudian mereka melangkah bersama.
"Oh ya, Pi ... temen-temen Juna mau main ke rumah boleh nggak? Mau melihat kolam lele katanya," tanya Juna.
"Boleh." Tian mengangguk lalu tersenyum menatap dua teman anaknya.
"Atta nanti minta lelenya satu boleh nggak, Om? Mau dibawa pulang," tanya Atta.
"Baim juga, Om," sahut Baim. "Tapi lelenya yang gede dan lagi hamil. Eh, tapi lele itu sekali melahirkan berapa anak, Om?"
__ADS_1
...Banyak maunya ya kalian 🤣...