Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
159. Sudah diujung nih!


__ADS_3

"Racun burung? Burung siapa yang mau diracun, Pak?" tanya Dika.


"Burung siapa kek, bukan urusanmu! Besok jangan lupa pokoknya!" tegas Steven lalu mematikan sambungan telepon.


"Om kok ada di sini? Aku cari-cari dari tadi," ujar Citra yang baru saja keluar dari rumah.


Steven langsung menoleh, agak terperanjat dari duduknya. Segera dia berdiri. "Maaf, Cit. Tadi aku habis telepon Papa dan Mama." Lengan kanannya merangkul pada pinggang Citra. Lantas keduanya melangkah masuk kembali ke dalam rumah.


"Telepon kok sampai keluar segala, Om? Kan di dalam juga bisa."


"Tadi nggak ada sinyal."


Citra membalik piring yang tengkurap, lalu menyentong nasi di atasnya. Kemudian menaruhnya di depan Steven yang sudah duduk di ruang makan. Tepat di samping piring ada semangkuk sup ayam yang masih terlihat beruap.


"Ini kamu yang masak, Cit?" Steven menenggelamkan sendok, lalu mengambil kuah dan menyeruputnya. Rasanya enak dan segar. "Enak."


"Mama yang masak, tapi aku yang motongin sayurannya. Maaf kalau jelek, Om."


"Nggak apa-apa. Ini sudah bagus kok." Steven langsung melahap irisan wortel. Memang tidak terlalu bagus, tetapi jauh lebih baik dari irisan bawang waktu itu. "Tapi kamu belajar juga nggak? Cara bikinnya gitu?"


"Iya, aku belajar." Citra mengangguk cepat. "Mama juga bilang mau mengajariku sampai bisa, Om."


"Bagus. Aku tunggu hasil buatanmu." Steven tersenyum, kemudian dia pun makan.


Citra juga ikut makan. Menuangkan nasi di atas piring.


"Kok dikit nasinya? Nggak kepengen makan kamu?" Steven menatap nasi di atas piring Citra yang begitu sedikit.


"Sebenarnya aku udah makan, Om. Tapi bawaannya laper terus. Jadi aku makan lagi. Cuma dikit aja, takut gendut." Citra mengusap perutnya yang tiba-tiba terdengar suara cacing.


"Kamu takut gendut?"


Citra mengangguk. "Iya. Nanti aku jelek dan Om nggak cinta lagi sama aku."


"Nggaklah. Kamu tetap cantik walaupun gendut. Dan nanti perutmu juga akan besar." Steven ikut menyentuh perut Citra.


"Nanti aku jelek ya, Om. Kayak orang cacingan."


"Nggak, Cit. Kamu malah tambah gemesin dan unyu-unyu."


*


*

__ADS_1


Ceklek~


Pintu kamar mandi dibuka, Steven yang baru saja selesai mandi dengan memakai lilitan handuk di atas pinggang lantas melangkah keluar.


"Kok kamu nggak pakai baju tidur seksi lagi, sih?" tanya Steven seraya melepaskan handuk lalu mengeringkan tubuh basahnya. Dia menatap Citra yang duduk selonjoran di atas kasur.


"Kata Mama, kita harus kurangi bercinta, Om."


"Kok dikurangi? Orang mah ditambahin. Aku saja kurang sebenarnya, harusnya sehari tiga kali. Ini mah cuma sehari sekali dan itu pun malam hari."


"Kata Mama biar akunya nggak kecapean."


"Memangnya kamu capek kalau bercinta denganku?"


"Capek."


"Tapi enak, kan?" Steven meninggalkan handuknya di lantai, lantas naik ke atas kasur dan mendekati Citra.


"Enak. Tapi 'kan itu untuk kesehatan, Om. Untuk anak kita juga." Citra mengelus perutnya.


"Kemarin pas kamu periksa ada dokter melarang kamu untuk bercinta setiap hari?"


"Nggak. Tapi dia bilang jangan terlalu capek."


"Mama bilang kalau mau tidur nggak boleh pakai behha, Om. Nggak baik buat kesehatan." Ada banyak yang Sindi ajarkan ketika sedang bercengkrama dengan Citra. Sindi tahu, Citra masih terlalu muda dan pastinya banyak hal-hal yang tidak dia ketahui.


"Berarti kamu nggak pakai behhanya dari pas mandi sore, ya?" tebak Steven dan Citra mengangguk.


"Harusnya pakai saja, Cit. Kan nanti malam sebelum tidur aku suka nyusu. Jadi biar aku yang melepaskannya." Menarik tanktop istrinya hingga dua agar-agar yang menantang itu tampak membusung di depannya.


"Memangnya kenapa, Om?"


"Ya jangan pokoknya. Tetap harus pakai behha. Kecuali kalau sudah di kamar berdua denganku. Malah lebih bagus nggak usah pakai baju sekalian." Steven mengangkat tubuh Citra, lalu membaringkannya pelan-pelan. Celana tidur itu dia tarik hingga lepas dan kini tubuh Citra sudah menjadi polos seperti dirinya.


Steven segera naik ke atas tubuh istrinya, meremmas agar-agar kemudian menyesap salah satu pucuknya. Agar-agar yang satunya terus dia remmas dan sesekali memilin pucuknya.


"Aahh ... Om." Citra meremat rambut kepala Steven. Matanya merem melek merasakan sensasi yang diciptakan oleh suaminya itu. Rakus sekali dia, seperti kehausan.


Pergumulan itu pun kembali terjadi. Guncangan pada kasur menjadi saksi bagaimana panas dan ganasnya Steven di atas ranjang.


Pinggulnya terus bergoyang dengan lincah. Si Elang yang tersenyum lebar terus maju mundur, menikmati bagaimana jepitan dan hangatnya di dalam sana. Sampai akhirnya satu jam dia berhasil muntah-muntah.


Steven menubruk tubuh Citra, deru napasnya terdengar terengah-engah.

__ADS_1


"Kamu nakal banget, Cit. Si Elang mabok sampai muntah-muntah." Steven menciumi rambut Citra yang terasa basah karena keringat.


"Bukan aku yang nakal ...." Citra mengatur napasnya. Dadanya naik turun. "Tapi Elangnya yang ganjen, pengen goyang mulu."


"Abis enak, aku nggak bisa kayaknya kalau nggak goyang, Cit. Kamu terlalu nikmat, aku mencintaimu."


"Aku juga mencintai, Om."


***


Steven mengerjap-ngerjapkan matanya, terbangun dari tidur lelapnya akibat suara nyaring dari ponselnya di atas nakas. Lengannya terulur, lalu mengambil benda pipih itu.


Tertera nama Dika dan Steven melihat jam di layar itu yang menunjukkan pukul 3.30 pagi.


Steven berdecak kesal, lantas mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponselnya ke telinga kanan. "Ngapain sih pagi-pagi telepon? Ini 'kan belum subuh. Ganggu aja kamu, Dik!" Steven penyeru pelan. Namun penuh penekanan.


"Saya sudah ada di depan rumah Bapak, ingin mengantar racun burung pesanan Bapak."


Kening Steven mengerenyit. "Racun burung? Untuk apa?"


"Dih, kok Bapak nanya saya? Semalam Bapak yang pesan dan suruh saya antarkan pagi-pagi. Cepat temui saya, Pak. Saya mules nih mau berak."


Steven terdiam sesaat, kemudian tak lama kedua bola matanya melebar sempurna. Sepertinya tadi nyawanya belum terkumpul, jadi belum ingat. Namun sekarang dia ingat kalau hari ini akan meracun Kevin.


"Ah iya. Tunggu sebentar, jangan dititipkan pada siapa pun sebelum aku keluar."


"Iya, tapi cepat, Pak! Udah diujung nih! Saya mules."


Steven mematikan sambungan telepon, lantas beranjak dari kasur dan melangkah cepat menuju lemari.


Mengambil setelan kaos berwarna merah lalu memakainya, setelah itu dia pun berlari keluar kamar hingga keluar dari rumah.


Tepat di depan halaman rumah, ada Dika yang berdiri di depan mobilnya sendiri. Wajah pria itu tampak merah. Kedua kakinya menjepit, dia menahan rasa mules yang sudah diujung tanduk.


"Mana?" Steven menadahkan tangan. Segera Dika memberikan plastik hitam di tangannya.


"Pak, boleh saya numpang ke toilet Bapak? Saya mau berak," pinta Dika memelas.


"Enak saja, kamu pikir rumah Papaku toilet umum? Cepat pulang, berak di rumah saja." Steven mengibaskan tangannya, mengabaikan permintaan Dika. Kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


'Jahat sekali Pak Steven, semoga burung yang dia racuni nggak mati.' Dika mendumel dalam hati.


Kakinya baru saja melangkah hendak membuka pintu mobil, namun tiba-tiba sesuatu di dalam sana keluar. Mata Dika seketika melotot kala merasakan celana belakangnya basah. "B**ngke, ampasku sudah keluar!"

__ADS_1


...Tega banget si Om. Asistennya Ampe kapicit di celana 🙈...


__ADS_2