
Sebelumnya, di rumah Tian.
Fira mengerjapkan matanya secara perlahan, lalu beringsut bangun dan menatap ke arah jam weker di atas nakas. Terlihat sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
"Apa semalam aku ketiduran?" Monolognya. Benar, semalam Fira ketiduran di sofa sambil menonton televisi. Menunggu Tian pulang.
Dan pada saat pria itu pulang, Tian langsung membawanya ke kamar tanpa membangunkannya.
Fira segera beranjak dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar dengan kepala yang menoleh ke kanan dan kiri. Mencari-cari suaminya.
"Mas Tian!" panggilnya dengan suara yang agak nyaring, saat melihat suaminya ada di meja makan seorang diri dan kini pria itu berdiri sambil membenarkan jas. Sepertinya dia hendak berangkat ke restoran.
Fira berlari menuruni anak tangga, lalu menghampirinya.
"Mas, bagaimana semalam? Apa berjalan sukses? Kamu sudah minta mobil 'kan sama Mbak Nissa?" tanya Fira yang langsung pada inti. Dilihat Tian menghela napas.
"Harusnya, ya, kalau pagi-pagi itu istri menyiapkan sarapan. Ini mah udah bangunnya aku duluan, eh pas bangun udah nanyain uang aja."
Lelah. Kata itu yang terukir di hati Tian sekarang. Fira memang jarang sekali masak di rumah, bahkan sering bangun siang. Tidak masalah, asalkan tidak ngoceh. Tapi terkadang, setiap pagi wanita itu selalu membuatnya naik darah. Mengajaknya berdebat.
"Ya aku 'kan nanyain masalah semalam. Kan Mas habis malam mingguan."
"Si Nissa menolakku. Rencanaku gagal."
Tian sudah melangkah, hendak pergi. Namun lengan kanannya dicekal oleh Fira.
"Menolak? Masa, sih?" Fira tampak tak percaya. "Mas beneran nembak dia nggak semalam?"
"Iya, tapi dia nolak." Sebenarnya belum, namun jawaban Nissa yang mengatakan tidak ingin menikah membuat Tian yakin—kalau pun dia nembak, pasti ditolak.
"Kok bisa ditolak? Mas 'kan teman SMA dia dan kalian cukup dekat, iya, kan?"
__ADS_1
"Nissa nggak suka sama aku. Sekarang sudahlah, Fir, nggak usah kamu pikirkan bagaimana cara menguras harta Nissa. Dia itu janda dan punya anak, kasihan. Lagian, aku ini kerja, aku masih bisa menafkahimu dengan uangku sendiri. Kamu juga nggak kelaparan selama ini, kan?" Tian mengusap rambut kepala Fira, mencoba memberikan pengertian pada istrinya.
Fira menepis tangan Tian. "Iya, aku memang nggak kelaparan. Tapi uang bulananku kurang, Mas. Dan Mas juga 'kan tahu aku mau ganti hape."
"Ganti hape itu nggak terlalu penting, hapemu saja masih bagus. Kecuali kalau hapemu rusak atau hilang, baru minta ganti."
"Aku malu, Mas!" oceh Fira dengan wajah kesal. "Masa teman-temanku saja hapenya keluaran terbaru sedangkan aku nggak?"
"Ya mereka 'kan punya duit, sedangkan kita lagi krisis. Kamu nggak usahlah ngikut-ikut. Yang terpenting sekarang perutmu nggak kelaparan dan skincaremu masih ada."
"Ya mereka punya duit karena suaminya yang banyak uang. Sedangkan aku ...." Fira menepuk dadanya sembari menatap rendah Tian dari ujung kaki sampai kepala. "Suamiku kere. Punya perusahaan bangkrut, banyak hutang di mana-mana!"
"Aku banyak hutang juga karena kamu yang sering ngutang!" berang Tian yang mulai emosi.
"Ya Mas nggak bisa membelikan aku secara cash, jadi lebih baik aku ngutang saja. Kalau nggak gitu, aku nggak bisa punya."
"Ya itu yang buat aku makin kere! Jangankan untuk nabung, untuk bayar hutang aja pas-pasan. Harusnya kamu sebagai istri mengerti keadaanku, kalau nggak mau bantu ya minimal jangan boros, harus berhemat."
Tian mengelus dada, sesak sekali di dalam sana. Perlahan dia menghembuskan napasnya dengan gusar. "Sekarang, apa maumu, Fir? Aku capek, aku juga harus berangkat kerja."
"Aku mau Mas hari ini mengambil semua uang restoran Mbak Nissa untukku. Kirim semua ke rekeningku."
"Aku nggak mau!" teriak Tian tegas. "Aku sudah bilang tadi, aku nggak mau mengambil hartanya. Aku kasihan dan nggak tega."
"Kalau Mas nggak mau, lebih baik kita pisah saja!" Fira langsung berlari menaiki anak tangga, lalu masuk ke dalam kamar.
Tian ikut menyusulnya, dan dilihat kini wanita itu tengah mengambil seluruh pakaiannya di lemari dan memasukkannya ke dalam koper.
"Kamu mau apa, Fir?" Tian menghalangi Fira yang hendak menutup koper itu. Segera, wanita itu menepisnya.
"Aku mau pulang ke rumah Mama. Kalau sampai besok aku nggak berhasil mendapatkan uangnya Mbak Nissa, aku mau kita pisah saja!"
__ADS_1
"Apa uangnya Nissa jauh lebih penting dari rumah tangga kita, Fir?!" tanya Tian dengan suara yang tertahan, bola mata pria itu tampak berkaca-kaca. "Lebih penting dari cintaku selama ini?"
Langkah kaki Fira yang hendak keluar berhenti di ambang pintu. Wanita itu berdecih sebal sembari menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. "Iya, itu lebih penting. Cinta nggak buat aku kenyang dan selama berumah tangga dengan Mas ... aku nggak pernah bahagia!" tegas Fira.
Air mata Tian meleleh, jatuh membasahi pipinya. Perlahan dia pun menyentuh dadanya yang berdenyut sakit. Selama ini, bukan hanya cinta saja yang pria itu berikan. Tapi seluruh jiwa raga dan apa pun yang dia punya.
Namun, rupanya semua itu tak membuat wanita itu hidup bahagia. Lantas, apa yang harus Tian lakukan sekarang?
"Kalau kita pisah, lalu bagaimana dengan kandunganmu? Apa kamu lupa, kalau sekarang kamu lagi hamil?" tanya Tian pelan. Tangannya mengusap wajah.
"Aku nggak peduli dengan anak ini, anak ini hanya pembawa sial!" Fira menonjok pelan perutnya sendiri. "Aku akan mengaborsinya!"
"Jangan! Jangan pernah lakukan itu!" tekan Tian, dia berlari menghampiri Fira dan memeluk tubuhnya dari belakang. Namun wanita itu memberontak dan mendorong dadanya. "Anak kita nggak salah, Fir, jangan bunuh dia. Dia juga mau hidup."
"Lebih baik dia mati, ketimbang hidup dari Ayah yang tidak berguna seperti Mas!" Fira nunjuk wajah Tian dengan mata melotot. "Aku mau kita pisah saja, kalau uang itu nggak berhasil aku dapatkan. Diluar sana masih banyak pria yang lebih tampan, kaya dan mau sama aku."
Kedua tangan Tian mengepal kuat, ingin rasanya dia menonjok wajah wanita itu karena semua ucapannya itu menyakiti dan membuat dadanya sesak. Namun, Tian tak bisa melakukannya. Paling lemah dia kalau sama wanita.
"Ya sudah, lebih baik kita berpisah saja. Mungkin kamu akan hidup bahagia jika bukan denganku." Sejujurnya berat sekali kata demi kata itu terlontar di bibirnya, tapi hanya itu yang bisa dia lakukan.
Tian bingung, tidak mau rasanya dia terus melakukan hal yang Fira inginkan. Apalagi mengenai Nissa.
Wanita itu terlalu sempurna untuk dijadikan tumbal keserakahan Fira. Tian tidak rela. Apalagi, Nissa sudah pernah disakiti oleh mantan suaminya.
Kalau mungkin Nissa tak mau dengannya, setidaknya Tian tak membuatnya sakit hati. Karena baginya, wanita itu begitu berarti sejak dulu.
"Itu pasti. Segera urus perceraian kita, Mas. Aku sudah nggak sabar ingin menjadi janda." Fira menoleh sebentar ke arah Tian, lalu setelah itu melangkah pergi.
Tian membeku beberapa saat, lalu perlahan beringsut jatuh. Lututnya terasa lemas, tubuhnya bergetar hebat dan dadanya begitu sakit. Isakan tangis itu makin pecah. Menggema dalam ruang kamarnya.
'Apakah tindakan yang aku lakukan adalah tepat?' batinnya dengan deraian air mata. 'Jujur ... aku nggak rela berpisah dengan Fira. Dia wanita yang sangat aku cintai. Tapi ... kalau harus menyakiti Nissa, aku nggak bisa.' Tian geleng-geleng kepala. 'Dia wanita yang sangat sempurna. Dia tidak boleh disakiti, dia juga berhak bahagia. Kalau pun suatu saat aku memang nggak bisa memilikinya ... setidaknya aku bisa melihat senyuman dari kebahagiaannya setiap hari. Itu sudah cukup membuatku senang.'
__ADS_1
...Nggak usah sedih, Om. Harusnya Om bersyukur. Mungkin memang lebih baik Om jadi duda aja, daripada hidup penuh tekanan karena Fira 🤧...