Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
312. Lagi marahan


__ADS_3

"Sekarang?" tanya Tian bingung. Dia menatap istrinya yang tengah berdiri lalu melangkah menuju pintu untuk menutupnya.


"Iyalah, masa besok?! Kan aku kepengennya sekarang." Nissa menarik resleting kostumnya ke bawah hingga menampilkan buah dadanya yang masih terbungkus bra. Perlahan dia melepaskan celana dalaamnya dan membuangnya asal.


Kakinya melangkah mendekati Tian lagi, kemudian mendorongnya hingga membuat pria itu terlentang di atas kasur. Nissa langsung naik ke atas tubuh suaminya sembari menarik resleting kostumnya dari atas hingga sebatas pusar.


Nissa sungguh merasa tergoda melihat suaminya memakai pakaian seperti itu. Menurutnya Tian seksi, hingga membuat birahinya menggebu-gebu.


"Aku suka kamu pakai kostum ini, Yang," ucap Nissa dengan nada mendayu-dayu. Perlahan dia menarik kostum Tian hingga terlepas dari tubuhnya. Lalu mengecupi dada bidangnya.


Meski tak ada roti sobek dan perutnya agak buncit, akan tetapi Nissa menyukainya. Pokoknya semua yang ada diri pria itu dia menyukainya.


Kedua bola mata Nissa sontak membulat sempurna. Susah payah dia menelan ludah kala kejantanan milik Tian menjulang ke atas menghadap ke arahnya. Baru saja dia melepaskan kantong menyannya.


'Udah nggak sabar aku mencicipinya. Pasti enak,' batin Nissa.


Tian tampak begitu pasrah di bawah sana, akan apa yang selanjutnya istri cantiknya itu lakukan. Namun, seketika dia pun teringat dengan pesta ulang tahun anaknya. Sepertinya Nissa juga melupakannya.


"Tapi, Yang. Sekarang 'kan Juna ... Ah!" Ucapan Tian menggantung kala tertahan oleh desaahan yang keluar begitu saja. Sebab Nissa sudah melahap miliknya dengan penuh naafsu. 'Enak sekali ini.'


Pada akhirnya Tian memilih untuk tidak melanjutkan perkataannya. Dia malah sibuk mendesaah sembari mengelus rambut kepala istrinya.


'Cantik sekali kamu, Sayang. Aku mencintaimu,' batin Tian. Tak dipungkiri, dalam sekejap birahinya ikut memuncak.


Baru sebentar Nissa menservisenya, akan tetapi Tian yang takut jika meledak duluan memilih untuk menarik tubuh Nissa. Lalu membuatnya terlentang.


Sayang rasanya jika benihnya itu terbuang sia-sia. Karena rahim Nissa begitu membutuhkan.


"Hari ini aku saja yang mimpin, Sayang. Biar kamu nggak capek." Tian perlahan naik ke atas tubuh Nissa. Wanita itu seolah mengerti maksud suaminya. Tanpa disuruh pun kedua pahanya dia buka lebar-lebar.


"Oke, Sayang. Lakukanlah. Aku menunggu," jawab Nissa sambil tersenyum. Kedua pipinya tampak merah dan beberapa detik kemudian dia merasakan penyatuan hangat itu.


Nissa membulatkan matanya. Lalu menangkup kedua pipi suaminya dan langsung menautkan bibir. Pinggul Tian sudah lincah di atas sana.


*


*


Kembali lagi ke halaman rumah, di mana acara itu berlangsung.

__ADS_1


"Itu yang namanya Dedek Silvi, Ta, Im!" seru Juna yang langsung berlari menghampiri kedua temannya. Lalu menunjuk ke arah Della yang baru saja datang bersama Dono. Dia menggendong Silvi dengan kain gendongan.


"Aku mau lihat, Jun!" seru Atta.


"Aku juga!" seru Baim. Ketiga bocah itu langsung berlari menghampiri Della yang baru saja duduk di kursi.


Abi hanya memperhatikannya, kemudian lengannya itu langsung ditarik oleh Aulia.


"Mas, kita duduk, yuk! Pegel aku," pintanya dengan manja. Abi mengangguk dan keduanya berjalan menuju beberapa kursi kosong yang letaknya tak jauh dari posisi Della duduk.


"Dedek Silvi yang manis kayak buah apel, Kakak Juna kangen, nih!" ucap Juna sumringah. Sebelum teman-temannya melihat wajah cantik bayi itu, dia sudah lebih dulu menciumi kedua pipinya dengan lidah yang sedikit keluar. Sebab dia ingin merasakan pipi Silvi yang menurutnya sangat manis.


Silvi memakai baju berwarna merah bunga-bunga dengan kupluk berwarna merah juga. Kupluknya itu ada bunga mawarnya di samping kanan. Tambah manis dan lucu jadinya.


"Ih iya, Silvi cantik sekali," puji Atta seraya menoel pipi kiri Silvi. Bayi itu langsung tersenyum sembari membuka kedua matanya.


"Kalau secantik ini mah, aku juga mau jadi suaminya, Jun," ucap Baim.


"Enggak boleh!" tegas Juna lalu memeluk Silvi dan menempelkan pipinya. "Dedek Silvi itu punya Kakak Juna seorang. Iya, kan, Dek?"


"Kalian udah pada gosok gigi dan cuci tangan 'kan? Sebelum legang-pegang Silvi?" tanya Della dengan tatapan serius menatap ketiga bocah itu. Bukan masalah pelit. Akan tetapi bayi adalah mahluk yang paling sensitif. Apalagi kulitnya. Della yang sangat menyayangi Silvi tak mungkin membiarkan anaknya kenapa-kenapa.


"Udah kok Tante," jawab Juna.


"Aku juga. Terus nggak pegang apa-apa," sahut Atta.


"Kamu tadi pegang burungmu, Ta," ucap Juna menunjuk Atta. Bocah itu langsung terbelalak. Sepertinya dia baru ingat.


"Eh iya, aku lupa," ucap Atta yang tampak panik. "Eh, tapi kamu juga habis pegang burungku, Jun. Ayok cuci tangan."


"Ayok. Itu di sana." Juna menunjuk tempat mencuci tangan yang letaknya di dekat prasmanan. Kemudian mereka berdua berlari ke arah sana dan disusul oleh Baim.


"A, Mbak Nissa sama Om Tian ke mana? Kok pestanya belum dimulai?" tanya Citra yang duduk di samping Steven sambil menggendong Varo. Sedangkan Steven menggendong Vano. Mereka memakai kostum ala India, sama persis seperti Angga dan Sindi. Hanya saja yang berbeda mungkin ukurannya saja.


"Nggak tahu. Ke mana kali." Steven menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan mereka.


"Aku kepengen nasi tumpengnya, A. Kayaknya enak." Citra menelan ludahnya sembari menatap nasi tumpeng itu.


"Sebentar ... aku ngomong sama Papa dulu, ya?" pamit Steven seraya berdiri. Citra mengangguk.

__ADS_1


Pria berlesung pipi itu menghampiri Angga yang tengah mengobrol dengan kepala sekolah TK Juna.


"Pa! Kapan pestanya dimulai? Mbak Nissa dan Om Tian ke mana?" tanya Steven.


Angga menoleh dan menatap anaknya. "Oh iya, ya, Papa baru ingat," jawabnya. "Tapi tadi Nissa dan Tian sempat marahan kayaknya. Papa panggil dia dulu di dalam."


Mendengar kata marahan, Steven langsung terkejut. Cepat-cepat dia mengejar Angga yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah Tian.


Kalau terbukti Tian melakukan hal yang membuat Nissa sakit hati, tentu dialah orang pertama yang akan maju untuk menghajar pria itu sampai babak belur.


"Kok bisa mereka marahan? Apa yang dilakukan Om Tian?" tanya Steven penasaran. Mereka berdua sudah menaiki anak tangga.


"Papa nggak ngerti awal mulanya. Tapi kayaknya sih cuma salah paham aja. Biasalah pengantin baru, Stev," tebak Angga. Dia pun mencium kening Vano sebab bayi mungil itu memperlihatkannya.


Saat ketiganya sampai di depan pintu kamar yang diyakini adalah kamar Tian, Angga langsung mengetuk-ngetuknya.


Tok ... Tok ... Tok.


"Nissa! Tian!" teriak Angga kencang. "Kalian lagi apa? Ayok keluar!"


Tak berselang lama Steven ikut mengetuk pintu tersebut, sebab ada rasa khawatir dengan keadaan Nissa. Mengingat kalau tadi ada Abi dan istrinya juga.


"Mbak! Buka pintunya! Kalian marahan kenapa? Apa Om Tian melukai hati, Mbak?!" teriak Steven.


Sayangnya tak ada sahutan sama sekali dari dalam sana. Kedua pria beda usia itu memutuskan untuk menempelkan telinga kanannya ke arah pintu, demi memastikan suara apa yang terdengar.


Namun sontak, keduanya terkejut dengan bola mata yang melebar sempurna karena mendengar suara jeritan.


"Aaww!"


Dan mereka juga hafal suara itu adalah milik Nissa.


"Jangan-jangan Mbak Nissa sedang dianiaya sama Om Tian, Pa!" terka Steven dengan mata yang sudah melotot.


Angga yang memiliki pemikiran yang sama itu tanpa banyak bicara langsung menurunkan handle pintu.


Ceklek~


Ternyata pintu itu tidak dikunci sama sekali. Dan segera Angga membukanya dengan sekali hentakkan.

__ADS_1


Brak!!


...Waduh, gimana ini Guys 😆🤣...


__ADS_2