
"Steven! Apa yang kamu katakan? Mesum sekali!" Sindi kembali dibuat emosi dengan tingkah anaknya. Dia lantas berdiri dan mendekati Steven, lalu dengan cepat menampar bibirnya. "Meskipun kamu sudah menikah, tapi nggak boleh membicarakan hal seperti itu! Apa lagi di depan orang lain!" sentaknya marah.
"Kok Mama malah marah sama aku? Yang salah 'kan Papa." Steven menyentuh bibirnya. Tamparan Sindi cukup keras sehingga membuatnya terasa sakit.
"Dih, kok Papa yang disalahin?" tanya Angga bingung.
"Kan Papa yang awalnya bahas burung," kata Steven.
"Tapi yang Papa bahas itu burung beneran, Stev! Bukan burung yang ada di celana!" seru Angga. Dia pun berdiri lalu melangkah keluar rumah.
"Memangnya burung di celana bohongan? Bukannya sama saja, cuma bedanya dia nggak bersayap," gumam Steven.
Tak lama Angga kembali dengan membawa sangkar yang mana ada burung di dalamnya. Dia pun meletakkan burung tersebut di lantai.
"Maksud Papa burung ini!" Angga menunjuk apa yang dimaksud.
Steven dan Sindi terlihat mendessah pelan.
"Oh, jadi burung itu?" kata Steven. "Memangnya dia bisa bicara?"
"Bisa dong!" sahut sang burung.
"Eh! Ternyata bisa bicara beneran." Steven tampak takjub mendengar suara burung Kakatua yang cukup merdu itu, matanya sampai berbinar.
Perlahan Steven berjongkok, lalu tangannya menjulur ke arah sangkar. Jemarinya masuk ke dalam celah sangkar berbahan kayu jati, niatnya ingin menyentuh bulunya, tetapi burung itu langsung menggeserkan tubuh, seolah tidak mau disentuh.
"Jangan sentuh saya!" seru burung itu.
"Kenapa memangnya?" Kening Steven mengerenyit.
"Saya jantan!" Burung itu kemudian menatap ke arah Citra, lalu mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata, "Nona cantik! Kenalan dong!"
"Siapa yang kamu panggil cantik?" tanya Steven. Dia memutar kepalanya ke belakang, tepat di mana Citra berada. Kemudian kembali menatap sang burung.
"Nona baju merah kenalan dong!" serunya lagi. Dan memang benar, Citra saat ini memakai kaos merah yang ditambah baju kodok berbahan jeans.
"Hei! Dia istriku! Jangan ganjen kamu!" sentak Steven marah.
"Memang kamu siapanya dia?"
"Aku sudah bilang kalau dia istriku! Berarti aku suaminya!"
"Jangan bohong! Tidak boleh!"
__ADS_1
"Siapa yang berbohong? Jelas aku suaminya! Apa perlu aku tunjukkan buku nikahku padamu?"
"Kamu tua!"
Mata Steven langsung melotot saat mendengar apa yang dikatakan burung itu tiba-tiba. Secara tidak langsung dia seolah menghinanya.
Rahang Steven seketika mengeras dan dadanya terasa bergemuruh. "Apa katamu? Kau bilang apa tadi?"
"Kamu tua! Sedangkan Nona itu cantik dan muda!"
"Kurang ajar sekali kau mengataiku tua! Jelas kau yang bernama burung Kakatua!" pekik Steven marah. Dia pun langsung menggoyangkan sangkar tersebut dengan kuat hingga membuat tubuh burung Kakatua itu terguncang hebat.
"Tolong! Kepalaku pusing!" teriak burung itu. Kakinya mencengkeram kuat pada kayu sangkar, supaya dia tak terjatuh.
Angga cepat-cepat merebut sangkar burung itu, menghentikan aksi kekerasan anaknya. "Kenapa kamu malah menganiaya, Stev? Kasihan dia!"
"Dia tadi menghinaku, Pa!"
"Dia jujur, bukan menghinamu."
"Jadi Papa mengataiku tua? Jelas Papa yang lebih tua di sini!"
Angga berdecak lalu geleng-geleng kepala. 'Sepertinya obat yang dari dokter nggak Steven minum. Pantas saja dia gila.'
"Iya!"
"Siapa namanya?"
"Tian!"
Angga langsung menoleh ke arah Sindi. Wanita itu sejak tadi diam dan tampak bingung. "Tuh, Ma. Bener 'kan. Fira itu sudah punya pacar. Jadi Mama nggak perlu terlalu mikirin dia."
"Ngapain Om percaya sama Burung itu, dia itu 'kan cuma hewan. Dia juga hanya asal bicara," elak Fira.
"Saya jujur!" sahut burung Kakatua. "Kemarin kamu dan Tian bertemu lalu berciuman, lalu setelah itu—”
"Diam kau!" sentak Fira berteriak. Darahnya seketika mendidih. Burung itu memang begitu cerewet sekali.
Cepat-cepat dia pun mengambil sangkar burung itu lalu berlari keluar rumah.
Fira langsung membanting sangkar burung itu sekuat tenaganya di depan halaman rumah, meluapkan semua kekesalan.
Brak!!
Hentakkannya cukup keras sehingga membuat sangkar itu hancur. Sang burung sempat berbaring, tetapi dia langsung mengibaskan sayapnya lalu berdiri.
__ADS_1
"Kamu jahat sekali! Dasar perempuan tidak punya hati! Saya membencimu!" seru burung itu kemudian terbang dan berlalu pergi.
Tak lama, Angga, Sindi, Steven dan Citra keluar dari rumah itu. Mereka melangkah pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Fira.
Melihat Sindi hendak masuk ke dalam mobil, Fira langsung berlari. Kemudian mencekal lengannya.
"Tante kok pulang, sih? Jangan percaya sama burung itu, Tan. Dia hanya asal bicara. Aku nggak punya pacar," ucap Fira dengan lembut.
Sindi melepaskan cekalan tangan Fira, lalu menatapnya. "Mau benar atau nggak itu nggak masalah, Fir. Tapi intinya kamu dan Steven memang nggak bisa menikah karena Steven sudah menikah," jelasnya.
"Aku mau kok kalau jadi istri keduanya, aku—”
"Fira!" sentak Angga. Dia yang sejak tadi berdiri di samping Sindi lantas menarik lengan gadis itu, lalu membawanya menjauh dari mobil. "Apa yang kamu katakan barusan?" tanyanya sambil melotot.
Fira perlahan menjatuhkan tubuhnya, lalu memeluk lutut Angga dan tak lama dia pun menangis tersedu-sedu.
Namun percayalah, air mata yang dia keluarkan hanya air mata buaya.
"Om ... aku nggak masalah kalau menjadi istri kedua. Aku rela, Om. Asalkan aku bisa menikah dengan Pak Steven."
Kedua tangan Angga langsung mengepal kuat, dadanya terlihat naik turun. Rasanya begitu emosi mendengar itu, tetapi dia berusaha menahan emosinya sebab menghargai Fira adalah wanita.
Mungkin, kalau dia laki-laki sudah Angga hajar.
"Kenapa kamu sampai merendahkan harga dirimu demi ingin menikah dengan Steven? Memang kamu pikir nggak ada pria lain di dunia ini?" Angga melepaskan pelukan Fira yang berada di lututnya, lalu beringsut mundur.
Sungguh, apa yang Fira lakukan saat ini membuat Angga ilfil. Jika dulu dia hanya risih dan tidak suka, sekarang justru benci.
Angga juga makin yakin—jika Fira memang tidak benar-benar mencintai Steven. Dia hanya terobsesi saja.
"Ini semua karena aku mencintai—”
"Aku nggak peduli!" sergah Angga cepat. Suaranya begitu keras dan penuh menekan. "Mau kamu cinta kek, sayang kek. Aku sama sekali nggak peduli, Fir!"
Angga mengertakkan giginya. "Mulai sekarang kamu lupakan Steven! Jangan pernah kamu mencoba untuk menemuinya atau datang ke rumahku!"
Fira sudah duduk tersungkur di bawah, air matanya makin deras membasahi pipi.
Sindi yang melihatnya ingin segera membangunkan gadis itu, tetapi tidak jadi sebab dihentikan oleh Angga.
"Dan mulai hari Senin ... kamu akan berhenti menjadi sekertarisnya Steven! Kamu juga jangan pernah mencoba-coba untuk merayunya!"
"Tapi jika itu terjadi ... jangan salahkan aku kalau nyawamu akan terancam!" tegas Angga mengancam. Setelah itu, dia pun menarik lengan Sindi, kemudian mengajaknya masuk ke dalam mobil.
...Udah gagal nikah🥲 sekarang dipecat lagi🤧 Kasihan banget kamu, Fir🥺 Sabar, ya! 😂...
__ADS_1