Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
394. Mulus nggak berbulu


__ADS_3

Drrttt ... Drrrtt ... Drrttt.


Suara getaran ponsel di atas meja sontak membuat Steven terperanjat dari duduknya, juga dengan kedua mata yang terbuka secara sempurna.


"Astaghfirullah ...."


Rupanya Steven sempat ketiduran. Dan saat mengambil ponsel dia kembali terkejut lantaran melihat sudah pukul 18.00.


Sebuah panggilan masuk yang bertuliskan nama 'Istriku Tercinta' tertera dilayar ponsel, yang berarti adalah Citra. Tapi Steven sendiri heran, sejak kapan dirinya menamai nomor kontak dengan seperti itu? Rasanya alay sekali.


"Apa ini Citra? Ternyata aku punya nomornya, ya," gumam Steven, lalu mengusap layar untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo, Aa ... assalamualaikum," ucap Citra dari seberang sana. Suaranya terdengar begitu lembut sekali.


"Walaikum salam."


"Aa lembur apa gimana? Kok belum pulang?"


"Ini baru mau pulang."


"Oh gitu. Udah buka puasa belum, A? Apa mau makan bareng ... sama aku?" tawar Citra.


"Astaghfirullahallazim ...." Steven langsung mengusap wajahnya, lantaran lupa karena tidak puasa seharian ini.


"Kenapa, A? Kok istighfar?"


"Aku lupa nggak puasa, Cit. Tadi siang aku makan dan minum seperti biasa."


"Oh ... ya sudah nggak apa-apa, A. Aa juga 'kan nggak sahur tadi pagi."


"Iya. Ya sudah ya, Cit."


"Jadi Aa mau makan bareng nggak sama aku?"


"Duluan saja, Cit."


"Eemm ... tadinya aku ada rencana ngajak Aa pergi malam ini. Dan sebelum itu ... kita mampir buat makan malam dulu di restorannya Mbak Nissa."


"Kan aku sudah bilang duluan aja. Lagian mau pergi ke mana, sih, malem-malem? Si kembarnya juga kasihan kalau dibawa malem-malem, Cit."


"Si kembar aku titipin ke Mama, A. Dan tentang aku mau ke mana itu aku rencananya mau jenguk Om Rama. Dia kata Papa kecelakaan dan masuk rumah sakit."

__ADS_1


"Om Rama itu siapa, Cit?" tanya Steven yang sepertinya lupa.


"Suaminya Sisil, A."


"Sisil itu siapa?"


"Adiknya Om Gugun."


"Kalau Om Gugun siapa?"


"Asistennya Ayah."


"Ayah siapa?"


"Ayahku lah, A," jawab Citra dan tak lama terdengar suara helaan napasnya. "Mungkin banyak yang Aa lupakan. Jadi agak sulit aku menjelaskannya."


"Ya sudah."


"Kalau Aa nggak mau pergi bersamaku, aku izin perginya sama Papa saja gimana, A?"


"Udah nggak usah pergi sih, Cit, ngapain juga kamu jenguk Om Rama. Nggak kenal aku sama dia." Steven terlihat mendengkus.


"Om Rama itu—"


"Seniorku? Anaknya Om Yahya?" Kening Steven seketika mengernyit, dia pun termangu sejenak. Mencoba mengingat-ingat.


"Iya, Om Yahya teman Papa. Masa kamu nggak ingat? Yang jenggotan itu, mukanya serem."


"Oh ... iya, iya, aku ingat, Pa!" Steven mengangguk cepat.


"Kalau begitu, kamu harus mau antar Citra ke sana. Sekalian kamu juga harus jengukin Rama," titah Angga dengan sedikit memaksamu. "Pas kamu mati suri ... Rama dan istrinya datang, Stev, mengantar Citra dan si kembar untuk menemuimu, sebelum kamu dibawa untuk dimakamkan. Pas syukuran si Kembar Rama juga ada, jadi masa sekarang kamu nggak mau jenguk dia? Kasihan lho dia, habis kecelakaan. Kepalanya terbentur, sama seperti kamu."


'Eemmm ... pas ketemu Citra, aku bisa langsung menceraikannya. Iya, malah lebih bagus pembicaraan ini hanya empat mata. Biar Citra juga paham nanti, kalau aku memang nggak mencintainya.' Steven membatin saat tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang menurutnya sangat cemerlang.


"Stev! Kamu dengerin Papa ngomong nggak, sih, dari tadi?!" gerutu Angga yang masih berada di seberang sana.


"Iya, Pa, aku denger," sahut Steven cepat.


"Kalau denger terus apa mendapatmu? Jangan tolaklah, Stev, kasihan istrimu. Dia bilang kepengen makan malem berdua sama kamu. Barangkali dengan begitu ... kamu akan sedikit mengingat saat momen bersamanya."


"Oke. Aku akan mengantar Citra sekalian makan malam sama dia," balas Steven. "Suruh langsung siap-siap saja, Pa, ini aku mau mandi dulu sebentar terus otewe."

__ADS_1


"Oke. Ya sudah, assalamualaikum. Hati-hati kamu naik mobilnya, Stev."


"Walaikum salam. Iya, Pa," jawab Steven kemudian mematikan panggilan. Lantas, dia pun berlalu menuju kamar mandi, hendak mandi sebelum pulang.


*


*


*


Beberapa menit kemudian, akhirnya pun sampai pada kediaman orang tuanya


Tapi dia hanya menghentikan mobilnya di depan gerbang, tidak masuk ke dalam. Sengaja Steven melakukannya karena menunggu Citra yang keluar sendiri kemudian langsung masuk. Supaya langsung berangkat.


"Mana si Citra? Kok belum keluar rumah?" gumam Steven yang menatap ke arah rumah, mencari-cari keberadaan Citra. Dan tak lama kemudian, perempuan yang dia tunggu-tunggu akhirnya keluar.


Dari kejauhan, aura kecantikan dari perempuan itu langsung terpancar dengan jelas.


Apalagi dia saat mengenakan gaun selutut tanpa lengan berwarna pink, rambutnya terurai panjang dan begitu lurus dengan ditambah sebuah bando di atasnya. Kedua kaki jenjangnya memakai sepatu hak tinggi berwarna putih, tak lupa dia juga membawa tas jinjing kecil berwarna hitam di tangannya.


Tuk! Tuk! Tuk! Tuk!


"Aa!" panggil Citra seraya mengetuk kaca mobil, sebab saat hendak membuka pintu justru terkunci.


Steven sontak terkesiap dan langsung mengusap wajahnya dengan kasar, lantaran sempat tak berkedip melihat istrinya sendiri yang berjalan menghampiri mobil. Segera, dia pun membuka kunci mobilnya dan tak lama Citra masuk.


"Aa kapan sampai? Apa dari tadi?" tanya Citra yang sudah duduk di samping Steven.


Dan seketika saja, aroma parfumnya itu mengguar mengisi ruang mobil hingga masuk ke dalam indera penciuman Steven. Tapi jujur saja, aroma parfum itu terasa begitu nyaman dan nikmat yang Steven rasakan.


"Aa, aku 'kan nanya. Kok diem aja? Dan kenapa bengong?"


Citra menggerakkan kelima jarinya ke depan wajah Steven. Dan sontak membuat pria itu kembali terkesiap, karena seperti apa yang Citra katakan tadi. Pria itu memang sejak dirinya masuk ke dalam mobil justru terbengong saja memandanginya.


"Aahh ... ya, a-aku bar-ru sa-sampai kook, Cit," jawab Steven dengan gelagapan, wajahnya pun sudah berpaling ke arah lain. 'Sial!! Kenapa dia sangat cantik dan wangi sekali? Dan kenapa juga aku sampai gelagapan begini,' batin Steven sambil mengusap dada. Selain itu, memang jantungnya sekarang ikut berdebar tak karuan.


Citra mengerutkan keningnya memerhatikan wajah sang suami yang tampak memerah seperti udang rebus. Perlahan dia pun mendekat, lalu menyentuh dahi Steven. "Aa kenapa? Apa sakit?"


Steven sontak membulatkan matanya, lalu memerhatikan lengan putih Citra yang terulur. Tapi justru pandangan matanya sekarang terjatuh pada ketiak istrinya, yang terlihat begitu putih, mulus dan juga imut. Susah payah dia pun menelan saliva.


'Ketekku juga putih, tapi ternyata ... keteknya si Citra jauh lebih putih. Mana mulus nggak berbulu lagi,' batin Steven dengan tatapan takjub serta terheran-heran. 'Dan kalau misalkan aku jilat ... kira-kira rasanya apa, ya? Pahit kah, asem kah, atau justru asin? Tapi ketek seimut itu pasti manis rasanya, kan?'

__ADS_1


...Ya kalau penasaran² banget sih mending dicoba, Om 🤣...


__ADS_2