
"Om Tegar," kata Citra dengan wajah kecewa, saat tahu jika yang memanggilnya itu adalah Omnya.
Pria itu pun langsung mendekati Citra dan memeluk tubuhnya, dilihat wajah Steven seketika masam melihat pemandangan itu. Dia sangat tak menyukai pria di depannya.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" Tegar mengelus puncak rambut Citra dengan lembut, lalu menaikkan dagunya sedikit supaya wajah gadis itu dapat menatap ke arahnya.
"Aku baik, Om. Om sendiri bagaimana?"
"Om juga baik. Kok kamu kurusan sih, Cit? Apa kamu nggak bahagia setelah menikah dengan perjaka tua itu?" tanyanya dengan nada menekan pada kata 'perjaka tua' yang memang sengaja ditunjukkan oleh Steven. Tetapi Tegar sama sekali tak menatap pada keponakan menantunya itu.
Tidak ada yang namanya kurusan sebenarnya, Citra masih sama seperti dulu. Tegar hanya asal bicara saja.
"Aku bahagia Om." Citra tersenyum manis.
Tegar membungkukkan badannya, lalu mengecup lembut kening Citra. "Kamu nanti malam sibuk nggak? Om mau mengajakmu nonton."
"Aku—"
"Aku dan Citra akan pergi nonton," sela Steven cepat dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Perasaan Om nggak ngajak aku nonton deh," kata Citra sambil menggeleng.
"Sekarang aku ngajak."
"Batalkan saja. Mending kamu nonton sama Om." Tegar menyahut lalu kembali mengelus puncak rambut Citra. "Lagian ... sudah hampir satu bulan kita baru ketemu lagi, kan? Om kangen sama kamu, Cit."
"Citra mau makan, jangan ganggu dia." Steven tampak kesal melihat Tegar yang terus-menerus mengelus puncak rambut istrinya. Dia juga sangat risih dan tak nyaman akan kehadiran pria itu.
"Siapa yang ganggu?" cetus Tegar yang ikut marah. "Kamu ini jangan songgong Stev, walau bagaimana pun Citra ini keponakanku. Kamu nggak berhak melarangnya bertemu denganku!"
"Aku nggak melarang, tapi sekarang Om pergi. Karena aku dan Citra mau makan siang." Steven mengepal kedua tangannya di atas meja. Dia paling tidak suka jika ada acaranya diganggu.
"Oh kamu belum makan, ya?" Tegar mencoba meredakan kembali emosinya, lalu menatap kembali ke arah Citra. "Ya sudah kamu makan dulu, Om mau pulang. Nanti malam Om akan menjemputmu. Oh ya, kok nomormu sekarang nggak aktif? Apa ganti nomor?"
"Hapeku—"
"Masih aktif." Kembali Steven menyela, tangannya gatal sekali ingin cepat mengusir pria di depannya itu. Tetapi dia tak berani sebab nanti dikira tidak sopan.
"Tapi nomormu nggak aktif."
__ADS_1
"Kemarin hapenya sempat rusak." Lagi-lagi Steven yang menjawab dan itu membuat Tegar emosi.
"Aku tanya Citra, bukan kau!" berang Tegar sambil menodongkan jari telunjuknya ke wajah Steven.
"Memang kenapa kalau aku yang jawab? Aku 'kan suaminya. Terserah aku."
"Kau ...." Tangan Tegar sudah mengepal dan berjalan beberapa langkah menghampiri Steven, mungkin sedikit lagi pria itu akan menonjok pipi Steven kalau Citra tidak buru-buru mencekal lengannya yang sudah terangkat.
"Om, jangan buat ribut disini. Nggak enak sama pengunjung lain," tegur Citra.
Tegar membuang napasnnya kasar, lalu menurunkan lengannya. Matanya menatap tajam pada Steven. 'Awas saja kau, Stev. Gara-gara kau ... hartaku melayang.'
"Ya sudah, Om pulang dulu. Kamu kalau kangen sama Om main saja ke rumah, nggak usah sungkan, ya?"
"Iya." Citra mengangguk.
Tegar mengecup kening Citra lagi, lalu memeluknya sekilas. Setelah itu dia pun tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Nggak usah didengerin, Ommu itu baik diluar doang," cetus Steven kesal seraya menatap Citra yang baru saja duduk.
"Maksudnya Om bilang kalau Om Tegar hatinya jahat?"
"Tapi aku lihat Om Tegar baik kok orangnya. Dia juga seperti tu—"
"Ah Citra, aku kira tadi siapa."
Seseorang datang menghampirinya, dan terdengar suara deru napasnya yang tersenggal-senggal. Citra dan Steven langsung menoleh, dan ternyata orang itu adalah Arya.
Seluruh wajahnya tampak berkeringat, bahkan kaos putihnya terlihat basah. Dia seperti habis lari maraton. Tetapi untungnya Steven tak mencium bau ketek pada tubuh lelaki itu, malah tercium aroma wangi meskipun tak sewangi dirinya menurut Steven.
"Eh, Kak Arya." Citra meraih beberapa lembar tissue di atas meja, lalu memberikan pada lelaki itu dan segera dia ambil kemudian membersihkan wajahnya.
Arya memang sempat berlari tadi saat sampai di halaman restoran. Motornya juga mogok dijalan dan dia sampai rela meninggalkannya dipinggir jalan lalu naik ojek. Untungnya bisa sampai tepat waktu.
Steven menatap lelaki di samping Citra itu dari bawah sampai atas, tidak ada yang salah dengannya, wajahnya juga tampan.
'Siapa dia? Apa temannya si Bau itu? Tapi kok Citra manggil dia Kakak?' batin Steven dengan kening yang mengerenyit.
"Kakak habis dari mana? Kok seperti capek? Ayok duduk dulu." Citra menarik kursi di sampingnya, dan lelaki itu langsung duduk sembari menatap Steven.
__ADS_1
Pandangan mata mereka bertemu dan entah mengapa bulu kuduk Arya seketika berdiri sebab terlihat jelas sorotan mata Steven begitu tajam, dia tampak tak menyukai akan kehadirannya.
'Siapa dia? Apa dia pacarnya Citra? Kok tua? Pantas Citra panggil Om,' batin Arya seraya menelan salivanya dengan susah payah.
"Kok Kakak diam?" Citra menepuk lengan lelaki itu dan sontak membuatnya terperanjat. "Apa Kakak haus? Ini minum dulu." Citra memberikan segelas jus alpukat miliknya yang belum sempat dia minum, lalu melirik pada Steven sebentar sebab ingin melihat ekspresi wajahnya. Wajah tampan Steven sangat masam dan merah, matanya menyorot tajam pada Arya tanpa berkedip.
'Apa Om Ganteng sudah cemburu?' batin Citra.
"Memang aku boleh minum jus ini, Cit?" Arya ragu untuk mengambil.
"Iya, minum saja." Citra mengangguk lalu menempelkan gelas itu ke tangan Arya dan segera lelaki itu menerimanya, lantas menenggaknya sampai habis tak tersisa.
Setelah menaruh gelas kosong di atas meja, Steven tiba-tiba menggeserkan segelas jus miliknya pada Arya. Tetapi lelaki itu tampak heran dengan maksudnya itu.
"Kenapa bengong? Minum ini." Steven meraih gelas jus tersebut, lalu menggeserkan pada Arya supaya lebih dekat.
"Nggak usah Om. Terima kasih, aku sudah nggak haus." Arya menggeleng cepat lalu menggeser kembali gelas itu.
"Aku bilang minum jus ini!" titah Steven dengan nada sedikit menekan. Kembali dia menggeserkan gelasnya, kali ini matanya sedikit melotot.
"Aku sudah nggak haus, Om. Terima kasih," tolak Arya seraya menggeleng.
Steven beralih menggeserkan gelasnya ke arah Citra, gadis itu tampak bingung juga dengan maksud Steven. "Minum ini, Cit."
"Tapi ini 'kan punya, Om?"
"Minum, atau aku tumpahkan ke atas meja?" ancam Steven yang sudah mencoba memiringkan gelas itu, dan dengan cepat Citra mengambil lalu meminumnya.
Mungkin baru sedikit Citra meminumnya, tetapi dengan cepat Steven berdiri dan mengambil minuman itu lalu menenggaknya. Untungnya Citra tidak sampai tersendak tadi, hanya saja sedikit jus itu tumpah pada dressnya di bagian dada.
"Eh, bajumu kotor, Cit." Arya cepat-cepat mengambil tissue, tangannya perlahan hendak tertuju pada dada Citra. Mungkin niatnya ingin membersihkannya. Belum sempat menempel, tetapi lengannya itu sudah dicekal oleh Steven. Tidak hanya mencekalnya saja, melainkan pria itu juga meremmasnya dengan kuat hingga Arya mengaduh kesakitan. "Aaww! Sakit, Om!"
"Pergi kau dari sini!" teriak Steven yang mana membuat Citra terperangah dengan kedua mata yang membulat sempurna. Bukan hanya Citra saja yang tampak kaget, tetapi beberapa pengunjung juga. Mereka semua sampai menoleh.
...Gimana-gimana? Apa udah ada sehelai bulu Om yang terbakar di dalam celana? 🤣🤣...
Oh, ya. Author juga sekalian mau promo novel teman sesama penulis. jika berkenan kalian boleh mampir, ceritanya nggak kalah seru 😚
__ADS_1