Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
329. Tiga Minggu


__ADS_3

Lama-lama, Silvi makin tak nyaman mendapatkan perlakuan seperti itu. Apalagi rambut Atta menempel pada hidungnya dan membuatnya gatal. Ditambah Juna sejak tadi terus mencubit pipi kanannya. Alhasil dia pun menangis kencang, seolah meminta tiga bocah itu menjauh dari tubuhnya.


"Oe ... Oe ... Oe."


"Aduh, udahan ciumnya. Kasihan sama Dedek Silvinya," tegur Della. Cepat-cepat dia menyelamatkan Silvi sebelum tangisnya makin pecah. Dia gendong bayi mungil itu, lalu menempelkan dot ke bibirnya.


Silvi langsung menyesap dengan penuh semangat. Benar sekali dia sangat haus dan lapar.


Della menarik selembar tissue bayi, lalu mengusap seluruh wajah Silvi sebab tercium aroma kecut, yang dia yakin itu hasil perbuatan Juna dan kawan-kawan.


"Kalian bertiga sudah makan belum? Kalau mau makan nanti Tante buatkan telor dadar mau nggak?" tawar Della seraya duduk di atas kasur. Juna mendekat lalu mengelus pipi kanan Silvi.


"Kami sudah makan, Tan, sebelum ke sini." Yang menjawab Atta.


"Oh, ya sudah, kalian nonton tv dulu. Dedek Silvinya biar nyusu sampai kenyang, kasihan dia kalau diganggu. Nanti nangis."


"Iya." Juna mengangguk dengan patuh, kemudian turun dari kasur. Atta dan Baim pun melakukan hal yang sama, mereka melangkah keluar lalu menonton televisi.


(Flashback Off)


Ketiganya main sampai lupa waktu yang sudah malam. Akan tetapi tak ada yang mau pulang apalagi Juna. Dia juga mengingat kalau Nissa sudah mengatakan kalau pulangnya nanti, kalau dia dan Tian yang akan menjemputnya, jadi Juna ingin menunggu jemputan saja.


"Dek Juna, setelah makam malam ... kita pulang, ya?" pinta sang sopir.


Dia baru saja masuk ke dalam rumah Dono lalu melihat Juna, Atta, Baim dan Della tengah makan nasi goreng. Duduk lesehan berlapis tikar. Silvi juga ada di sana, tengah tidur tapi dengan alas kasur di samping Della.


"Pulangnya nunggu Papi sama Mami jemput, Om," jawab Juna.


"Sama Om saja, Dek. Ini sudah malam," bujuk sang sopir sembari menunjuk jam dinding yang menempel pada tembok, di atas tv. "Dek Baim sama Dek Atta juga takutnya dicariin orang tuanya, Dek," ucapnya membujuk sembari menatap kedua teman Juna.


"Kita pulangnya ...." Ucapan Baim terhenti secara tiba-tiba lantaran ada seseorang yang datang sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, Della."


Dari suaranya, Juna kenal betul itu milik siapa. Bocah itu pun segera menaruh piringnya yang sisa sedikit lagi nasi goreng pada tikar, kemudian berdiri dan menengok ke arah pintu.


"Walaikum salam," jawab Della.

__ADS_1


"Opa!" seru Juna, ketika Angga sudah masuk ke dalam rumah itu. Dia langsung menghamburkan pelukan kepadanya. "Opa kok ke sini? Pasti Opa kangen sama Dedek Silvi juga, ya? Mau cium dia juga?" tebaknya.


Angga meraih tubuh Juna, lalu mengendongnya. "Opa ke sini mau jemput kamu pulang, sekalian ke rumah sakit."


"Ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?" tanya Juna heran.


"Mamimu, dia pingsan."


Juna sontak terbelalak, begitu pun dengan Baim dan Atta yang makan sampai tersendak. Della cepat-cepat menuangkan air minum pada gelas lalu memberikannya.


"Mami pingsan? Kenapa dengannya?" tanya Juna dengan wajah khawatir. Bola matanya langsung berair.


"Opa belum tahu, mangkanya kita ke sana. Tapi sebelum itu kamu mandi dulu, ya? Opa bawa baju ganti."


"Juna sudah mandi. Kita langsung ke rumah sakit saja." Juna langsung memeluk tubuh Angga, jantungnya terasa berdebar kencang.


"Juna sama teman-teman sudah mandi kok, Pak. Cuma bajunya saja yang nggak ganti," ucap Della seraya membereskan piring, menumpuknya jadi satu. Setelah itu dia berdiri.


Atta dan Baim ikut berdiri kemudian menghampiri Angga yang baru saja menatap ke arahnya.


"Kalian nanti pulang di antar sopirnya Juna, ya? Hati-hati dijalan nanti." Tangan Angga terulur untuk mengusap rambut kedua bocah itu silih berganti.


"Atta juga mau ikut." Atta ikut-ikutan.


"Ini sudah malam. Tadi orang tua kalian telepon Opa, ngiranya kalian mau menginap di rumah Opa. Besok saja kalau mau lihat Maminya Juna, sekarang kalian pulang dulu. Pasti capek habis main seharian," bujuk Angga.


Atta dan Baim akhirnya mengangguk patuh. Akhirnya mereka pun berpisah. Mereka pulang bersama sopir sedangkan Juna dan Angga bersama Steven yang mengemudikan mobilnya.


Mereka melintasi jalan raya menuju rumah sakit yang sudah Tian beritahu, akan tetapi dijalan Angga sekalian mengganti pakaian Juna. Sebab tercium aroma asem kemeja putihnya.


***


Di rumah sakit.


"Papi! Mami kenapa?!" Juna berlari cepat menghampiri Tian yang duduk dikursi seorang diri. Nurul sudah pulang lebih dulu dan mereka memutuskan tak jadi ke panti.


Melihat anaknya datang, Tian langsung mengusap air matanya yang mengalir di pipi. Kemudian membungkuk untuk menyambutnya. Mereka berpelukan sebentar, lalu Tian menggendongnya.

__ADS_1


"Mami masih diperiksa Dokter, tapi Mami pasti baik-baik saja," jawab Tian seraya mencium kening anaknya.


"Jangan bilang Mbak Nissa pingsan karena Om melakukan KDRT," cicit Steven dengan tatapan sinis.


"Demi Allah nggak, Stev." Tian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Om nggak akan melakukan tindakan seperti itu. Mbakmu pingsan karena awalnya muntah-muntah. Sepertinya dia masuk angin karena ...."


Ceklek~


Ucapan Tian barusan berhenti seketika sebab ada seorang dokter wanita di dalam ruang IGD yang baru saja keluar. Dia membuka masker medisnya, lalu tersenyum.


"Bapak suaminya Bu Nissa, kan?" tebak Dokter itu seraya menatap Tian. Pria di depannya langsung mengangguk cepat.


"Iya, Dok. Kenapa dengan istriku? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Tian dengan mimik wajah cemas.


Wanita berjas putih itu menjulurkan lengannya, mengajak Tian berjabat tangan. Hal itu tentu membuat Tian bingung, akan tetapi dia langsung menyambutnya.


"Selamat ya, Pak. Bu Nissa ternyata sedang hamil. Usia kandungannya tiga Minggu," ucapnya memberitahu.


Tian, Juna, Angga dan Steven sontak terbelalak. Mereka terkejut tapi begitu senang. Bahkan sangking senangnya Tian sampai sujud syukur. Juna yang masih dia gendong jadi melakukan hal yang sama.


'Ya Allah terima kasih, akhirnya hasil kencingku berbuah manis, Nissa hamil. Terima kasih juga, Yang. Kamu hebat dan pintar di ranjang,' batin Tian. Dia menangis haru.


"Dedek Melati sudah ada di perut Mami, Pi?!" seru Juna dengan semangat. Papinya itu langsung mengangguk cepat.


"Iya, kamu akan punya adik."


"Hore!!" Juna mengangkat kedua lengannya ke udara. Lalu menarik turunkannya. "Juna seneng banget! Juna akhirnya punya Dedek Bayi!"


"Terima kasih ya, Dok. Terus keadaan Nissa sekarang bagaimana?" tanya Tian menatap sang Dokter.


"Hanya perlu istirahat, Pak, soalnya dia kelelahan. Kebetulan saya melihat ... Bu Nissa punya riwayat darah tinggi saat hamil anak pertama. Jadi sebaiknya harus berhati-hati, Bapak harus ikut menjaganya dan membuat suasana hatinya selalu baik," jelas Dokter itu.


"Sekarang Nissa darahnya tinggi, Dok?" tanya Angga.


"Nggak, Pak." Dokternya itu menggeleng sambil menatap Angga. "Darahnya normal, ini hanya mengantisipasi saja. Ada magh juga dia, jadi untuk sehari atau dua hari dirawat dulu saja, ya?"


"Iya, Dok." Tian yang menyahut dengan anggukan kepala. "Nggak apa-apa, yang penting keadaan istriku akan jauh lebih baik."

__ADS_1


...Wah selamat Om Tian dan Mbak Nissa๐Ÿ˜ Ada mainan baru nih, Jun ๐Ÿ˜†...


__ADS_2