Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
275. Kesalahan teknis


__ADS_3

"Kalau pingsannya karena itu, obatnya tinggal baluri minyak angin saja, Bu. Pada perut, kaki, tangan dan dahi. Berikan juga susu jahe hangat kalau dia sudah sadar," jelas Dokter itu sembari menatap Sindi. Dia tadi mengira, pingsannya bocah itu karena penyakit tertentu.


Namun mendengar penjelasan dari Tian, menurutnya itu tak serius.


"Nggak dikasih obat, Dok? Siapa tahu nanti Juna pas bangun muntah-muntah lagi," saran Sindi. Hanya untuk mengantisipasi saja.


"Nanti saya berikan resepnya, biar Ibu membeli di apotek." Dokter itu membuka tas jinjingnya, lalu mengambil buku kecil dan pulpen. Kemudian menuliskan nama obat. Kertas itu pun disobek, lalu diberikan kepada Sindi.


"Terima kasih ya, Dok."


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya permisi, tadi saya belum selesai makan sop buah." Dokter itu tersenyum seraya berdiri.


"Iya, Dok." Sindi mengangguk lalu menatap Angga. "Mama antar Bu Dokter dulu, ya, Pa. Sambil ngambil minyak angin di tas dan—"


"Minyak angin aku punya, Bu, eh, Ma," potong Tian. Lalu melangkah menuju lemari dan membukanya. Dia mengambil minyak angin yang berada di tas kecil miliknya, kemudian menghampiri Juna lagi dan membaluri minyak itu sedikit demi sedikit pada area yang Dokter wanita sarankan tadi.


"Mama minta tolong si Jarwo untuk beli obat yang Dokter resepkan saja. Terus temani Citra saja di bawah, nggak perlu ke sini lagi," titah Angga.


"Iya. Nanti kalau Juna sudah sadar Papa kasih tahu Mama, ya?"


"Iya." Angga mengangguk. Kemudian, dua wanita itu melangkah keluar dari kamar. "Kamu telepon pihak hotel untuk membawakan susu jahe dan buah," titah Angga menatap Tian. "Eh, si Juna sudah makan siang belum?"


"Belum, Pa. Nanti aku sekalian pesankan makanan deh, aku juga laper mau makan. Biar sekalian makan bareng." Tian merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, lalu melangkah menuju sofa dan duduk di sana. Dia pun menelepon pihak hotel.


Seusai menelepon, Juna mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan. Lalu menatap Angga di depannya dan menoleh ke arah Tian yang baru saja melangkah menghampiri.


"Juna kok ada di kamar?" Juna mengedarkan pandangan pada kamar yang terlihat indah itu. Banyak lilin di dekat sisi tembok, bunga mawar yang menempel di dinding dan lampu kecil-kecil berwarna-warni di atas sana. Lampu itu belum menyala, tetapi sudah terlihat cantik. "Bukannya tadi Juna dan Papi mau berak bareng, ya? Juna 'kan belum berak, Pi."

__ADS_1


"Apa kamu lupa, kamu pingsan gara-gara bau pisang goreng Papimu, Jun?" tukas Angga kesal. Matanya tampak melebar.


"Masa sih Juna pingsan? Perasan Juna hanya mual terus muntah doang." Sepertinya bocah itu tak ingat.


"Besok-besok, kalau Papi mau berak ... kamu nggak usah ikut, Jun," ucap Tian.


"Dih, Papi kok gitu? Katanya mau bareng-bareng sama Juna." Bibir mungilnya mengerucut, wajahnya sendu dan bola matanya tampak berkaca-kaca. "Kok jahat?!"


"Bukan jahat." Yang menimpali Angga. "Ada benarnya yang dikatakan Papimu. Memangnya kamu mau, pingsan lagi? Sudah begini masih pengen berak bareng, aneh!" omelnya kesal.


"Tadi itu ada kesalahan teknis, Opa," kata Juna sambil menyentuh kepalanya yang masih terasa sakit. Tian segera mengolesi minyak angin di area dahi.


"Kesalahan teknis apanya?"


"Harusnya, Papi Tian itu nungguin Juna buka celana dulu. Terus kita duduk bareng di kloset, baru lah setelah itu kita berak bersama," jelas Juna. "Tapi tadi Papi malah ninggalin Juna. Malah duduk duluan dan berak duluan. Jadi Juna keracunan pisang gorengnya."


"Intinya, berak itu nggak bisa bareng," kata Angga kesal. "Pokoknya besok-besok Opa nggak mau lihat kamu pingsan lagi gara-gara pisang goreng Papimu! Yang lain saja yang bareng-bareng, kecuali berak. Karena itu susah dan bau!" tegasnya.


"Nggak mau!" Juna menggeleng cepat. "Juna mau ngerasain berak bareng sama Papi. Pasti senang rasanya. Tapi nanti pakai masker saja, biar nggak kebauan. Ya, Pi?" Menatap Tian, meminta persetujuan padanya.


"Tapi kalau Papi nggak tahan mau keluar dulu sebelum kamu gimana, Jun? Pas kita sudah duduk bareng?" tanya Tian. Dia bingung untuk setuju atau tidak. Sebenarnya tidak masalah baginya, hanya saja dia khawatir—kalau kejadian tadi akan terulang. Kasihan Junanya.


"Maksudnya, Papi mau keluarin pisang goreng duluan sebelum Juna?"


"Iya." Tian mengangguk cepat.


"Nggak apa-apa. Pokoknya yang penting kita sudah sama-sama nggak pakai celana dan duduk di kloset. Itu saja, Pi."

__ADS_1


Angga berdecak sebal lalu menggeleng pelan. Bisa-bisanya Juna tak merasa kapok, malah ingin mencobanya lagi dengan memakai masker.


"Oke deh kalau begitu. Tapi pakai masker berarti?" tanya Tian, Juna mengangguk.


"Tapi kalau misalkan pakai masker kamu tetap mual sampai muntah, jangan berak lagi bareng Papi, ya?" tegur Angga. Juna mengangguk lagi. 'Lagian, ide dari mana coba, berak segala mau bareng? Jorok banget si Juna, masih kecil juga. Mirip siapa sih, dia? Perasaan aku sama Sindi orangnya bersih deh. Aku juga belum pernah tuh, berak bareng sama Sindi,' batinnya bingung.


"Sebentar, Papi beli masker dulu berarti. Takutnya kamu atau Papi mau berak," kekeh Tian lalu mengetik ponselnya. Memesan masker pada toko online yang langsung dikirim sekarang.


"Oh ya, Jun. Nanti malam kalau pestanya sudah selesai ... kamu tidur sama Opa di kamar sebelah, ya?" tawar Angga.


Bukan hanya Tian saja yang memesan kamar, tetapi Angga berikut dengan Steven, Sofyan dan Rizky juga. Kamar mereka masing-masing ada di sekitar kamar Tian. Masih satu lantai, lantai empat.


"Nggak mau," tolak Juna sambil menggeleng. "Juna mau tidur sama Mami dan Papi di sini. Kasurnya empuk dan bagus." Tubuhnya yang masih berbaring itu dia goyangkan. Demi merasakan empuknya kasur berseprai putih itu.


"Hanya malam ini saja, biarkan Papi dan Mami tidur berdua." Angga tentu jauh lebih berpengalaman, meskipun hanya satu kali menikah. Dia mengerti, pasti Tian juga menginginkan momen yang dilalui berdua dengan Nissa. Mereka sudah menikah dan Angga tahu, Tian sangat mencintai anaknya. Pastinya, hasrat pria itu sudah terpendam sejak dulu dan belum tersalurkan.


"Kenapa sih memangnya?" tanya Juna yang tampak kesal. "Kasur ini 'kan luas. Dan Papi mau tidur sama Juna juga, kan?" Menatap ke arah Tian. Pria itu hanya bisa mengangguk. Berat baginya, untuk menolak permintaan anaknya.


"Nanti malam Papi pasti mau kencingin Mamimu, Jun," kata Angga memberitahu. "Memangnya kamu nggak kasihan padanya? Pasti kepengen banget itu Papimu." Melirik ke arah Tian. Dilihat wajah pria di sampingnya itu langsung merona. Miliknya tiba-tiba saja berkedut oleh sendirinya, seolah merespon dengan apa yang Angga katakan.


"Ya 'kan ada kamar mandi, Opa." Juna menunjuk kamar mandi yang pintunya tepat mengarah di depannya.


"Papi kencingin Mamimu di kamar mandi?" Kening Angga mengerenyit.


"Iya lah. Kan memang kamar mandi tempat orang mau kencing, masa di kasur, sih? Opa ini ada-ada saja," kekeh Juna tertawa. Merasa lucu sendiri. "Kalau di kasur bisa bau pesing dong. Udah gitu burung Papi 'kan gede, pasti air kencingnya banyak, Opa," tambahnya terkekeh sambil menatap inti tubuh Tian yang tertutup celana.


...Bener juga sih, Opa 🤣 Memang udah nasib Om Tian itu. 😂...

__ADS_1


__ADS_2