
"Bukan nggak mau, A, cuma takutnya Aa—"
"Udah cepat masuk!" sergah Steven cepat dan tampak memaksa.
Citra pun akhirnya setuju, dan tanpa mengatakan sepatah kata pun dia segera masuk ke dalam mobil.
Sebetulnya, diawal Citra bukan tak mau ikut dengan Steven. Hanya saja dia takut kalau Steven buru-buru ingin pergi ke kantor, jadi nanti bisa-bisa telat kalau mengantarnya dulu.
Di perjalanan itu suasana benar-benar begitu hening, hampir tak ada yang bicara. Citra juga kebingungan mencari topik sampai akhirnya tak terasa keduanya sudah tiba ditujuan.
"Terima kasih ya, A, udah nganterin aku." Citra meraih tangan Steven, lalu mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum," tambahnya dan langsung mencium pipi kanan Steven sebentar.
Pria itu sontak membulatkan matanya, lantaran terkesiap dengan apa yang terjadi. Tapi tak dipungkiri, jika jantungnya tiba-tiba berdegup kencang berikut dengan rona kemerahan pada kedua pipinya. "Walaikum salam," jawab Steven pelan.
Dia pun memerhatikan istrinya yang turun dari mobil, kemudian melangkah menuju gedung universitas tersebut.
Namun, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berlari menghampiri Citra. Dia terlihat menyapanya, sembari mengajak ngobrol dan melangkah bersama.
"Siapa dia? Kok kelihatan akrab banget?" Dada Steven sontak terasa panas, begitu pun dengan matanya. Tapi dia hanya diam di tempat dengan mengepalkan kedua tangannya.
Dhika yang mengemudi lantas memutar balik mobilnya, kemudian berlalu dari sana.
"Dhika, si Citra biasa pulang dari kampus jam berapa?" tanya Steven setelah beberapa menit kemudian mengontrol diri sambil mengelus dada.
__ADS_1
"Saya kurang tau, Pak." Dari kaca depan, Dhika terlihat menggelengkan kepalanya.
"Kok bisa kurang tau? Kan kamu katanya tau kalau Citra itu istriku, Dhik."
"Saya memang tau Nona Citra istri Bapak, tapi saya nggak tau aktivitasnya. Termasuk pulang dari kampus, Pak."
"Memang biasanya ... si Citra kalau pulang sama siapa? Dan laki-laki tadi siapa, Dhik?" tanya Steven penasaran.
"Laki-laki yang mana, Pak?" Dhika menggaruk rambut kepalanya yang mendadak terasa gatal. Padahal sudah diberitahu kalau dia tak tahu, tapi lagi-lagi Steven bertanya.
"Yang tadi bareng Citra pas mau masuk gedung."
"Saya nggak tau, Pak."
"Kenapa Bapak nggak tanya sama Nona Citra saja langsung, biar tau semua jawabannya," saran Dhika.
"Ish! Nggak mau lah aku."
"Kenapa nggak mau, Pak?"
"Nggak apa-apa! Pokoknya nggak mau!" tegas Steven sambil menggelengkan kepalanya, lalu menatap ke arah jendela mobil dan memerhatikan beberapa kendaraan yang lalu lalang. 'Malu lah, masa tanya-tanya. Nanti dia kege'eran lagi, terus mau mengajakku bercinta,' batinnya.
"Lho, Dhik! Dhika! Itu 'kan si Imel!" seru Steven tiba-tiba.
__ADS_1
Dari kejauhan, dia melihat seorang perempuan yang tampak begitu familiar, baru saja masuk ke dalam taksi yang berhenti disisi jalan.
Dia memakai setelan jas berwarna pink, tapi dengan model rok span pendek sepaha.
"Imel?! Imel siapa, Pak?" tanya Dhika bingung.
"Pacarku lah, Dhik!" balas Steven. Dan mobil taksi yang dia lihat itu sudah melaju pergi sekarang. "Cepat susul dia! Ikuti mobil taksi itu, Dhik!"
Steven menunjuk dengan tubuh yang sedikit maju. Sang asisten pun mengangguk cepat dan menuruti permintaannya untuk mengikuti mobil taksi yang kini berada depannya.
"Mau ke mana si Imel? Dan dari mana saja dia, sampai nggak mau menemuiku selama aku sakit?" gumam Steven, tapi mampu didengar oleh Dhika.
"Pak ... bukankah saya sudah bilang semalam ... kalau Bapak dan Nona Imel itu sudah putus, ya? Dan kenapa justru sekarang Bapak ingin menemuinya?"
"Aku masih belum percaya, mangkanya aku ingin menemuinya. Dan niatku juga sebetulnya sebelum kita ke kantor ... kita harus ke apartemenku dulu. Mengecek kamar apartemen Imel, benar apa nggaknya, dia sudah nggak tinggal di sana, Dhik."
Beberapa menit kemudian, akhirnya mobil taksi di depan itu berhenti pada sebuah perusahaan kosmetik yang bernama 'Joe Skincare'
Dan saat Steven melihat perempuan itu turun sembari membayar ongkos taksi, dia pun buru-buru turun dan berlari menghampirinya.
"Imel!!" panggilnya yang mana membuat perempuan itu langsung menoleh.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1