Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
251. Pengen jadi orang kaya


__ADS_3

"Kata Opa, supaya wanita hamil, dia dikencingin dulu sama suaminya," jelas Juna dengan polosnya. "Mami pas hamil Juna saja dikencingin Papi."


Tian menepuk jidatnya sambil geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan apa yang Angga ajarkan pada cucunya itu. "Nggak gitu konsepnya, Jun."


"Terus apa?"


Menggaruk rambut kepalanya yang tiba-tiba gatal. Sepertinya kalau dijelaskan itu tidaklah mungkin. Sebab Juna masih terlalu kecil. Akan lebih baik Tian mengalihkan pembicaraan saja. Cari aman.


"Kita ke makam anak Om dulu deh, ya, kamu mau ikut, nggak?" tanyanya.


"Mau, Om." Juna mengangguk cepat, lalu menoleh ke arah sopirnya. "Om pulang saja. Bilang sama Mami Juna mau main ke rumah Om Tian."


"Tapi Adek 'kan belum izin sama Mami Adek," jawab Sopir itu.


"Sekarang telepon Mami. Nanti Juna yang ngomong," titah Juna.


Sopir itu pun mengangguk, lantas mengambil ponselnya di dalam kantong celana lalu menelepon Nissa. Setelah terhubung dan diangkat, segera dia berikan benda pipih itu ke tangan Juna.


"Halo, Mi. Ini Juna," ucap Juna.


"Iya, Jun."


"Mi, Juna pulang sekolah ketemu Om Tian. Sekarang Juna mau main sama dia, ya," pintanya.


"Mainnya nanti saja. Ini 'kan bukan hari libur."


"Tapi Om Tian lagi sedih, Mi. Juna mau menghiburnya." Juna meraih tangan Tian, lalu menggenggamnya erat.


"Sedih kenapa?"


"Nanti Juna ceritakan kalau sudah pulang. Udah dulu ya, Mi." Juna langsung mematikan sambungan telepon, lalu memberikan benda itu ke tangan Sopir. "Udah, Om. Sana Om pulang saja."


"Saya titip Juna, Pak." Sopir itu berbicara kepada Tian. Dan pria itu pun mengangguk seraya tersenyum.


"Bapak nggak perlu khawatir."


Setelah sopir itu pergi, mereka bertiga pun masuk ke dalam gerbang. Melangkah bersama mengikuti langkah Nurul.


Tak lama, ketiganya pun berhenti pada sebuah makam kecil. Batu nisan tersebut tertera nama Tina Siregar. Hari, tanggal, bulan dan tahun dia wafat sama seperti lahirnya.


Sebenarnya, itu hanyalah sebuah makam kosong yang dibuat Fira untuk mengelabui Nurul. Supaya nantinya, Nurul tak terus menanyakan di mana cucunya berada.


Tubuh Tian seketika merosot hingga berjongkok. Air matanya bergulir jatuh membasahi pipi. Perlahan dia pun meraba batu nisan itu, lalu membungkuk untuk dapat menciumnya.


"Maafin Ayah, Sayang. Ayah benar-benar bukan Ayah yang sempurna. Ayah bahkan baru tahu kamu sudah pergi sejak 3 bulan yang lalu," lirih Tian sambil menangis. Juna yang masih berdiri di samping pria itu lantas mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Berupaya menenangkannya.

__ADS_1


Tian mendongakkan wajahnya ke arah Nurul. "Apa Mama punya fotonya? Foto Tina?"


"Nggak punya." Nurul menggeleng. Bola matanya terlihat berkaca-kaca. Dia ikut merasakan kesedihan saat melihat Tian menangis. "Mama juga nggak pernah tahu wajah Tina, Ti. Tapi Mama yakin ... wajahnya pasti mirip kamu atau Fira."


Tian mengangguk, lalu menyeka air matanya dan kembali menatap batu nisan.


Juna perlahan berjongkok, lalu mengangkat kedua tangannya. Hendak mendo'akan Tina. "Ya Allah, ampunilah dosa Tina. Tolong masukkan dia ke surga, bersama Bude Nina dan Bu Tari," gumamnya.


Nina adalah istri pertama Sofyan yang meninggal. Tari adalah guru TKnya.


"Amin, amin ya rabbal allamin." Juna meraup wajahnya saat mengakhiri do'a.


"Tina itu masih bayi, dia belum punya dosa," tegur Nurul yang mampu didengar oleh Juna dan Tian.


"Oh iya, Juna lupa." Bocah itu menepuk jidat, lalu membuka kedua telapak tangannya kembali. Mengulang doa yang salah. "Ya Allah, tadi Juna salah. Ternyata Tina masih bayi, belum ada dosa kata Oma Nurul. Bu Gisel sama Opa juga pernah cerita, tapi Juna lupa. Sekarang Juna cuma mau Tina masuk surga saja ya Allah. Amin." Meraup kembali wajahnya.


Seusai berziarah ke makam itu, mereka bertiga pun menaiki mobil Tian. Mengantarkan Nurul pulang.


"Om, ini mobil siapa? Bagus," puji Juna seraya memperhatikan ruang mobil itu. Dia duduk di samping Tian yang mengemudi. Sedangkan Nurul di belakang.


"Mobil Om."


"Wah, Om punya mobil bagus. Beli langsung apa dicicil, Om?"


"Wah, berarti Om sudah banyak uang, ya, sekarang. Alhamdulillah, udah nggak kere lagi." Juna mendekat, lalu memeluk Tian sebentar. Merasa bangga dan juga senang melihat pria itu sudah sukses.


"Alhamdulillah. Itu 'kan berkatmu juga, Jun." Tian tersenyum.


"Kok berkat Juna? Kan Juna nggak ngapa-ngapain."


"Iya, kamu memang nggak ngapa-ngapain. Tapi kamu salah satu orang yang ada untuk Om, saat Om sedang jatuh."


"Jatuh ke mana, Om? Oh, pas jatuh dari kamar mandi itu, ya?"


"Bukan. Tapi jatuh di kehidupan, berada dititik terendah. Terima kasih, Jun. Kamu memang anak yang baik, Om sangat menyayangimu." Tian mengusap rambut Juna, kemudian mendekat untuk mencium keningnya.


Nurul yang duduk di belakang sejak tadi membeku, tetapi dia mendengar jelas apa yang mereka katakan.


"Sama-sama. Juna juga sayang Om. Oh ya, tadi pertanyaan Juna belum Om jawab, lho."


"Pertanyaan yang mana?" Kening Tian mengerenyit.


"Yang tanya kapan Om resmi jadi duda."


"Hari ini, Om sudah resmi jadi duda. Ini buktinya." Tian memberikan akta yang sejak tadi berada di sisi kursi. Bocah itu langsung mengambil dan membacanya. "Kamu sudah bisa baca, kan?"

__ADS_1


"Sudah dong. Masa baca doang nggak bisa," jawab Juna dengan bangga. "Berhubung sudah sah, bagaimana kalau kita temui Om Steven sekarang, Om?" usulnya.


"Mau ngapain temui Om Steven?"


"Kan mau minta restu. Tapi Juna mau ikut, Juna mau bantuin Om Tian supaya bisa mendapatkan restu dari Om Steven."


"Oke. Habis mengantar Oma Nurul kita langsung ke kantor Om Steven, ya?"


"Om Steven udah nggak kerja, Om."


"Kok nggak kerja? Pensiun?"


"Kayaknya. Sudah dua bulan dia nggak kerja, katanya mau nemenin Tante Citra yang sudah hamil besar."


"Tante Citra belum melahirkan memangnya?"


"Belum. Kata Oma sih mungkin tinggal menghitung hari. Kita ke apartemen Om Steven saja. Soalnya dia dan Tante Citra tinggal di sana sudah semingguan ini, Om."


"Oke." Tian mengangguk cepat.


"Jun, kamu itu cucunya siapa?" tanya Nurul yang mendadak penasaran. Sebab bocah itu menyebutkan nama Steven.


Juna memutar kepalanya ke belakang menatap Nurul. "Anggara sama Sindi."


"Anggara Prasetyo?"


"Ya." Juna mengangguk.


Sontak Nurul membelalakkan matanya dengan lebar. "Jadi kamu mau nikah sama anaknya Pak Angga, Ti?" tanyanya kepada Tian.


"Rencananya begitu, Ma."


"Kok bisa?" Dada Nurul seketika sakit. Dia juga tak menyangka sebetulnya, jika Tian semudah itu move on dari Fira. "Memang, Pak Angga punya anak cewek? Setahu Mama dia cuma punya dua anak."


"Dia punya satu anak cewek. Janda, itu Maminya Juna," jawab Tian. "Memangnya, Mama kenal sama Pak Angga?"


"Bu Sindi itu teman Mama. Dan Mama sempat ingin berbesanan dengannya tapi gagal."


"Berbesanan?" Tian mengerutkan keningnya. Dia terdiam beberapa saat untuk mencerna apa yang dikatakan wanita itu. "Maksudnya, dulu Fira mau menikah dengan Steven?"


"Iya." Mengangguk cepat. "Sayangnya gagal gara-gara Steven ternyata sudah menikah sama Citra. Padahal, Mama dan Fira pengen jadi orang kaya, Ti." Nurul mendengkus kesal seraya meremmas dressnya.


...Nanti sore Author up lagi, ya~...


...Yuk, kolom komentarnya diramein~...

__ADS_1


__ADS_2