Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
228. Belum melihat b*rung Om Rama


__ADS_3

"Om Rama ini dulu pacarnya almarhumah Bu Tari, kan?" tebak Juna.


Tari adalah salah satu guru TKnya, dan sejak masih pacaran, Juna sering melihat Rama datang ke sekolah untuk mengantar dan menjemput wanita itu.


"Kamu mengenal almarhumah Tari, Jun? Dari mana?" tanya Rama yang tampak bingung.


"Bu Tari itu salah satu guru TKku, Om. Dan aku sering lihat Om mengantar dan menjemputnya di sekolah."


"Oh, jadi kamu sekolah di sana, Jun? Kelas berapa?" tanya Rama dengan wajah yang mendadak sendu. Mendengar namanya saja hatinya terasa teriris.


"TK B, Om. Oh ya, aku turut berduka cita ya, Om. Atas meninggalnya Bu Tari. Tapi apa benar, alasan Bu Tari meninggal gara-gara Bu Gisel?" tanya Juna penasaran. Gisel adalah salah satu guru TKnya lagi, teman seprofesi Tari.


"Gisel itu siapa?" Sekarang yang bertanya Mbah Yahya. Juna pun menoleh ke arahnya.


"Bu Gisel juga guru TKku, Kek. Katanya ... pas Bu Gisel telepon Bu Tari, terus nggak lama kemudian Bu Tari meninggal. Tapi apa benar, katanya burung Om Rama nggak bisa berdiri?"


Mata mereka bertiga sontak terbelalak, terkejut dengan apa yang Juna katakan.


"Jun, apa yang kamu katakan? Jaga bicaramu!" tegur Nissa yang terlihat panik, dia pun menutup bibir Juna.


'Kok Juna bisa tahu sampai ke situ-situ?' batin Rama. Wajahnya langsung merah lantaran malu.


"Kamunya kata siapa burung Om Rama nggak bisa berdiri?" Mbah Yahya kembali bertanya. Aslinya, dia begitu kesal.


Akan tetapi, bukan kesal pada Juna. Melainkan pada nama Gisel yang Juna sebutkan. Sebab dia sendiri baru tahu, kalau yang menelepon adalah dia. Selama ini yang Mbah Yahya tahu, hanya temannya saja yang menelepon. Tanpa tahu siapa namanya.


Juna menarik tangan Nissa dari bibirnya, untuk menjawab pertanyaan Mbah Yahya. "Bu Gisel sendiri yang cerita sama ibu-ibu murid, aku sama temen-temenku nggak sengaja dengar. Soalnya aku lagi main kelereng dan dia mengobrol di dekatku, Kek," jelas Juna jujur.


"Jangan dipercaya, apa yang dikatakan Gisel itu bohong, Jun. Dia hanya bergosip," kata Mbah Yahya yang tampak meyakinkan. "Nggak mungkin juga, sebesar Om Rama burungnya nggak berdiri. Masa dia kalah sama kamu. Nggak mungkin, kan?" Dia terkekeh, mencoba mencairkan suasana hati Rama yang dia tahu pasti sangat tersakiti.


"Masa, sih, Bu Gisel berbohong?" Juna tampak tak percaya. "Setahu Juna dia orangnya jujur, Kek. Dia sehari nggak mandi aja ngasih tahu aku dan teman-teman yang lain."


"Iya. Kakek juga kenal dia, dia orangnya suka bergosip dan apa yang dia katakan semuanya bohong," ucapnya sambil mengelus rambut kepala Juna. Dadanya sontak terasa panas, apa lagi melihat wajah Rama sudah sendu. 'Siapa si Gisel ini dan tahu dari mana dia. Awas saja! Kau akan terima akibatnya karena telah membuka aib anakku. Kalau sampai Juna dan Nissa tidak menerima Rama, nyawamu akan dipertaruhkan!"

__ADS_1


"Om, aku dan Juna pamit dulu kalau begitu. Ini aku ada buah, tadi sekalian mampir." Nissa mengambil satu parsel buah yang berada di tangan sopirnya, lalu memberikan kepada Mbah Yahya. Pria tua itu langsung menerimanya dengan senang hati. "Semoga cepat sembuh ya, Pak Rama," kata Nissa sambil tersenyum menatap Rama.


Rama mengangguk dan tersenyum tipis.


Perlahan tangan Nissa meraih tangan Juna, baru saja hendak dia tarik, namun Juna menahan diri.


"Om Rama, boleh nggak aku lihat burung Om dulu sebelum aku dan Mami pergi?" pinta Juna dengan polosnya. Dia merasa penasaran juga, benar atau tidaknya burung Rama tidak bisa berdiri.


Nissa sontak terbelalak. "Juna! Apa yang kamu katakan? Nggak sopan sekali ini mulut!" Membungkam bibir Juna dengan rapat, lalu menarik paksa untuk keluar dari sana. Nissa tersenyum dengan perasaan tak enak, bisa-bisanya Juna berkata demikian.


Nissa sendiri tak tahu masalah itu, mungkin bisa dibilang, baru tahunya tadi pas Juna bicara. Namun tetap saja, apa yang Juna katakan dan apa yang dia tanyakan sungguh tak pantas.


"Mami kok narik Juna? Juna 'kan belum melihat burung Om Rama," rengek Juna merajuk.


"Kamu ini benar-benar gila, Jun. Ngapain juga mau lihat burung Om Rama? Pasti serem lah," omel Nissa.


"Juna cuma mau mastiin, Bu Gisel bohong apa nggak. Juna hanya mau lihat burungnya bisa berdiri apa nggak."


"Bu Gisel pasti berbohong. Nggak mungkinlah burung Om Rama nggak berdiri, aneh-aneh saja kamu."


"Masalah bener atau nggaknya itu urusan dia. Kamu nggak perlu tahu dan itu juga bukan urusanmu!" tegas Nissa kesal. "Lagian, burung berdiri juga 'kan kadang-kadang, tergantung suasana. Sekarang Mami tanya padamu, kapan kamu merasakan burungmu berdiri?"


"Pas bangun tidur, sama pas berak. Tapi kadang-kadang nggak tahu-tahu berdiri sendiri. Aneh juga ya, Mi. Kenapa burung bisa begitu?"


"Ya memang udah begitu bawaannya. Itu namanya normal."


"Kalau yang nggak berdiri tandanya nggak normal?"


"Iya." Nissa mengangguk.


"Berarti kalau burung Om Rama nggak bisa berdiri, dia nggak normal dong, ya?"


"Sudah, jangan membahas Om Rama lagi." Nissa menyudahi obrolannya, lantas melangkah mengajak sang anak menuju kamar inap Tian yang letaknya tak terlalu jauh dari sana.

__ADS_1


Ceklek~


Pintu itu dibuka oleh sopirnya, gegas Juna pun masuk ke dalam sana. Tetapi, tak ada Tian di sana. Hanya ada dua orang perawat pria dan mereka tengah membereskan tempat tidur.


"Lho, Om Tian ke mana, Om?" tanya Juna pada mereka berdua, lalu menoleh ke kanan dan kiri.


"Pak Tian Siregar maksud Adek?" Salah satu dari mereka berbalik tanya. Juna mengangguk cepat. "Beliau sudah pulang sejak tiga puluh menit yang lalu, Dek."


"Kok pulang? Kan Om Tian masih sakit, Om."


"Om juga nggak tahu masalah itu, ah Dokter!" Perawat itu langsung memanggil seorang dokter yang tak sengaja lewat dari kamar inap. Dia melihatnya dari pintu.


Dokter itu pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh saat Juna dan Nissa menghampiri.


"Om Dokter, di mana Om Tian?" tanya Juna yang tampak cemas sekaligus sedih. Sebab tak berjumpa dengan pria itu.


"Om Tian tadi sudah pulang, Dek."


"Memangnya Tian sudah sembuh, Dok? Kok disuruh pulang?" tanya Nissa.


"Saya tidak menyuruhnya pulang. Dan dia sebenarnya masih perlu dirawat untuk mengobati luka dalam di perutnya. Tapi sebelum itu, ada seorang pria kribo datang untuk menjenguknya. Dia datang menemui saya dan meminta untuk menemui Pak Tian. Setelah itu Pak Tian meminta untuk diizinkan pulang, Bu," jelas dokter itu panjang lebar.


"Kalau masih perlu dirawat, kenapa Dokter mengizinkannya?" tanya Nissa.


"Iya." Juna menimpali. "Kalau Om Tian kenapa-kenapa memang Om Dokter mau tanggung jawab?!" tukasnya dengan mata melotot.


"Saya sebenarnya tidak mengizinkan. Tapi dia memaksa. Katanya ... dia kasihan sama ikan lelenya yang belum dikasih makan. Takutnya mati. Ditambah dia juga takut dipecat sama bosnya, kalau hari ini nggak masuk kerja," paparnya lagi.


Juna langsung menarik lengan Nissa begitu saja, membawanya melangkah pergi dari rumah sakit.


"Kita harus ke rumah Om Tian, Mi," pintanya saat sudah masuk ke dalam mobil, duduk di samping Nissa.


"Mau ngapain? Kalau dia sudah pulang mah biarkan saja, Jun."

__ADS_1


"Kok biarkan?" Juna menatap Nissa dengan mimik kesal. "Mami nggak dengar memang tadi, Dokter ngomong apa? Om Tian masih sakit, Mi. Juna mau mengeceknya. Takutnya Om Tian pingsan di rumahnya."


...Duh, perhatian aman nih bocah. Udah kepincut sama Om Tian ya, Jun 🤣...


__ADS_2