
Setelah berpikir sejenak, Steven memutuskan untuk pergi ke kantor Danu. Walaupun jam sudah masuk waktu pulang kantor—tetapi yang Steven tahu, Gugun sering lembur. Mungkin saja dia bisa bertemu dengannya dan bertanya tentang keberadaan Citra.
"Apa Gugun ada di ruangannya?" tanya Steven pada seorang wanita berambut pendek. Dia penjaga resepsionis.
"Saat ini Pak Gugun sudah pulang, Pak," jawabnya sambil tersenyum.
"Kalau Citra, apa dia ada di sini?"
"Nona Citra Putri Siregar maksud Bapak?"
"Iya." Steven mengangguk semangat.
"Nona Citra nggak ada di sini."
"Apa dia pernah datang ke sini? Mungkin terakhir kalinya kapan?"
"Kemarin."
"Apa kamu punya nomornya Citra?" Mungkin saja Citra ganti nomor, itu yang saat ini Steven pikirkan. Sebab nomornya selalu tidak aktif.
"Nggak punya, Pak."
Semua jawaban wanita itu tak ada yang memuaskan, dengan langkah cepat Steven pun keluar dari kantor itu kemudian masuk ke dalam mobil Jarwo.
"Pulang, Pak?" tanya Jarwo saat menyalakan mesin mobil.
"Pulang apanya?" Baru ditanyain begitu saja darah Steven sudah mendidih. "Aku belum ketemu pacarku! Cepat jalankan mobilnya!"
"Iya, Pak." Jarwo mengangguk.
*
*
Mobil itu melaju sesuai keinginan Steven sampai akhirnya tiba di rumah Danu. Ada seorang satpam yang tengah berdiri di dalam gerbang dan segera dia pun membukakan gerbang besi itu kala mengetahui jika Steven datang.
"Sore Pak Steven," sapanya dengan ramah.
Meskipun rumah itu tak ada penghuni, tetapi Gugun menyewa satpam dan seseorang untuk mengurus rumah. Supaya rumah itu tetap aman dan terawat.
Steven segera turun dari mobil, lalu berlari masuk ke dalam rumah mewah itu yang kebetulan tidak dikunci.
"Citra!" pekik Steven. Suaranya yang cukup lantang itu menggema pada ruangan itu.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Tapi Nona Citra nggak ada di sini," ujar satpam yang baru saja menghampiri. Dia satpam yang di depan tadi.
"Kamu pasti bohong!" tukas Steven tak percaya. Lantas dia pun berlari menaiki anak tangga, lalu membuka kamar Citra. "Citra!"
Tak ada siapa-siapa di dalam sana. Steven melangkah menuju lemari, lalu membuka beberapa pintu itu. Banyak pakaian Citra di dalam sana.
Steven berpindah, membuka beberapa kamar tamu sampai di kamar Danu. Tetapi tak ada siapa-siapa di sana. Rumahnya kosong.
'Kok Citra nggak ada di sini juga, ke mana dia sebenarnya?' batin Steven sambil mengigit bibir bawahnya. 'Apa dia bersama Gugun? Tapi ke mana kira-kira?'
Perlahan Steven pun merogoh kantong celananya. Dia sempat dibelikan ponsel baru lagi oleh Sindi dan wanita itu berpesan untuk tidak menghancurkan ponsel lagi saat sedang marah, sebab nantinya Steven akan terus mengganti nomor dan dengan begitu akan susah dihubungi.
Steven mencoba menghubungi Citra lagi. Tetapi sayangnya nomor itu masih tidak aktif.
Dengan langkah lesu dia pun berjalan menuruni anak tangga.
"Benerkan, Pak, Nona Citra nggak ada," kata Satpam itu yang melihat Steven lewat. Pria tampan itu langsung menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
"Apa Citra sempat datang ke sini?"
"Kemarin malam, Pak. Tapi pagi-paginya Pak Gugun datang dan mengajak Nona pergi."
Mendengar jawaban itu, Steven langsung berlari keluar dari rumah Danu, kemudian masuk ke dalam mobil.
"Sekarang kita ke mana, Pak?" tanya Jarwo.
Jarwo langsung mengangguk cepat.
*
*
Setelah beberapa menit berlalu, mobil Jarwo tiba di sebuah gedung apartemen besar. Gedung tersebut adalah milik Danu dan Steven ingat jika Gugun tinggal di salah satu unit itu.
"Selamat sore, Pak Steven," sapa seorang satpam yang baru saja melihat Steven datang. Dia tentu mengenal Steven sebab pria itu dulu sering datang ke sana bersama Danu.
"Apa Gugun ada di apartemennya?" tanya Steven
"Pak Gugun belum pulang, Pak."
"Belum pulang? Ke mana dia?" Steven mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Sebelum itu dia meminta nomor Gugun pada pria di depannya, kemudian barulah dia menghubungi Gugun.
__ADS_1
Sayangnya panggilan itu tidak dijawab seperti kemarin-kemarin. Padahal sudah lima kali ditelepon. Kemudian, Steven pun mengirimkan sebuah chat pada pria itu.
...[Gun, ini aku Steven. Kenapa kamu bawa barang-barang Citra dari apartemenku? Dan ke mana Citra?]...
5 menit chat itu dikirim, akan tetapi hanya centang dua. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak.
Steven mengirim chat lagi.
...[Gun, aku ingin bicara dengan Citra. Aku yakin kamu saat ini bersamanya. Bawa dia ke apartemenku sekarang juga!]...
...[Gun ... aku tahu Citra marah padaku. Tapi bilang padanya kalau aku ingin minta maaf, kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik dan dengan kepala dingin. Aku ingin bertemu dengan Citra, Gun.]...
Sudah tiga chat yang Steven kirim dan dengan jeda 5 menit. Akan tetapi tak ada balasan atau tanda-tanda jika chat itu dibaca. Dan malah tiba-tiba saja foto profil pada aplikasi Wh*tsApp itu justru hilang. Padahal tadi Steven lihat ada foto Gugun.
"Apa nomorku diblokir?" Steven ingin memastikan benar atau tidaknya, dia kembali menelepon nomor Gugun dan kini sudah tak tersambung. Jelas kalau nomor Steven diblokir. "Kok diblokir? Nyebelin banget, sih?!" Napas Steven langsung naik turun, ubun-ubunnya terasa panas.
"Siapa yang memblokir, Pak?" tanya satpam itu yang tak sengaja mendengar apa Steven katakan.
"Si Gugun. Coba Bapak telepon dia, tanyakan dia ada di mana!" titah Steven.
Satpam itu menggeleng. "Nggak enak, Pak. Itu nggak sopan namanya."
"Nggak apa-apa, bilang saja kalau aku menunggunya. Dan bilang juga kalau dia nggak datang ... gedung apartemen ini mau aku bakar!"
Mata pria itu langsung terbelalak. Kaget dengan ucapan Steven. "Dibakar? Bapak gila, ya? Gedung ini milik almarhum Pak Danu dan nanti akan menjadi milik Nona Citra."
"Tapi Citra istriku! Gugun membawanya pergi! Aku nggak terima dan apartemen ini akan aku bakar karena aku marah!" teriak Steven dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Bapak menikah dengan Nona Citra?" Kening satpam itu mengerenyit. Wajahnya menandakan kalau dia tak percaya. "Bapak jangan bercanda, Bapak 'kan sudah tua? Masa Nona Citra mau sama—"
"Apa katamu? Kau bilang aku ini tua?!" sergah Steven sambil mengertakkan gigi. Dia sangat tidak suka sekali jika ada yang mengatakannya tua. Padahal memang faktanya dia sudah tua. "Kau nggak punya kaca di rumah? Wajahmu bahkan banyak keriput!"
Secara tiba-tiba, Steven pun mencengkeram leher pria itu, lalu meremmasnya dengan kuat hingga membuatnya mendelik kaget. "Turuti permintaanku atau kau akan jadi almarhum!" ancamnya dengan mata melotot.
...Anti banget kayaknya dipanggil tua, langsung emosi tingkat dewa 🥴 padahal 'kan emang udah tua 🤭...
Gays, boleh minta waktunya sebentar nggak sebelum nunggu Author update? Yang mau saja, tapi Author nggak maksa ya. Tolong dong kalian pencet tulisan Nonton.
Iklannya hanya sebentar doang kok, tapi itu menguntungkan buat Author kalau ada diantara kalian yang mau klik 🥺.
Terimakasih semua 🤗
__ADS_1
like
komennya juga jangan lupa tinggalkan, ya!!