Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
319. Mustahil


__ADS_3

"Deg-degan kenapa?" Nissa membuka kacamata hitamnya. Lalu memperhatikan wajah Tian yang berkeringat banyak, apalagi di daerah dahi. Cepat-cepat dia mengambil beberapa lembar tissue di dalam tas, lalu menyekanya.


"Nggak tahu, deg-degan aja," jawab Tian dengan bola mata yang berkaca-kaca. "Aku juga merasa kasihan sama Tina. Kayaknya aku bukan Ayah yang baik buat dia." Pandangan matanya menatap lurus ke depan. Tepat dimana orang-orang itu bekerja.


"Kamu Ayah yang baik, bahkan sangat baik." Nissa menjulurkan tangannya ke arah punggung tangan Tian. Lalu menggenggamnya dengan erat. "Setelah semuanya selesai, pasti kamu akan lega, Yang. Dan Tina memang harusnya dipindahkan. Biar dia dekat sama keluarganya. Iya, kan?"


"Iya." Tian mengangguk lemah sembari tersenyum kecil. Jika sudah membicarakan tentang anaknya, Tian merasa menjadi manusia yang paling cengeng di dunia.


Nissa menoleh ke samping kanan, ada sopirnya yang berdiri di sana. "Pak, tolong belikan jus mangga untuk suamiku, cari di cafe terdekat sini."


"Baik, Bu." Pria berkemeja hijau tosca itu mengangguk, kemudian melangkah pergi.


"Terima kasih, ya, Yang. Kamu perhatian sekali. Padahal aku belum haus," ucap Tian dengan tangan yang mengelus pipi kiri sang istri.


"Sama-sama, Sayang."


Setelah 30 menit berlalu, salah satu orang penggali kubur itu melangkah cepat menghampiri mereka berdua. Keringat pada area wajahnya tampak mengalir deras.


"Maaf Pak Tian, saya dan teman-teman sudah menggali makam anak Bapak cukup dalam, tapi jasadnya nggak berhasil ditemukan," ucapnya memberitahu.


Tian dan Nissa sontak terbelalak secara bersamaan. Keduanya langsung berdiri dan melangkah cepat menuju makam.


"Kok bisa nggak ditemukan? Bagaimana urusannya?" tanya Tian heran. Sekujur tubuhnya mendadak terasa bergetar.


"Masalahnya, bukan hanya jasadnya saja yang nggak ada, Pak," ujar penggali kubur yang berada di dalam makam Tina. "Tapi kain kafan dan papan untuk menutup jenazah juga nggak ada," jelasnya.


Tian memperhatikan makam Tina dari atas. Merasa penasaran, akhirnya dia melepaskan jasnya dan memberikannya kepada Nissa. Sambil menggulung lengan kemeja berwarna creamnya, dia pelan-pelan turun ke sana. Ingin memastikan sendiri.


"Coba kita gali lebih dalam lagi, Pak. Mungkin saja ketimbun tanah lain," titah Tian. Lalu meraih cangkul yang dipegang salah satu penggali kubur.


"Tapi ini sudah dalam," jawab penggali kubur yang memberitahu Tian dan Nissa tadi. Dia melangkah menghampiri. "Biasanya kalau makam bayi itu dikuburnya nggak terlalu dalam, Pak."

__ADS_1


"Coba lagi saja. Masa jasad anakku nggak ada? Mustahil," ucap Tian. Segera, dia menghentakkan cangkul itu ke tanah merah, lalu mulai menggalinya lagi. Dua orang penggali kubur ikut membantunya.


*


*


"Sudah, cukup, Pak!" Salah satu penggali kubur menahan tangan Tian untuk menghentakkan kembali cangkulnya. "Ini sudah sangat dalam, Pak."


"Coba lagi, anakku belum ketemu," ucap Tian. Dadanya terasa bergemuruh dan buliran air matanya mengalir membasahi pipi. Meskipun sudah dilarang, nyatanya dia masih menggali makam itu.


"Ini sih jatohnya kayak mau buat sumur, bukan menggali kubur," gumam penggali kubur yang lain, yang berbisik ke telinga temannya.


Temannya itu pun mengangguk, lalu dia mendongakkan wajahnya ke atas. Bahkan untuk keluar dari lubang makam itu mereka sepertinya butuh tangga kayu, sebab memang dalamnya sudah mirip sumur.


'Kok bisa, jasadnya Tina nggak ada? Aneh sekali,' batin Nissa. Seperti ada yang janggal menurutnya. Dia pun memperhatikan sekitar beberapa makam itu, kemudian melangkah mencari-cari mengurus makam di sana.


Sebelumnya mereka tentu sudah izin ingin untuk membongkar makam Tian dan dia memang sudah mengizinkan. Mungkin, akan lebih baik Nissa bertanya, siapa tahu penjaga makam itu dapat membantunya.


"Pak, maaf mengganggu," ucap Nissa yang berdiri di depan rumah kecil berbahan kayu yang berada di pojok makam. Di dekat gerbang juga.


Lantas dia menoleh dan berdiri ketika melihat Nissa melangkah mendekat.


"Ada apa, Bu?"


"Aku mau tanya makam almarhumah Tina, Pak. Beberapa penggali kubur dan suamiku sudah menggali makam itu sampai dalam, tapi kenapa jasadnya nggak ditemukan, ya? Bahkan kain kafan dan papan penutupnya pun nggak ada?" tanya Nissa heran.


Pria berkoko putih itu sontak membulatkan matanya, dia tampak terkejut mendengar apa yang Nissa katakan. "Masa, sih, Bu?"


Gegas, dia berlari menuju makam Tina. Begitu pun dengan Nissa yang menyusulnya. Dilihat Tian masih semangat menggali kubur, tapi sambil menangis.


"Belum ketemu, Pak?" tanya pria berkoko putih.

__ADS_1


"Belum." Yang menjawabnya salah satu penggali kubur.


"Pak Tian, hentikan menggali kuburnya. Nanti bisa-bisa tanahnya longsor," tegur pria berkoko itu.


"Iya, Yang. Berhenti dulu," titah Nissa.


Giliran Nissa yang meminta, Tian baru berhenti. Kemudian dia mendongakkan wajahnya ke atas. Wajahnya begitu merah dan basah. Antara keringat dan air mata bercampur menjadi satu.


"Tapi Tina belum ketemu, Yang," keluhnya sedih. "Apa jangan-jangan tubuhnya sudah dimakan cacing atau hewan lainnya, sampai dia hilang?" tebak Tian bersedu-sedu.


"Kalau sudah dimakan, minimal kain kafannya masih tetap utuh, Yang. Kan hewan nggak doyan kain," sahut Nissa.


"Kalian semua naik, saya akan menghubungi tukang penggali kubur yang memakamkan Tina," pinta pria berkoko putih. Dia pun merogoh saku baju kokonya untuk mengambil sebuah ponsel, lalu mencari-cari nomor kontak dan langsung melakukan panggilan.


'Ya Allah ke mana Tina?' batin Tian.


"Suruh datang ke sini saja, Pak," usul Nissa pada pria berkoko.


"Iya, Bu." Pria berkoko putih itu mengangguk. Dan setelah diangkat dari seberang sana, dia langsung bertanya, "Kamu lagi sibuk, nggak?"


"Ini baru beres makamin orang. Kenapa, ya, Pak?" tanya pria bersuara ngebas dari seberang sana.


"Kamu dan temanmu yang memakamkan anaknya Bu Safira, kan?"


"Iya, Pak. Kenapa memangnya?"


"Coba kamu dan temanmu datang ke sini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."


"Makamnya rusak atau gimana?" tanyanya penasaran.


"Ke sini saja dulu. Cepet, ya!" titah pria berkoko putih.

__ADS_1


"Iya, Pak." Jawaban pria dari seberang sana memutuskan panggilan.


...Jangan lupa vote dan hadiahnya, biar semangat 🙂...


__ADS_2