
"Adek mau apa?" Seorang perawat pria langsung mencekal lengan kanan Juna, saat bocah itu hendak masuk ke dalam kamar jenazah tanpa permisi. "Anak kecil dilarang masuk!"
"Tapi aku mau melihat Omku, Pak! Apa benar, Omku meninggal?" Juna mengangkat wajahnya, menatap perawat tersebut. Manik mata kecilnya itu tampak berkaca-kaca.
"Om Steven benar-benar sudah meninggal, Jun," sahut Nissa yang sudah berada di belakang Juna bersama Tian. Segera, dia pun menarik tangan anaknya, kemudian berjongkok seraya memeluk Juna dengan erat. "Mami tau, kamu pasti sedih. Tapi kita harus ikhlas melewati semua ini, Jun."
"Satu jamman lagi. Jenazah Steven Prasetyo akan diantar ke rumah duka, Bu. Tolong tunggu dan tenanglah," ucap perawat itu. Lantas masuk ke dalam kamar jenazah dan menutup pintunya dengan rapat.
"Ini semua gara-gara Juna, Mi, Juna yang bersalah ...," lirih Juna dan tak lama air matanya itu mengalir membasahi kedua pipi.
Meskipun Steven tipekal orang yang pemarah dan suka mengomelinya, tapi Juna yakin—jika pria itu sangat menyayanginya. Dan perlu diingat juga, tanpa restu dari Steven, dia tak akan bisa melihat Maminya menikah dengan Tian.
"Kok jadi kamu yang salah, Sayang?" tanya Tian. Dia ikut berjongkok kemudian mengusap puncak rambut Juna dengan lembut.
"Tolong ceritakan sejujurnya, bagaimana Om Steven bisa terjatuh, Jun?" tanya Nissa penasaran.
"Itu berawal dari Juna yang kepengen mangga juga, Mi, hiks!" Juna menangis tersedu-sedu. Dia kali ini merasa, meninggalnya Steven adalah karena dirinya.
"Lalu?"
"Lalu Jordan ikutan kepengen juga."
"Terus?"
"Terus Om Steven mau ngambil. Sedangkan Juna melarangnya, tapi Jordan tetep kekeh ingin mangga juga sampai akhirnya kami saling bersahutan. Berteriak-teriak. Juna melarang, sedangkan Jordan ... hiks! hiks! hiks!" Tak kuat rasanya dia bercerita, sampai-sampai belum selesai pun sudah sesenggukan.
"Terus hubungannya Om Steven bisa sampai jatuh itu gimana?" tanya Tian yang masih tidak mengerti dengan cerita Juna.
"Om Steven terpleset, saat Juna dan Jordan berteriak-teriak. Terus Opa mau nangkep eh nggak kena. Dan akhirnya Om Steven jatuh terpentok batu besar. Sampai pingsan dan mengeluarkan darah ... hiks! Hiks!" Tangis Juna makin pecah. Dadanya terasa sakit untuk menerima kenyataan pahit ini. "Maafin Juna, Mi. Juna benar-benar bersalah."
Nissa mengusap-usap punggung Juna, mencoba menenangkannya. "Harusnya kamu biarkan saja saat Om Steven mengambil mangga untuk Jordan, Jun. Biar dia cepat turun dari pohon dan kalian bisa pulang."
__ADS_1
"Iya. Juna juga menyesal, Mi."
"Sudah ... kamu nggak salah, Jun." Tian mengecup kening Juna, lalu meraih tubuhnya untuk dia gendong. "Ini sudah takdir. Mau menyesalinya pun nggak ada gunanya."
"Tapi bagaimana dengan Dedek Kembar dan Tante Citra, Pi? Kasihan mereka. Ditambah Tante Citra juga yatim piatu." Juna memeluk tubuh Tian, sambil terus terisak.
Dada Tian sontak sesak. Untuk menarik napasnya pun terasa tersendat. Buliran air pada bola matanya yang sudah becek itu seketika mengalir membasahi kedua pipi. Dia akhirnya menangis, ikut bersedih dengan nasib miris keponakannya itu.
'Dari banyaknya orang di dunia ini ... kenapa harus Steven yang kau ambil dulu? Kenapa ya, Allah?' batin Tian terenyuh. 'Dan kenapa juga ... lagi-lagi Citra lah yang harus menderita. Ini seperti nggak adil. Dia harusnya bahagia ya, Allah.'
*
*
*
Berhubung meninggalnya Steven sudah lewat Magrib, jadi akan lebih baik dia dimakamkan esok pagi. Seorang ustad pun menyarankan hal demikian.
Citra dan Sindi berada di rumah sakit, mereka benar-benar syok berat dan terguncang. Sampai-sampai membutuhkan pertolongan dari pihak rumah sakit.
Sofyan, Maya, Jordan dan Angga juga masih berada di sana. Menemani dua perempuan yang belum sadarkan diri itu.
Si Kembar dibawa Suster Dira ke rumah Guntur dan Gita. Kedua orang itu adalah mertuanya Nella. Sofyan memintanya untuk ikut mengurus si kembar, Jihan serta Johan.
Sedangkan yang ada di rumah duka adalah Tian, Nissa, Rizky, Nella dan Juna.
Sekarang, sudah lewat Isya. Juna sejak tadi duduk termenung sambil memeluk lutut di depan teras rumah. Pandangan matanya menatap ke arah depan dan begitu kosong.
Padahal, Juna sudah berniat mengajak Tian malam ini untuk melaksanakan sholat tarawih pertama pada bulan puasa di tahun ini. Di masjid yang berada di dekat rumah Angga.
Sayangnya, semua niat itu sepertinya sudah gugur, sebab mereka semua sibuk karena dukanya. Hingga melupakan esok datangnya bulan suci ramadhan.
__ADS_1
Sudah berhasil tidak meninggalkan sholat 5 waktu saja sepertinya itu sudah sangat bersyukur, untuk saat ini.
"Om ada apa, sih? Kok rame banget di rumah Papa?" tanya Kevin pada Bejo.
Dia menatap sekitar pada rumah mewah itu, banyak sekali orang asing berdatangan serta beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah.
Saat ini, dia, Janet, Luna dan Luki berada pada satu sangkar emas. Mereka semua tengah makan malam dengan beberapa potongan buah apel.
"Nggak ada apa-apa," jawab Bejo berbohong.
Tak ada niat sebenarnya, hanya saja dia takut kalau jujur—Kevin akan minta keluar dari sangkar dan mengacaukan suasana tenang dari rumah duka tersebut.
Bejo tak mau mengambil resiko. Ditambah Dono juga masih dalam perjalanan pulang ke Jakarta, belum sampai sini. Otomatis hanya dia yang berjaga di rumah itu.
"Tidak ada apa-apa kok rame? Kayak orang mau nikahan. Oh ... atau Papa Angga mau nikah lagi, ya, Om?" tebaknya.
"Nggak usah ngarang kamu, Vin! Mana mungkin Pak Angga menikah lagi. Mana kuat dia." Bejo geleng-geleng kepala. Lantas dia duduk di kursi pada pos, lalu mengambil ponselnya pada kantong celana bahan.
"Aku turut berdukacita, ya, Jun," ucap Atta seraya melangkah menghampiri Juna. Dia datang bersama Papanya, dan Papanya itu sudah masuk duluan ke dalam rumah. Ingin ikut mendo'akan Steven.
Mereka tahu Steven meninggal karena rumah Atta tepat di seberang rumah Angga.
"Aku tau, ini pasti melukaimu ... yang sabar, Jun." Atta perlahan duduk di samping Juna, lalu merangkul bahu temannya seraya menepuknya dengan pelan. Dilihat sekarang, Juna tengah menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir membasahi pipi. "Oh ya, aku dengar dari orang-orang ... Om Steven meninggalnya karena jatuh dari pohon mangga. Benar nggak, Jun?" Tangan Atta terangkat, lalu menyeka air mata dipipi temannya.
Juna hanya menjawabnya dengan anggukan kepala, kemudian melanjutkan aktivitas menangisnya.
"Nggak keren banget ya, Jun, Om Steven meninggalnya."
"Maksudmu apa?" Juna membuka suaranya yang terdengar pelan. Lantas menoleh dengan kening yang mengerenyit. Dia tampak bingung dengan apa yang diucapkan temannya.
"Ya maksudnya, dia 'kan meninggal karena jatuh dari pohon mangga. Ya nggak keren aja, bisa sampai meninggal gitu, Jun," jawab Atta dengan polosnya. "Kecuali kalau kecelakaan, ketabrak mobil, ketembak atau kena tusuk ... itu baru keren."
__ADS_1
...Terus yang matinya keracunan cicak gimana, Ta? 🤣jangan bilang kalau itu gokil 😆...