
"Oke." Tian menautkan jari kelingkingnya, lalu tersenyum.
"Sudah makan dulu, berhenti mengoceh nggak jelas," titah Angga kesal.
"Juna mau disuapi Om Tian, Mi," pinta Juna saat melihat Nissa mengambil satu porsi sate lalu menuangkan di atas piring. Sembari mencabuti tusukannya.
"Biar aku yang suapi Juna, Nis." Tian mengambil piring di tangan Nissa. Wanita itu pun mengangguk.
"Maaf merepotkan ya, Ti. Kamu sampai ke sini dan bawa sate," ucap Nissa tak enak.
"Nggak apa-apa, aku justru senang kok bisa ketemu Juna sama kamu. Oh ya, kamu sudah makan belum? Mau makan apa? Mau aku belikan?" tanya Tian seraya mengaduk sate dan lontong itu. Kemudian perlahan menyuapi Juna. Bocah itu tampak semangat sekali membuka mulutnya.
Angga berdecih sebal. 'Lebay amat si Tian. Sok perhatian.'
"Aku makan sate saja. Ini 'kan kamu bawa banyak." Nissa mengambil bungkus sate di atas nakas, lalu membukanya. "Papa mau makan sate juga?" tawarnya seraya menatap Angga.
"Iya, siapkan di piring untuk Papa. Tapi dua porsi jadikan satu," jawab Angga.
"Papa mau makan dua porsi sekaligus? Emang nggak kenyang?"
"Itu nanti berdua sama Mama. Papa tunggu diluar, ya, Nis."
"Iya." Nissa mengangguk.
Angga melangkah keluar sambil merogoh ponselnya di dalam kantong celana. Kemudian menghubungi Rama.
"Halo, Ram. Di mana kamu?" tanya Angga seraya duduk kursi panjang di samping Sindi.
"Aku ada di rumah karyawan tokoku. Maaf ya, Om. Kayaknya aku datang ke rumah sakit maleman. Soalnya aku baru saja selesai tahlilan."
"Tahlilan? Apa ada yang meninggal?"
"Iya, karyawan tokoku meninggal, Om."
"Innalilahi, kenapa bisa meninggal? Sakit?"
"Kata temennya sih tersendak gigi Om."
"Tersendak gigi?" Alis mata Angga bertaut. "Kok bisa? Kan gigi tumbuhnya bukan di tenggorokan, Ram."
"Jadi tuh gigi dia udah goyang, terus dia akalin pakai tangan biar cepat kecabut. Eh pas udah kecabut, giginya malah ketelen," jelas Rama.
"MasyaAllah. Lagian, ada-ada saja. Dokter banyak, ngapain cabut gigi pakai tangan."
"Nggak ngerti aku juga, Om."
"Kalau begitu mah kamu nggak usah ke sini saja, Ram."
"Lho, kenapa? Junanya sudah tidur, ya?"
"Belum. Tapi kata dokter dia butuh banyak istirahat. Kamu jenguk dia nanti saja kalau dia sudah pulang ke rumah. Besok paling sudah pulang." Bukan Angga tak memperbolehkan Rama bertemu dengan Juna, tetapi dia tak mau jika nantinya pria itu diacuhkan oleh cucunya.
__ADS_1
Bocah itu terlihat sangat senang bertemu Tian dan Angga yakin—pasti kehadiran Rama nanti sama sekali tidak dipedulikan. Angga tak mau menyakiti Rama.
"Oh begitu, ya sudah nggak apa-apa, Om. Salam buat Juna sama Nissa ya, Om. Semoga cepat sembuh untuk Juna."
"Amin. Nanti Om sampaikan."
"Selamat malam, Om."
"Malam."
*
*
"Om sudah makan belum?" tanya Juna saat mendapatkan suapan terakhir dari Tian. Satu porsi sate beserta lontong itu sudah berhasil habis.
Sekarang, bocah itu tengah duduk di pangkuan Tian sambil menyandarkan punggungnya di dada Tian.
"Sudah."
"Makan sama apa? Kenapa nggak makannya bareng saja di sini? Bareng Juna."
"Om makannya tadi sore pas mau lembur. Nggak kuat kalau nahan sampai malam. Laper banget."
"Kalau nggak lembur, pulang jam berapa?"
"Jam 4, paling lama jam 5."
"Iya." Tian menarik tissue basah di atas nakas, lalu membersihkan bibir Juna sisa makannya.
"Perut Om sudah sembuh belum? Juna mau lihat dong." Juna meraih ujung kemeja Tian, hendak menariknya ke atas. Tetapi pria itu dengan cepat menahannya. Sebab merasa malu ada Nissa. "Nanti aja lihatnya."
"Kapan?" tanya Juna.
"Kalian mengobrol saja berdua." Nissa langsung berdiri, dia mengerti apa yang Tian rasakan. Tetapi dia sendiri merasa heran mengapa Tian malu, sebab asetnya saja Nissa sudah tahu dengan jelas. Dan masih terbayang di otak. "Mami tinggal keluar dulu ya, Jun. Mau ngobrol sama Oma."
"Mami nggak mau ngobrol sama Om Tian?" tanya Juna.
"Nggak. Kamu saja." Nissa tersenyum, lalu mengelus rambut Juna dan melangkah keluar.
"Katanya Om suka sama Mami. Kok Om jarang ngobrol sama Mami?" Juna menggeser bokongnya hingga dia saling menghadap ke arah Tian.
"Om bingung, mau ngobrolin apa. Nggak ada bahan obrolan kayaknya."
"Kan bisa nanya kabar, lagi apa, udah makan belum, udah mandi belum," saran Juna.
"Kan tadi udah nanya makan. Kalau kabar kelihatan baik. Mandi juga sepertinya sudah, soalnya wangi dan cantik. Kalau lagi apa juga Om udah lihat."
"Iya juga, sih." Juna mengangguk-ngangguk. Perlahan dia pun menangkup kedua pipi Tian. "Oh ya, Om sudah tahu belum Janet bertelur? Sebentar lagi Kevin punya anak lho."
"Masa, sih? Wah bagus. Berapa telur, Jun?"
__ADS_1
"Dua. Tadinya Juna kepengen satu buat digoreng. Tapi nggak dibolehin sama Opa dan Kevin. Padahal, Juna mau ngerasain telurnya Janet, Om. Enak apa nggak, kayak telur puyuh."
"Ya jangan dong. Kasihan si Kevin sama Janetnya. Kan bikinnya susah itu."
"Apanya yang susah? Orang gampang."
"Memang kamu pernah, lihat Kevin dan Janet bikin telur? Jangan dilihat harusnya, nggak baik itu."
"Juna nggak pernah lihat. Tapi kata Opa, caranya sama seperti manusia."
Tian membelalakkan matanya. "Opamu memberitahu cara bikin anak?"
"Iya." Juna mengangguk cepat. "Caranya gampang lagi, Om. Kayaknya—" Ucapan Juna terhenti lantaran melihat pintu kamarnya dibuka. Angga yang datang.
"Ini sudah malam. Kok kamu belum tidur, Jun?" tanya Angga seraya menunjuk ke arah jam dinding. Tian dan Juna menatap ke arah sana. Tanpa mereka sadari, perbincangan mereka sampai menghabiskan waktu 3 jam. Sekarang sudah pukul 10 malam.
"Juna belum ngantuk, Opa. Masih mau ngobrol."
"Tapi ini sudah malam. Om Tian juga musti pulang. Besok dia 'kan kerja." Menatap sinis ke arah Tian.
Tubuh kecil Juna hendak Tian pindahkan ke atas kasur, untuk berbaring. Tetapi bocah itu menahan bokongnya untuk terus di atas paha.
"Om Tian menginap di sini, jangan pulang," pintanya seraya memeluk tubuh Tian. Juna merasa tak rela pria itu pulang. Belum puas rasanya dia bercerita dan saling bertatap muka.
"Mau tidur di mana dia? Di lantai?" tanya Angga kesal. Berbeda dengan Juna yang tampak nyaman akan kehadiran Tian. Dia justru merasa risih. Kalau tidak melihat Juna, Tian mungkin sudah diusir.
"Ya di kasur, bareng Juna."
"Terus Mamimu?"
"Sama Opa dan Oma di bawah. Kan ada kasur." Juna menunjuk kasur busa yang berdiri dipojok ruangan itu. Angga memang sudah mempersiapkan untuk tempat mereka tidur malam ini. Tapi awalnya hanya untuk dia dan Sindi saja, sebab Nissa pasti tidur di atas.
"Enak saja. Masa Om Tian tidur di atas, sedangkan Mami di bawah? Ya nggak boleh gitu lah."
"Ya sudah, dituker saja. Om Tian tidur di bawah sama Opa dan Oma."
"Opa nggak mau." Angga menggeleng cepat. "Sempitlah." Angga melototi Tian yang sejak tadi diam saja. "Kamu ngomong kek, Ti. Kok diam saja? Memang kamu besok nggak kerja?" Dia merasa geram sekali melihat Tian yang diam dan tampak pasrah. Yang Angga mau, pria itu menolak permintaan Juna.
"Besok Om pagi-pagi ke sini lagi, Jun. Sekarang kamu tidur saja."
"Juna tidur kalau Om juga tidur di sini. Enak saja Om pulang. Dari pagi tahu Juna mau ketemu, masa sebentar doang. Rugi dong."
"Ya sudah, Om temani kamu sampai tidur saja, ya?" Tian perlahan mengangkat tubuhnya untuk membaringkan Juna di atas kasur, tetapi lengan bocah itu sejak tadi tak ingin lepas melingkar di leher Tian. Pria itu tampak kesusahan untuk melepaskan diri.
"Kalau Om Tian nggak menginap, Juna mau nangis sampai pagi," ancamnya sambil mengeratkan pelukan. Sekarang kedua kakinya pun ikut menangkup ke punggung Tian. Tak mau lepas.
"Ya sudah, Ti, kamu boleh menginap. Sambil susuin bila perlu tuh si Juna. Biar cepat tidur!" geram Angga dengan kedua tangan yang mengepal. Dia tampak emosi melihat tingkah cucunya yang makin menempel bagaikan prangko itu.
Mau tidak mau Tian pun ikut berbaring. Sebab lama-lama dia merasa pegal menahan tubuhnya yang terus digelayuti Juna.
'Bisa darah tinggi aku kayaknya, kalau lihat mereka berdua,' gerutu Angga dalam hati. Dia pun lantas melangkah keluar dari kamar itu dengan wajah cemberut. 'Kenapa mereka lengket banget sampai nggak bisa dipisahkan? Terus, rencana aku dan Yahya ingin mendekati Nissa dan Rama bagaimana dong?'
__ADS_1
...Ya berarti otw gagal, Opa 🤣...