Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
136. Ayok kejar


__ADS_3

Fira mengerjapkan matanya secara perlahan. Manik matanya langsung memindai setiap sudut ruangan di mana dia berada.


Keningnya seketika mengerenyit. Dia merasa bingung mengapa dirinya ada di sebuah kamar. Kamar itu tidak asing baginya, sebab Fira pernah berada di sana.


"Kok aku bisa ada di kamarnya Mas Tian?" tanyanya pada diri sendiri. Segera dia pun menarik tubuhnya hingga duduk di atas kasur.


Namun sontak—dia membelalakkan matanya kala menurunkan pandangan. Tubuhnya itu memakai kebaya berwarna putih beserta rok batik.


Rambut kepalanya terasa berat saat dia bangun. Dan setelah berhasil dia pegang—ternyata di atas kepalanya itu ada sanggul juga dengan riasan pengantin.


Fira langsung turun dari kasur, lalu menatap cermin besar dan matanya membulat sempurna kala dirinya sudah jadi pengantin dalam pantulan cermin itu.


"Siapa yang membuatku menjadi seperti ini dan ...." Ucapan Fira menggantung di ujung bibir kala bayangan kejadian kemarin langsung terlintas di otaknya. Dia ingat, saat mencari mobil taksi sepulang dari praktek Mbah Yahya ada seseorang yang membekap mulutnya. Tetapi setelah itu dia tak ingat lagi, sebab sudah jatuh pingsan.


"Apa saat aku pingsan aku dibawa ke sini? Dan berarti itu semua kerjaan Mas ...." Baru saja Fira ingin menebak kalau itu kerjaan Tian. Dan tiba-tiba saja pria yang dia maksud itu berada dibalik pintu. Saat pintu kamar itu dibuka secara perlahan.


Ceklek~


"Fira, akhirnya kamu sudah bangun. Wah ... kamu cantik sekali memakai kebaya," ungkap pria itu dengan senyuman manis. Tian terlihat begitu tampan dengan mengenakan setelan jas berwarna putih dan dasi kupu-kupu. Kakinya melangkah menghampiri Fira.


"Apa Mas kemarin menculikku? Dan apa yang mau Mas lakukan? Kenapa aku pakai kebaya?" Fira mundur beberapa langkah, menghindari Tian. Tetapi pria itu justru dengan sigap memeluk tubuhnya.


"Iya, maafkan aku. Karena dengan begitu kamu akan susah menikah denganku. Kamu akan terus menerus menghindari," jawabnya seraya mengecup pipi.


Tiba-tiba, Tian langsung mengendong tubuh Fira, lalu membawanya keluar dari kamar. Gadis itu tampak terkejut dengan apa yang dilakukan pacarnya. Dan lebih mengejutkannya lagi, ketika di ruang tamu saat Tian sudah menuruni anak tangga—ada seorang pria berjas memakai peci. Juga dengan pria di sampingnya yang memakai baju Koko dan peci juga tentunya.


Fira menebak kalau mereka adalah seorang ustadz dan penghulu. Sebab di depan mereka ada sebuah meja kecil yang di atasnya ada beberapa lembar kertas, kotak perhiasan dan buku nikah. Ada 5 orang pria juga di sana. Kelimanya asing di mata Fira. Mungkin mereka yang akan dijadikan saksi.


"Mas! Apa yang mau Mas lakukan? Turunkan aku!" teriak Fira memberontak. Dia berusaha menurunkan tubuhnya dari gendongan Tian.


Tian langsung menurunkannya, tetapi dia justru menekan tubuh Fira yang saat ini dia rangkul bahunya hingga duduk. Keduanya pun duduk di depan penghulu dan ustadz.

__ADS_1


"Kita mulai sekarang ijab kabulnya, Pak," ujar Tian.


Mata Fira terbelalak, dia pun lantas menggeleng cepat. "Nggak! Aku nggak mau menikahi dengan kamu, Mas!" tolaknya.


"Kenapa? Kita menikah sekarang, jangan tunggu nanti-nanti. Aku sudah belikan kamu satu set perhiasan dengan berlian tentunya. Coba kamu lihat." Tian membuka sekotak perhiasan yang isinya adalah kalung, gelang, anting dan juga cincin. Semuanya tampak begitu mengilap dalam penglihatan Fira. Berlian ada di mana-mana.


Sengaja Tian memperlihatkannya supaya bisa meluluhkan hati sang pujaan. Mungkin dengan begitu Fira akan mau dia ajak menikah sekarang juga.


Namun sayang, gadis itu masih menggelengkan kepala. Dia begitu keras kepala tak ingin dinikahi.


'Dapat dari mana semua perhiasan itu? Apa Mas Tian kaya lagi? Ah sepertinya nggak. Kemarin saja aku baca berita kalau dia sudah bangkrut dan sekarang bekerja di perusahaan Kakaknya.'


'Nggak! Aku lebih baik menjomblo seumur hidup daripada menikah dengan pria kere! Nanti Mas Tian akan jadi seperti Papa. Sakit-sakitan dan menyusahkan. Aku nggak mau masa mudaku gugur di tangannya!' batinnya penuh tekad.


"Aku nggak mau, Mas. Sampai kapan pun aku ... Aakkkhhhh!" Fira tiba-tiba memekik dengan kencang seraya menyentuh perutnya. Terasa begitu sakit yang teramat sangat di dalam sana.


"Kamu kenapa?" tanya Tian dengan panik. Dia ikut menyentuh perut rata Fira.


Pria itu pun langsung mengangkat tubuhnya seraya mengendong Fira. Kemudian membawanya keluar dari rumah.


Ali dan Aldi masih ada diarea sekitar rumah Tian. Keduanya tidur bergantian supaya mereka kuat untuk melek.


Saat melihat Tian membawa masuk Fira ke dalam sebuah mobil putih—Aldi yang melihatnya pun segera membangunkan temannya. Menepuk pundaknya dengan keras seraya menggoyangkannya.


"Al, bangun! Itu Fira!" ucapnya setengah berteriak. Meskipun gadis itu memakai baju pengantin dan riasan tebal, tetapi Aldi mengenalinya dan yakin jika dia adalah Fira.


Ali membuka matanya secara paksa, lalu menatap Aldi seraya mengusap kedua matanya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Itu Fira! Ayok kejar! Seorang pria membawanya!" perintah Aldi sambil menunjuk sebuah mobil putih yang baru saja keluar dari gerbang. Kemudian melaju dengan kencang.

__ADS_1


Ali mengangguk. Dia bergegas menyalakan mesin mobil, lalu menarik gasnya dengan cepat menyusul mobil yang melaju duluan.


Mobilnya terus mengikuti ke mana arah mobil putih itu pergi, sampai tiga puluh menit berlalu akhirnya mereka mengakhiri laju kendaraannya tepat di depan sebuah rumah sakit besar di kota itu.


Mereka melihat seorang pria yang baru saja turun dari mobil sambil mengendong Fira, lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Sebelum dia pergi, Aldi dengan sigap memotretnya terlebih dahulu, kemudian langsung mengirimkan kepada Angga. Berikut dengan informasi yang dia dapatkan.


[Fira dibawa ke rumah sakit oleh seorang pria yang mungkin usianya nggak jauh dari Pak Steven. Mereka berdua memakai baju pengantin, Pak.] Tulis Aldi pada chat tersebut. Lalu dia pun mengirimkan alamat rumah sakit itu.


"Sekarang bagaimana, Al?" tanya Aldi.


"Kita masuk dan temui pria yang membawa Fira itu. Kita tanya-tanya," kata Ali seraya turun dari mobil. Mobilnya dia tinggalkan di parkiran.


Aldi berlari menyusul temannya yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit. Mata mereka langsung berkeliling menatap sekitar sembari berjalan mencari keberadaan Tian.


Tak sulit menemukan pria itu, sebab kini dia tengah berdiri di depan pintu UGD sembari berkacak pinggang.


Kakinya mondar-mandir seperti orang yang kebingungan. Wajahnya juga tampak begitu cemas dan begitu banyak keringat yang berjatuhan di wajah tampannya.


"Maaf, permisi ...," ucap Ali sopan seraya memperhatikan wajah Tian dengan seksama. "Bapak siapanya Fira, ya?" tanyanya yang langsung kepada inti. Tian seketika menghentikan langkah kakinya yang sejak tadi sibuk sendiri, kemudian menatap kedua pria di depannya dari ujung kaki ke ujung kepala.


...Sambil nunggu up lagi, boleh minta waktunya nggak, Guys?...


...Tolong kalian kasih ulasan dong buat novel ini dan klik bintang 5. kasih komen jangan lupa. aku kasih contoh, ya....




...kek begitu contohnya. aku tunggu ya, Guys 🙏...

__ADS_1


__ADS_2