
"Nggak sempat, Pak. Mobilnya keburu pergi."
"Ah, ya sudah." Steven memutuskan sambungan teleponnya saat tiba di parkiran, dia pun lantas masuk ke dalam mobil.
***
Sebelumnya....
Citra merasa bosan sekali yang sejak tadi melihat pintu kamar Steven tertutup rapat. Jujur, sebenarnya ingin rasanya dia mengetuk pintu itu. Tetapi dia merasa malas sebab Steven tak mau mengakui kalau dia memang cemburu.
Citra memutuskan keluar dari apartemen, niatnya ingin mencari udara segar sembari membeli minuman pada mini market yang kebetulan berada di sekitar gedung.
Namun, justru dia malah tak sengaja bertemu dengan Tegar, yang kebetulan baru keluar dari pintu kaca mini market sambil membawa minuman kaleng. Sedangkan Citra baru hendak masuk.
"Eh, Citra. Kebetulan kita ketemu di sini," ujar Tegar yang mana membuat Citra menghentikan langkahnya. Lalu menatap ke arahnya.
Sebenarnya ini bukan sebuah kebetulan saja, Tegar memang sengaja datang ke gedung apartemen milik Steven karena ingin bertemu Citra. Awalnya dia juga tak tahu dimana apartemen Steven, tetapi dia memilih mencari tahu.
"Lho, kok Om ada di sini?" tanya Citra dengan kening yang mengerenyit.
"Om habis ketemu teman, kebetulan dia tinggal di sekitar sini," jawabnya berbohong. "Kamu mau beli apa? Eh, mumpung sudah ketemu bagaimana kalau kita pergi nonton?" ajaknya.
"Tapi aku belum izin sama Om Ganteng, Om. Dan sepertinya Om Ganteng nggak akan mengizinkan."
"Dih, kenapa? Memangnya dia orangnya overprotektif, ya? Kan Om ini Ommu. Masa iya seorang suami nggak mengizinkan keponakan dan Omnya bertemu. Memang kamu nggak kangen, Om?" tanya Tegar dengan ekpresi sedih yang dibuat-buat.
"Eemmm ...." Citra menggaruk rambutnya dengan jari telunjuk, mau jujur rasanya tidak enak. "Kangen kok."
"Ya sudah. Kalau kangen ... ayok kita pergi." Tegar tanpa aba-aba langsung menarik lengan Citra, lalu membawanya masuk ke dalam mobil dan cepat-cepat mengemudi.
Citra mengambil ponselnya pada kantong celana jeans. Baru saja dia hendak mengetik, tetapi Tegar sudah merebut ponselnya.
"Biar Om saja yang mengatakannya, Cit." Tegar mengetik-ngetik asal ponsel itu, lalu menempelkannya pada telinga kanan. Dia berpura-pura menelepon Steven.
"Halo, Stev. Ini Tegar. Aku mau mengajak Citra pergi nonton sebentar, ya?" tanyanya, lalu memberikan jeda dan kembali berkata, "Oke, oke." Tegar mengetik ponsel itu seolah mematikan sambungan telepon, setelahnya dia memberikan benda pipih itu ke tangan Citra.
"Kata Om Ganteng apa, Om?" tanya Citra penasaran.
"Boleh, asal jangan lama-lama."
Citra memencet tombol tengah pada layar ponselnya, tetapi justru ponselnya itu tak menyala.
"Hapemu lowbet itu. Tadi baterainya terakhir pas Om telepon Steven." Tegar bohong lagi, padahal dia yang sempat mematikannya.
"Oh begitu." Citra manggut-manggut.
"Oh ya, apa kamu sudah isi, Cit?" tanya Tegar seraya menoleh sebentar ke arah Citra sambil berkonsentrasi dalam menyetir.
"Isi apa?"
"Maksud Om hamil."
__ADS_1
"Ah jangan 'kan hamil, aku dan Om Ganteng saja belum pernah berhubungan badan." Ucapan itu terlontar begitu saja akibat mengingat begitu menyebalkannya Steven. Dan setelah itu Citra pun langsung melipat bibirnya dengan rapat. 'Kenapa aku malah keceplosan? Tapi nggak apa-apa 'kan kalau Om Tegar tahu? Kan Om Tegar Omku.'
Tegar tampak kaget mendengar apa yang Citra katakan, tetapi justru dia jadi penasaran. "Serius kamu Steven belum menyentuhmu?"
"Iya, Om." Citra mengangguk cepat.
"Perasaan kamu nikah sudah mau sebulan, kan? Apa lebih? Tapi Kok begitu, apa alasannya?"
Citra menatap wajah Tegar dengan serius. "Karena amanah Ayah, aku sempat nggak sengaja dengar Om Ganteng bilang dia dan Ayah punya janji. Tapi masalahnya aku nggak dikasih tahu kenapa Ayah bisa meminta janji seperti itu padanya," jelas Citra. Dia bahkan masih penasaran tentang hal itu. "Kata Om Gugun jawabannya ada di map coklat, sedangkan map coklat itu aku nggak berhasil menemukannya, Om," imbuhnya lagi.
"Oh, kalau masalah itu Om tahu, Cit."
"Benarkah? Apa itu?" Citra tampak begitu antusias sekali, matanya berbinar. Padahal Tegar hanya berbohong dan ingin mengarang cerita.
"Karena Steven mau harta warisan ayahmu."
"Harta warisan?" Alis mata Citra bertaut. "Memangnya untuk apa?"
Tegar berdecak. "Kamu ini gimana, warisan ayahmu 'kan harta. Ya Steven mau harta ayahmu."
"Untuk apa Om Ganteng mau harta Ayah? Kan dia kaya, Om. Punya perusahaan sendiri dan gedung apartemen sendiri. Sampai mati juga kayaknya nggak habis." Citra tampak tak percaya.
"Kata siapa itu punya dia? Itu punya orang tuanya."
"Masa, sih?"
"Iya. Dia mah tua diumur doang. Tapi masih jadi beban orang tua."
"Memangnya orang tua Om Ganteng tinggal di Jakarta juga? Apa Om tahu rumahnya? Ajak aku dong ke sana, Om," rengek Citra dengan suara manja, dia pun menyentuh lengan Tegar.
"Ya pentinglah Om. Aku 'kan juga mau bertemu sama orang tuanya. Pasti ayahnya Om Ganteng nggak kalah ganteng juga, ya?"
"Heh, kamu ini ngomong apa, sih?" Tegar tak habis pikir dengan Citra, padahal dia sengaja mengatakan hal itu supaya membuat keponakannya membenci Steven, tetapi justru ucapannya ngelantur ke mana-mana. "Kamu juga, berhenti panggil dia ganteng. Jijik tahu nggak sih, Cit! Nanti dia malah besar kepala!" berangnya kesal.
"Masa ganteng dibilang jijik. Kata Om Ganteng yang buat jijik itu si Udin."
"Siapa si Udin?"
"Temanku, kata Om Ganteng dia orangnya bau ketek, bergigi tonggos dan kuning sekaligus berdaki."
Tegar langsung menonjok stir mobilnya akibat rasa jengkel di dada. Lama-lama obrolannya sudah keluar dari tema utama. Perlahan dia pun membuang napasnya kasar, masih berusaha untuk mengontrol diri meskipun emosinya sudah mulai memuncak.
'Aku suntik mati baru tahu rasa kamu, Cit. Dasar bocah setres!' gerutu Tegar dalam hati.
"Kok Om diem? Wajah Om kenapa merah begitu?" tanya Citra setelah beberapa menit berlalu menepis kesunyian di antara mereka.
"Ah nggak apa-apa. Ini hanya panas saja." Tegar menggeleng cepat. "Oh ya, Cit. Apa kamu nggak mau kalau bercerai saja dengan Steven?"
"Ngapain bercerai? Hubunganku sama Om Ganteng 'kan baik-baik saja."
"Ya memangnya kamu nggak kecewa saat tahu niat Steven menikahimu karena harta? Mungkin kalau kamu bukan anak orang kaya ... Steven nggak akan mau menikahimu, Cit."
__ADS_1
Citra terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Ya sebenarnya sih kecewa, Om. Tapi namanya sudah jodoh bagaimana? Mungkin memang itu jalan yang diberikan sama Allah supaya kami bertemu." Citra berpikir positif, dan baginya harta tidak penting. Yang terpenting adalah Steven dan cintanya.
"Ah sok beragama kamu, bawa-bawa Allah segala. Nggak pernah salat juga," cibir Tegar sembari memutar bola matanya dengan malas.
"Nanti aku salat sama Om Ganteng, aku lagi hafalin do'a-do'anya."
*
*
*
Mereka telah sampai di sebuah gedung bioskop, suasananya begitu ramai sekali, mengingat ini adalah malam Minggu. Banyak pasangan muda mudi yang keluar masuk dari gedung besar itu.
"Kamu mau nonton film apa?" tanya Tegar pada Citra yang baru saja duduk di kursi.
"Film Korea, Om. Tapi yang romantis, jangan horor. Kalau ada yang banyak adegan ciumannya."
"Mesum banget kamu, masih kecil juga."
"Ih, kan supaya bisa dipraktekkan saat aku pulang nanti."
"Ya sudah, terus minumnya apa? Mau popcorn juga nggak?"
"Minumnya jus alpukat. Popcorn ya harus beli."
"Ya sudah tunggu di sini sebentar jangan ke mana-mana. Om mau beli tiket sama jajanannya."
"Iya, gpl tapi."
Tegar mengangguk, lalu dia pun berlalu pergi meninggalkannya.
Tak berselang lama, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri Citra.
"Citra, kamu di sini juga?" tanyanya yang mana membuat Citra menoleh.
"Udin."
Ya, dia Udin. Penampilan lelaki itu seperti biasa, kumel dan kucel. Hanya saja rambutnya sekarang basah, sepertinya dia mandi dulu sebelum ke bioskop.
"Kamu mau nonton, ya? Sama siapa?" tanya Udin. Dia ingin duduk di samping Citra, tetapi menoleh ke kanan dan kiri dulu mencari-cari keberadaan Steven. Setelah dirasa pria itu tidak ada disekitarnya, lantas dia pun duduk. "Apa sama Om Ganteng?" tanyanya yang entah mengapa jantungnya langsung berdebar kencang.
Citra menggeleng. "Bukan, sama Om Tegar."
Udin langsung menghela napasnya dengan lega. "Oh, bagaimana kalau aku ikut gabung denganmu?" tawarnya.
Belum sempat Citra menjawab, secara tiba-tiba ada seseorang yang datang entah dari mana, tetapi yang jelas, pria itu langsung menonjok pipi kiri Udin dengan sekali hentakan keras hingga tubuhnya jatuh ke lantai.
Bugh!
"Br*ngsek kau Udin!" pekiknya dengan emosi yang membara.
__ADS_1
...Weleh, siapa yang ngamuk tuh🤣🤣...
Kasih bunga atau kopi kek Gays, ini bab banyak lho isinya mau 2k 🙈 edisi malak 🤣✌️