
Rate 21++
Wajah Steven seketika merah padam, kedua pipinya itu terasa ditampar bolak-balik oleh kedua dada montok. Dia mampu menghirup aromanya, tercium begitu wangi serta menggairahkan. Terasa amat lembut bersentuhan dengan kulitnya.
Miliknya di dalam sana seketika menegang, segera Steven menggenggam dada itu dengan kedua tangan demi menghentikan apa yang Citra lakukan lebih lanjut.
Steven mengangkat wajahnya hingga mata mereka bertemu, mulutnya sudah menganga hendak protes, tetapi lagi-lagi Citra melakukan hal-hal yang justru menghentikan apa pun yang mau Steven lakukan.
Steven masih berusaha semampunya untuk tidak tergoda. Namun, nyatanya Citra selalu berusaha untuk mengalahkannya.
Mulutnya yang sudah terbuka itu Citra manfaatkan untuk membungkamnya dengan salah satu puncak dada, lalu sedikit menekannya.
"Ayok hisap, Om," pinta Citra yang mana membuat sekujur tubuh Steven meremang. Rasanya Steven kali ini tak bisa menolak dan mencoba melepaskan diri, sebab memang nyatanya buah dada itu terlihat menggoda di matanya.
Steven langsung melahapnya dan menyedotnya dengan rakus. Dada yang satunya tak dia biarkan nganggur, Steven meremmasnya secara berputar-putar dan sesekali memilin puncaknya hingga membuat Citra menggelinjang.
"Ouwh! Enak, Om," desah Citra sambil merem melek, sensasi geli-geli enak itu sungguh membuat tubuh meremang tak karuan. Sapuan lidah dan sedotan yang lumayan kasar itu membuat Citra amat senang. Kedua tangannya refleks meremat rambut kepala Steven. "Mulai sekarang Om harus menjadi bayiku, harus menyusu setiap hari padaku."
Mendengar itu entah mengapa Steven jadi makin bersemangat. Birahinya makin menggebu-gebu. Dia pun segera beralih melahap yang satunya, lalu melakukan hal yang sama hingga membuat gadis itu mendessah lagi.
"Aahhh ... bibir Om sangat enak. Terus hisap, Om."
Tubuh Citra sejak tadi tidak bisa diam, terus bergerak dan tanpa sadar bokongnya pun seolah mengesek-gesek kejantanan Steven. Dia di dalam sana makin meronta-ronta, sangat ingin meminta sang empu untuk segera melepaskan.
Steven langsung menghentikan aktivitas itu. Meski dirinya sudah terhanyut, tetapi dia masih berusaha untuk menyadarkan akal sehatnya yang hendak oleng. Dia segera mendorong pinggang Citra hingga gadis itu turun dari pangkuannya.
__ADS_1
Terlihat Citra yang masih menikmati permainan Steven tentu merasa kesal dan kecewa, saat tahu suaminya itu menghentikannya begitu saja.
"Kenapa udahan? Padahal enak banget. Om juga belum cium leherku," ujar Citra merengut seraya mememmas dadanya.
"Aku mau mandi, ini sudah sore." Ucapan Steven terdengar ngelantur, itu disebabkan kabut gairahnya sudah menggebu.
Dia pun memalingkan wajahnya yang sudah merona. Meskipun memang terasa sakit menahan hawa naffsu, tetapi nyatanya pria masih berusaha menahannya.
Steven langsung berlari cepat dari dapur menuju kamarnya sendiri. Citra yang melihatnya pun segera ikut berlari menyusul masuk ke dalam kamar.
Saat sampai di kamar ternyata pria itu malah masuk ke dalam kamar mandi, dan pada akhirnya Citra juga masuk ke dalam sana.
"Ngapain kamu ke sini, Cit?" tanya Steven kaget saat melihat Citra sudah berdiri di depan matanya. Padahal dia baru saja hendak merogoh asetnya di dalam celana.
"Aku mau kita mandi bareng."
"Jangan!" tekan Steven saat melihat Citra yang hendak menurunkan celana tidur. Kedua tangannya itu langsung menyentuh inti tubuhnya. Sakit sekali rasanya, dan kini menjalar pada kepalanya yang tiba-tiba pening. 'Sakit banget, aku menginginkannya.'
"Kenapa memangnya? Dan Om kenapa?" Kening Citra mengerenyit heran saat melihat wajah Steven amat merah juga dengan matanya, tubuh pria itu terlihat bergetar hebat dan pandangan matanya tertuju pada sesuatu yang Steven pegang saat ini.
Citra berjongkok di hadapan Steven, lalu melepaskan sesuatu yang ditutupi oleh kedua telapak tangan pria itu. Saat terlepas, terlihat jelas celana katun yang Steven kenakan sangat mengembung. Citra yang tampak penasaran tanpa berpikir panjang langsung merabanya.
"Keras banget, Om."
"Jangan pegang!" pekik Steven seraya menepis kasar tangan Citra. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin, dia menelan salivanya dengan kelat.
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya." Citra meraih kolor celana Steven, hendak dia tarik tetapi ditahan oleh Steven.
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Katanya kamu pernah bilang takut, jadi jangan dilihat!" Lagi-lagi Steven menghentikan tangan Citra yang terkesan nakal itu. Tetapi Citra yang sesungguhnya penasaran masih terus melakukannya, dia ingin melihat dengan jelas sekali lagi kejantanan Steven.
"Aku mau lihat sekali lagi, Om. Seram atau ti—aahhh!" Citra terkejut saat Steven tiba-tiba saja mengendongnya, lalu membawanya ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Steven bisa gila lama-lama kalau terus menyiksa diri karena selalu menahannya. Kali ini rasanya dia tidak bisa, kepalannya sungguh terasa sakit, ubun-ubunnya panas dan dadanya sesak. Jangan tanya lagi bagaimana keadaan miliknya, sudah pasti dia sungguh memprihatinkan sebab selalu Steven kunci di dalam celana.
Steven langsung menindih tubuh Citra, lalu meraup bibirnya dengan kuat dan penuh naffsu. Citra ikut membalasnya dengan senang hati, kedua pipi Steven sudah dia tangkup.
Tangan Steven perlahan menyusuri tubuh Citra, dari mulai meraba leher, dada, perut hingga sampai pada kolor celana tidur yang Citra kenakan. Baru saja hendak menurunkannya, tetapi gadis itu langsung menahannya.
"Om mau ngapain?" tanya Citra disesi ciuman mereka hingga akhirnya Steven mengakhiri ciuman panas itu.
"Katanya kamu mau lihat milikku, jadi aku harus melihat milikmu lebih dulu." Steven tersenyum manis dengan mata sayunya. Citra hanya mengangguk dan tak menunggu lama Steven sudah berhasil membuat gadis itu polos di depannya.
...Om Ganteng ngapain, sih? 🤣...
Author mau promosi lagi, ini novel temanku.
yuk mampir Gays, sambil nunggu up. Genre rumah tangga dan menguras air mata.
__ADS_1