Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
304. Aku kalah duluan


__ADS_3

"Ya sudah, ayok mulai sekarang, Yang." Tian hendak meraih tubuh Nissa. Mau dia gendong lalu menaruhnya ke dalam bathtub. Akan tetapi tangan Nissa menghalangi.


"Aku isi air dan sabunnya dulu, Yang. Biar enak kalau tubuh kita masuk."


"Oh oke." Tian tersenyum lalu mengangguk. Dia pun memandangi istrinya yang tengah mengisi air pada bathtub dan menuangkan sedikit sabun hingga berbusa. "Nggak perlu pakai air hangat, Yang."


"Nggak kok." Nissa menggeleng. "Udah siap, ayok masuk." Menggerakkan kepalanya.


Tian melangkah mendekat, lalu meraih tubuh Nissa untuk digendong pada bagian depan. Tubuh mereka yang sama-sama polos perlahan masuk ke dalam sana. Pelan-pelan Tian duduk dan memangku Nissa.


Cup!


Satu kecupan langsung mendarat dibibir Nissa sebentar, kemudian Tian melanjutkannya dengan sedikit kasar.


"Ayok mulai," ajaknya.


Mereka pun saling memagut, mencumbu dan melummat bibir lawannya. Tian langsung meremmas dada Nissa dan memilin puncaknya.


Wanita itu tentu tak tinggal diam. Pelan-pelan dia menggesek bokongnya. Memberikan sentuhan supaya milik Tian yang memang sudah bangun jadi makin meronta.


'Duh, baru digesek aja udah enak gini, Nis,' batin Tian sambil menelan ludah. Dia makin semangat melummat bibir Nissa.


Setelah beberapa menit, ciuman dibibir itu kini sudah turun pada bagian leher. Tidak hanya menj*lat, Tian juga mengigit kecil hingga memberikan bekas merah keunguan di sana.


Disaat itu pula, perlahan Nissa menyentuh milik suaminya. Bola matanya sontak membulat sempurna, sebab merasa terkejut sekaligus tak menyangka dengan ukurannya.


'Ternyata pas dipegang lebih gede, ya?' batin Nissa.


Akan tetapi dia masih melanjutkan aktivitasnya. Nissa mengenggam dan memajukan mundurnya sebentar sebelum perlahan dia melakukan penyatuan hingga tertanam sempurna.


"Uuhh!" Satu dessahan itu lolos dibibir. Sungguh luar biasa rasanya. Kemudian Nissa langsung menggoyangkan pinggulnya. Menghentakkannya hingga air di dalam bathtub itu terciprat keluar dan bahkan tumpah-tumpah.


Tian sontak terkejut dengan kedua bola mata yang melebar. Sentuhan yang Nissa lakukan itu sungguh luar biasa. Ritmenya yang begitu cepat membuat ubun-ubunnya terasa panas, sampai dia tak sadar kalau dirinya sudah mencapai pelepasan yang pertama.


'Wah, hebat banget Nissa ternyata. Aku kalah duluan,' batin Tian.


Meski begitu, Nissa masih terus bergoyang di atas sana. Sebab walau sudah keluar, nyatanya milik suaminya itu masih terasa besar dan memenuhi tubuhnya.


*


Beberapa menit, akhirnya ronde pertama pun selesai di kamar mandi, tetapi hanya Tian yang berhasil keluar.


Setelah mengering tubuhnya, mereka pun berpindah di atas kasur. Tian sudah terlentang dengan pasrah di atas sana. Menunggu istrinya yang seksi itu kembali beraksi.


"Aku di atas lagi?" tanya Nissa. Tian langsung mengangguk cepat dengan kedua tangan yang terangkat. Bersiap mengenggam dua gunung kembar yang bergelayut manja milik istrinya.

__ADS_1


Perlahan Nissa naik lagi ke atas tubuh suaminya. Tetapi dengan posisi membelakangi dan kemudian melakukan penyatuan.


Berbagai gaya yang Nissa tahu langsung dia praktekkan. Sebab dia juga ingin memuaskan suaminya.


Guncangan demi guncangan membuat bantal dan selimut itu berjatuhan ke lantai. Bahkan sepreinya pun sampai ikut terbuka. Begitu dahsyat dan agresif sekali Nissa hari ini. Benar-benar membuat Tian tak henti-hentinya untuk mendesaah.


"Enak banget, Yang. Kamu luar biasa, aku mencintaimu," ucap Tian seraya meremmas kuat dada Nissa dari belakang.


"Kamu juga luar biasa, Yang," jawab Nissa dengan napas yang terengah-engah.


*


Setelah beberapa menit berlalu. Posisi pun kini berbalik. Kasihan juga rasanya kalau Nissa terus bekerja, apalagi wanita itu sepertinya belum mencapai pelepasan. Sedangkan Tian sudah hampir tiga kali keluar.


Sekarang, Tian lah yang berada di atas. Nissa yang tengah tengkurap itu langsung Tian masukkan, kemudian mengguncangnya dengan tenaga ekstra. Wanita itu sontak menjerit nikmat.


"Aah!"


Sangking enaknya bercinta, mereka sampai tak ingat pada perutnya yang belum terisi makan siang. Bahkan rantang susun di atas meja itu seperti menjadi saksi, bagaimana panasnya percumbuan mereka di siang hari yang terik ini.


'Aku pengen kita bercinta setiap hari, Yang. Ini enak dan luar biasa,' batin Nissa.


***


Sementara itu di rumah Dono.


Itu disebabkan Juna terus bermain dengan Silvi. Padahal bayi itu hanya bisa diajak bermain, tapi Juna terus mengajaknya bercanda lalu terkekeh sendiri.


Sesekali Juna mencuri-curi waktu kalau Della lengah, supaya dia bisa menjilat pipi Silvi. Angga yang tengah duduk sambil ngopi bersama Dono pada ruang tamu menyaksikan apa yang dilakukan oleh Juna di dalam kamar, kebetulan pintunya memang sengaja dibuka lebar. Akan tetapi mereka diam saja, sebab takut jika Juna marah kalau ditegur.


"Maaf ya, Don. Wajah anakmu jadi bau ilernya si Juna. Dia memang suka banget jilat-jilat bayi. Si kembar aja sampai bau iler," ucap Angga tak enak.


"Nggak apa-apa, Pak." Dono tersenyum sambil mengangguk.


"Insya Allah Juna sehat. Dia juga anaknya nggak doyan jengkol dan pete, Don."


"Iya."


"Tante, kalau Dedek Silvi sudah besar, dia harus nikah sama Juna, ya?" pinta Juna seraya memeluk tubuh kecil Silvi. Dia berbaring di sampingnya dan bayi mungil itu kini tengah menyesap susu formula lewat dot.


"Memangnya kamu mau menikah sama Dedek Silvi, Jun? Kalau kamu udah gede mah, pasti kamu sukanya sama cewek lain. Bukan sama dia," sahut Della seraya mengulas keringat pada dahi anaknya.


"Nggak, Tan." Juna menggeleng. "Juna maunya nikah sama Dedek Silvi saja. Soalnya dia mirip Papi Tian."


"Papi Tian itu Papi barumu, ya?"

__ADS_1


"Iya." Juna mengangguk. "Dia orangnya baik, pasti Dedek Silvi juga baik. Kan wajah mereka sama."


"Amin. Semoga setelah besar dia jadi anak yang baik dan pintar, ya?"


"Amin, Tan." Juna mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Oh ya, nanti kalau Juna mengadakan pesta di rumah, Dedek Silvi datang, ya? Nanti Juna undang."


"Buat pesta dalam rangka apa?"


"Juna ulang tahun ke 7."


"Oh. Sudah besar kamu." Della menyentuh puncak rambut Juna. "Tante do'akan semoga kamu selalu sehat, panjang umur, pintar dan menjadi anak kebanggaan Mami dan Papimu."


"Amin." Juna kembali mengusap wajahnya. "Do'akan Juna juga biar nanti menikah sama Dedek Silvi."


"Iya, semoga kalian berjodoh terus menikah dan punya anak."


"Amin." Ketiga kalinya Juna mengusap wajah. "Berarti nanti Tante, Om Dono sama Mami dan Papinya Juna jadi besan dong, ya? Pasti seru. Juna rencananya pas gede mau jadi pengusaha lele, Tante sama Om Dono doyan lele nggak?"


"Om Dono sih doyan. Kalau Tante nggak, Jun."


"Lho kenapa? Padahal gurih lho dagingnya."


"Nggak tahu, Tante emang nggak doyan dari dulu."


"Juna, ayok pulang! Ini udah jam 4 sore lho," ajak Angga yang melangkah menuju pintu kamar.


"Juna mau menginap di rumah Om Dono, Opa. Mau tidur bareng Dedek Silvi," jawab Juna sambil menatap Angga.


"Lho kok menginap? Jangan dong, Jun."


"Kenapa memangnya?"


"Ya jangan. Masa menginap? Ayok pulang saja." Angga mengulurkan tangannya ke arah sang cucu. "Kita juga harus ke rumah Pakde Sofyan. Kasihan Jordan belum ditengokin. Burungnya buntung tahu dia, habis disunat."


"Opa saja duluan. Juna nengoknya besok sekalian pulang dari sini."


"Tapi kamu nggak bisa menginap, Jun. Tidurnya sempit. Kasihan Dedek Silvinya," tegur Angga yang masih membujuk cucunya untuk ikut pulang.


Dia juga merasa tak enak pada Della dan Dono. Pasti mereka ingin menghabiskan waktunya bersama Silvi.


"Rumah Om Dono punya dua kamar Opa." Juna menunjuk ke arah tembok sebelah kiri. "Nanti yang satu buat Tante dan Om. Yang satunya lagi buat Juna dan Dedek Silvi. Biar nggak sempit."


"Masa kamu tidur berdua sama Silvi?! Kasihan dong dia, nanti ketindihan sama kamu."


"Nggak mungkin lah. Masa Juna tega nindihin bayi semanis dia?" Juna menoel pipi Silvi dan mencubitnya dengan lembut. "Gemes banget Juna sama dia. Apalagi sama wanginya. Ah ... seger banget, Opa." Juna mendekat ke arah pipi. Kemudian menciumi lagi pipi Silvi.

__ADS_1


"Bisa-bisa Dedek Silvi disemutin nih, kalau Juna tinggal. Kan manis banget dia," kekeh Juna. "Pas Mamanya Dedek Silvi hamil, pasti dia suka ngemil gulali. Mangkanya dia bisa semanis ini."


...Orang Mamanya Silvi pas hamil pengen nguras harta Mamimu, Jun 🤣 Untungnya si Silvi nggak bau uang tuh badannya 🤭...


__ADS_2