Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
119. Kata b*rung


__ADS_3

Disisi lain, Fira dan Nurul sontak membulatkan matanya dengan lebar. Mereka terkejut bukan main mendengar apa yang Steven katakan.


Awal datang, Steven hendak mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Namun, kebetulan pintu itu terbuka lebar dan dia malah tak sengaja mendengar apa yang Nurul katakan.


Terjadilah sebuah kesalahpahaman dan rasa emosi di dada Steven.


"Steven, kenapa kamu nggak sopan sekali di rumah orang?" Sindi langsung berdiri. Dia tampak tak terima dengan tingkah anaknya yang tak terpuji itu. "Harusnya kamu ucapkan salam atau setidaknya mengetuk pintu!" sentaknya marah.


"Maaf ...," lirih Steven lalu membuang napasnya dengan berat. "Tapi aku nggak mau dipisahkan lagi dengan Citra. Dia adalah hidupku! Aku nggak mau menikah dengan Fira!" tegasnya. Segera Steven memeluk tubuh Citra dan perlahan mencium puncak rambutnya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Fira seraya berdiri. Sejak tadi dia diam dengan mata yang membulat sempurna. Dia betul-betul heran dan terkejut dengan apa yang Steven katakan. Juga merasa jengkel melihat pemandangan calon suaminya yang memeluk serta mencium perempuan lain. "Tante Sindi, siapa dia?" Fira menatap Sindi, lalu menggerakkan kepalanya ke arah Citra. Gadis itu juga menatap ke arahnya.


"Dia Dedek Gemes." Yang menjawab adalah Angga. "Kita duduk lagi saja. Kita bicarakan masalah ini dengan baik-baik."


Hawa di dalam ruangan itu mendadak terasa panas, apa lagi dengan suasana hati Fira saat ini.


Lantas, Angga pun menarik lengan Sindi hingga membuatnya kembali duduk. Juga meminta Steven untuk duduk. Tetapi anaknya itu enggan, sebab hanya ada satu sofa kosong dan itu adalah sofa single. Tak mungkin mereka duduk saling memangku. Nanti yang ada dia disembur Sindi.


Fira perlahan kembali duduk, tetapi bola matanya melototi Citra.


'Ngapain Safira melototiku? Mau adu mata? Dia pikir aku takut?' batin Citra. Dia yang masih berada dalam pelukan Steven langsung membalas untuk melototi Fira. Merasa tertantang.


'Jadi dia pacarnya Pak Steven? Tapi tadi Pak Steven bilang sudah menikah. Kapan mereka menikah? Dan dia ... dia bocah banget. Masih bau kencur,' batin Fira. Dadanya terasa sangat panas dan kedua telapak tangannya gatal. Mungkin kalau hanya ada dia dan Citra, Fira sudah menampar atau menjambak gadis itu karena sangking kesalnya.


"Kedatangan aku dan Mamanya Steven sebetulnya memang ingin membahas tentang pernikahan Steven," kata Angga seraya menatap Nurul dan Fira bergantian. "Tapi bukan untuk menikah dengan Fira, melainkan ingin membatalkan perjodohan."


"Kenapa, Om?" tanya Fira pelan. Melihat Angga menatapnya, seketika dia tak lagi melototi Citra. Sekarang wajahnya tampak sendu dan bola matanya berkaca-kaca.


"Seperti apa yang Steven ucapkan tadi, itu karena dia sudah menikah dengan Dedek Gemes." Angga menoleh ke arah Steven dan Citra sebentar. Dua manusia itu sudah tak saling memeluk, tetapi lengan Steven berada di pundak Citra.

__ADS_1


"Jadi selama ini Pak Angga dan Mbak Sindi bohongi kita?" tanya Nurul kesal. Dadanya terasa bergemuruh, tetapi dia masih berusaha bersikap tenang. "Kenapa Steven menikah tanpa sepengetahuan kita? Padahal kita sudah sepakat untuk menikahkan Steven dengan Fira, bukan?"


"Bukan kita, tapi hanya kamu dan Sindi. Aku nggak ikut-ikutan." Angga menggeleng cepat. Ya, itu benar. Sindi lah yang ngotot untuk menjodohkan Steven dari awal.


"Aku minta maaf, Nur. Aku tahu kamu dan Fira pasti kecewa. Tapi aku dan Papanya Steven juga baru tahu kemarin malam kalau Steven ternyata sudah menikah. Bahkan sejak tiga bulan yang lalu," jelas Sindi dengan perasaan tak enak.


Mata Fira seketika terbelalak, terkejut dengan apa yang Sindi katakan. 'Tiga bulan yang lalu? Tapi kenapa Pak Steven nggak jujur?'


"Apa Mbak berbohong?" tanya Nurul yang tampak tak percaya dengan penjelasan Sindi.


"Ngapain aku bohong, itu semua fakta. Aku juga nggak ada maksud untuk membohongi kalian!" tegasnya.


"Tapi Tante 'kan tahu kalau aku sangat mencintai Pak Steven. Masa aku dan dia nggak jadi menikah?" keluh Fira dengan sedih. Bahkan sekarang air matanya sudah jatuh membasahi pipi.


Mendengar kata mencintai, dada Citra seketika sesak. Bibirnya sudah menganga ingin menyahuti ucapan Fira, begitu pun dengan bibir Angga. Tetapi keduanya kalah cepat dengan bibir Steven yang jauh lebih tajam.


"Tapi aku nggak mencintaimu!" tegas Steven dengan penuh penekanan. "Bukan cuma sekali, tapi berulang kali aku katakan kalau aku nggak mencintaimu, Fir! Kenapa kamu nggak paham juga dari dulu?!"


"Tapi—”


"Sudahlah," sela Angga cepat. Fira yang barusan ingin menyahuti ucapan Steven sampai tidak jadi. "Kamu terima saja keputusan ini. Lagian, kamu 'kan sudah punya pacar. Kenapa masih ngotot pengen nikah sama Steven?"


"Pacar?" Kening Sindi mengerenyit. "Memang sejak kapan kamu punya pacar, Fir?" tanyanya kepada Fira. Gadis itu terlihat bingung dengan apa yang Angga dan Sindi katakan.


"Aku nggak punya pacar, Tante," jawab Fira dengan gelengan cepat.


"Kamu jangan bohong. Kalau sudah punya juga nggak masalah kok, malah bagus," kata Angga.


"Aku bersumpah, aku nggak punya pacar." Fira kembali menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Papa kata siapa Fira punya pacar?" tanya Sindi.


"Kata burung."


"Burung?" Alis mata Sindi mengerenyit. "Burung apa maksudnya? Papa jangan aneh-aneh. Mama sedang serius."


"Papa juga serius, Papa dengar langsung dari burungnya Tian!" tegas Angga.


Fira membulatkan matanya dengan lebar. Jantungnya seketika berdebar kencang. 'Burung katanya? Sejak kapan Om Angga bicara dengan si Jelek itu?' batinnya.


Steven dan Citra langsung melayangkan pandangan. Nama Tian pastinya begitu familiar untuk mereka. Namun, agak ambigu sekali kata-kata Angga.


"Tian itu siapa, Pa?" tanya Steven penasaran.


Angga menoleh ke arah anaknya. "Tian pacarnya Fira."


"Oh, tapi kok hebat banget burungnya Tian bisa bicara sampai ngasih tahu Papa?" Wajah Steven tampak bingung.


"Namanya juga burung Kakatua."


'Burungnya sampai dikasih nama? Keren banget. Mana pakai nama burung beneran lagi. Mulai sekarang aku akan menamai burungku burung Elang deh. Pasti Citra juga suka. Burungku 'kan paling kuat,' batin Steven.


"Eeemm ... apa Papa juga bertemu dengan burungnya secara langsung?" tanya Steven lagi.


"Dih, ya iyalah, Stev. Kalau nggak ketemu mana bisa dia ngasih tahu Papa!" Angga mendengkus kesal.


Steven terbelalak lalu bergidik. "Jadi Papa lihat Tian pas buka celana? Apa nggak geli? Kita 'kan sama-sama punya burung, Pa!"


Mereka yang berada di sana sontak membulatkan matanya dengan lebar. Perkataan Steven terdengar begitu mesum, tetapi yang dimaksud Angga bukan burung itu.

__ADS_1


Pria tampan itu lagi-lagi salah kaprah.


...Dih, gaje banget Om Steven. Dikira burung apa kali 🤣...


__ADS_2