Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
63. Aku mau melihat Om Ganteng bahagia


__ADS_3

'Bagaimana bisa aku mengenalkan Citra pada Mama dan Papa? Mereka pasti nggak akan setuju ... apalagi Mama,' batin Steven. Dia amat bingung. Kalau mengenalkan Citra rasanya percuma, sebab selain dia anggap Citra tak bisa apa-apa, Steven juga ingat bahkan pernikahan mereka hanya sebentar. Dia tak mau membuat orang tuanya kecewa. 'Apa aku harus ceraikan Citra secepatnya? Supaya aku bisa menikahi Fira?'


Steven memijat dahinya, mendadak kepalanya terasa pusing. Tak lama terbayang wajah Citra yang tengah tersenyum manis memandanginya, tatapannya begitu teduh dan lugu. Sungguh, itu membuatnya berat dan susah untuk menentukan pilihan.


'Nggak, Citra harus selalu bersamaku!' Steven menggeleng cepat. 'Tapi bagaimana sekarang?' Kedua sikunya menyangga pada kedua paha. Perlahan dia pun menyentuh kepalanya seraya meremmas rambut. 'Eeemm ... apa aku nikah saja sama Fira tanpa sepengetahuan Citra, ya? Tapi kalau ketahuan bagaimana? Pasti dia marah.'


"Aaakkkhhh!" teriak Steven dengan penuh kekesalan dan emosi di dada. Suaranya yang menggelegar itu sontak membuat Angga terperanjat. Pria paruh baya itu sempat ketiduran tadi dan sekarang dia pun menyentuh dadanya yang berdebar kencang.


"Astaga Stev, kamu ini kenapa, sih? Papa kaget tahu!" gerutu Angga kesal.


"Ah maafkan aku, Pa. Aku sangat pusing sekali," keluh Steven dengan suara lirih. Perlahan dia pun menuangkan air minum pada gelas untuk Angga, lalu setelah itu untuk dirinya sendiri.


"Pusing kenapa sih kamu? Masalah kerjaan?" tebak Angga.


"Iya, aku pulang dulu, ya? Semoga Papa cepat sembuh." Steven menyentuh tangan Angga, lalu mencium punggung tangannya seraya berdiri.


"Kamu jangan terlalu setres mikirin kerjaan, nanti bisa gila. Kan ada Fira sama asistenmu, Stev. Minta tolong mereka membantumu," tegur Angga.


"Iya, Pa." Steven mengangguk sambil tersenyum tipis, lalu setelah itu dia pun keluar dari kamar.


"Jangan pulang dulu, Stev! Ayok makan dulu!" teriak Sindi yang berada di meja makan tengah menyajikan makan siang bersama Fira. Dia melihat anaknya itu lewat, tetapi pria tampan itu sama sekali tak menoleh padanya. Bahkan seperti tak mendengar apa yang dia katakan. Berlalu pergi begitu saja.


Sindi berdecak kesal dengan wajah cemberut. "Kebiasaan, dipanggil orang tua nggak nyahut, disuruh orang tua nggak dengar. Dasar Perjaka Tua!" umpatnya emosi.


"Tante jangan marah-marah. Sabar ...." Fira mengelus lembut punggung Sindi lalu memberikan segelas jus yang baru saja dia tuang. "Mungkin Pak Steven ada urusan mendadak."


Sindi menarik kursi lalu duduk, perlahan dia pun menenggak jus itu hingga habis. "Kamu harusnya lebih pintar rayu Steven, Fir. Biar dia suka padamu."


"Aku sudah coba kok, Tan. Tapi Pak Stevennya begitu. Tapi ada kemajuan juga sih sedikit." Fira duduk di samping Sindi.


"Kemajuannya bagaimana?" tanya Sindi dengan mata yang berbinar seraya menoleh pada calon menantunya itu.

__ADS_1


"Sekarang Pak Steven sering tersenyum padaku, Tan."


"Hanya itu?" Sindi kembali cemberut.


"Tapi jarang tahu, Tan. Dia tersenyum. Ya semoga saja dengan begitu dia suka padaku."


"Iya, mudah-mudahan saja." Sindi membuang napasnya kasar.


"Yang Tante bilang sebulan lagi kami menikah, itu beneran atau cuma mengancam Pak Steven?" tanya Fira penasaran. Sejujurnya saat Sindi mengatakan hal itu, dia sangat bahagia. Menikah dengan Steven tentu hal yang dia inginkan.


"Maunya sih beneran, Fir. Ya semoga saja Steven dibuka pintu hatinya supaya mau."


"Amin Tante." Fira tersenyum manis lalu menuangkan nasi ke atas piring. 'Aku akan menjadi perempuan yang beruntung jika bisa menikah dengan Pak Steven.'


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nona Citra kenapa? Kok dari tadi cemberut terus?" tanya Gugun saat melihat wajah Citra pada kaca depan mobilnya. Mereka tengah menaiki mobil setelah berbelanja ke mall dan sekarang menuju tempat kursus memasak.


"Aku merasa Om Ganteng suka sama perempuan lain, Om. Aku sedih." Bola mata Citra terlihat berkaca-kaca. Steven memang sudah menjelaskan padanya kalau dia tak menyukai Fira, tetapi rasanya ada yang mengganjal di dalam hati.


"Namanya Safira, dia sekertarisnya Om Ganteng."


"Safira?" Gugun langsung terdiam.


"Iya, apa Om tahu dia?"


"Iya, saya tahu Nona." Gugun mengangguk.


"Bagaimana orangnya? Apa dia cantik?"


"Cantik."

__ADS_1


"Apa selain cantik dia juga putih, pintar dandan, pintar memasak, rajin ibadah dan nggak oon?"


"Maksudnya nggak oon?"


"Ya mungkin nggak oon kayak aku yang apa-apa nggak tahu, apa-apa nggak bisa." Citra tiba-tiba langsung menangis. Dadanya berdenyut nyeri kala mengingat ucapan Steven kemarin malam yang terus terngiang-ngiang di telinga. Hal itu juga yang membuatnya tidak berselera untuk melakukan kontak fisik dengan Steven.


"Kata siapa Nona oon?" tanya Gugun. Dia tampak kesal mendengar hal itu, padahal memang dia mengakui jika anak bosnya seperti itu. Tetapi melihatnya menangis dan sedih, Gugun pun ikut terenyuh.


"Memang iya 'kan aku oon, Om?"


Gugun menggeleng cepat. "Nggak, Nona pintar. Kalau Nona oon nggak mungkin kuliah." Gugun memutar kepalanya sembari memberikan sekotak tissue pada Citra. "Jangan menangis, jangan dengarkan kata orang. Nona itu wanita sempurna."


Citra menyeka air matanya, tetapi kembali buliran bening itu mengalir membasahi pipinya. "Kalau aku sempurna Om Ganteng nggak akan melarangku untuk bertemu Mamanya, Om."


Gugun langsung terdiam, dia merasa bingung untuk menjawab apa.


"Apa aku dan Om Ganteng nggak cocok ya, Om? Dan apa Om Ganteng sangat cocok dengan Safira?"


"Nona ini bicara apa? Pak Steven dan Nona Fira hanya bos dan bawahannya. Kalau Nona 'kan istrinya, jelas lebih cocok dengan Nona."


"Ah nggak, Om Ganteng nggak cocok denganku." Citra menggeleng cepat, tangisnya makin tersedu-sedu. "Dia ... dia terlalu sempurna dan aku merasa susah untuk menggapainya. Aku sepertinya harus merelakan dia untuk Safira, Om."


Mata Gugun sontak membulat sempurna, kaget dengan apa yang dia dengar. "Nona ini bicara apa? Apa maksudnya?" Gugun menatap kembali wajah Citra di depan kaca. Wajahnya merah dan begitu sendu.


"Aku juga bingung, tapi ...." Citra mendongakkan wajah sembari memejamkan mata. Kembali air mata itu mengalir membasahi pipinya. Dia menelan ludahnya dengan kasar.


"Tapi apa?" tanya Gugun penasaran.


"Tapi aku sangat mencintai Om Ganteng. Tapi aku pernah dengar dari Ayah ... kalau sesuatu hal yang dipaksakan itu nggak baik, Om. Dan aku tahu Om Ganteng hidup denganku pasti sangat terpaksa karena janjinya pada Ayah yang entah apa itu. Tapi yang pasti ... Om Ganteng juga berhak bahagia, Om. Aku yakin Om Ganteng punya wanita idaman dan itu bukan aku orangnya." Wajah Citra mengerut dan perlahan salah satu tangannya menyentuh dada. Terasa sakit di dalam sana. "Jadi ... aku harus bagaimana, Om? Aku harus merelakannya, kan?"


"Maksudnya Nona mau bercerai dengan Pak Steven?"

__ADS_1


"Aku nggak mau bercerai." Citra menggeleng cepat. "Tapi ini sangat sulit dan aku mau melihat Om Ganteng bahagia. Melihatnya tersenyum dan tertawa, itu membuat hatiku terasa hangat, Om. Kalau bersamaku dia nggak pernah bahagia rasanya, mungkin kalau sama Safira dia bisa bahagia."


...Yakin Cit mau relain Om Ganteng sama Safira? Nyesel nggak nanti? 🥲...


__ADS_2