
Sekitar 15 menit, barulah pintu kamar mandi dibuka, tetapi hanya Tian saja yang keluar dari sana. Lalu cepat-cepat menutup pintu kamar mandinya lagi.
Wajah dan tubuh Tian tampak basah meskipun memakai pakaian. Segera, Tian meraih tubuh Juna, lalu mengendong dan membawanya menuju kasur.
"Papi sama Mami lagi kenapa, sih? Aneh banget. Dan kenapa wajah dan tubuh Papi basah?" Juna yang sudah berbaring itu mengerutkan keningnya sambil memperhatikan Tian.
"Ini keringat," jawab Tian sambil merebahkan tubuhnya di samping Juna. Kemudian meraih beberapa lembar tissue di atas nakas dan langsung menyekanya.
"Buang kecoa doang sampai keringatan? Lebay amat."
"Iya, soalnya kecoanya nyangkut-nyangkut." Tian tersenyum dengan wajah berseri, lengannya meraih punggung Juna. Menariknya sedikit untuk dapat memeluknya.
Juna menatap ke arah pintu kamar mandi sebentar, lalu kembali menatap Tian. "Terus Mami ngapain masih di kamar mandi? Kok belum keluar?"
"Lagi kencing."
"Kok bisa, sih, kalian berdua barengan di kamar mandi, Pi?" tanya Juna. Entah mengapa, mendadak dia merasa curiga. "Oh. Apa jangan-jangan Papi kencingin Mami, ya? Dih, kok Juna nggak diajak? Kan Juna mau lihat." Mendengkus dengan bibir yang mengerucut.
"Siapa yang kencingin Mami? Orang nggak kok." Tian menggeleng cepat. Terpaksa dia berbohong, sebab memang seharusnya seperti itu. Tidak mungkin juga, dia dan Nissa bercinta di depan bocah polos yang banyak bicara itu.
"Terus awalnya Papi sama Mami bisa ke kamar mandi buang kecoa gimana? Bukannya Papi sudah tidur sama Juna, kan?"
"Oh itu ... Papi 'kan awalnya lagi tidur, terus tiba-tiba kebangun karena terdengar suara Mami teriak. Papi ya panik lah, Jun. Terus langsung lari masuk ke dalam kamar mandi, nyusulin Mami," jelas Tian mengarang cerita.
"Terus?"
"Ya terus Mami ketakutan, karena dia mau kencing tapi ada kecoa. Kebetulan kecoanya terbang-terbang. Katanya takut digigit."
"Perasaan Mami nggak takut kecoa deh." Kening Juna mengerenyit. Merasa bingung dengan cerita Tian. "Papi bohong, ya?"
"Masa bohong. Kan kamu dengar juga dari Mami, ada kecoa."
"Tapi Mami nggak takut kecoa, Pi. Dan masa hotel sebagus ini ada kecoanya. Aneh."
"Mami memang nggak takut kecoa." Nissa yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menimpali. Supaya nantinya apa yang Tian ucapkan dapat Juna percaya. "Tapi tadi kecoanya bukan satu, banyak. Dan lagian terbang-terbang juga. Kan kalau Mami digigit bahaya itu, ada penyakitnya kecoa." Mendekat, lalu naik ke atas kasur. Nissa juga sudah memakai pakaian tadi, wajahnya tampak segar.
__ADS_1
Juna berbalik badan, lalu melepaskan lengan Tian dan kini mendekati Nissa seraya memeluknya. "Oh, pantes. Tapi Mami nggak digigit, kan?"
"Nggak. Semua aman."
"Bagus deh, untung Papi tepat waktu ya, Mi, nyamperin Mami di kamar mandi. Ah Papi Tian memang terbaik. Nggak sia-sia Juna pura-pura pingsan waktu itu demi meminta restu Opa. Akhirnya Juna bisa dapat Papi baru, Juna seneng banget, Mi." Mempererat pelukannya, lalu mencium dada Nissa.
"Kapan kamu pura-pura pingsan?"
Juna terbelalak. Kaget rasanya dan tak habis pikir, bisa-bisanya mulutnya keceplosan. "Ah Juna mau tidur, Mi. Ngantuk." Karena bingung untuk menjawab, Juna memilih untuk mengalihkan topik. Dia juga masih ngantuk sebenarnya.
"Ya sudah, ayok tidur. Mami juga mengantuk, Jun." Mengelus punggung Juna. Tian tersenyum. Dia mendekat untuk mengecup kening dan bibir wanita itu.
"Selamat malam, selamat tidur, Sayang," ucapnya dengan lembut. Kemudian menarik selimut untuk mereka bersama.
"Selamat tidur juga, Sayang." Nissa tersenyum manis, lalu memejamkan mata. Tian pun ikut memejamkan matanya.
'Aku harus cari waktu buat bisa bercinta lagi. Tadi kurang puas, terlalu buru-buru,' batin Tian.
***
Perlahan dia pun beranjak dari kasur, kakinya yang hendak melangkah urung lantaran melihat Steven duduk di sofa dengan tatapan kosong menatap ke arah depan. Kakinya terbuka, punggung dan kepalanya menyandar pada penyangga sofa.
Semenjak Citra melahirkan dan pulang dari rumah sakit, mereka memang tidur berdua. Itu semua atas perintah Sindi. Sebab dia takut, jika nanti Steven hilaf ingin menyentuh Citra yang masih di masa nifas.
"Kamu kenapa, Stev? Kok melamun?" tegur Angga.
Steven yang mendengarnya sontak terperanjat. Mengusap kasar wajahnya lalu menggeleng cepat.
"Malam-malam bukannya tidur, nanti kesurupan lho," tambah Angga.
"Aku nggak bisa tidur, Pa. Aku kesepian." Steven mengerucutkan bibirnya.
"Kesepian apanya? Kan ada Papa. Aneh saja kamu." Angga berlalu menuju kamar mandi untuk membuang air kecil. Sekitar 3 menit selesai dia lantas kembali dan menghampiri Steven. Perlahan duduk di sampingnya. "Udah tidur, Stev. Sudah malam. Kamu katanya besok mulai kerja lagi."
"Aku kangen sama Citra, Pa."
__ADS_1
"Lha, kangen gimana maksudnya? Kan tadi ketemu." Kening Angga mengerenyit. Dia tampak bingung.
"Ketemu doang, tapi aku nggak ngapa-ngapain." Bibir Steven mengerucut. "Sekarang, Citra juga sudah mulai berubah kayaknya."
"Berubah gimana?"
"Ya berubah, setiap hari yang diperhatikan cuma si kembar. Sisusui mulu, aku sendiri nggak." Steven mendengkus kesal.
Sejujurnya, apa yang Steven inginkan adalah bercinta. Sudah hampir seminggu, burungnya menganggur. Tiap meminta Citra untuk mengelus, selalu saja diganggu oleh si kembar yang ingin menyusu. Jadi dia kesal sendiri.
"Ya elah, Stev. Namanya bayi, wajar lah kalau nyusu mulu. Citra nggak mungkin berubah, itu karena faktor dia habis melahirkan saja," jawab Angga santai.
"Tapi aku takut Citra nggak mencintaiku lagi, Pa. Terus dia lebih mencintai si kembar. Kan sedih akunya," kata Steven yang mendadak melow.
"Nggak mungkin, kan kamu ini Bapaknya si kembar. Sabar dulu saja, Stev, namanya Citra masih nifas. Jadi kalian nggak bisa bercinta." Angga seolah tahu, arah kemana pembicaraan anaknya itu. Sebab dia juga sadar, jika anaknya omes.
"Kalau Citra sudah selesai nifasnya, aku mau menghabiskan waktu berdua sama dia, ya? Nanti aku titip si kembar sama Papa dan Mama," pinta Steven.
"Iya." Angga mengangguk. "Oh ya, kamu sendiri nggak mau sewa babysitter buat bantu-bantu jagain si kembar? Ya, Mama bisa sih, cuma 'kan kasihan Stev. Sudah begitu Citra 'kan musti nerusin kuliah."
"Aku lagi cari, Pa. Tapi agak takut juga."
"Takut gimana?"
"Takut kalau nanti dia nggak bisa ngurus si kembar dengan benar, kayak ngasal gitu. Aku pernah baca berita di google, tentang babbysitter yang nggak teliti sama anak asuhnya. Sampai anaknya hilang lah, kecelakaan, sampai ada yang meninggal. Ih, ngeri." Steven menggeleng cepat dengan bulu kuduk yang seketika berdiri. Hanya membayangkan saja dia sudah merasa takut, dan pastinya tidak sanggup jika itu terjadi pada si kembar.
"Iya juga, sih. Tapi coba kamu tanya Mama saja, minta pendapat dia enaknya gimana. Mungkin Mama punya rekomendasi babbysitter. Namanya ibu-ibu sosialita, pasti temannya banyak, kan? Pasti punya kenalan pengasuh yang profesional," usul Angga.
"Iya." Steven mengangguk. "Besok aku tanya sama Mama."
"Ya sudah sekarang tidur, Papa juga sudah ngantuk. Mau tidur lagi." Angga menepuk paha kiri Steven, lalu berdiri sembari menutup mulutnya saat tiba-tiba dia menguap. Kemudian menuju kasur dan berbaring di atas sana.
Steven ikut beranjak dari duduknya, lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Angga seraya menarik selimut kemudian memejamkan mata. 'Enak, ya, jadi Om Tian. Pasti sekarang dia sedang bercinta sama Mbak Nissa. Sedangkan aku lagi puasa. Ah nggak enak banget, bisa-bisa burungku karatan nih,' batinnya sedih.
...Pakai oli motor, Om, biar nggak berkarat 😆...
__ADS_1