Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
181. Kevin dan Janet


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Kevin, Dok?" tanya Angga saat seorang Dokter perempuan keluar dari ruang pemeriksaan. Dokter itu terlihat masih muda, rambutnya dikuncir kuda.


"Bapak silahkan masuk, kita bicara di dalam." Dokter hewan itu melebarkan pintu, mempersilahkan Angga masuk. Pria tua itu pun mengangguk, kemudian melangkah.


"Papa ...," lirih Kevin. Dia tengah berbaring lesu di atas tempat tidur. Angga langsung menghampiri dan mengelus kepalanya.


"Iya, Vin. Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Angga cemas.


Dokter perempuan itu menghampiri seraya menatap Angga. "Kevin ini mengalami stres, Pak. Kalau boleh saya tahu, sebelumnya, apa yang Bapak lakukan padanya?"


"Memangnya burung bisa setres juga, ya, Dok?" Bukannya menjawab, Angga justru memberikan pertanyaan balik. Jujur memang dia tak mengerti dan heran saja mendengar apa yang Dokter itu sampaikan.


"Tentu bisa, Pak. Stres itu bisa dialami semua mahkluk hidup," jelas Dokter itu. "Hanya saja ... kalau itu dialami oleh hewan, bisa berakibat cepat mati. Apalagi umur Kevin sudah dikatakan tua dalam usia burung."


Mata Angga sontak membulat sempurna, lalu menatap Dokter dengan mimik sedih. "Jadi, maksud Dokter, Kevin akan segera mati? Dia akan meninggalkanku, Dok?"


"Semoga saja tidak, Pak. Tadi saya sudah menyuntikkan vitamin penghilang stres. Semoga Kevin jauh lebih baik sekarang."


"Amin, Dok." Angga langsung mengangkat tubuh Kevin, lalu menciumi jambulnya. Burung itu terlihat diam saja.


Sebenarnya, alasan Kevin berbaring itu karena dia sempat mengalami sesak napas akibat terhimpit beberapa betina. Ditambah beberapa betina itu terus mengoceh minta kawin.


Kesal rasanya, dia tidak mau tapi mereka memaksa. Ditambah, mereka jumlahnya banyak. Sedangkan mereka semua ingin dikawin.


Mana bisa? Jangankan semua, satu saja Kevin tidak mau. Semua betina itu tidak ada yang menarik menurutnya.


"Sebaiknya jangan melakukan hal-hal yang membuatnya tertekan. Atau mungkin dia ingin terbang? Kalau begitu biarkan dia terbang di alam bebas untuk sebentar, Pak," saran Dokter itu. "Kalau memang dia mau pulang, pasti nanti akan pulang sendiri."


"Dia bukan mau terbang, Dok. Tapi aku memintanya untuk kawin. Hanya saja Kevin nggak mau."


"Kalau nggak mau ya jangan dipaksa, Pak. Burung Kakatua itu bisa memilih jodohnya sendiri."


"Tapi Kevin ini sudah tua, Dok. Dan dia bilang belum pernah kawin. Aku takutnya dia nggak normal."


Kevin normal, hanya saja dia pernah patah hati.


Pernah sekali dia suka pada burung betina. Burung itu milik temannya Tian yang memang sengaja dititipkan karena dia ingin pulang kampung.


Sekitar semingguan Kevin sudah mengenal burung itu, namanya Bunga. Bagi Kevin, dia cantik, namun tak pernah bicara, hanya berkicau saja.

__ADS_1


Selama semingguan itu mereka sering berinteraksi. Tian juga memasukkan Bunga dalam satu sangkar dengan Kevin sebab sangkar milik Bunga rusak.


Kevin selalu berbagi makanan dan minuman, berkicau dan sering mengoceh. Namun, sayangnya—saat benih-benih itu mulai tumbuh dan Kevin sudah mulai ingin kawin, Bunga justru mati.


Matinya burung itu pada saat mereka terbang bersama, seseorang ada yang tiba-tiba menembaknya.


Sedih, jelaslah. Padahal Kevin sudah mulai cinta dan ingin kawin, tapi ditinggal mati.


Mungkin kalau manusia, Kevin merasa trauma. Dia takut untuk kawin dan menyukai betina sebab takut nantinya akan mati seperti Bunga.


"Masa sih? Coba saya cek dulu." Dokter perempuan itu membuka kedua kaki Kevin lebar-lebar, tangan menjulur hendak meraba kel*minnya Kevin. Namun burung itu langsung berdiri. Dia tampaknya tidak mau diraba-raba. Mungkin malu.


"Jangan sentuh! Geli!" tolak Kevin sambil menggelengkan kepala.


"Lihat saja sebentar, ya?" pinta Dokter perempuan itu. Tangannya meraih Kevin, namun burung itu langsung mengibaskan sayapnya dan terbang.


"Nggak apa-apa, Vin. Dokter cantik ini mau lihat burungmu ada apa nggak. Eh, maksudnya pisangmu." Angga bingung untuk menyebut alat kel*min pria. Sebab Kevin adalah burung. "Supaya Papa tahu kamu normal apa nggak."


"Saya normal Papa! Tapi saya tidak mau!" tolak Kevin.


"Kalau dia nggak mau, biarkan saja, Pak. Jangan dipaksa," ucap Dokter itu. Dia pun lantas melangkah menuju etalase besar yang berisi beberapa obat, lalu mengambil botol kecil dan memberikan pada Angga. "Coba nanti Bapak berikan obat ini kepada Kevin, semoga saja Kevin mau kawin."


Angga membaca obat tersebut, dia pun mengerutkan keningnya. Merasa takjub. Ternyata botol obat di tangannya itu adalah vitamin per*ngsang birahi burung untuk jantan dan betina.


"Tentu ada, Pak. Nanti Bapak teteskan obat ini sesuai anjuran yang tertera. Tapi ingat ... harus ada burung betinanya. Kalau tidak ada yang ada Kevin tersiksa."


Angga mengangguk cepat dengan wajah merona, senang sekali rasanya. "Oke deh. Harusnya aku datang ke sini, ya, jangan ke penangkaran. Jadi tahu solusinya."


Dokter perempuan itu tersenyum.


"Ya sudah, Dok. Aku permisi dulu, terima kasih atas semuanya," ucap Angga seraya mengantongi botol itu, lalu membayar biaya pengobatan Kevin.


"Sama-sama, semoga Kevin cepat mempunyai anak, ya, Pak."


"Amin, Dok."


***


Setelah mengantarkan Dayat kembali ke penangkaran, kini Nissa mengendarai mobilnya menuju Jakarta.

__ADS_1


"Sekarang kita ke mana, Pa? Oh, ya, tadi Mama telepon," kata Nissa seraya menoleh ke arah Angga yang berada di sampingnya.


"Apa katanya? Mama kangen sama Papa, Nis?"


"Bukan kangen. Mama bilang katanya ada Janet di rumah, dia mau kawin sama Kevin."


Bola mata Angga sontak berbinar. Padahal, Angga sudah mempunyai niat jika sampai Jakarta ingin langsung ke rumah Ahmad, membeli Janet. Namun, justru Janet sudah ada di rumah.


Mungkin ini yang dinamakan pucuk dicinta ulan pun tiba.


"Saya tidak mau kawin sama Janet, Pa!" tolak Kevin sambil menggelengkan kepala. Dia berada di pangkuan Angga.


"Iya, kamu nggak bakal kawin," jawab Angga sambil terkekeh.


***


"Ma ...," panggil Angga saat melangkah masuk ke dalam rumahnya bersama Kevin. Dilihat suasana rumah itu begitu sepi sekali, begitu pun diluar rumahnya tadi.


Tak lama kemudian seseorang turun dari anak tangga, dia Sindi. Dia bersama Janet.


Burung betina yang melihat kehadiran Kevin tengah berdiri di pundak Angga itu langsung mengibaskan sayapnya, lalu terbang menghampiri.


Kevin terlihat terkejut, Janet terbang begitu cepat. Segera dia pun masuk ke dalam kaos Angga, bersembunyi di dalam sana.


"Kevin sombong!" seru Janet marah. Namun dia ikut masuk ke dalam kaos Angga.


Pria tua itu langsung merasa risih, sebab kedua burung itu tak bisa diam di dalam sana.


"Kalian ini sedang apa? Kenapa masuk ke dalam kaosku?" tanya Angga. Dia pun menyusupkan tangannya ke dalam sana, mencoba meraih salah satu dari mereka. Tapi susah digapai.


"Jangan dekat-dekat denganku Janet!" seru Kevin di dalam sana, kakinya bergerak-gerak untuk menghentikan Janet yang mendekatinya.


"Kenapa?"


"Kamu jelek, saya tidak suka dengan burung jelek sepertimu!"


"Saya cantik! Jangan sombong, saya mau kita kawin!"


"Saya tidak mau!"

__ADS_1


"Tapi saya mau! Kawin enak kata Nona Citra, ayok kawin!" Janet membalik tubuhnya, lalu pantaatnya menungg**ng di depan wajah Kevin, memberikan kode. Burung jantan itu sontak terbelalak, kaget melihatnya.


...Udah, Pa, cepat cekokin si Kevin pake obat. Betinanya udah ga sabar tuh🤣...


__ADS_2