Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
198. Nanti Mami ngomel


__ADS_3

"Masih kecil kamu." Angga mencium kening Juna yang berkeringat. "Oh ya, Opa mau tanya dong. Tadi teman Mamimu itu gimana orangnya? Baik nggak? Terus ganteng nggak? Kamu dijajanin apa saja sama dia?" Ini juga alasan Angga belum tidur, sedangkan Sindi sudah mimpi di dalam kamar.


Selain menunggu Nissa dan Juna, dia juga penasaran dengan teman SMA dari anaknya itu.


"Kalau ganteng sih iya, tapi kalau baik sih agak ragu."


"Agak ragunya gimana?"


"Harusnya pas ngantre tiket, dia bilang biar aku yang bayarin, ini mah nggak." Juna mengerucutkan bibirnya. "Kan kata Opa, cowok itu harus modal."


"Oh, jadi dia cuma ikut doang? Nggak bayarin kamu nonton apalagi jajanin?" tebak Angga.


"Dia semua yang bayarin tadi. Tapi itu karena Juna yang awalnya nyindir, kalau nggak gitu dia mungkin nggak modal, Opa."


"Nggak peka berarti orangnya, ya? Apa mungkin pelit?"


"Nggak tahu. Terus, kata Kevin juga dia tukang bohong."


"Kevin?" Kening Angga mengerenyit. "Memangnya Kevin kenal dia?"


"Iya, katanya dulu Papanya."


"Papa?" Angga terdiam sesaat, mencerna maksud dari kata 'Papa' itu. "Teman Mamimu seekor burung?"


"Manusia, Opa. Masa burung."


"Terus kenapa Kevin bilang dia Papanya?" Angga masih belum mengerti. Padahal dia sendiri sekarang Papanya Kevin.


"Nggak tahu, Papa tanya saja sama Kevin besok. Oh ya, dan satu lagi ...." Juna mengangkat satu jari telunjuknya. "Mobilnya jelek."


"Mereknya apa?"


"Nggak tahu. Mungkin merek jelek." Juna terkekeh. "Juna nggak suka kayaknya sama dia, dia seperti bukan cowok baik-baik."


"Memang kelihatan dia bukan cowok baik-baik?"


"Nggak sih, Juna cuma nebak."


"Besok kamu mau ke mana? Kita ke restoran Mamimu, yuk! Opa mau ketemu sama teman Mamimu itu." Angga jadi makin penasaran, ingin bertemu langsung.


"Nggak mau ah, nanti Mami ngomel." Nissa terkadang memang tak pernah suka anaknya datang ke restoran. Sebab Juna sering sekali membuat apa yang ada di sana berantakan. "Aku mau main kelereng sama Kevin."


"Main kelerengnya di taman restoran saja. Nanti sama Opa dan ngajak Kevin juga."


"Memangnya boleh? Nanti Mami ngomel."


"Opa omelin balik."


"Memang Opa berani?"


"Ya beranilah, Mami 'kan anak Opa."


"Eemm ... ya sudah deh." Juna mengangguk, lalu tak lama dia pun nguap. Gegas dia pun menutup mulut. "Juna ngantuk, mau tidur, Opa."


"Ya sudah, ayok tidur. Kita gosok gigi terus ganti baju." Angga berdiri, lalu menarik lengan Juna hingga tubuh kecilnya ikut berdiri.

__ADS_1


"Mau gendong!" pintanya manja seraya mengangkat kedua lengannya ke atas.


"Jalan saja, jangan gendong. Nanti encok Opa kumat, Sayang." Angga mengusap rambut kepala Juna.


"Aku 'kan nggak berat." Juna mengerucutkan bibirnya. "Oma saja masih sering mengendongku, masa Opa nggak?"


"Besok saja deh, nanti Opa gendong. Sekarang udah malem. Jadi tenaganya udah lemah karena ngantuk."


Juna pun mengandeng tangan Angga dengan wajah yang merengut kesal, lalu melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.


***


Pagi hari.


Angga, Sindi dan Juna tengah sarapan nasi goreng bersama di ruang makan. Kemudian tak lama Nissa yang baru saja turun dari anak tangga berjalan menghampiri.


Dia terlihat sudah rapih, cantik dan wangi. Memakai jas hitam dengan rok span selutut berwarna putih. Tangannya menjinjing tas branded.


"Pa, Ma, Jun, Mami berangkat ke restoran, ya?" ucapnya pamit seraya mencium kening anaknya.


"Ini 'kan masih pagi, Nis, kok udah mau berangkat?" tanya Angga seraya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 6.


"Iya, sarapan dulu," ucap Sindi.


"Aku sarapannya di restoran saja. Aku lupa ada janji sama seseorang. Dan sekarang mau ketemu."


"Janji apa?" tanya Angga.


"Mami mau jalan-jalan? Juna ikut dong." Juna menyahut.


"Managermu yang baru itu ikut?" tanya Angga.


Ponsel Nissa berdering di dalam tasnya, lantas dia pun mengambil benda pipih itu di dalam sana. Panggilan itu dari pria yang mengajaknya janjian pagi ini.


"Sudah ya, Pa, orangnya nungguin. Aku titip Juna, kalau bandel omelin saja." Nissa meraih tangan Angga, lalu mencium punggung tangannya. Kemudian melakukan hal yang sama kepada Sindi.


"Juna nggak bandel, Mi!" bantah Juna dengan gelengan kepala.


"Ya siapa tahu."


"Hati-hati, Nis!" teriak Angga saat melihat anaknya melangkah pergi.


Setelah kepergian Nissa, Steven dan Citra datang. Wajah keduanya itu tampak berseri sekali. Bahagia seperti habis memenangkan hadiah.


"Pagi, Ma, Pa, Jun," sapa Steven dengan senyuman terukir.


"Om Steven!" seru Juna dengan mata berbinar. Dia pun segera turun dari kursinya, lalu berlari menuju pria yang tengah merangkul bahu istrinya dan salah satu tangannya menjinjing kantong merah. Yang berisi beberapa jagung.


Segera, Steven membungkuk demi bisa meraih tubuh Juna. Lalu mengendongnya.


"Om ke mana saja dari kemarin? Padahal Juna mau main sama Om?" tanya Juna. Kaki Steven melangkah maju pada kursi ruang makan. Lalu duduk di samping Angga sambil mendudukan Juna pada pangkuannya.


"Maaf, ya, kemarin Om ada urusan sama Tante Citra. Jadi seharian sama dia." Steven menatap ke arah Citra dengan wajah yang bersemu merah. Istrinya itu tengah makan nasi goreng yang baru saja dituangkan oleh Sindi.


"Urusan apa?" tanyanya penasaran. "Kata Opa ... Om sama Tante Citra semalam sedang bercinta sambil melihat bintang di hotel. Juna mau ikut dong, Om. Lihat bintang sambil lihatin Om sama Tante bercinta."

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk!" Citra langsung tersendak, kaget saja dengan apa yang dikatakan keponakannya. Cepat-cepat Sindi menuangkan segelas air, lalu memberikan padanya.


"Pelan-pelan makannya," ucap Sindi lembut.


Citra mengangguk, lalu menenggak air itu sampai habis.


"Papa ngomong apa sih, ke Juna? Dia masih kecil, masa diajarin bercinta?" cecar Steven dengan mata yang melotot ke arah Angga.


"Siapa yang ngajarin bercinta? Papa cuma ngomong sama Maminya kemarin, pas tanya kamu ke mana. Kan kamu sendiri yang ngomong mau ngajak Citra bercinta sambil melihat bintang. Salahnya di mana?" Salah satu alis mata Angga terangkat.


"Nanti malam, Om sama Tante Citra mau bercinta lagi nggak di hotel?"


"Nggak." Steven menggeleng.


"Kok nggak? Padahal Juna mau ikut." Juna mengerucutkan bibirnya.


"Besok 'kan kamu sekolah, Om juga kerja."


"Apa urusannya? Kan melihat bintang adanya malem-malem."


"Nggak usah ke hotel, Jun, kalau mau lihat bintang. Diluar rumah juga kelihatan." Sindi menyahut.


"Kalau diluar rumah bisa, terus kenapa Om sama Tante pergi ke hotel, Oma?" Juna menatap Sindi dengan wajah penasaran. "Bercinta saja di halaman rumah, kan bisa sambil lihat bintang. Nggak bayar lagi."


"Iya nggak bayar, tapi yang ada jadi bahan tontonan." Steven mendengkus kesal. Pusing juga untuk menjelaskan pada keponakannya itu. "Sudah sih nggak usah bahas itu, kamu masih kecil. Oh ya, Om mau ngajakin kamu bakar jagung nanti siang, kamu mau nggak?"


"Siang-siang bakar jagung. Ada juga malem," sahut Angga.


"Biarin!" ketus Steven.


"Juna nanti siang mau pergi sama Opa, Om."


"Ke mana?" Steven menatap Angga.


"Opa ngajakin main kelereng di taman restoran Mami, sama Kevin juga."


"Ngapain main kelereng jauh-jauh? Di depan rumah 'kan bisa."


"Opa bilang sekalian mau bertemu sama temannya Mami. Eemm ... gimana kalau Om bakar jagungnya di sana saja?" usul Juna. "Nanti 'kan habis main kelereng capek, jadi bisa minum es sambil makan jagung."


"Boleh juga, tapi nanti dimarahin Mamimu lagi."


"Kata Opa, nanti kalau Mami marah ... dia mau marahin balik."


Steven mengangguk-angguk. "Ya sudah kalau begitu, kita bakar jagung di sana. Eh, tapi nggak usah ngajak Kevin deh."


"Kenapa memangnya?"


"Dia ngeselin, lagian dia juga burung. Mana bisa dia main kelereng."


"Bisa, kemarin saja Juna main kelereng sama dia."


"Masa?" Steven tampak tak percaya. "Pakai apa dia main kelerengnya?"


...Pakai bokong, Om 🤣...

__ADS_1


__ADS_2