
Angga berdecak. "Mengintip itu 'kan sama saja melihat, jadi nggak boleh, Jun."
"Tapi 'kan sedikit doang. Ngintipnya lewat lubang kunci, Opa."
"Sama, tetap nggak boleh. Kamu ini kepengen adik atau nggak sih, sebenarnya?"
"Kepengen. Tapi aku nggak mau kalau nggak tidur bareng sama Papi, Opa."
"Kan Opa bilang semalam saja. Nggak setiap hari."
Juna terdiam dan mulai memikirkan. Rasanya itu pilihan yang sangat berat. Tetapi disisi lain dia sangat ingin memberikan nama untuk bayi. Juna juga sudah membayangkan betapa lucunya nanti adiknya.
"Kalau Juna nggak mau nggak apa-apa, Pa, nggak usah dipaksa," ujar Nissa.
"Eemm ... bagaimana kalau Papi kencingin Maminya di sini saja? Tapi Juna tetap tidur sama si kembar," usul Juna.
"Maksudnya, Mami sama Papimu ikut menginap juga di sini?" tanya Angga. Juna mengangguk cepat. "Boleh aja, asalkan kamu musti janji sama Opa dulu."
"Janji apa?" Juna menatap jari kelingking Angga yang mengarah ke arahnya.
"Habis makan malam, kamu langsung masuk kamar bareng Opa sama Oma. Nggak boleh ganggu Papi dan Mamimu di dalam kamarnya, ya?"
"Oke." Juna menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Angga.
"Opa pegang janjimu, ya?" Angga menatap ke arah Nissa. "Kamu nggak apa-apa 'kan ikut menginap juga sama Tian? Nanti tidur di kamar ujung saja."
"Nggak apa-apa. Tapi kedap suara nggak, kamar ujung? Ya ... maksudnya ... emmm ...." Nissa menggaruk rambutnya yang tidak gatal, dia jadi salah tingkah.
"Kedap suara kok. Asal pintunya tertutup rapat saja," sahut Angga. Dia mengerti apa yang Nissa maksud. "Kamu nggak mungkin sampai teriak-teriak juga 'kan sangking enaknya?"
"Apaan sih Papa." Nissa menggeleng dengan wajah merona.
"Memangnya dikencingin bisa sampai teriak-teriak?" tanya Juna penasaran.
"Ah, Oma masak ayam bakar lho, Jun." Sindi langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Kamu suka ayam bakar, kan? Mau makan nggak? Mau Oma suapi?"
"Mau!" seru Juna seraya mengangguk cepat. Dia lantas turun dari pangkuan Angga dan mendekati Sindi yang tengah membaringkan si kembar di dalam ranjang bayi. "Dedek kembar diajak makan juga nggak, Oma?" Tangannya terulur lalu mengelus pipi Vano dan Varo. Bayi mungil itu sudah tertidur kembali.
"Dedek kembar udah minum susu tadi, Jun. Mereka kenyang." Sindi meraih tubuh Juna, lantas mengendongnya dan melangkah keluar kamar.
Angga dan Nissa juga ikut keluar.
***
Malam hari di ruang makan.
__ADS_1
Angga, Sindi, Nissa dan Juna tengah duduk di sana. Tetapi hanya Angga dan Sindi saja yang makan. Tidak dengan Nissa dan Juna yang sengaja menunggu Tian yang katanya sebentar lagi akan pulang.
Sedangkan Steven dan Citra makan di kamarnya. Sambil melihat si kembar.
"Mi, Papi kok lama sih? Ini 'kan sudah jam 7?" tanya Juna sembari menatap jam dinding yang menempel pada tembok. Perutnya terasa lapar dan dia begitu tergiur melihat Angga makan ayam goreng.
"Sebentar lagi sampai, Papi bilang dia lagi dija ..."
"Assalamualaikum," ucap Tian. Baru juga diomongin dia sudah datang.
Melihat Papinya itu datang dengan menenteng tas kerja dan layangan besar berbentuk burung Elang, Juna langsung turun dari kursi. Kemudian menghamburkan pelukan.
"Papiiii ...!" serunya dengan memeluk tubuh Tian erat, lalu mencium punggung tangannya.
"Walaikum salam," sahut Nissa, Angga dan Sindi.
"Kamu lembur, Yang?" Nissa berdiri dari kursi kemudian menghampiri suaminya. Tian langsung memberikan kecupan pada kening.
"Iya, banyak banget kerjaan di kantor, Yang."
"Mau makan dulu apa mandi dulu? Ini Juna bilang laper daritadi nungguin kamu." Nissa mengambil tas kerja Tian, kemudian menyuruh Bibi pembantu untuk menaruhnya ke dalam kamar.
"Makan saja dulu. Aku juga laper." Tian langsung meraih tubuh anaknya ketika melihat kedua lengan kecil itu berancang-ancang minta digendong. Lantas mereka pun melangkah menuju meja makan.
Baru kemarin dia bilang ingin membeli layangan, tapi Tian sudah membelikannya. Begitu pengertian sekali menurutnya, Papi barunya itu.
"Papi beli dijalan tadi, pas mau pulang. Papi inget kamu kepengen layangan. Seneng nggak?" Tian menarik kursi untuk Nissa duduk. Kemudian dia duduk di sampingnya sembari memangku Juna.
"Seneng banget. Papi memang yang terbaik." Juna kembali memeluk dan bahkan mencium pipi kirinya. Angga dan Sindi yang melihatnya langsung tersenyum. Tian tampak begitu tulus menyayangi cucu mereka. "Juna sayang banget banget sama Papi!"
"Papi juga sayang." Tian mencium puncak rambut anaknya.
"Mau makan sama apa, Yang?" tanya Nissa yang memegang piring untuk suaminya. Tian menatap meja makan itu yang berisi sayur sop, ayam goreng, tempe goreng dan kentang balado.
"Kalau boleh semuanya," jawab Tian sambil menelan ludah.
"Boleh lah, Ti." Sindi menyahut. "Itu semua yang masak Nissa sama Citra tahu."
"Citra bisa masak memangnya, Ma?"
"Bisa. Tapi masih perlu diawasi."
Nissa langsung menuangkan menu dan nasi ke atas piring untuknya dan Tian. Hanya saja porsi Tian lebih banyak sebab Juna ikut makan dipiring yang sama.
"Ngomong-ngomong Citra, Steven dan si kembar mana, Ma? Kok nggak kelihatan?" Tian menatap sekitar, lalu mendongak ke arah lantai atas.
__ADS_1
"Ada di kamar. Mereka lagi makan."
"Besok pulang sekolah ... Juna mau main ke rumah Baim ya, Pi, Mi. Mau main layangan," ucap Juna sambil mengunyah. Dia baru saja mendapatkan suapan pertama dari Papinya.
"Boleh. Rumah Baim di mana emang?" tanya Tian.
"Itu di depan rumah Opa, rumah Baim."
"Oh. Deket berarti. Nggak apa-apa, main saja."
"Sambil ajak si Kevin dan si Mail juga, eh, sama Dedek Upin Ipin. Terus si Atta juga." Juna berbicara dengan mulut yang penuh.
"Udah makan dulu. Ngobrolnya nanti," tegur Nissa.
*
*
Seusai makan, sesuai dengan janji, dengan berat hati Juna masuk ke dalam kamar bersama Angga. Di sana sudah ada Sindi dan si kembar.
Sedangkan Tian dan Nissa masuk ke dalam kamar ujung.
"Ini seriusan, Yang, malam ini kita menghabiskan waktu berdua?" tanya Tian seraya menutup pintu dan menguncinya.
Memang sebelum pulang Nissa sudah memberitahunya lewat chat, tetapi Tian merasa belum percaya seratus persen. Sebab dia tahu bagaimana Juna.
"Serius. Juna bilang dia kepengen punya adik dan Papa yang merayunya supaya malam ini tidur dengannya dan si kembar," sahut Nissa yang melangkah menuju kamar mandi. Tian mengekorinya, istrinya itu sedang mengisi air hangat pada bathtub.
"Wah, bagus itu. Aku nggak perlu berendam deh, Yang, kalau begitu. Langsung mandi saja." Tian cepat-cepat meraih pakaian di tubuhnya. Satu persatu dia mulai melepaskannya.
"Kenapa? Kalau kerja lembur itu lebih bagus berendam air hangat, Yang. Biar kamu nggak pegal-pegal." Nissa memalingkan wajahnya yang sudah merona saat tubuh suaminya polos sempurna. Sudah melihat lebih dari sekali, tetapi nyatanya masih malu.
"Kalau begitu berendam bareng saja sama kamu." Tian meraih kancing baju tidur Nissa dan mulai melepaskannya dari atas hingga ke bawah.
"Tapi aku sudah mandi, Yang," jawab Nissa. Namun dia tak menahannya. Dia membiarkan Tian melepaskan seluruh pakaiannya.
"Mandi lagi sambil bercinta. Malam ini akan jadi malam panjang untuk kita, kan?" Setelah tubuh istrinya polos, Tian pun mengendongnya. Lalu membawanya untuk sama-sama berendam di dalam bathtub. Terasa hangat sekali.
Segera, Tian menyambar bibir ranum istrinya. Lalu meremmas kedua dadanya dengan semangat.
'Terima kasih, Jun, Pa. Malam ini aku akan kencingin Nissa sampai dia hamil,' batin Tian.
...Semoga sukses ya, Pi ☺️...
...Yok vote dan hadiahnya, kok makin kendor 😞...
__ADS_1