Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
93. Aku atau Steven


__ADS_3

"Fira, kan aku sudah bilang aku sibuk!" tekan Steven marah, matanya terlihat melolot.


"Maaf, Pak. Tapi saya hanya minta waktu untuk bicara sebentar saja ...," pinta Fira dengan nada lemah lembut. Dia sungguh tak pernah suka dengan sikap Steven yang begitu dingin padanya, apalagi kalau berbicara dengan nada tinggi. Agak heran juga sih, padahal kemarin-kemarin sikapnya lebih lembut. Tetapi sekarang justru kembali seperti dulu.


Steven perlahan membuang napas kasar. "Ya sudah, katakan sekarang."


Fira menatap mata Steven dengan lekat. "Saya kemarin sempat dengar dari Tante Sindi kalau Bapak sudah punya pacar. Apa itu benar, Pak?"


"Ya."


"Kok Bapak tega sih sama saya?" tanyanya yang seketika bola matanya berkaca-kaca. Wajahnya juga tampak sendu.


"Tega kenapa?"


"Saya 'kan dari dulu nungguin Bapak. Tapi kok Bapak malah punya pacar?"


"Memangnya siapa yang memintamu menungguku? Aku 'kan dari dulu pernah mengatakan kalau kamu nggak usah terlalu berharap!" jawab Steven dengan ketus.


"Tapi saya sangat mencintai Bapak. Saya ingin menjadi istri Bapak." Perlahan lengan Fira terulur, lalu menyentuh punggung tangan Steven. Cepat-cepat Steven pun menggeserkan tangannya.


"Maafkan aku, Fir. Tapi aku nggak mau menikah denganmu." Steven menggeleng.


"Memangnya apa sih kurangnya saya, Pak? Kok sampai sekarang Bapak nggak mau nikahi saya?" tanyanya yang mulai kesal. Tetapi Fira masih menahan diri dan bersikap kalem.


"Kamu nggak kurang sama sekali, Fir. Tapi aku nggak punya perasaan apa pun sama kamu. Jadi lebih baik kamu cari saja pria lain yang mau menjadi pendampingmu," jelas Steven.


"Saya nggak mau, Pak." Fira menggeleng cepat. "Saya hanya mencintai Bapak." Fira tiba-tiba langsung memeluk tubuh Steven dan menciumi dada bidangnya. Sontak—pria tampan itu pun terperangah, tetapi dengan cepat dia mendorong tubuh Fira. "Bapak bisa mencoba untuk mencintai saya, Pak. Saya akan menunggu kapan pun itu. Asalkan kita menikah," pinta Fira dengan nada memohon. Bahkan kiri air matanya mengalir membasahi pipi.


Steven menatap lekat wajah Fira yang kini tengah menangis, tetapi entah mengapa dia jadi mengingat Citra. Dia ingat kalau gadis itu sering menangis karenanya, dan rasanya sekarang Steven makin merindukannya. Ingin cepat bertemu dan meminta maaf atas segalanya.


"Maaf ... aku nggak bisa, Fir. Lebih baik kamu cari pria lain saja. Sekarang kamu keluar dari mobil, aku masih ada urusan," titah Steven mengusirnya secara halus.


"Aaaww!" pekik Fira secara tiba-tiba. Dia pun langsung menyentuh kepalanya. Tidak ada yang sakit sebenarnya, itu hanya kepura-puraan demi melihat respon Steven.


Steven terbelalak, dia pun segera mendekat dan menyentuh lengan Fira. "Kamu kenapa, Fir?"


"Kepala saya sakit, Pak," jawabnya lirih. "Apa Bapak bisa mengantar saya ke rumah sakit?"


Steven langsung menurun kaca mobil, lalu melambaikan tangan pada Bejo yang tengah ngopi bareng dengan teman seprofesinya di pos satpam. Pria berumur 46 tahun itu lantas berlari menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa, Pak?"


"Tolong kamu antarkan Fira ke rumah sakit, Jo," titah Steven.


Fira langsung membelalakkan matanya. Niatnya ingin meminta antar Steven, tetapi mengapa pria itu justru menyuruh orang lain?


"Baik, Pak," jawab Bejo seraya berlari menuju pintu mobil di mana posisi Fira duduk, lantas membukanya.


"Saya ingin diantar Bapak. Kenapa Bapak menyuruh orang lain?" tanya Fira kesal.


"Kan aku sudah bilang aku sibuk." Steven menatap ke arah Bejo. "Ayok bantu Fira turun, Jo. Kok kamu malah diam saja?" gerutu Steven.


"Ah iya, Pak." Bejo mengangguk cepat. Dia pun menyentuh lengan kiri Fira, niatnya ingin membantu. Tetapi gadis itu tampak tak terima, dia menepisnya dengan kasar.


"Saya bisa sendiri!" ketusnya. Fira berdecak. Dengan hati dongkol dia pun keluar dari mobil. Sejujurnya dia tak mau, tetapi tak pantas rasanya jika dia tetap kekeh memaksa Steven untuk mengantarnya. Fira tak mau membuat pria tampan itu membencinya.


Mobil yang Steven tunggani kemudian melaju pergi meninggalkannya. Fira hanya bisa menatap sembari mengepalkan kedua tangannya. 'Aku nggak rela kalau Pak Steven lebih memilih pacarnya dibandingkan aku. Jelas aku disini yang lebih baik dan lebih lama menunggu untuk bisa menikah dengannya.'


Fira menggertakkan giginya, dadanya terasa bergemuruh. 'Aku harus mencari tahu siapa pacarnya Pak Steven. Dan aku akan membuat hubungan mereka berakhir!' serunya dalam hati.


"Ayok Nona, saya antar Nona ke rumah sakit," ajak Bejo sembari membuka pintu mobil untuk Fira masuk.


Bejo mengerutkan keningnya heran saat melihat Fira pergi, juga dengan tingkahnya yang marah-marah tadi. "Nggak jelas banget Nona Fira. Kok marahnya sama aku?"


Tiba-tiba pundak kiri Bejo ditepuk oleh seseorang dan seketika membuatnya terperanjat. Jantungnya terasa berdebar dan epat-cepat dia pun menoleh.


"Pak Angga kenapa ngagetin saya? Saya hampir jantungan, Pak," ujar Bejo kesal. Ternyata memang itu ulah Angga.


"Habis kamu bicara sendiri kayak orang gila. Ngapain, sih?"


"Itu Nona Fira, dia nggak jelas banget. Marah-marah."


"Fira? Kapan dia ke sini?" tanya Angga seraya menatap sekitar halaman rumahnya.


"Tadi, Pak. Dia bilang sih sakit minta diantar ke rumah sakit. Pak Steven yang menyuruh saya. Tapi dia malah marah dan pergi begitu saja," jelas Bejo.


"Memang tadi dia ketemu Steven?"


Bejo mengangguk. "Iya, tadi pas Pak Steven mau masuk mobil. Oh ya, Bapak mau apa? Apa minta pijat?"

__ADS_1


"Aku mau minta antar kamu cari Dedek Gemes, aku rindu padanya, Jo." Angga langsung masuk begitu saja ke dalam mobil lalu menutup pintu.


Bejo bergegas berlari menuju kursi kemudi dan mengendarai mobil tersebut.


"Cari Dedek Gemes di mana, Pak? Dan mau apa ketemu sama dia?" tanyanya sembari menatap sang bos dari kaca depan.


"Kan aku sudah bilang kalau aku rindu. Dan sebenarnya aku sedang patah hati, Jo." Wajah Angga seketika sedih, bibirnya manyun.


"Patah hati kenapa? Bu Sindi nggak mau diajak goyang?"


"Bukan tentang Sindi. Ini tentang Dedek Gemes."


"Kenapa lagi dengan Dedek Gemes?"


"Dia sampai sekarang belum menghubungiku dan ternyata ... dia sudah punya pacar, Jo."


"Katanya dia nggak menghubungi, tapi kok Bapak malah tahu dia punya pacar?" Bejo tampak bingung. Bicara dengan Angga memang musti ekstra sabar, sebab kadang ngelantur.


"Kamu pasti kaget mendengar ini ...." Perlahan Angga membuang napasnya dengan kasar, lalu berkata, "Ternyata ... pacar Dedek Gemes itu Steven, Jo."


Bejo tampak kaget mendengarnya, tetapi dia langsung menggulum senyum. "Ya bagus lah, Pak."


"Bagus apanya? Yang ada aku sakit hati." Angga mendengkus kesal, dia meremmas ujung kemejanya.


"Sakit hatinya kenapa? Kan memang Dedek Gemes itu mau Bapak kenalkan sama Pak Steven."


Angga mengangguk samar. "Iya, sih. Tapi Steven sudah menyakitinya. Aku nggak terima rasanya, Jo."


"Terus sekarang Bapak maunya gimana? Mereka putus?"


"Ya janganlah!"


"Lha, terus?"


"Aku ingin menemuinya dan memintanya untuk memilih."


"Memilih?" Kening Bejo mengerenyit. "Memilih apa, Pak?"


"Memilih aku atau Steven."

__ADS_1


...Ada lagi yang minta dipilih 🤣...


__ADS_2