Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
64. Mencintai perempuan lain


__ADS_3

Di apartemen Steven.


"Halo, Cit. Kamu di mana sekarang?" tanya Steven pada sambungan telepon yang baru saja diangkat oleh Citra.


Pria tampan itu terlihat begitu rapih dan wangi, dia memakai setelan jas merah maroon dan sudah mandi. Niatnya ingin menjemput Citra dari tempat kursus lalu membawanya ke hotel.


Steven sudah punya niat ingin bermalam dengannya, tentu dia juga sudah izin pada Danu. Memintanya untuk memberikan bonus supaya bisa menyentuh Citra lagi.


Sebenarnya dia masih pusing pada masalah tadi siang. Tetapi keniatan itu tak bisa dia batalkan begitu saja, sebab kalau boleh jujur, Steven masih terbayang akan bibir manis Citra. Ingin merasakannya lagi.


"Maaf Pak, ini saya Gugun," jawab pria dari seberang sana.


"Kok kamu yang jawab? Di mana Citra?"


"Nona Citra sedang ke pesta ulang tahun temannya, Pak. Ini saya habis mengantarnya."


"Temannya siapa? Udin?"


"Saya nggak tahu, mungkin salah satu temannya yang perempuan itu. Oh ya, ada yang ingin saya bicarakan sama Bapak. Apa kita bisa bertemu?"


"Bisa, aku ke tempatmu saja. Sekarang posisimu di mana?"


"Di hotel, Pak. Soalnya acara ulang tahun itu ada di hotel."


"Oh, ya sudah kirim saja alamatnya. Aku ke sana sekarang."


"Oke."


Setelah memutuskan sambungan telepon, Steven segera pergi dari apartemennya. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.


Di dalam perjalanan, entah mengapa suasana jalan raya itu tampak begitu sepi. Hampir tak ada kendaraan yang lalu lalang dan pejalan kaki yang lewat. Padahal, sekarang masih jam 5 sore.


"Kok sepi, ya? Tumben banget," gumam Steven.

__ADS_1


Entah datangnya dari mana, tiba-tiba Steven langsung mengerem mobilnya secara mendadak lantaran ada seorang pria yang lewat sambil berlari.


Sebenarnya mobil Steven berhenti tepat pada waktunya, tetapi anehnya pria di depannya itu malah terhentak jatuh di aspal dan langsung pingsan.


Steven membulatkan matanya dengan lebar, terkejut dengan apa yang dia lihat. Jantungnya terasa berdegup kencang.


"Astaghfirullah!" Merasa panik dan bersalah, Steven langsung turun dari mobil.


Baru saja Steven berjongkok hendak melihat keadaan pria yang terkapar di jalan itu, tetapi seseorang yang baru saja turun dari mobil putih yang baru lewat tiba-tiba berlari menghampirinya.


Dia memakai sarung tangan hitam dan tergos, pakaiannya serba hitam dan yang terlihat hanya mata, lubang hidung dan bibir saja.


Pria itu menyentuh bahu kiri Steven, lalu menariknya hingga membuat tubuhnya berbalik. Setelah berbalik, tanpa basa-basi pria itu langsung menusukkan sebuah pisau yang cukup panjang dan tajam itu pada dada Steven.


Jleb!


"Aaakkkhhh!" Steven memekik keras seraya membulatkan matanya dengan lebar. Begitu nyeri dan amat sakit. Benda tajam itu seperti menghantam jantungnya.


Tubuh Steven langsung ambruk, perlahan dia pun memejamkan mata.


Pria yang sejak tadi pingsan itu langsung bangun saat mengetahui Steven sudah tak sadarkan diri. Sebenarnya dia tidak benar-benar pingsan atau pun tertabrak. Itu hanya akal-akalan demi mencelakai Steven.


"Kerja bagus," ucap pria itu pada temannya yang memakai tergos dan ternyata dia juga sama-sama memakai tergos.


"Kamu juga kerja dengan bagus," jawab temannya.


Setelah itu keduanya mengangkat tubuh Steven dengan susah payah sebab terasa berat. Membawanya menuju semak-semak yang berada di sekitar sisi jalan itu.


Mereka langsung mengeledah seluruh tubuh Steven, mengambil semua yang ada. Mungkin yang mereka tinggalkan hanya dompet, yang isinya KTP, SIM dan kartu ATM. Sebab bagi mereka, ketiga kartu itu tidak penting.


Sebelum pergi, mereka menarik pisau di dada Steven dan tak lama darah segarnya mengalir begitu deras, bahkan ada pula yang sampai muncrat. Seluruh baju dan jas Steven basah berlumuran darah.


Mereka cepat-cepat berlari, salah satunya masuk ke dalam mobil putih tadi dan salah satunya masuk ke dalam mobil Steven. Dia membawanya pergi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Hotel.


Sementara itu di tempat berbeda, Citra yang menghadiri acara pesta ulang tahun Rosa mendadak merasakan perasaan yang tidak enak. Entah itu sebuah pirasat atau apa, tetapi yang jelas kini dia terus memikirkan Steven dan duduk dengan gelisah.


Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang dan perasaan takut itu menyelimuti seluruh jiwanya.


'Kok tiba-tiba aku kepikiran Om Ganteng. Sedang apa dia, ya?' Sejenak dia membayangkan Steven yang sedang duduk di kursi kerja, tetapi ada sebuah bayangan seorang wanita yang bersamanya. 'Ah ... pasti dia sedang meeting bersama Safira. Iya, kata Om Gugun juga Om Ganteng sibuk. Padahal dia sendiri yang bilang ingin mengantarku ke mall dan kursus, tapi sampai sekarang dia malah masih di kantor.' Citra mengenggam tangannya sendiri, lalu meremmasnya. Terasa berkeringat dan bergetar.


"Cit, kamu kenapa?" tanya Arya seraya menghampiri Citra yang duduk seorang diri di kursi, lalu memberikan segelas jus mangga padanya. Dia juga diundang oleh Rosa.


"Eh!" Citra langsung terhenyak dan menepis semua lamunannya. Segera dia mengambil segelas jus yang sejak tadi di arahkan kepadanya. "Terima kasih, Kak."


"Sama-sama." Arya menarik kursi, lalu duduk di sampingnya. "Kamu kenapa melamun? Wajahmu juga kelihatan sedih, apa berantem lagi sama pacarmu?" Arya menatap lekat wajah cantik di sampingnya. Mungkin sudah kedua kalinya dia melihat wajah sedih Citra.


"Sepertinya hubunganku dengan pacarku akan berakhir, Kak," jawab Citra dan tiba-tiba saja air matanya mengalir. Arya yang melihatnya pun segera menarik secarik tissue di atas meja, lalu memberikan padanya.


"Kok begitu? Bukannya kemarin pacarmu sudah kelihatan cemburu, ya, pas kita ketemu."


"Aku nggak tahu dia cemburu atau nggak." Citra menggeleng samar sambil mengusap air mata di pipi. "Dia sendiri nggak ngaku kalau dia cemburu padaku, Kak," imbuhnya dengan suara lirih.


"Kalau dia beneran nggak cemburu, berarti dia nggak cinta padamu, Cit. Tapi aneh juga, sih. Dari wajahnya yang galak itu kelihatan banget dia cemburu." Sekilas Arya membayangkan wajah Steven yang tengah marah. Tampak begitu menyeramkan baginya.


"Dia memang nggak cinta padaku, dia cintanya sama perempuan lain, Kak."


Mata Arya seketika membulat. "Benarkah? Jadi dia selingkuh? Keterlaluan sekali. Sudah tua nggak tahu diri!" umpatnya dengan kedua tangan yang mengepal di atas meja. Entah mengapa dia menjadi kesal pada Steven. Juga merasa kasihan dan sedih melihat gadis itu yang masih terus menangis. "Jangan ditangisi, Cit. Kamu masih muda dan cantik. Banyak kok diluar sana yang jauh lebih baik daripada dia. Mending kamu lupakan." Arya mengusap lembut bahu Citra sebentar, menenangkan hati Citra yang tengah kalut.


"Cara melupakannya gimana, Kak? Sekarang saja aku terus memikirkannya," tanyanya dengan sendu.


"Iya sih sulit, tapi pelan-pelan saja, Cit. Eeemm ...." Arya terdiam sambil mengingat saat dimana dia putus cinta, mungkin dia bisa membantu Citra untuk melupakan Steven. "Kamu mulai sekarang biasakan diri hidup tanpa dia. Ya memang sih sulit, tapi coba dulu. Sebisa mungkin jangan sering ketemu. Apa lagi membalas chat dan mengangkat telepon. Lebih bagus sih ganti kartu saja, supaya los kontak," saran Arya.


...Padahal udah crazy up, tapi mana dukungannya nih 🙈🥲 kok ga ada yang ngasih hadiah? bunga atau kopi gitu 🥺. Yang like juga dikit banget 😭 masa 100 doang sebab, padahal yang favorit 500 lebih🤧. Ga nyampe setengahnya 😭. pelit amat sih cuma ngasih like doang, gratis lho Gays itu😩...

__ADS_1


__ADS_2