
"Tapi kamu 'kan harus masuk sekolah. Lihat, jam berapa sekarang?" Nissa memperlihatkan jam pada pergelangan tangannya ke arah Juna, yang sudah menunjukkan pukul 7.30. Setengah jam lagi waktu belajarnya dimulai.
"Juna maunya ...." Ucapan Juna mengantung kala ponsel Nissa berdering. Suaranya cukup nyaring dan itu sebuah panggilan masuk dari Gisel, gurunya Juna. Segera Nissa pun menjawab panggilan itu.
"Halo, Bu."
"Halo Bu Nissa selamat pagi," sapanya dari seberang sana.
"Pagi."
"Saya ingin bertanya, apa benar kemarin Juna diculik, Bu?"
"Iya, benar, Bu. Tapi Juna nggak apa-apa, penculiknya juga sudah ditangkap."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau nggak apa-apa. Atas nama guru-guru dan satpam, saya mewakilkan untuk meminta maaf, karena kurang memperhatikan anak-anak. Besok-besok kami dari pihak sekolah akan lebih memperhatikan, dan menjamin anak-anak murid supaya pulang dengan aman, ya, Bu." Gisel sendiri baru tahu dan mendapatkan teguran langsung dari Angga. Pria tua itu tentu bertindak cepat.
Meskipun memang bukan kesalahan pihak sekolah, namun kejadian yang masih di sekitar sekolah amat disayangkan menurutnya. Mungkin dengan begitu, pihak sekolah bisa memperketat penjagaan. Takut, jika ada korban lain selain Juna.
"Iya, Bu," jawab Nissa.
"Saya dan yang lain ada bingkisan buat Juna. Nanti akan diantarkan oleh kurir siang ini, Bu. Dan saya juga sekalian menyampaikan kalau hari ini ada rapat, jadi Juna nggak perlu masuk sekolah. Infonya sudah saya share digrup."
"Oh begitu, baiklah. Terima kasih, Bu."
"Sama-sama. Boleh saya mengobrol sebentar sama Juna, Bu?"
"Boleh." Nissa memberikan ponselnya kepada Juna. "Ini Bu Gisel telepon."
Juna mengambil lalu menempelkannya ke telinga kanan. "Ada apa, Bu?"
"Juna ganteng murid Ibu, kamu nggak apa-apa, kan? Kemarin pas diculik ada yang lecet nggak?"
"Nggak."
"Syukurlah. Kamu hari ini belajar di rumah saja, Ibu ada rapat."
"Alhamdulillah." Juna langsung mematikan panggilan, lalu memberikan ponsel itu kepada Nissa.
"Kamu nggak ada basa-basi? Langsung ditutup saja teleponnya?" tanya Nissa. Jangankan kepada Gisel yang hanya seorang guru, Nissa yang ibu kandungnya saja dia sering seperti itu. Bahkan bicara belum selesai sudah dimatikan.
"Juna nggak suka basa basi, lagian Bu Gisel orangnya lebay. Juna malas bicara dengannya."
"Jangan begitu, dia 'kan gurumu. Kamu ini kebiasaan, apa-apa malas, apa-apa nggak suka. Mami nggak pernah, ya, mengajarimu bertingkah nggak sopan seperti itu," tegur Nissa mengomel.
__ADS_1
"Iya, Mami bawel amat. Udah ah, Juna pusing. Juna tuh mikirin Om Tian dari tadi." Juna bersedekap, lalu menyandarkan punggung ke kursi, bibirnya mengerucut.
'Tian lagi Tian lagi. Otak Juna isinya si Tian mulu,' gerutu Nissa dalam hati.
*
*
Mobil Nissa berhenti di depan gerbang rumah mewah Tian. Akan tetapi, gerbang itu terlihat terbuka, dan ada mobil hitam yang terparkir di samping mobil putih Tian.
"Berhenti di sini apa mobilnya masuk ke dalam, Bu?" tanya sang sopir.
"Masukkan saja ke dalam."
Juna langsung turun dari mobil, tangannya memegang parsel buah dan gegas berlari masuk ke dalam gerbang. Kebetulan ada seorang pria berambut kribo yang baru saja keluar dari rumah itu lalu menuju mobil hitam.
Dia Ahmad, sekertarisnya Tian.
Nissa ikut turun menyusul Juna dan menghentikan langkahnya di depan pria itu.
"Om siapa? Kok tadi masuk ke rumah Om Tian?" tanya Juna dengan mata yang memicing. Menatap curiga pada pria di depannya.
"Saya sekertarisnya Pak Tian, Dek," jawab Ahmad.
"Apa Bapak ini orang yang menelepon Tian kemarin malam?" tanya Nissa.
Ahmad mengangguk. "Benar, Ibu ini Bu Nissa berarti, ya?" tebaknya.
"Iya. Jadi Bapak yang bawa Tian pulang? Tapi di mana dia sekarang? Apa di dalam?" tanya Nissa. Juna yang hendak berlari masuk itu segera ditahan oleh Nissa, pergelangan tangannya dicekal.
"Iya, saya yang membawa Pak Tian pulang. Beliau sekarang ada di kamarnya. Sebetulnya dia memaksa ingin masuk ke kantor hari ini, tapi tidak diizinkan oleh Pak Rizky. Jadi saya mengantarnya pulang lagi ke sini, Bu," jelas Ahmad panjang lebar.
Dia tak tahu apa manfaatnya menceritakan itu kepada Nissa. Akan tetapi, hanya Nissa yang Ahmad tahu, orang yang mengenal Tian. Mungkin wanita itu dapat membantu Tian yang tengah sakit di rumah. Sebab Tian tak memintanya untuk menghubungi keluarganya.
Kedatangan Ahmad di rumah sakit tadi hanya berniat menjengkuk, melihat keadaan dan nantinya akan dilaporkan kepada Rizky. Meyakinkan dia, kalau benar Tian masuk rumah sakit.
Namun, Tian justru merengek meminta tolong untuk mengantarnya pulang. Bukan hanya karena lelenya saja, tapi Tian tidak mau dengan dirinya sakit dan bolos kerja, Rizky akan memecatnya.
Baru sehari dia kerja, Tian merasa trauma. Takut pengalaman pemecatannya seperti bekerja dengan Nissa akan terulang. Disatu sisi dia juga sudah berjanji kepada Rizky, tidak ingin mengecewakan. Jadi tidak etis jika dia melanggar janji. Bukan pria sejati namanya.
Rizky sendiri tak masalah sebenarnya, yang terpenting nomor satu adalah kejujuran. Tian memang sakit dan kecelakaan beneran, bukan karena alasan. Jadi dia mengizinkan Tian untuk tidak masuk, dan bekerja di rumah saja dengan laptop dan itu pun semampunya.
"Oh begitu."
__ADS_1
"Saya titip Pak Tian sama Ibu, ya? Atau kalau nggak, Ibu tanya pada Pak Tian, siapa keluarganya. Harus ada orang yang menjaganya di rumah. Karena rumahnya nggak ada siapa-siapa, dia hanya tinggal sendirian."
Nissa jadi teringat ucapan Juna, yang mengatakan pria itu tinggal sendirian di rumah. Dan ternyata memang benar. Anaknya itu memanglah tak pernah bohong.
"Kalau begitu saya permisi," pamit Ahmad seraya tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.
Juna langsung menarik tangan Nissa membawanya masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya tak dikunci.
Nissa menatap sekeliling rumah itu, benar-benar sepi. Tapi lantainya cukup bersih dan aromanya wangi.
"Kita izin dulu ke Om Tian, Jun, jangan asal masuk," tegur Nissa seraya menggoyangkan tangan Juna. Mereka sudah melangkah menaiki anak tangga.
"Izinnya nanti kalau sudah ketemu orangnya, Mi."
Langkah mereka pun berhenti di depan deretan pintu kamar yang jumlahnya ada 3. Mereka pun merasa bingung untuk ke mana.
"Tian!" pekik Nissa. Mungkin dengan memanggilnya, dia dapat mengetahui di mana pria itu berada.
Juna langsung berlari menuju kamar urutan pertama, lantas mengetuk-ngetuk pintunya.
"Om Tian!" teriaknya. "Ini Juna sama Mami, mau jenguk Om!"
Tidak ada suara yang terdengar. Tapi bocah itu dengan nekatnya menurunkan handle pintu dan membukanya.
Ceklek~
"Om Tian!" pekiknya lagi. Kaki kecilnya hendak melangkah masuk ke dalam sana, namun Nissa bergegas menahannya.
"Jun, jangan—"
Kedubrak!
Ucapan Nissa terhenti lantaran terdengar suara sesuatu yang jatuh, asalnya dari kamar mandi.
"Aaww!" Seseorang dari dalam sana memekik, Juna yang mendengarnya pun langsung menepis tangan Nissa. Lalu berlari masuk dan menuju pintu kamar mandi.
Nissa berlari menyusul dan menghentikan langkahnya saat Juna membuka pintu kamar mandi itu.
"Astaghfirullah!" Nissa sontak membelalakkan matanya lantaran kaget melihat Tian duduk selonjoran di lantai sembari menyentuh bokong dan perutnya. Wajahnya meringis ngilu menahan sakit.
Namun, yang membuat Nissa terperangah adalah pria tersebut tidak memakai celana. Benda keramatnya terekspos jelas. Begitu panjang dan besar serta berbulu domba.
...Aduh, mata suci Mbak Nissa ternodai 😭🤣...
__ADS_1