
"Oh ...," jawab Steven singkat dan suaranya itu bahkan terdengar seperti membuang napas saja. Kedua polisi itu lantas melayangkan pandangan, lalu menatap kembali ke arah Steven.
"Apa Bapak nggak ada rasa bersalah sedikit pun setelah apa yang Bapak lakukan?" tanyanya yang kembali mengintrogasi.
"Ngapain aku merasa bersalah. Yang salah itu si Udin."
"Tapi Udin di sini adalah korban."
"Tapi aku sudah memperingatkan sebelumnya, dan dia sendiri yang melanggar."
"Sebenarnya Om salah paham." Citra ikut menyahut, dia ingin meluruskan kesalahpahaman itu. "Aku dan Udin bertemu nggak sengaja."
Steven diam saja, tak menanggapi.
"Aku jujur, Om." Citra mengenggam salah satu tangan Steven yang masih mengepal, lalu dia pun tersenyum manis. "Aku dan Udin nggak ada hubungan apa-apa. Dan tadi hanya salah paham."
"Maaf permisi," ucap seorang pria yang baru saja masuk setelah mengetuk pintu sebentar, dan tiba-tiba tercium aroma tidak sedap yang mengguar pada ruangan itu dan membuat mereka semua menoleh.
Dia seorang pria yang mungkin usianya 50 tahun. Seluruh tubuh, wajah dan kulitnya sama persis seperti Udin. Begitu pun dengan aroma ketiak dan giginya yang kuning serta tonggos. Hanya saja bedanya rambutnya gondrong begitu pun dengan bulu ketiaknya.
Namun anehnya, sudah bau begitu pria itu malah telanjang dada, apa dia memang tidak punya baju? Mungkin itu pertanyaan yang ada diotak Steven sekarang.
'Bisa bengek aku lama-lama menghirup aromanya.' Sungguh, Steven ingin muntah rasanya menghirup aroma yang menyesakkan dada itu, dia pun segera berlari keluar dari sana sambil menutup hidung. Dan disusul oleh Citra.
"Tolong ambilkan bajuku yang bersih," pinta Pak polisi pada rekannya yang duduk di sampingnya. "Jangan lupa semprot minyak wangi dulu."
"Iya." Temannya itu mengangguk dan tampak mengerti maksudnya yang mana ingin memberikan baju itu pada pria yang baru datang.
"Silahkan duduk, Pak," ujar polisi seraya mengarahkan tangannya ke arah kursi di depan. Dia mencoba menahan napas meskipun sulit.
Pria berketek bau itu lantas duduk di kursi bekas bokong Steven, dan tak lama polisi yang sempat mengambil baju itu datang kemudian memberikan pada pria itu.
"Pakai baju dulu, Pak. Biar enak dilihat."
"Saya nggak betah pakai baju." Pria itu menolak dengan gelengan kepala.
"Tapi kami yang melihat kurang nyaman. Bapak bisa pakai dulu selama memberikan keterangan. Setelah itu dilepas lagi juga boleh."
__ADS_1
Pria berketek bau itu lantas mengangguk, kemudian memakai baju itu. Kedua polisi langsung menghela napasnya dengan lega. Meski memang aromanya masih tercium, tetapi setidaknya tidak terlalu parah.
"Pak Steven mana? Kok dia belum kembali?" tanya polisi itu pada rekannya. Belum sempat mendapatkan jawaban, pria yang dia cari itu datang.
Steven masuk bersama Citra, keduanya memakai masker chuba yang tadi Steven beli. Sejujurnya Citra tidak mau memakai masker, dia juga heran mengapa Steven malah memaksa untuk memakai benda itu, sebab jika diingat virus Corona sudah tidak ada.
Steven sendiri terkadang bingung pada istrinya, karena indera penciuman Citra terhadap bau seperti tak berfungsi.
"Silahkan duduk kembali, Pak," titah polisi pada Steven. Pria tampan itu langsung berjalan menuju kursi. Dia menggeser dulu kursi tersebut supaya agak jauh dari pria berketek bau itu, setelahnya baru duduk.
Citra berjalan menghampiri Steven, dia berdiri di sampingnya.
"Bapak ini adalah ayahnya saudara Udin, Pak," ujar polisi memberitahu pada Steven, lalu menatap ke arah pria di depannya. "Bapak siapa namanya?"
"Nama saya Sugiono, Pak. Panggil saja Sugi," jawabnya.
'Sugiono?' Steven mengerutkan keningnya, nama itu seperti familiar di otaknya. 'Namanya seperti aktor Jepang saja.'
'"Baik Pak Sugi. Dia adalah Pak Steven, beliau tersangka yang mencekik leher dan menonjok anak Bapak," terang polisi itu memberitahu. "Apa Bapak mau memenjarakannya? Kami bisa langsung memprosesnya sekarang juga."
"Jangan!" sergah Citra dengan cepat. "Om Sugi, jangan penjarakan Om Ganteng. Aku nggak mau hidup sendirian," ujar Citra seraya menoleh pada Sugi, pria itu juga langsung menoleh ke arahnya.
"Saya mengenal Anda, Pak. Kebetulan saya teman Kakak Anda."
"Teman Kakakku?" Steven mengerenyit dahi. "Kakakku yang mana?"
"Memangnya Om punya Kakak berapa?" tanya Citra.
"Pak Sofyan Prasetyo. Saya teman SMPnya," jawab polisi itu.
'Kak Sofyan? Sejak kapan dia punya teman seorang polisi?' batin Steven.
"Jadi bagaimana Pak Sugi?" tanya polisi itu sekali lagi sebab belum mendapatkan jawaban.
"Saya nggak akan meminta Pak Steven dipenjara, tapi saya mau dia ganti rugi."
"Ganti rugi?" Steven langsung menoleh ke arahnya. "Ganti rugi apa, Pak?"
__ADS_1
"Saya mau Bapak membiayai pengobatan Udin selama di rumah sakit, mencarikan spesialis dokter gigi untu memperbaiki—"
"Giginya tonggos itu dari lahir, bukan aku penyebabnya," sela Steven. Dia tak mau bertanggung jawab pada sesuatu hal yang bukan dia sendiri penyebabnya.
"Maksudnya bukan memperbaiki gigi tonggosnya, tapi giginya yang patah itu. Saya mau gigi Udin lengkap seperti semula. Bila perlu dibehel biar dia tambah ganteng."
"Oke," jawab Steven menyetujui.
"Saya juga mau Bapak membiayai Udin sampai jadi sarjana," tambahnya lagi yang mana membuat mata Steven terbelalak. Wajahnya langsung berubah masam, jelas dia tak terima. Permintaannya itu diluar dari kesalahan Steven.
"Enak saja, Bapak kira aku ini siapanya Udin?" Steven menunjuk wajahnya sendiri. "Aku nggak mau!"
"Tapi gara-gara Bapak Udin masuk rumah sakit dan untuk sementara waktu dia nggak bisa kuliah. Biaya kuliah tetap berjalan, sedangkan Udin nggak masuk. Bukannya itu rugi?" cerocos Sugiono marah, bahkan ludahnya sampai muncrat-muncrat. Untung jarak Steven dengannya jauh, mungkin kalau dekat wajah pria itu sudah basah akibat air liurnya.
"Saya ini hanya buruh pabrik dengan gaji seminggu 600 ribu. Mati-matian saya menyekolahkan Udin sampai tinggi tapi Bapak dengan teganya hampir membuatnya mati!" sungutnya emosi. "Jangan mentang-mentang Bapak orang kaya jadi seenaknya, tanpa orang miskin Bapak nggak akan disebut orang kaya," tambahnya.
"Hei, siapa yang berniat membuat anakmu mati? Nggak sama sekali!" tegas Steven marah. Matanya melotot tajam. "Anakmu yang bau itu begitu menyebalkan, dia terus menganggu istriku! Aku bahkan bisa melaporkannya dengan tuduhan perusak rumah tangga orang!" teriaknya dengan emosi yang meledak-ledak.
"Udin nggak mungkin melakukan hal itu!" tegas Sugiono tak terima. "Dia anaknya alim dan sopan, nggak mungkin mengganggu istri orang. Mungkin saja istrimu yang keganjenan sama Udin!" tebaknya sambil menunjuk wajah Steven.
"Apa katamu?" Steven langsung berdiri dengan kedua tangan yang mengepal kuat, rahangnya terlihat mengeras. "Kurang ajar sekali kau bilang istriku ganjen! Mulutmu yang bau itu nggak pantas mengatakannya!" teriak Steven seraya mengangkat tangannya ke udara.
Sedikit lagi mungkin pipi kiri Sugiono sudah Steven tonjok, dan bisa jadi akan bernasib sama seperti anaknya. Akan tetapi semua itu tak berhasil terjadi lantaran kedua polisi itu dengan sigap mencekal kedua tangannya. Mereka merasa pusing, entah mengapa perkara itu sangat sulit untuk cepat selesai.
"Kalian jangan ribut! Sekarang lebih baik berdamai, kalau tidak kalian berdua kami penjarakan!" pungkas polisi yang terlihat sudah lelah itu.
"Pak Steven akan membiayai perawatan Udin sampai sembuh, berikut dengan giginya. Dan Pak Steven juga akan mengganti biaya bulanan kuliah selama Udin tidak masuk," tambahnya lagi. "Bagaimana? Apa kalian setuju?" tanyanya pada Steven dan Sugiono seraya menatapnya silih berganti.
Steven membuang napasnya kasar, lalu mengangguk sebagai jawaban untuk menyetujuinya.
Sugiono tampak berdecak kesal, padahal niatnya datang ingin mengambil kesempatan supaya Udin bisa kuliah tanpa biaya. Tetapi sepertinya sulit sebab polisi menjadi penengah, tidak memihak padanya.
"Ya sudah, tapi aku mau nanti gigi baru Udin berbahan emas asli. Juga dengan kawat giginya, bila perlu ditambah dengan berlian," ujar Sugiono seraya berdiri. Dia pun lantas membuka bajunya dan melemparkannya ke atas meja. Setelah itu berlalu pergi dari sana.
...Ada lagi yang bergigi emas berkawat berlian 🤣🤣...
Seperti biasa, Author mau promo novel. Yuk mampir, ceritanya seru dan dijamin bikin nagih.
__ADS_1