
'Keterlaluan sekali si Kevin. Orang tua datang bukannya disambut tapi malah terbang,' batin Angga. Dia mendengkus kesal kala melihat sikap burung kesayangannya itu.
"Mau ngapain Kevin ada di sana, Opa? Atau jangan-jangan ada Tante Citra dan Om Steven di sini?" tebak Juna.
"Nggak mungkinlah mereka di sini," sahut Angga. "Kan mereka di rumah Opa. Ya sudah ... kamu dan Pakde tunggu di sini, ya? Opa hanya sebentar kok." Angga mengelus puncak rambut Juna, kemudian melangkah masuk ke dalam sana.
*
*
"Janet! Luna dan Luki ... ayok kita mengumpet!" seru Kevin yang baru saja masuk apartemen lewat jendela. Dia masih mengibaskan sayapnya dan wajahnya itu tampak panik.
Luna dan Luki yang tengah makan kuaci di atas meja langsung terbang menghampiri. Sedangkan Janet masih sibuk membantu Suster Dira yang sedang mengganti popok si kembar di dalam kamar, jadi dia tak dapat mendengar.
"Ngumpet ke mana Papa?" tanya Luna.
"Kenapa ngumpet, Pa?" tanya Luki.
"Ada Opa Angga datang, kita jangan sampai ketemu dia!" seru Kevin, lalu terbang ke arah kolong sofa dan masuk ke dalam sana.
Kedua anaknya lantas ikut masuk ke dalam sana.
"Janet! Ke mana kamu Janet?! Ayok ngumpet!" teriak Kevin. Dia heboh sendiri sedangkan Janet tengah terbang dengan santai melewatinya sambil membawa popok. Ingin membuangnya ke tong sampah yang berada di dapur.
__ADS_1
"Ada apa, Kevin?" tanya Janet.
"Ada—"
Ting! Tong!
Ucapan Kevin terhenti sebab terdengar suara bel berbunyi. Dia juga yakin—jika yang berada diluar sana adalah Angga.
Dari kolong sofa, Kevin melihat Suster Dira keluar dari kamar lalu menuju pintu. "Jangan dibuka Suster! Itu Papa!" seru Kevin ketika wanita itu hendak membuka kunci pintu.
Selain Citra yang berpesan untuk ikut menjaga si kembar, Steven juga sempat berpesan kepadanya, kalau semisalnya ada Angga atau Sindi datang—pintunya jangan sampai dibuka.
Kevin yang memang sungguh-sungguh ingin tinggal bersama Steven pasti akan menurut, karena dia juga sama-sama tidak mau punya adik.
"Kakak Steven yang minta," jawabnya.
"Tapi Pak Angga 'kan Papanya. Masa nggak dibukain? Nggak sopan dong namanya."
"Terserah Suster saja! Tapi kalau Kakak Steven marah, saya jangan dibawa-bawa." Kevin memasukkan kembali kepalanya ke dalam sana. Sedangkan Suster Dira memilih untuk masuk lagi ke dalam kamar.
Dia juga tentu takut kepada Steven, jangan sampai hanya karena masalah ini dia dipecat. Suster Dira masih mau bekerja dan mengurus si kembar.
Sudah hampir 20 menit Angga diluar pintu, terus memencet bel sembari menelepon Citra dan Steven. Sayangnya nomer kedua orang itu tidak tersambung. Dichat pun jangankan dibaca, malah hanya ceklis satu.
__ADS_1
"Ke mana si Steven dan Dedek Gemes? Apa mereka nggak ada di apartemen?!" gumam Angga sambil menggaruk rambut kepalanya. "Eh, kamu tau Steven dan istrinya nggak?!" Angga bertanya setengah berteriak pada seorang pria yang tak sengaja lewat. Dari seragamnya dia seperti satpam, tapi dia bukan Ajis.
"Bapak ini Pak Anggara Prasetyo, kan?" tebak pria yang menghentikan langkahnya itu. Lalu mendekat ke arah Angga.
"Iya." Angga mengangguk. "Kamu tau Steven dan istrinya? Di mana mereka? Kok nggak dibuka-buka pintunya, padahal aku sudah pencet belnya beberapa kali." Angga menunjuk pintu apartemen Steven.
"Setahu saya mereka pergi naik mobil, Pak, tapi nggak tau ke mana."
"Sama si kembar anaknya?"
"Kurang tau tuh kalau soal itu." Satpam itu menggeleng samar.
"Eemm ... ya sudah deh." Angga membuang napasnya dengan kasar. Dia pun lantas melangkah dengan lesu pergi dari sana, kemudian masuk ke dalam lift. "Ke mana mereka? Nomornya dihubungi pun susah." Menatap layar ponselnya, lalu mengantongi benda pipih itu kembali.
Angga pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Bukan dirinya tak mau menunggu sampai Steven dsn Citra pulang, tapi dia hanya membiarkan Steven untuk memiliki ruang waktu.
Mungkin memang benar, Steven membutuhkan ketenangan untuk sekarang-sekarang supaya dapat menerima keadaan.
'Semoga Mama nggak marah dan terus merengek. Papa yakin Steven besok kembali,' batin Angga.
Sekarang, dia tengah menunggangi mobil Sofyan ke arah jalan pulang. Juna sudah terlelap dari tidurnya pada pangkuan Angga.
"Papa kenapa, sih? Kok dari semenjak pergi kondangan kebanyakan melamun?!" tanya Sofyan seraya menoleh sebentar ke arah Angga. Diam-diam dia memerhatikan. Dan tidak biasanya wajah Angga murung seperti itu.
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^