Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
320. Makam kosong


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, dua orang pemuda yang usianya sekitar 25 tahunan turun dari motor metiknya yang berwarna hita.


Keduanya pun melangkah masuk ke dalam gerbang, lalu menemui pria berbaju Koko yang sejak tadi berdiri menunggu.


"Ada apa Pak Joko?" tanya lelaki berkaos hitam. Ternyata penjaga makam itu bernama Joko.


"Ayok ikut aku," ajaknya. Pak Joko melangkah lebih dulu, kemudian disusul mereka berdua.


Saat mereka menghentikan langkahnya, sontak keduanya terbelalak melihat makam Tina yang sudah terbongkar. Tepat di depannya, sudah ada Tian, Nissa dan keempat penggali kubur yang berdiri di sana.


"Lho, kok makamnya malah dibongkar, Nal? Bisa ketahuan dong?" tanya lelaki yang berbisik ke telinga Zaenal, temannya. Bulu kuduknya seketika berdiri.


"Iya, gimana ini?!" Zaenal sendiri ikut bingung. Dia merasa takut.


"Pak Tian," ucap Pak Joko yang hendak mengenalkan dua pemuda di sampingnya. "Ini Zaenal dan temannya bernama Robi, mereka berdua yang memakamkan anak Bapak."


Tian mendekat, lalu memperhatikan kedua lelaki itu dan secara tiba-tiba, dia meraih kerah kaos milik Zaenal. Kemudian meremmasnya kuat. "Di mana jasad anakku? Kenapa aku nggak bisa menemukannya?" tanyanya dengan bola mata yang memanas. Dia tampak menahan emosi yang menyeruak di dalam dada.

__ADS_1


"Saya nggak tahu, Pak," jawab Zaenal sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak mungkin kamu nggak tahu, jelas kamu yang memakamkannya," sahut salah satu penggali kubur.


"Aku dan temanku yang memakamkannya, tapi memang kami nggak tahu apa-apa," jawab Zaenal.


"Itu nggak mungkin sih, Pak." Penggali kubur yang lain ikut menimpali. "Saya berpengalaman sebagai penggali kubur selama 10 tahun, tapi belum pernah tuh, ada jasad yang nggak berhasil ditemukan di dalam makam. Meskipun sudah bertahun-tahun, pasti kain kafannya masih ada meskipun agak koyak, begitu pun dengan papannya," jelasnya.


"Apa kamu dengar tadi?!" Tian menggertakkan giginya. Rahangnya mengeras dan wajahnya begitu merah. "Ke mana jasad Tina?! Kalau kamu dan temanmu nggak mau ngaku ... kalian berdua bisa aku penjarakan!" tekannya mengancam dengan sedikit cengkraman dileher.


"Maaf, Pak. Kami hanya disuruh sama Bu Safira." Robi membuka suara.


Baginya, pekerjaannya hanya sebatas menuruti permintaan Safira waktu itu. Setelah beres, dia akan lepas tanggung jawab. Tidak mau ikut-ikutan.


"Disuruh bagaimana? Tapi kenapa jasadnya nggak ada?!" teriak Tian murka. Dia beralih menatap Robi dengan nyalang.


"Itu karena memang makamnya kosong, Pak. Nggak ada isinya," jawab Robi.

__ADS_1


Degh!


Jantung Tian sontak berdebar kencang.


"Apa maksudmu?!" tanya Tian setengah tak percaya.


"Bu Safira meminta kami membuat makam kosong, mangkanya jasad anak Bapak nggak ada," imbuh Zaenal.


"Apa?!" Tian menyeru dengan kedua mata yang melebar sempurna. Nissa juga sama terkejutnya. "Lalu anakku ke mana? Jasadnya dikubur di mana?!" cecarnya membabi buta.


"Soal itu kami nggak tahu, Pak," jawab Zaenal. "Bu Safira hanya menyuruh kami membuat makam kosong, hanya itu saja. Selebihnya kami nggak tahu apa-apa."


"Apa kalian jujur?!" tekan Nissa.


"Kami berani bersumpah, Bu," jawab Robi dan Zaenal secara bersamaan seraya menatap Nissa.


Tian perlahan melepaskan kerah kaos milik Zaenal sebab jantungnya tiba-tiba berdenyut sakit. Dia menyentuh dada dengan tubuh yang terasa lemas dan bergetar hebat.

__ADS_1


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2