Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
172. Citra itu banyak duitnya


__ADS_3

"Sus, kita tunda operasi ini tiga puluh menit. Aku sudah meneteskan obat untuk melelehkan kerak digigi Udin," ucap Dokter Ilham pada Suster yang baru saja keluar dari kamar mandi. Langkahnya terlihat tertatih-tatih, tubuhnya lemas sebab dia habis muntah-muntah.


"Oke, Dok. Tapi kalau nanti nggak bisa lagi ... saya nyerah deh. Saya mau pulang saja, Dok," jawabnya lirih.


"Jangan begitulah, Sus. Kita harus berjuang, kan Suster sudah aku gaji."


"Tapi gaji lemburan 'kan belum, Dok. Lagian sayang juga tadi saya muntah. Nasi Padang yang keluar, mana rendang lagi." Suster itu mengusap perutnya yang kosong. Nasi Padang adalah makanan yang paling wow menurutnya, sebab dia jarang sekali memakannya. Mungkin kalau habis gajian saja.


"Kita makan nasi Padang dulu saja, yuk, nanti aku teraktir," ajak Dokter Ilham.


"Nggak deh." Suster itu menggeleng. "Nanti takutnya muntah dan keluar lagi." Matanya menatap jijik Udin yang masih memejamkan mata dengan mulut yang menganga. Bukan hanya berjigong dan bau, aroma ketiak laki-laki itu begitu menganggunya.


***


Keesokan harinya.


"Eh, dia kenapa tuh? Kok tidur di tanah?"


"Iya, kenapa, ya?"


"Apa kena rampok?"


Beberapa pejalan kaki melewati Udin yang berbaring di tanah dengan motor di sampingnya. Namun mereka semua tak berani mendekatinya, sebab Udin sangat bau. Sangking baunya mereka lewat sambil menutup hidung dan banyak lalat yang bertebaran di dekatnya.


Tak lama kemudian Udin membuka mata, sinar matahari pagi menyorot dan membuatnya silau. Matanya mengerjap beberapa kali.


"Di mana aku?" tanyanya seraya duduk. Kemudian bola matanya mengeliling pada sekitar. Dia terdiam beberapa saat sambil mengingat-ingat tentang kejadian apa yang sudah terlewat, dan setelah beberapa menit akhirnya dia ingat.


"Semalam ada dua pria yang membiusku, tapi apa yang mereka mau? Apa aku dirampok?" Udin langsung mengeledah isi kantong celananya, dompet dan ponselnya masih utuh di dalam sana.


Matanya melirik ke arah motor Mio dan sontak terbelalak kala melihat spakbornya pecah.


"Astaghfirullah, ini pasti gara-gara semalam. Tega sekali mereka! Motorku sampai hancur begini!" seru Udin marah. Kedua tangannya mengepal kuat. Segera dia pun naik ke atas motor, kemudian menyalakan mesinnya.


Nyala, tak ada kendala. Gegas dia pun menarik gas dan meninggalkan tempat itu.


Semalam, niat Udin pergi ingin ke rumah David, meminjam laptop. Namun justru naasnya dia terkena musibah.


*

__ADS_1


*


"Kamu ke mana saja baru pulang, Din?!" teriak Sugiono. Dia tengah memandikan burung, lalu pandangannya teralihkan pada anak semata wayangnya yang baru saja menghentikan sepeda motor di depan pekarangan rumah. "Papa bukannya sudah bilang berulang kali kalau kamu jangan nginap, ya?"


"Aku nggak nginap, aku justru tidur di jalan, Pa." Udin membuka helmnya, lalu melangkah menghampiri Sugiono. Ingin mengadu.


"Tidur dijalan? Maksudnya bagaimana?" Kening Sugiono mengerenyit. Dia tak paham maksud anaknya.


"Jadi tuh tadi pas aku bangun ...." Ucapan Udin mengantung kala bibirnya dibuka lebar-lebar oleh Sugiono. Papanya melihat ada keanehan di gigi Udin yakni tidak mengkilap seperti biasanya.


"Lho, kok behelmu berubah? Nggak ada berliannya?" tanya Sugiono yang tampak syok, apalagi gigi emas anaknya juga ikut hilang dan berganti dengan gigi biasa. "Gigi emasmu juga nggak ada, Din."


"Masa sih, Pa?" Udin langsung berlari menuju motornya. Lalu bercermin pada spion. Seketika matanya terbelalak, apa yang dikatakan Sugiono benar adanya.


"Kok bisa sih behelmu ganti dan gigimu juga?"


"Aku nggak tahu, Pa. Oh ... apa ini gara-gara dua pria yang membiusku semalam?" Udin langsung berpikir ke arah sana, kala mengingat Ali dan Aldi.


"Semalam kamu dibius? Kok bisa? Bagaimana ceritanya?" Sugiono melangkah menghampiri Udin, rahangnya tampak mengeras. Bisa dipastikan jika dia emosi dan tak terima setelah apa yang terjadi pada anaknya.


"Pas dijalan saat aku ingin ke rumah David ... ada mobil menyalip dan mengerem secara dadakan. Terus pas mobil itu berhenti, turun dua orang pria, lalu mereka langsung membiusku, Pa," jelas Udin panjang lebar.


"Aku nggak tahu. Soalnya yang membiusku pakai masker, tapi besar badannya sama, Pa."


"Itu pasti mereka!" berang Sugiono murka. "Ternyata mereka memang mengincarmu, Din. Mangkanya membiusmu."


"Mengincarku?" Kening Udin mengerenyit. "Memang untuk apa, Pa? Tapi dompet dan hapeku masih ada. Motor juga."


"Mereka mengincar gigi emas dan behel berlianmu. Kan itu harganya ratusan juta."


"Tapi aku nggak kenal mereka."


"Bisa saja mereka orang suruhan, yang memang iri padamu. Gigimu 'kan mahal."


Udin mengangguk-ngangguk. "Iya juga, ya. Ya sudah, mending kita lapor polisi saja, Pa. Aku nggak mau pakai behel ini, aku mau pakai yang ada berliannya." Udin langsung duduk di atas jok motor, kemudian memakai helm.


"Nggak usah deh, Din." Sugiono dengan cepat menahan sepeda motor Udin yang hendak melaju.


"Kenapa, Pa? Behel itu 'kan mahal."

__ADS_1


"Tapi masalahnya Papa nyuri mobil mereka, dan mobil itu sudah berhasil dijual. Kalau kita lapor polisi ... mereka pasti jadi curiga sama Papa. Papa nggak mau masuk penjara." Sugiono menggeleng cepat. Dia tak mau ambil resiko sebesar itu.


"Berapa harga mobil yang Papa jual?"


"200 juta."


"Tapi kayaknya jauh lebih mahal behel dan gigiku deh."


"Iya sih, tapi ya sudahlah nggak apa-apa. Yang penting kita nggak rugi. Ada untungnya Papa nyuri mobil. Lumayan duitnya buat beli mobil lagi."


"Jangan beli mobil lagi, buat beli behel saja. Aku mau ganti behel, berlian kayak kemarin."


Sugiono menggeleng. "Nggak usah, pakai yang sudah terpasang saja. Lagian Papa beli mobil juga buat nantinya kamu pakai ke kampus. Kan keren tuh, Din. Nanti cewek-cewek banyak yang deketin kamu, kamu bisa pacaran sama anak orang kaya."


Mata Udin seketika berbinar, wajahnya merona. "Ah benar juga. Papa memang pintar."


"Iya dong. Papa gitu loh." Sugiono mengelus pundak kiri Udin sambil tersenyum bahagia.


"Tapi aku maunya Citra yang jadi pacarku, Pa, terus menikahinya."


"Kamu jangan ngaco deh!" omel Sugiono marah. "Kan kamu tahu lakinya kayak harimau, kemarin kamu nggak mati juga masih untung. Nggak usah cari gara-gara sama Pak Steven. Dia songgong orangnya."


"Harusnya Papa dukung aku merebut Citra darinya, kan kalau aku nikah sama dia ... kita pasti bisa kaya. Citra itu banyak duitnya, Pa. Pasti banyak harta warisan dari ayahnya."


"Sudahlah, kamu sana pergi mandi. Nggak kuliah kamu memangnya?" Sugiono lebih memilih masuk ke dalam rumah. Tak meladeni ucapan Udin.


Bukan dia tak mau mendukung, dia juga tentu mau kaya dengan cara instan. Hanya saja untuk berhadapan dengan Steven—dia malas. Steven terlalu kuat untuk dijadikan musuh.


Udin yang hendak melepas helm urung dilakukan sebab terdengar suara deringan ponsel pada kantong celana. Segera dia pun mengambil dan mengangkatnya yang ternyata itu dari David.


"Din, kamu masuk kuliah nggak hari ini?" tanyanya dari seberang sana.


"Masuk. Kenapa memangnya? Eh, maaf, ya, semalam aku nggak jadi ke rumahmu. Aku ada musibah kecil."


"Nggak apa-apa. Nanti kalau kamu sampai kampus ... kamu langsung pergi ke ruangan dekan, Din. Tadi Pak Adam titip pesan padaku seperti itu."


"Ke ruang dekan mau apa?" kening Udin mengerenyit.


...Mau diDO 🤣 mang enak 🤪...

__ADS_1


__ADS_2