Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
353. Apa tadi pagi aku salah makan?


__ADS_3

"Papi! Juna mau lihat!" seru Juna dengan kedua tangan yang terangkat. Dia ingin melihat perhiasan yang dipilih Tian tapi lantaran etalasenya terlalu tinggi, jadi dia tidak dapat melihatnya.


Tian langsung meraih tubuh Juna, kemudian menggendongnya. Di atas etalase itu ada satu set perhiasan untuk bayi. Kalung beserta liontin, gelang, anting, cincin dan juga gelang kaki. Emas putih dan ada motif Hello Kittynya.


"Bagaimana menurutmu, Jun? Kata Papi sih ini lucu." Tian meminta pendapat. Di depan mereka ada pelayan toko yang memakai hijab ungu, dia yang tengah melayani Tian.


"Katanya anting, Pi, ini kok satu set?" Kening Juna tampak mengernyit. Heran melihatnya.


"Nggak apa-apa, Papi sengaja belikan satu set karena Dedek Silvi 'kan nggak punya perhiasan. Jadi sekalian saja," jelas Tian.


"Oh ya sudah, tapi modelnya jangan Hello Kitty. Nggak cocok kayaknya, Pi."


"Kupu-kupu mau nggak, Dek?" tawar pelayan toko sembari menatap Juna.


"Pengennya yang buah apel. Soalnya Dedek Silvi 'kan wanginya kayak buah apel," sahut Juna.


"Apel juga ada. Sebentar ... Mbak ambil dulu, ya?" Wanita itu menutup kotak perhiasan berbentuk persegi, kemudian membawanya menuju etalase yang berada di tengah-tengah toko itu.


Benda itu ditaruh ke dalam, lalu dia menukarnya dengan sekotak perhiasan yang sesuai dengan permintaan Juna yakni bermotif buah apel.


"Seperti ini, Dek?" tanyanya seraya membuka kotak tersebut.


Juna mengangguk cepat. "Iya, itu jauh lebih bagus."

__ADS_1


"Aku ambil yang itu, Mbak. Cepat tuliskan notanya," titah Tian seraya merogoh kantong celananya, lalu mengambil dompet.


"Buat Dedek Melati juga, Pi. Belinya dua set," usul Juna.


"Dedek Melati 'kan belum lahir, Jun. Mana bisa dia pakai?"


Ada-ada saja memang si Juna ini, bayi yang masih di dalam perut saja sudah dibelikan perhiasan. Dan bagaimana jika setelah lahir ternyata adiknya laki-laki? Berarti tidak bisa dipakai.


"Nggak apa-apa beli saja, takutnya sirik, Pi."


"Ya sudah." Tian mengalah dan menuruti ucapan anaknya. Kemudian menatap ke arah pelayan toko. "Aku jadi ambilnya dua set, Mbak," ujarnya.


"Baik, Pak." Pelayan toko itu mengangguk. Kemudian mengambil satu set perhiasan lagi lalu menuliskan nota pembayaran.


"Lho, Papi Abi ke mana, Jun?" tanya Tian seraya menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengambil paper bag yang tergeletak.


"Oh, dia bilang mau pulang duluan, Pi," jawab Juna asal. Hatinya sekarang berbunga-bunga sebab merasa yakin—jika obat itu pasti sudah bereaksi. 'Syukur deh kalau obatnya sudah berefek. Kasihan deh, Papi, nongkrong di toilet,' batinnya sambil terkekeh.


"Mau pulang duluan gimana maksudnya?" tanya Tian heran. Kemudian menoleh ke arah Juna yang tengah cekikikan. "Kamu kenapa ketawa? Kok kelihatan seneng gitu?"


"Nggak kok," kilah Juna sambil menggeleng. Tertawa jahatnya langsung dia hentikan sebab takut membuat Tian curiga. "Juna hanya membayangkan kalau nanti Dedek Silvi pakai perhiasan ini, Pi, pasti tambah cantik dan manis." Dia menunjuk paper bag bermotif bunga-bunga yang saat ini dipegang. Isinya perhiasan tadi.


"Oh, iya, pasti Dedek Silvimu itu sangat cantik," sahut Tian. "Tapi ngomong-ngomong ini bener nggak, Papimu sudah pulang duluan?"

__ADS_1


"Bener. Tadi dia sudah ngomong kok sama Juna sebelum Juna masuk ke dalam toko," jawabnya berbohong, kemudian menarik tangan Tian cepat-cepat untuk pergi dari sana. "Sekarang kita langsung ke rumah Om Dono saja, Juna udah nggak sabar ingin ketemu Dedek Silvi. Kangen."


"Tapi kamu nggak bohongin Papi, kan? Dan kenapa Papimu itu nggak bilang juga sama Papi, Jun?" Tian terlihat masih belum percaya. Meskipun kakinya sekarang sudah melangkah mengikuti ke mana Juna pergi.


"Buru-buru dia, katanya mau nemenin istrinya yang alay itu nonton konser." Juna mempercepat langkah kakinya dengan menarik Tian. Tapi sesekali kepalanya itu menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari keberadaan Abi. 'Ya Allah, semoga saja Papi Abi benar-benar ada di toilet dan jangan sampai buat dia keluar sebelum Juna dan Papi Tian pergi dari mall ini,' batinnya berdo'a. 'Maafin Juna juga, ya, Allah ... karena udah ngerjain mantan Papi. Abis Juna sebel banget sama dia, karena akhir-akhir ini dia seperti sok baik. Padahal dari dulu dia nggak pernah peduli sama Juna.'


*


*


Sementara itu di dalam toilet, Abi tengah duduk dengan bola mata yang tampak seperti ingin keluar. Matanya merah begitu pun dengan wajahnya. Seluruh tubuhnya juga seperti bermandikan keringat karena sangking panasnya di dalam sana.


Seperti apa yang diinginkan anaknya tadi, Abi sekarang sedang duduk di atas kloset untuk membuang hajat.


Tadi mendadak perutnya terasa mulas dan melilit, sampai-sampai dia tidak tahan ingin segera bertemu dengan kloset. Demi menuntaskan semuanya.


"Apa tadi pagi aku salah makan? Kok bisa mules banget kayak gini, sih? Eeeuughh ...!" ujar Abi kesal sambil mengejan.


Pisang gorengnya pun terasa keras sekali, bahkan sudah hampir setengah jam tidak bisa dia keluarkan. Bibir keriputnya pun terasa perih dan nyut-nyutan.


"Semoga saja Juna dan Tian belum selesai membeli emasnya, karena aku benar-benar mules dan ...." Abi menggantung ucapannya kala mulai mengejan lagi, rasa mulas itu benar-benar membuatnya tak bisa berhenti untuk terus mengejan.


...Udah fokus aja beraknya, Pi, sampai Mall tutup bila perlu 🤣...

__ADS_1


__ADS_2