
Angga membulatkan matanya dengan lebar. "Apa maksudmu, Jun? Dan sejak kapan kamu melihat burung Om Tian dan Om Rama? Apa nggak geli kamu?"
"Astaghfirullah, Papa!" teriak Sindi yang baru saja datang. Padahal baru datang, tapi telinganya sudah terasa panas lantaran tak sengaja mendengar percakapan Angga dan Juna.
Dua laki-laki beda generasi itu lantas menoleh, Juna langsung berlari dan memeluk Sindi.
"Bisa-bisanya Papa ngebahas burung sama anak umur 6 tahun? Apa nggak merusak otaknya?" omel Sindi sambil melototi Angga. Dia pun meraih tubuh Juna, lalu duduk di sofa dan mendudukkan bokong sang cucu di atas pangkuannya.
"Yang ngebahas burung si Juna duluan kok. Bukan Papa," bantah Angga.
"Ya nggak usah ditanggepin dong, Pa."
"Tapi ini penting, Ma. Papa dan Juna lagi bahas Papi baru untuknya."
"Juna sudah mau punya Papi baru?" tanya Sindi mengelus pipi Juna, lalu mencium pipinya. Bocah itu mengangguk cepat.
"Jawab dulu pertanyaan Opa tadi, Jun." Angga masih penasaran, dengan pertanyaan yang belum dijawab oleh cucunya itu.
"Tentang burung Om Rama dan Om Tian?"
"Iya."
"Kalau burung Om Rama, Juna nggak tahu. Soalnya tadi pagi mau lihat nggak boleh. Tapi kalau burung Om Tian, Juna tahu. Tadi pagi lihat bareng Mami."
Angga dan Sindi sontak terbelalak.
"Mamimu juga lihat?" tanya Angga dengan keterkejutannya. "Astaga!" Menepuk jidat "Ngapain Om Tian pamerin burungnya? Mesum sekali dia," geramnya.
"Bukan pamerin burung." Juna mulai menjelaskan. "Tapi Om Tian kepleset di kamar mandi. Kebetulan Juna dan Mami baru datang, terus kita panik dan langsung melihat keadaan Om Tian. Eh nggak tahunya dia jatoh, Opa, Oma. Tapi nggak pakai celana," papar Juna jujur sembari menatap Angga dan Sindi silih berganti.
Kedua orang tua itu geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir.
"Tapi Om Tian nggak ngapa-ngapain, kan?" tanya Sindi.
"Katanya habis kencing."
"Mamimu dikencingi Om Tian?" tanya Angga dengan jantung yang berdebar.
"Papa apaan, sih?" Sindi menyikut perut Angga. "Nggak mungkinlah Tian kencingi Nissa, Papa kira dia gila? Tian pasti punya adab lah."
Arti dari dikencingi dalam pikiran Sindi dan Angga sangatlah berbeda. Yang Angga maksud adalah berhubungan int*m.
"Nggak." Yang menjawab Juna. Dia menggelengkan kepala. "Om Tian habis kencing di kamar mandi, karena nggak keburu jadi celananya rembes. Terus tadi lagi ganti celana itu, eh nggak tahunya kepleset." Kembali menjelaskan. Tian tadi sempat cerita apa yang sebenarnya terjadi.
"Oohh ...." Angga menghela napas. Lega sekali dadanya. Dia hampir saya berpikir yang tidak-tidak.
"Tapi sudah cebok?" tanya Sindi.
"Sudah, Oma."
"Terus, Jun, dari mana kamu tahu burung Om Rama nggak bangun?" tanya Angga.
"Dari Bu Gisel. Kata Kakek Yahya sih gosip, tapi Juna nggak percaya kalau belum ada buktinya, Opa."
"Bukti gimana maksudnya?"
"Bukti kalau burung Om Rama memang bisa berdiri. Kata Mami ... kalau nggak berdiri tandanya nggak normal."
__ADS_1
"Bu Gisel itu, Bu Guru TKmu, kan?" tanya Angga. Juna mengangguk.
"Om Rama itu siapa memangnya? Dan kamu kok kenal Kakek Yahya?" tanya Sindi.
"Opa aja deh yang jelasin, Oma. Mulut Juna capek ngomong terus. Juna mau minum." Juna merasakan tenggorokannya kering. Perlahan dia pun beringsut turun, lalu berlari menuju dapur.
"Rama itu anaknya Yahya, Ma," kata Angga yang memulai obrolannya lagi. Perlahan dia pun meluruskan tubuhnya, lalu berbaring di sofa dengan kepala yang dia sandarkan di paha Sindi.
"Terus maksudnya apa?" Sindi mengelus rambut kepala Angga dan menatap wajah keriputnya.
"Papa sih nggak niat menjodohkan. Cuma Papa mau Nissa dan Rama saling mengenal. Ya mudah-mudahan sih, cocok. Terus nikah."
"Katanya Tian suka sama Nissa?"
"Iya. Tapi Papa nggak mau ah punya menantu nggak berguna kaya gitu."
"Nggak berguna gimana maksudnya? Kere?"
"Iya. Selain itu, kata Steven dia juga doyan main cewek, Ma. Terus menikah juga beberapa kali."
"Jadi pas nikah sama Fira, Tian sudah menduda?"
"Iya." Angga mengangguk. "Terus, Tian juga nggak ada bagus-bagusnya menurut Papa. Masih mending Rama ke mana-mana. Dia mapan, tampan dan anaknya Yahya. Sedangkan Tian ... ah nggak ada apa-apanya," tuturnya meremehkan.
"Tapi pastikan dulu, apa yang diomongin Juna benar atau nggak. Masa nanti Nissa dikasih suami yang nggak bisa berdiri burungnya? Kasihan dong, Pa. Nissa pasti mau lah dibelai sama suaminya. Mama juga mau lihat Juna punya adik." Sindi di sini tak mendukung siapa-siapa. Terserah pada anak dan cucunya.
"Iya, Papa nanti akan tanya Yahya."
"Tanya Nissa juga, kira-kira dia mau apa nggak sama Rama."
"Papa saja mandi duluan, Mama mau masak." Sindi menyingkirkan tangan Angga di bahunya, tetapi pria itu kembali merangkul.
"Jangan masak dulu sore ini, biar Bibi aja, Ma. Sekali-kali kita mandi bareng, kaya Steven dan Citra."
"Kita udah tua, malu lah, Pa."
"Malu kenapa? Nggak apa-apa lah, ayok, Ma. Mengenang masa muda," rengek Angga dengan mengedipkan matanya genit. Dia pun menarik lengan sang istri, lalu membawanya ikut bersama. Sindi pun akhirnya menurut.
***
Malam hari.
Kepala Kevin sedari tadi manggut-manggut menahan kantuk, menunggu Janet yang sejak tadi menahan rasa mulas ingin mengeluarkan telur. Sebelumnya, ia juga diminta oleh burung betina itu untuk tidak tidur. Meskipun Janet tahu mata Kevin sudah mulai sayu.
"Sudah keluar belum, Net? Saya mengantuk," tanya Kevin pelan.
Burung betina itu terdiam beberapa saat. Lalu mengangguk cepat.
"Berapa telurnya?"
Janet berdiri untuk memperlihatkan telur yang ternyata ada dua. Kemudian, dia pun duduk kembali. Mengerami telurnya.
"Saya kasih tahu Papa dulu, ya?" pintanya. Janet mengangguk.
"Jangan lama-lama. Nanti ke sini lagi, saya lapar mau disuapi."
"Mau makan apa kamu? Kuaci?"
__ADS_1
Semenjak bunting, yang Janet konsumsi kebanyakan kuaci. Tapi maunya disuapi terus.
"Kangkung."
"Sebentar ...." Kevin pun keluar dari rumah glodok itu, lalu melangkah menuju pintu sangkar burung. "Om Bejo! Buka pintunya, Om!" pintanya pada Bejo yang tengah berdiri di depan gerbang. Pria kurus itu pun lantas berlari menghampiri.
"Mau ke mana kamu?"
"Mau masuk ke dalam. Ketemu Papa."
"Ini sudah malam. Pak Angga pasti sudah tidur." Bejo menatap jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 22.00.
"Siapa tahu belum. Saya ingin memberitahu Janet sudah bertelur dan mengambil kangkung. Janet mau makan kangkung."
Bejo pun membukakan pintu sangkar burung itu, kemudian Kevin langsung terbang keluar dan menuju pintu utama. Ia pun memencet bel dengan paruhnya.
Ting, Tong!
Tak berselang lama, pintu itu dibuka. Bibi pembantu lah yang membukakannya.
"Kevin, mau apa?" tanyanya.
"Bibi, apa ada kangkung? Janet minta kangkung. Katanya lapar."
"Ada, kamu mau masuk?"
Kevin mengangguk. Mereka pun lantas masuk bersama.
Akan tetapi Kevin tak mengikuti Bibi ke dapur, ia justru menghampiri Angga yang berada di rumah keluarga tengah menonton film horor bersama Steven dan Juna.
Steven hari ini libur bercinta, jadi dia memilih untuk nonton film sebelum matanya ngantuk. Kalau belum mengantuk terus berada di kamar—dia mana tahan kalau tidak menyerang Citra.
"Papa! Janet sudah bertelur," ucap Juna memberitahu seraya berdiri di pangkuan Angga.
"Alhamdulillah." Angga langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kevin lalu mengelus jambulnya. "Telurnya berapa?"
"Dua."
"Wah bagus, ternyata anakmu juga kembar kaya anaknya Kakak Steven."
"Burung mana ada kembar sih, Pa." Steven menyahut. "Kan kalau burung itu bertelur memang lebih dari satu, kayak ayam," tebaknya.
"Tapi kata Ahmad, burung Kakatua itu paling bertelur satu atau dua Stev. Nggak banyak dia."
"Ahmad siapa?"
"Papanya Janet."
"Oh."
"Telur satunya buat Juna saja, Opa," pinta Juna.
"Mau buat apa?" Angga menatap Juna.
"Buat digoreng. Juna mau ngerasain telur burung, Opa."
...Ente kadang-kadang, Jun. 🙈 Bikinnya susah itu, malah mau dimakan lagi 🥲...
__ADS_1