
"I-iya, sa-saya akan telepon Pak Gugun," ujar pria itu dengan terbata. Perlahan Steven melepaskan tangannya di leher pria itu.
"Halo, Pak. Ini ada ...." Satpam itu baru berbicara, tetapi ponselnya langsung dirampas oleh Steven sebab dia tahu jika Gugun telah menjawab teleponnya.
Cepat-cepat Steven menempelkan benda pipih itu ke telinga kanannya lalu berkata, "Ke mana Citra? Kau bawa dia ke mana?!" tanyanya sembari teriak-teriak.
"Saya nggak bawa Nona Citra ke mana-mana," jawab Gugun. Suaranya terdengar begitu datar.
"Kau bohong!" tekan Steven kesal, dia mengelus dadanya dan mencoba mengontrol emosi yang tadi sempat naik. "Kau pasti sekarang sedang bersamanya, kan? Di mana Citra? Aku ingin bicara dengannya, Gun!"
"Halo, Om." Tiba-tiba terdengar suara lembut seorang gadis yang Steven kenal suara itu milik siapa. Dan seketika mata Steven berbinar, sudut bibirnya tertarik hingga menampilkan sebuah senyuman.
"Citra, kamu ada di mana? Kenapa pergi dari apartemenmu?" tanya Steven. Suara yang keluar dari mulutnya itu terdengar begitu lemah lembut.
"Maaf Om. Aku nggak bisa tinggal lagi dengan Om. Kan kita akan bercerai."
"Nggak!" tegas Steven cepat dengan gelengan kepala. "Kita nggak boleh bercerai, Cit. Aku nggak mau!"
"Sudah cukup teleponnya!" tegas Gugun kemudian panggilan itu langsung terputus. Steven segera menghubunginya kembali, tetapi nomornya sekarang tidak aktif.
Merasa emosinya sudah sangat mendidih, Steven refleks membanting ponsel di tangannya dengan hentakkan keras hingga benda pipih itu hancur berkeping-keping.
Prang!!
__ADS_1
"Gugun br*ngsek! Dasar kumis lele!" pekik Steven geram. Dia pun langsung berlari pergi dari sana, meninggalkan satpam yang melongo dengan wajah bingung, melihat apa yang telah terjadi.
"Astaga! Hapeku hancur!" katanya saat sudah sadar. Dia tadi seperti terkena hipnotis kemarahan Steven. Lantas, dia pun segera berjongkok dan mengambil ponselnya yang sudah menjadi serpihan itu. "Wah, Pak Steven parah banget. Dia yang emosi tapi hapeku yang dibanting. Mana nggak ganti rugi lagi."
***
Di rumah Angga.
"Mama ngapain sih dari tadi mondar mandir? Nggak ada kerjaan banget."
Angga tengah duduk selonjoran di atas kasur sembari menyandarkan punggungnya. Lalu memperhatikan Sindi yang sejak tadi mondar-mandir seperti setrikaan. Wajahnya tampak gelisah dan matanya terus menatap ponsel yang berada digenggamannya.
"Bukan Mama nggak ada kerjaan, tapi ini sudah malam, Mama mikirin Steven belum pulang, Pa," jawab Sindi dengan wajah khawatir. Dia menghentikan langkahnya dan menatap suaminya.
Berbeda dengan Sindi yang tampak jelas mengkhawatirkan Steven, dia justru bersikap biasa saja.
"Papa 'kan tahu kemarin Steven kena begal. Ya Mama khawatirlah. Memangnya Papa nggak khawatir? Kalau begitu Papa nggak sayang sama Steven dong," gerutu Sindi dengan wajah cemberut.
"Bukan nggak khawatir, tapi 'kan dia berangkat sama Jarwo. Steven pasti aman."
"Memangnya dia bisa melindungi Steven? Kalau ada yang menodongkan senjata tajam atau menusuk Steven lagi bagaimana, Pa?"
"Itu nggak akan terjadi, Ma. Nanti Jarwo yang akan menghalanginya. Dia juga punya ilmu kebal."
__ADS_1
"Ah mana ada ilmu kebal," ketus Sindi tak percaya. Kembali dia mencoba menghubungi Steven, tetapi tak ada respon.
"Biarin saja sih, Ma. Steven 'kan mau menemui pacarnya. Biar mereka baikan."
"Tadi Steven chat katanya dia belum ketemu pacarnya, Pa. Sedangkan dia 'kan berangkat dari sore."
"Ya mungkin pacarnya sedang diluar."
"Tapi kenapa pacarnya itu musti marah sampai nggak mengaktifkan hape? Kayak anak kecil banget. Lebay," cibir Sindi dengan bibir yang mengeriting.
"Jangan begitu, Mama kayak nggak pernah muda saja. Itu pacarnya Steven marah pasti gara-gara melihat Fira menyuapi Steven, dia cemburu."
"Apa salahnya menyuapi? Kan Steven sedang sakit. Tapi Mama pas muda nggak kayak gitu deh perasaan ... Mama nggak suka marah. Mama orangnya penyabar," bantahnya sambil menggeleng.
"Dih, Mama pasti lupa ingatan. Mama 'kan dulu cemburuan banget orangnya. Dulu saat ada teman kuliah Papa yang nyapa saja Mama marah, malah sampai seminggu lebih. Dan kalau nggak Papa kecup ... marahnya nggak bakal ilang,"
"Dih, kapan? Nggak pernah," elak Sindi tetapi wajahnya terlihat merona karena malu. Apa yang Angga katakan memang benar, dia cemburuan dan bahkan sampai sekarang.
"Idih, malu-malu dia," kata Angga menggoda, dia menunjuk wajah Sindi sambil terkekeh dan mengedipkan sebelah matanya. Dia merasa lucu melihat tingkah Sindi yang marah-marah tidak jelas. Apa lagi bibirnya juga mengerucut dan itu membuatnya gemas. "Dari pada marah-marah mending kita bercinta saja, yuk! Mumpung malam jum'at juga!" ajaknya.
Angga langsung menurunkan celana kolor hitamnya hingga lutut, lalu menyembulkan asetnya pada cellana dalam berwarna pink terang. Meskipun memang umurnya sudah tua dan keriput, tetapi senjata pamungkasnya masih terlihat gagah dan berurat ketika sedang bangun.
...Opa ... anak bungsunya lagi naik darah tuh🙈...
__ADS_1