Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
111. ini berarti tandanya


__ADS_3

"Tapi kenapa Ayah berbohong padaku, Om. Sebelum kita ketemu ... Ayah bilang kalau Om mencintaiku sejak dulu. Tapi nyatanya ...." Citra langsung menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, dia tak kuat dan akhirnya menangis tersedu-sedu.


"Kenyataannya aku nggak mencintaimu, begitu, kan?" Steven langsung meraih tubuh Citra, lalu membawanya ke dalam dekapan.


"Iya, kok Ayah tega sekali padaku? Harusnya dia nggak perlu berkata seperti itu. Karena sejak kita pertama kali bertemu ... aku sudah jatuh cinta sama Om. Dan aku mengira ... Om memang sudah mencintaiku lebih dulu," kata Citra pelan sembari terus menyeka air mata di pipinya.


Steven mengelus puncak rambut Citra, lalu menciumnya. "Tentang itu aku juga nggak tahu. Mungkin alasan Ayah berkata seperti itu karena supaya kamu mau menikah denganku."


"Jika sebelum menikah aku tahu lebih dulu kalau Om nggak mencintaiku, aku nggak akan mau menikah dengan Om." Citra menggeleng cepat, lalu melepaskan pelukan Steven. Kembali dia menggeserkan bokongnya, menjaga jarak. Dia juga merasa malu sebab Sindi dan Angga memperhatikannya.


Dua orang tua itu hanya menjadi penonton. Rasanya belum ada ruang untuk keduanya bertanya. Mungkin, biarkan dulu saja mereka mengutarakan semuanya.


"Benar, kah?" Dada Steven entah mengapa tiba-tiba sesak, mendengar Citra yang menolak untuk menikah dengannya. "Kamu nggak akan mau menikah denganku kalau tahu lebih dulu, Cit? Tapi katanya aku mirip Oppa-oppa Korea."


"Semirip apa pun Om, aku tetap nggak mau." Citra menggeleng cepat. "Karena aku juga mau dicintai, Om."


"Sekarang kamu sudah aku cintai." Steven tersenyum, lalu mengelus lembut pipi kiri Citra. Terlihat merah merona sekali.


"Terus, alasan Ayah hanya meminta kita menikah sampai aku berumur 20 tahun itu apa? Kalau menikah ya tinggal menikah saja. Kenapa harus pakai jangka waktu segala?" tanya Citra.


"Ayah maunya setelah kamu lulus kuliah ... kamu memimpin perusahaan. Dan perlu kamu tahu juga, alasan sedari dulu aku sulit menyentuhmu adalah dari Ayah juga. Dia nggak mengizinkanku."


"Kenapa?" Alis mata Citra bertaut. "Apa karena takut kalau aku hamil?"


"Bisa jadi."


"Tapi 'kan ada KB. Dan setelah kita bercinta Om memintaku untuk minum pil supaya nggak hamil, kan?"


"Ayahmu mungkin maunya kamu tetap perawan meskipun sudah menikah denganku. Tapi kenyataannya ... kamu terus menggodaku, jadi aku nggak tahan." Steven terkekeh dan tak lama dia pun membayangkan saat dimana wajahnya tenggelam dalam belahan dada. "Apa lagi susumu yang enak dan kenyal seperti agar-agar. Duh ... aku jadi kepengen, Cit."


Steven menelan salivanya, dia pun perlahan mendekat. Tangannya sudah terangkat ke arah dada dan telapaknya seakan hendak meremmas. Tetapi belum sempat tangannya menempel, Sindi langsung menarik lengannya.


"Tunggu dulu!" seru Sindi. Wanita tua itu mengerti akan adegan apa yang akan diperbuat anaknya. Namun, sekarang belum saatnya. Sebab dia masih punya pertanyaan. "Terus sekarang bagaimana dengan pernikahan kalian? Apa kamu dan Citra akan bercerai setelah Citra berumur 20 tahun?"


Entah, Sindi masih berharap kalau Fira menjadi menantunya. Jika memang pernikahan mereka berakhir.

__ADS_1


Sindi yakin, Fira tak mungkin keberatan menikah dengan Steven meskipun statusnya menjadi duda.


Steven menoleh ke arah Sindi, lalu menggeleng cepat. "Nggak, Ma. Aku dan Citra menikah selamanya, sampai maut yang memisahkan."


"Tapi tentang pernjanjiannya itu bagaimana?"


"Kata Pengacara Harun, kesepakatan itu akan terus terjalin kalau aku nggak melanggarnya. Tapi kenyataannya aku sudah melanggar janji Ayah, Ma."


"Apa yang kamu langgar?"


"Aku sudah menyentuh Citra. Dan dengan begitu Ayah telah mengizinkanku meneruskan pernikahan ini," terang Steven.


"Om kata siapa? Apa dari Om Gugun atau Om Harun?" tanya Citra.


Steven menoleh pada Citra seraya mengulas senyum. "Dari Harun, tapi sebelum itu Ayah yang mengatakannya."


"Ayah? Kapan?" Citra mengerutkan keningnya. "Apa sebelum Ayah meninggal?"


Steven menggeleng. "Dari mimpi dan itu adalah jawaban dari kebimbanganku selama ini, Cit. Sekarang aku baru sadar kalau memang kamu yang terbaik dan memang pantas untukku."


"Kamu sekarang sudah menjadi istri idamanku."


"Aku sampai sekarang belum bisa masak, Om. Masih manja dan oon. Aku yakin ... Om nggak akan tahan hidup bersamaku." Sekali lagi Citra ingin meyakinkan, jika benar Steven memang mencintainya. Tentu yang namanya cinta harus menerima apa pun kekurangan dari pasangan, karena manusia tidak ada yang sempurna dan dengan adanya cinta—itu justru akan membuat saling melengkapi.


"Kata siapa kamu nggak bisa masak? Kamu bisa masak, aku pernah makan masakanmu dan itu enak."


"Kan cuma telur dadar sama nasi. Bocah SD juga bisa kali, Om."


"Kamu juga ikut kursus masak, kan? Dan sekarang ... aku nggak peduli kamu bisa masak atau nggak. Mau oon atau manja juga aku akan menerima, karena aku mencintaimu." Steven tersenyum manis, lalu menoleh lagi ke arah Sindi dan Angga. "Apa ada yang mau Papa dan Mama tanyakan lagi?"


Sindi dan Angga saling memandang, mereka terdiam beberapa saat lalu menggelengkan kepala. Sepertinya, untuk sekarang tak ada yang musti ditanyakan. Sebab percakapan di antara keduanya sudah cukup jelas, memberitahu jika itu termasuk alasan mengapa Steven menutupi pernikahannya.


"Kalau nggak ada, ini berarti tandanya aku akan buka puasa!" seru Steven dengan hati yang berbunga-bunga. Sangking senangnya dia pun langsung meraih tubuh Citra, lalu mengendongnya seraya berdiri.


Citra terhenyak dengan mata membulat dengan apa yang Steven lakukan, pria tampan itu kini berlalu pergi dari ruang keluarga.

__ADS_1


"Selamat istirahat, Ma, Pa. Pokoknya nggak ada yang boleh menganggu aku dan Citra selama di dalam kamar," tegur Steven.


"Om. Kenapa aku digendong segala? Aku ... eemmmtt!" Ucapan Citra langsung terjeda lantaran Steven tiba-tiba meraup kasar bibirnya, menekannya agak kuat dan penuh nafsu.


Langkah kaki pria tampan itu begitu panjang dan cepat menaiki anak tangga, hingga tak terasa mereka pun telah sampai di dalam kamar.


*


*


"Mama kenapa? Kok cemberut?" tanya Angga. Dia memperhatikan wajah Sindi yang tampak kecewa saat masuk ke dalam kamar bersamanya.


"Mama sedih, Pa."


"Sedih kenapa?" Kening Angga mengerenyit.


"Sedih karena ternyata Steven sudah menikah."


"Kok bisa sedih? Bukannya Mama yang ngebet mau Steven nikah karena umurnya sudah matang, ya?"


Aneh, harusnya Angga yang sedih karena telah patah hati. Tetapi sekarang justru Sindi ikut-ikutan.


"Iya, tapi Mama maunya Steven menikahnya dengan Fira, Pa. Mama juga bingung nanti ngomong sama Fira dan Mamanya, saat tahu Steven sudah menikah," jawab Sindi dengan wajah lesu.


"Sama siapa pun Steven menikah ... itu nggak masalah, Ma. Yang penting dia bahagia. Dan masalah Fira ... Mama nggak musti memikirkan, nanti biar Papa deh yang ngomong sama dia dan orang tuanya."


"Tapi menurut Papa ... Citra bisa nggak sih jadi istri yang baik untuk Steven? Dilihat dari usia dia juga terlalu muda." Sindi menatap mata Angga yang berada di sebelahnya.


"Insyaallah bisa. Sudah, nggak perlu memikirkan hal itu, Papa juga sebenarnya sedih setelah tahu Dedek Gemes ditikung Steven. Tapi melihat mereka saling mencintai ... Papa mencoba untuk ikhlas menerima." Angga tersenyum hangat, dia mencoba menerima keadaan.


Sindi berdecak kesal dan seketika dia pun teringat saat di mana Angga memeluk Citra secara tiba-tiba. Emosinya langsung naik ke ubun-ubun.


"Lho, kenapa ditahan, Ma?" tanya Angga bingung. Dia baru saja hendak menarik celana tidur istrinya, tetapi ditahan oleh tangan sang pemilik. Lantas, istrinya itu naik ke atas kasur dan berbaring membelakanginya. "Dih, Papa juga mau dong kaya Steven. Mereka pasti sedang belah duren sekarang."


...Hayo, lho, Mama Sindi marah 🤣...

__ADS_1


__ADS_2