Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
171. Banyak jigongnya


__ADS_3

"Kalau masalah itu Bapak bisa tanya langsung kepada Steven. Silahkan keluar dan tunggu selesai." Tangan Dokter Ilham mengarah pada pintu. Mengusirnya secara halus.


"Eemm ... ya sudah deh. Saya keluar, Dok." Ali mengangguk, kemudian melangkah pergi dari ruangan itu dan menutup pintu.


"Apa alat-alatnya sudah siap, Sus?" tanya Dokter Ilham seraya menoleh kepada Suster yang tengah mendorong meja troli mendekatinya.


"Sudah, Dok. Kita bisa langsung mulai." Suster itu segera mengambil jarum suntik, lalu memasukkan obat bius khusus untuk operasi gigi.


*


*


"Di, menurutmu ... Udin diapain, ya? Kok dibawa ke ruang operasi?" tanya Ali seraya duduk di kursi panjang mendekati temannya. Jujur dia begitu penasaran, ingin bertanya pada Steven tapi malas.


"Nggak tahu aku juga. Mungkin buat ngilangin tonggosnya," tebak Aldi yang sesungguhnya dia juga penasaran.


"Tapi harusnya yang diilangin itu bau keteknya. Kan itu yang paling menyengat."


"Iya, aku juga mikir gitu. Tapi ya sudahlah, terserah Pak Steven. Suka-suka dia saja yang penting kita dapat duit."


Ali mengangguk-ngangguk. Sembari menunggu, mereka bergiliran menumpang mandi. Tubuhnya terasa lengket sekali, apalagi mereka habis tiduran di jalan raya.


***


Di rumah sakit.


"Om kok daritadi bolak balik ke kamar mandi mulu? Beser, ya?" tanya Citra saat melihat Steven baru saja keluar dari kamar mandi.


Pria itu bolak balik ke dalam sana karena mengangkat telepon dari Aldi dan menghubungi Dokter Ilham. Dokter Ilham ini adalah salah teman kuliahnya dulu, cukup dekat hanya saja beda jurusan.


"Nggak." Steven menggeleng lalu mendudukan bokongnya di atas kasur seraya mengelus rambut kepala Citra. "Aku tadi mengangkat telepon."


"Ngangkat telepon sampai ke kamar mandi?" Kening Citra mengerenyit. "Takut ketahuan aku? Oh, apa dari Safira?" Matanya memicing, menatap Steven penuh selidik.


Steven menggeleng cepat. "Bukan, itu dari rekan bisnis."


"Rekan bisnis atau selingkuhan?"


"Mana ada aku selingkuh. Aku setia orangnya, cintaku 'kan hanya kepadamu saja." Steven mengecup bibir Citra yang manyun, lalu mencubit hidung mancungnya dengan gemas.


"Masa?" Citra tak percaya. Meskipun benar Steven mencintainya, tetapi bisa saja dia berpaling. "Tapi bisa saja Om suka sama sekertaris Om yang baru. Oh ya, bagaimana orangnya? Apa cantik seperti Safira?"

__ADS_1


"Dia cowok, mana mungkin cantik."


"Oh, bagus deh. Kirain cewek. Eemm ... ngomong-ngomong Mama dan Papa ke mana, Om? Kok nggak datang menjengukku? Apa mungkin mereka belum tahu aku dirawat?"


"Mereka tahu, tapi aku melarang untuk datang."


"Kenapa?"


"Kalau mereka ke sini ... Kevin juga pasti diajak. Aku nggak mau melihatnya, males."


"Tapi aku mau dengar dongeng dari Mama sebelum tidur, Om." Citra mengusap perutnya.


"Aku juga bisa berdongeng. Kamu mau aku dongengin apa?"


"Cerita ...." Ucapan Citra terhenti kala terdengar suara ponsel Steven berdering. Steven mengambil benda itu di dalam kantong celana panjangnya. Tertera panggilan masuk dari Ilham.


"Temanku telepon, Cit. Aku angkat dulu sebentar, ya? Habis ini aku berdongeng." Steven mengecup kening Citra dan mengelus bahunya. Dia tersenyum kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


Citra cemberut melihat tingkah Steven.


Kesal rasanya, hampir dari siang sampai sekarang—pria itu sibuk bolak balik ke kamar mandi untuk mengangkat telepon. Seperti ada kepentingan yang begitu serius dan tidak boleh diberitahu oleh siapa pun.


'Aku curiga kayaknya. Pasti ada yang Om Ganteng sembunyikan. Tapi apa kira-kira? Masa sih dia selingkuh?' batin Citra.


*


*


"Kebiasaan ya, kamu, Stev, selalu saja manggil nama. Aku sudah jadi Dokter lho sekarang!" protes Ilham yang terdengar seperti kesal.


"Iya, iya, Dokter," ucap Steven malas. "Ada apa, Dok?"


"Maaf banget, Stev. Behel Udin nggak bisa diganti."


Steven memang menyuruhnya untuk mengganti kawat gigi Udin dengan kawat gigi biasa. Juga mencabut gigi emasnya dan menggantinya dengan gigi biasa.


Bukan karena Steven tidak ikhlas memberikan semua itu kepada Udin, hanya saja itu bentuk rasa kesal dan teguran atas apa yang telah lelaki itu lakukan. Steven sudah cukup geram melihat tingkah Udin yang selalu membuatnya naik darah.


"Kenapa?"


"Kawatnya begitu menempel di gigi. Ah kamu juga parah banget, ngasih aku pasien model kayak gitu. Susterku sampai muntah-muntah," keluh Ilham.

__ADS_1


"Kenapa bisa menempel di gigi? Memangnya pakai lem? Dan kenapa Sustermu bisa muntah-muntah? Masuk angin?"


"Dia muntah gara-gara melihat penampakan giginya. Jujur ... aku juga mual sebenarnya. Tapi aku tahan. Dan masalah menempel bukan karena di lem. Tapi akibat jigongnya yang terlalu banyak, jadi menggumpal di kawat, Stev," papar Ilham.


Steven terbelalak, dia pun segera menutup bibirnya, hampir saja dia muntah mendengar pemaparan temannya. Sungguh menjijikan sekali.


"Jorok banget! Aku mual tahu!" gerutu Steven marah.


"Kamu cuma denger lho, belum lihat langsung. Apa kabar aku, Stev?"


"Kamu 'kan memang ahli gigi. Ngapain mual? Itu 'kan resiko dan pekerjaanmu."


"Iya, tapi beneran aku nggak bisa mengganti behelnya. Takutnya kalau dipaksa, bukan cuma behel yang copot ... bisa-bisa giginya juga ke bawa, Stev."


"Ya sudah, copot saja semua sama gigi-giginya," ucap Steven santai.


"Mana bisa begitu, Stev?" Suara Ilham terdengar seperti kaget. "Yang ada aku ditangkap polisi."


"Apa urusannya dengan kantor polisi?"


"Mencabut gigi bagi seorang dokter gigi itu harus mendapatkan izin dari pemilik atau pihak keluarga. Ini juga sebenarnya aku takut, hanya saja aku melihatmu sebagai temanku. Jadi aku turutin."


"Lihat teman apanya? Kan kamu juga aku bayar. 3x lipat malah. Udah copotin saja semuanya, biar beres."


"Aku nggak bisa, Stev. Kamu kira-kira aja, masa si Udin dibuat ompong? Apa nggak tambah jelek dia nanti?"


"Lagian dia punya gigi juga percuma, Dok. Kan kamu lihat sendiri banyak jigongnya. Itu tandanya dia jorok nggak pernah sikat gigi!" tegas Steven.


"Iya sih, tapi aku nggak bisa, Stev. Maaf, ya? Aku nggak mau ambil resiko kalau karirku hancur. Aku baru buka cabang baru di Jakarta Barat, Stev."


Steven terdiam beberapa saat mencari ide, lantas berkata, "Kenapa kamu nggak coba gosok gigi si Udin dulu biar jigongnya hilang? Mungkin dengan begitu behelnya terlepas."


"Sudah, barusan aku menggosoknya. Bahkan meneteskan obat untuk menghilangkan kerak di gigi dan semacam obat yang lain. Tapi tetap saja masih menggumpal dan susah terlepas, Stev. Sepertinya dia nggak gosok dari awal pasang behel. Parah banget sih, gila."


"Coba diamplas saja, biar gumpalannya menipis."


"Mana bisa, ngaco kamu."


"Ya sudah, dicoba lagi sekarang. Pokoknya terus dicoba sampai behelnya bisa lepas, kalau perlu kamu mencobanya sampai pagi. Aku yakin bisa kok," saran Steven kembali. "Tapi kalau kamu tetap bilang nggak bisa dan menyerah ... itu artinya kamu payah. Mending tutup saja klinikmu, kamu nggak cocok jadi dokter gigi. Mending buka praktek jadi tukang pijat," cibirnya lalu mematikan sambungan telepon.


"Ck!" Steven berdecak kesal seraya mematikan ponselnya. Dia tak mau lagi mendapatkan panggilan masuk yang berupa keluhan atas kegagalan tentang Udin. Geram rasanya. "Nggak si Ilham, nggak si Ali dan Aldi. Mereka ini sangat payah. Mangatasi si Udin saja nggak pada becus, banyak protes. Apa harus aku turun tangan sendiri?!" gerutunya emosi.

__ADS_1


...Harusnya memang iya, Om. Om sendiri aja yang nyulik terus cabut behel dan giginya. Biar ngerasain sendiri bagaimana dahsyatnya si Udin 🤣 jangan bisanya nyuruh aja mentang-mentang berduit 🤭...


__ADS_2