Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
59. Bukan nggak boleh


__ADS_3

"Kok Om tanya kayak gitu?" tanya Citra bingung.


"Kenapa memangnya? Bingung kamu buat jawab? Katanya aku ganteng."


"Iya, Om ganteng kok."


"Kenapa ada 'kok' nya? Ragu kamu bilang aku ganteng?" Steven menunjuk wajahnya sendiri dengan mata yang agak melotot.


"Nggak ragu, Om memang ganteng."


"Ya harusnya nggak usah pakai 'kok' dong. Jadi terdengar aneh aja."


"Iya, maaf, Om."


"Mau ke mana?" tanya Steven yang melihat Citra kembali melangkah menuju kamar. Gadis itu pun berbalik badan.


"Aku 'kan udah bilang mau nonton drakor."


"Nontonnya di sini saja."


"Tapi tv-nya nyala, Om."


"Memang kenapa?"


"Ya masa nonton tv sama nonton drakor? Nanti ngadu suaranya dan nggak bisa konsen nontonnya."


Steven langsung mengambil remote di atas meja, lalu mematikan televisi. "Udah tuh, bawa ke sini laptopmu."


"Om mau nonton drakor juga?"


"Nggak, aku cuma mau lihat orang-orangnya sebentar. Kata cewek-cewek, cowok-cowok di Korea ganteng-ganteng. Aku mau lihat seganteng apa mereka dibanding aku."


"Oke." Citra lantas masuk ke dalam kamar, lalu tak lama dia pun kembali dengan membawa laptop yang berwarna pink miliknya. Segera dia pun meletakkannya di atas meja, lalu duduk di samping Steven.


Tak lama drama itu pun dimulai dan mereka pun langsung menyaksikannya.


"Judulnya apa itu? Memangnya kamu ngerti mereka ngomong apa?"


"Ada translatenya kok, Om. Ini judulnya Asisten Pribadi CEO."


"Si Gugun berarti pemeran utamanya?"


"Kok ke Om Gugun?" Citra menoleh pada Steven dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Ya Gugun 'kan asisten pribadi juga."


"Tapi bukanlah, ini mah filmnya terinspirasi dari novel, Om." Citra menunjuk si pemeran utama pria pada tokoh di dalam drama itu. "Dia yang jadi CEOnya, ganteng, kan? Kataku mah dia mirip sama Om tahu."


"Masa, sih?" Steven menatap layar persegi itu dengan seksama. Dia juga sampai mengambil ponselnya untuk menyamakan fotonya dan orang tersebut. "Nggak ah, masih gantengan aku."


"Iya, hanya mirip kok."


"Gantengan aku, kan?" tanya Steven.


"Iya, gantengan Om." Citra tersenyum lalu menatap layar itu dengan serius.


"Ceritanya gimana itu?"


"Kita nonton aja biar tahu alurnya."


"Aku mau tahu dulu dari kamu."


"Ini si CEOnya cari pasangan, Om. Dia disuruh cepat menikah sama orang tuanya. Sebenarnya dia dijodohkan tapi dia lebih memilih mencari pasangan sendiri," jelas Citra.


"Kenapa dia dijodohkan? Memangnya dia nggak bisa cari istri sendiri?"


"Nggak tahu juga kalau masalah itu, mending kita tonton saja."


Mata keduanya pun langsung berfokus pada adegan pada drama itu yang menceritakan awal pertemuan pria dan wanitanya.


"Dih, kenapa ditutup?"


"Itu adegan ciuman. Kamu nggak boleh nonton itu, nanti merusak otak."


"Merusak otak apanya? Kan kita juga pernah ciuman, Om." Citra menarik tangan Steven hingga melepaskan wajahnya, Citra dan dia pun kembali menonton adegan itu. "Kayaknya enak ya, Om. Ciuman di kamar mandi," ujar Citra.


Steven menelan ludahnya dengan kasar kala sepasang manusia itu tengah bercumbu di dalam kamar mandi, ciuman yang mereka lakukan itu terlihat begitu ganas dan penuh penghayatan. Bahkan lidahnya pun seperti terikat satu sama lain. Mata Steven perlahan melirik ke arah Citra. Ah, lebih tepatnya pada bibir merah mudanya


Kebetulan bibir bawah itu tengah Citra gigit sendiri, itu refleks dilakukannya karena menghayati dalam menonton.


'Pasti bibirnya manis, kok tumben ya Citra nggak ngajak aku ciuman? Apa nggak kepengen dia?' batin Steven.


"Kamu nggak kepengen ciuman, Cit?" tanya Steven yang mana membuat Citra menoleh.


"Om mau mengajakku ciuman memangnya?" Citra berbalik tanya.


Steven menggeleng cepat. "Nggaklah, aku 'kan orangnya nggak suka nyosor kayak kamu."

__ADS_1


"Terus kenapa tanya aku pengen ciuman apa nggak? Jangan bilang Om yang mau ciuman?" tebak Citra dan seketika wajah Steven menjadi merah padam, dia juga kembali menelan ludah.


"Enak aja nggaklah," kilah Steven seraya menggeleng cepat lalu berdiri. "Udahan ah nontonnya, nggak seru. Aku mau tidur, kamu juga tidurnya jangan malam-malam. Ingat pagi-pagi bangun."


"Iya." Citra mengangguk paham. Lantas dia pun berdiri lalu membawa laptop dan berjalan menuju kamar.


Steven terdiam mematung melihat punggung kecil istrinya yang menghilang dibalik pintu, entah seperti ada yang kurang malam ini dan ada rasa kesal di dalam hatinya yang entah apa itu sebabnya.


Mendadak Steven mengingat ucapan Citra saat gadis itu marah padanya. Dan sekarang, justru dia lah yang merasa dongkol. 'Perasaan .... dia bilang kalau semisalnya aku nggak jelaskan siapa itu Safira kita nggak akan ciuman dan bercinta lagi. Dan tadi sore aku sudah jelaskan bahkan jujur, tapi kok ... kenapa Citra nggak menciumku? Tadi ditanyain juga seperti biasa saja. Apa dia bosan ciuman denganku? Apa rasanya nggak enak, ya?'


Steven melangkah masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu. Setelah menggosok gigi dan cuci muka dia pun langsung berbaring di atas kasur dan perlahan memejamkan mata. Tetapi entah mengapa wajah Citra terus terbayang di dalam otaknya.


'Citra juga bilang, katanya aku harus menjadi bayinya, menyusu padanya setiap hari. Tapi hari ini aku belum menyusu padanya dan dia nggak memintaku untuk menyusu. Kenapa, ya? Apa hisapanku nggak enak rasanya?'


Entah apa saja yang ada di dalam otak pria itu, tetapi dia terus mengoceh tidak jelas sampai waktu malam hari pun bergulir begitu cepat. Hingga saatnya terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamarnya.


Tok ... tok ... tok.


"Om ...." Suara Citra terdengar dari balik pintu kamar dan dengan cepat Steven membuka matanya dengan lebar.


"Citra."


Steven beranjak dari tempat tidur sambil berlari untuk membuka pintu. Melihat Citra berdiri di sana—dia pun langsung memeluknya tanpa basa-basi dan tak segan meraup kasar bibirnya.


Citra tampak terhenyak dengan kedua mata yang membulat, jelas dia kaget sebab itu dilakukan Steven secara tiba-tiba. Cepat-cepat Citra mendorong dada Steven untuk menjauh dan melepaskan ciuman yang baru sebentar tapi terasa ganas itu.


"Kenapa dilepas? Kamu nggak suka ciuman denganku?!" tanya Steven marah. Bola matanya tampak merah dan rahangnya mengeras.


"Bukan nggak suka, Om. Tapi—"


"Tapi apa?" sergah Steven berteriak, napasnya terdengar naik turun. "Kamu masih marah padaku masalah Safira?"


"Safira? Maksudnya?" Alis mata Citra berkerut, tak paham dengan ucapan Steven dan kemarahannya yang tiba-tiba.


"Itu kenapa kamu nggak mau kita ciuman? Berarti kamu masih marah sama aku tentang Safira, kan? Kan aku sudah bilang nggak suka padanya!" tegas Steven kesal.


"Siapa yang marah dan nggak mau ciuman, Om?" Citra makin bingung dengan sikap Steven. Terkadang dia suka ngamuk tidak jelas.


"Ya kamu kenapa dorong aku? Berarti nggak mau ciuman denganku, kan? Giliran kamu yang pengen saja maksa, tapi giliran aku nggak boleh. Curang kamu, Cit!" gerutu Steven emosi. Kedua tangannya mengepal kuat.


"Bukan nggak boleh, tapi katanya kita mau salat, Om. Tadi sudah adzan subuh dan aku sudah ambil air wudhu."


Degh!

__ADS_1


Ketegangan di wajah Steven seketika luruh dan kedua matanya membulat saat dia menyadari jika gadis di depannya itu kini berdiri dengan memakai mukenah. Entah hal gila apa lagi yang Steven perbuat, tetapi yang jelas itu membuatnya malu sendiri.


...Kalau udah begini jadi siapa yang nyosor?🤔...


__ADS_2