Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
371. Steven meninggal dunia


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, pintu ruang UGD itu tiba-tiba saja dibuka dengan lebar. Angga dan Sofyan langsung berdiri, kemudian keluarlah seorang dokter pria dan beberapa perawat yang mendorong ranjang yang berisikan Steven di atas sana.


Pria itu terlihat sudah berganti pakaian dengan menggunakan seragam pasien berwarna biru awan. Punggung tangan kirinya sudah terpasang jarum infus, serta mulut dan hidungnya terpasang ventilator oksigen.


"Anakku mau dibawa ke mana, Dok?" Angga dengan paniknya berlari mengejar Steven, juga menghampiri Dokter yang ikut berjalan cepat di sampingnya.


"Anak Bapak akan dipindahkan ke ruang operasi. Bapak sebaiknya cepat isi formulir, supaya kami semua cepat bertindak," jawab Dokter itu. Setelah sampai pada ruang operasi dia pun segera masuk, begitu pun dengan Steven yang dibawa oleh empat perawat pria.


Angga yang hendak ikut masuk pun segera Sofyan cegah, dan tak lama seorang suster datang dengan membawa selembar kertas dan pulpen. Kemudian menyerahkan kepada mereka.


"Ini, tolong isi formulirnya untuk wali dari Steven Prasetyo, Pak," ucap Suster tersebut.


Sofyan lah yang mengambilnya, kemudian mengisi semuanya sampai membayar biaya operasi yang akan berjalan itu.


"Memangnya separah itu, ya, Yan, sampai Steven dioperasi segala?" ujar Angga. Kembali dia menangis.


"Steven pasti baik-baik saja, Pa, Papa nggak perlu khawatir." Meskipun Sofyan juga memiliki rasa takut dengan keadaan adiknya, tapi dia tak memperlihatkannya. Malah mencoba tegar demi menenangkan hati Angga. "Sebaiknya kita telepon Mama dan Citra, Pa," tambahnya seraya merogoh kantong celana.


Namun, saat benda pipih di dalam sana berhasil dia ambil dan mencoba untuk menghubungi Sindi—Angga dengan cepat merebutnya.


"Nggak, Yan! Jangan kasih tau Mama!" pintanya sambil menggelengkan kepala.


"Memangnya kenapa, Pa? Mama 'kan harus tau." Sofyan merebut kembali ponsel yang ada ditangan Angga.


"Nanti Mama akan menyalahkan Papa. Apalagi Citra, pasti dia sangat sedih." Tak tega rasanya, jika Angga melihat menantu kesayangan itu menangis.


"Tapi ini 'kan kecelakaan. Dan nggak mungkin juga mereka nggak dikasih tau, malah nanti buat masalah baru." Meski dilarang, nyatanya Sofyan tetap nekat untuk menghubungi Sindi. Sebab menurutnya, sang Mama wajib tahu. Apalagi Citra.


***


Sementara itu di rumah Angga.


Nissa dan Sindi tengah berkutat di dapur, kedua tengah membuat sambel rujak. Selain itu mereka juga membuat kue kering, untuk teman setelah makan rujak.

__ADS_1


"Kamu panggil Citra dulu di kamarnya, Nis, suruh turun," titah Sindi kepada anaknya.


Sebelumnya, Citra memang tak ikut mereka di dapur. Dia sibuk menidurkan si kembar sebab sehabis Steven pergi mereka kebetulan rewel. Sindi sendiri menyarankan untuk memberikannya ASI, supaya tenang.


"Iya, Ma." Nissa mengangguk. Lantas melangkah pelan menaiki tangga.


Prang!!


Tiba-tiba, terdengar sesuatu yang jatuh. Suaranya berasal dari kamar Steven.


"Cit! Citra!" Nissa dengan paniknya langsung berteriak, cepat-cepat dia berlari dan membuka pintu kamar itu yang kebetulan tidak dikunci.


Ceklek~


"Cit, kamu kena ...." Nissa seketika menelan suaranya, kala melihat si kembar tengah berbaring dengan terlentang di atas kasur. Keduanya terlihat tertidur lelap, sedangan Citra sendiri tengah berjongkok di dekat nakas. "Kamu lagi apa, Cit? Dan apa yang jatuh?" Nissa melangkah mendekat, lalu menatap ke bawah.


Ternyata yang jatuh tadi adalah foto pernikahan Citra dan Steven pada bingkai. Seluruh kacanya pecah dan serpihannya menggores ibu jari Citra sebelah kanan, saat dimana gadis itu hendak memungutnya.


"Aawww!" Citra memekik kecil, merasakan perih.


Setelahnya, dia mengajak adik iparnya duduk di sofa panjang yang ada di sana.


"Kamu duduk dulu, nanti Mbak balik lagi buat ngambil obat dan nyuruh Bibi membersihkan ini," lanjut Nissa, lantas melangkah pergi dari sana. Meninggal Citra yang sejak tadi memandangi serpihan kaca yang berserakan di lantai.


"Padahal nggak kesenggol, nggak ada angin juga. Tapi kok tiba-tiba bingkainya jatuh?" gumam Citra dengan kedua alis mata yang tampak bertaut. Entah mengapa, perasaannya mendadak jadi tidak enak. Dan langsung memikirkan suaminya. "Aa juga kok lama, ya, nggak pulang-pulang. Kan cuma pergi cari pohon mangga."


"Nissa! Citra! Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Sindi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Citra yang pintunya terbuka. Gadis itu seketika terperanjat, sebab tadi sempat melamun.


"Rumah sakit? Mau ngapain, Ma?" Citra langsung berdiri dan menghampiri Sindi.


Tak lama kemudian, Nissa yang membawa kotak P3K datang bersama Bibi pembantu yang membawa sapu dan serokan.


"Ste-Steven, ka-ta Sofyan dia jatuh dari pohon mangga, Cit. Kita harus ke sana," ujar Sindi gelapan.

__ADS_1


Bukan hanya Citra saja yang terlihat terkejut dengan bola mata yang melebar, tapi Nissa juga.


"Astaghfirullah! Kok bisa?" Citra langsung menutup bibirnya yang menganga. Raut wajahnya seketika menjadi sendu. Segera, dia pun berlari menuju kasur. Namun, saat dirinya hendak meraih tubuh Varo, Sindi langsung mencegahnya.


"Varo biar sama Suster Dira dulu, Cit. Mama sudah titip sama dia," usul Sindi dan tak lama wanita bernama Dira itu masuk ke dalam kamar. Setelah itu, Sindi mengenggam pergelangan tangan kanan Citra. "Sebaiknya kita langsung ke rumah sakit, karena kata Sofyan juga, saat ini Steven sedang dioperasi," tambahnya. Dan tanpa menunggu jawaban dari sang menantu, Sindi sudah menarik Citra keluar dari kamarnya. Nissa yang melihatnya pun ikut menyusul.


Di depan rumah, masih ada Tian. Pria itu tengah mengobrol dengan Jarwo.


"Yang! Ayok kita ke rumah sakit!" ajak Nissa memekik kencang.


"Rumah sakit?!" Tian langsung menoleh. Tanpa bertanya dia pun langsung berlari menuju mobilnya, sebab bukan hanya Nissa saja yang sudah masuk ke dalam sana. Tapi Citra dan Sindi.


***


Di rumah sakit.


Setelah 30 menit Angga dan Sofyan menunggu diluar, akhirnya pintu ruang operasi itu dibuka. Keluarlah seorang dokter pria yang memakai pakaian medis lengkap, tengah mengelap keringat dengan menggunakan tissue.


Melihat itu, Sofyan dan Angga langsung berdiri dari duduknya. Kemudian melangkah mendekat.


"Bagaimana operasi anakku, Dok? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Angga cepat.


"Anak Bapak yang bernama Steven Prasetyo, kan?" Dokter itu memastikan sambil membuka masker di wajahnya.


"Iya, Dok." Angga mengangguk cepat. "Anaknya yang paling ganteng sedunia. Mirip denganku dan berlesung pipi serta sangat manis."


"Saya akan menjelaskan, apa yang Pak Steven alami. Tapi sebaiknya Bapak tenanglah dulu." Dokter itu memerhatikan Angga yang sejak tadi bersikap gelisah. Bahkan kedua kakinya saja tak bisa diam. Itu menjadikannya khawatir, kalau sampai Angga mengalami sesuatu saat mendengar apa yang akan dia sampaikan.


"Tarik napas dulu, Pa." Sofyan merangkul bahu Angga, lalu mengusap dadanya. Sang Papa langsung menarik napas, lalu pelan-pelan membuangnya.


"Sudah?" tanya Dokter. Angga mengangguk. Hanya lega sedikit sebenarnya, tapi dibilang tenang pun tidak juga. Karena belum mendengar apa yang Dokter itu utarakan. "Pak Steven mengalami gegar otak, Pak, akibat terjatuh dari ketinggian. Saya harap ... Bapak dan seluruh keluarganya berlapang dada. Dan mengikhlaskan kepergian Pak Steven."


"Kepergian Steven? Maksudnya?" Angga tampak tak mengerti. Akan tetapi, bola matanya terlihat sudah berair.

__ADS_1


"Apa maksud Dokter, Steven meninggal dunia?" terka Sofyan.


...Kalau akhir kisahnya sad ending gimana, Guys? 🤭 gpp 'kan, ya?...


__ADS_2