Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
290. Menjual diri?!


__ADS_3

"Ya iyalah, coba kamu bisa memberikanku anak. Aku nggak berencana ingin membawa Juna!"geram Abi.


"Kita 'kan lagi promil, ya sabarlah, Mas!"balas Aulia marah.


Alasan Abi berselingkuh lalu menikahi Aulia adalah karena wanita itu mengatakan kalau dirinya hamil. Padahal, Aulia hanya berbohong dan sengaja melakukan hal itu agar Abi meninggalkan anak istrinya dan lebih memilih hubungannya.


Namun saat sehari menikah, Aulia mengatakan jika dirinya keguguran. Hingga akhirnya sampai sekarang, dia tak kunjung hamil padahal tengah menjalani program hamil selama 5 bulan lebih.


Dokter kandungan juga sempat mengatakan kalau rahim wanita itu kurang subur, kecil kemungkinan dia bisa hamil.


Abi yang dulu biasa hidup selalu mendengar suara celoteh Juna membuatnya seketika merindukan sosok seorang anak. Apalagi jika tengah berkumpul dengan saudara atau pun teman, banyak sekali yang bertanya tentang anak.


Selain itu, baru-baru ini dia menemukan surat wasiat dari Papanya yang telah meninggal dunia selama satu tahun lebih.


Dia merasa terkejut karena isinya adalah seluruh harta dan perusahaan peninggalannya, akan berpindah tangan kepada cucu laki-lakinya. Dan jika bocah itu sudah berumur 20 tahun, dia akan langsung menggantikan posisi Abi menjadi CEO.


Jika Abi hanya memiliki anak tunggal, berarti semua milik si anak tunggal. Tetapi jika doa atau lebih, akan disamaratakan.


Namun tetap, anak pertama yang akan memegang satu-satunya perusahaan itu.


Baik Abi atau pun Aulia, mereka tidak mau hal itu sampai terjadi. Mereka tak mau jika hidup miskin karena Juna tak hidup bersamanya.


Begitu lah nasib jika memiliki harta dari orang tua saja, dan belum berhasil mendapatkan teriakan dari hasil jerih payahnya sendiri. Padahal Abi adalah anak pertama dan satu-satunya anak laki-laki yang dimiliki orang tuanya.


"Promil tapi kamu nggak bunting-bunting. Gimana sih?!"


"Ya mana kutahu. Yang bikin wanita hamil'kan laki-laki, tanya sama diri Mas sendiri!"


"Ngapain tanya aku, kamunya saja yang nggak subur!" berang Abi sambil melotot. Dadanya naik turun mengatur napasnya yang terengah-engah. "Menyesal aku dulu meninggalkan Nissa dan Juna hanya untuk bersama wanita mandul sepertimu! Pokoknya kalau kau nggak ikut membantuku membujuk Juna ... kau akan aku ceraikan!"


Aulia sontak membulatkan matanya dengan sempurna. Keputusan itu tentu hal yang sama sekali tidak dia inginkan. Dia sangat mencintai Abi dan sudah banyak pengorbanan yang dia lakukan selama ini demi bisa dihentikan. "Janganlah, Mas. Iya, aku akan membantumu."


"Sekarang kamu keluar dan temui resepsionis. Minta dia untuk menghubungi Nissa, beri tahu dia kalau aku akan segera mati kalau Juna tidak menjengukku!" perintahnya kesal.


"Nomornya Nissanya mana? Kata Mas nomor dia nggak aktif."


"Ya carilah kamu, dapatkan nomornya dengan cara apa pun. Cepat pergi!" bentak Abi.


Aulia mendengkus kesal.Akhir-akhir ini Abi selalu marah-marah dan dialah yang menjadi sasaran.Perlahan dia melangkah keluar kamar, meninggalkan Abi seorang diri disana.


Si*lan banget si Juna.Ini semua gara-gara dia yang susah dibujuk. Saya sendiri yang kerepotan!' batin Aulia dengan hati dongkol.

__ADS_1


*


*


Beberapa menit saat kepergian Aulia, pintu ruang inap itu diketuk oleh seseorang dan tak lama handlenya diturunkan.


"Selamat pagi," sapanya kemudian masuk sambil mendorong pintu.Abi langsung berpaling ke arahnya. Ternyata orang tersebut adalah Tian. Seketika raut wajahnya pun berubah menjadi masam.b"Alhamdulillah Bapak sudah sadar. Maaf kalau saya menganggu." Tian mendekat, kemudian menaruh parsel buah yang dia bawa di atas nakas.


"Mana Arjuna?" Abi menatap ke arah pintu.


"Arjuna?" Kening Tian mengerenyit. "Oh maksudnya Juna, ya? Si Juna sekolah, Pak."


"Kenapa sebelum sekolah nggak kamu ajak ke sini? Dan mau apa kamu ke sini?" tanya Abi dengan ketus.


"Saya ke sini mau menjenguk dan sekalian ingin meminta maaf atas apa yang telah terjadi, Pak. Maafkan saya yang ikut emosi sampai kami berantem seperti anak kecil."Tian menodai tangannya ke arah Abi, tetapi pria itu sama sekali tak ada niat untuk memikatnya.


"Aku nggak butuh maaf darimu. Yang aku butuhkan adalah Juna. Kenapa Juna nggak kamu ajak?!" tanyanya kesal.


Tian menarik lengannya kembali. "Sudah aku ajak, Pak. Tapi Juna nggak mau."


"Nggak usah bohong. Pasti kamu ke sini memang sengaja nggak bilang ke Juna kan? Kalau dia tahu pasti dia mau ke sini," kata Abi tak percaya.


"Demi Allah nggak, Pak." Tian menggeleng. "Juna memang nggak mau pas aku ajak. Tapi nanti aku akan sampaikan padanya supaya dia mau menjenguk Bapak."


"4 hari yang lalu, Pak."


"Masih baru berarti. Aku peringatkanmu Pak Tian, jangan pernah sekali-kali Bapak mengajari anakku untuk menjauhiku. Karena akulah Papi kandungnya, bukan kau!" tegasnya yang entah kenapa tiba-tiba dia marah.


"Aku nggak pernah melakukan hal itu, Pak. Juna juga sudah besar. Dia pasti tahu siapa Papi kandungnya."


"Tapi kenapa dia kemarin bilang kalau aku mantan Papinya? Pasti itu kamu yang ngajarinnya kan?"


"Nggak, Pak." Tian menggeleng cepat.


'Ternyata dia nggak mau ngaku. Padahal udah jelas dia lah yang bikin anakku berubah,' batinnya kesal.


"Sudah, Pak." Tian menatap arlojinya. "Kalau begitu aku pamit ingin kerja. Semoga Bapak cepat sembuh, dan semoga kita sama-sama menjadi Papi yang baik untuk Juna."


Tak ada tanggapan sama sekali, pria itu malah membuang muka. Tian sendiri heran kenapa sikap Abi seperti itu, tapi dia saat ini tak ingin memperpanjang masalah. Tian mencoba memaklumi, mungkin saja pria itu marah karena rindu pada anaknya yang belum menjenguk.


Setelah itu, Tian melangkah pergi dari sana kemudian menutup pintu.

__ADS_1


***


Siang hari di Samarinda.


“Aahh… lelahnya.” Fira menghela napas dengan lega saat menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk di sebuah kamar kost-an. Ukuran kamar itu jauh lebih besar daripada kamarnya di rumah.Selain ada kasur yang berukuran cukup besar, ada lemari kayu, AC dan meja rias.


Saat baru tiba, Mami mengajak dia dan wanita keempat yang berangkat dalam satu pesawat pergi ke Mall. Mami bukan hanya membelanjakan pakaian untuk mereka, tapi make up, tas dan juga sepatu.


Fira sungguh bahagia.Dia seperti sudah ada di surga saja. Dibelanjakan barang-barang mewah padahal belum memulai kerja. Rasanya ini adalah pilihan tepat dirinya kabur.


"Kamu akan tinggal berdua di sini sama si Tantri, ya, Fir," ucap Mami yang tengah menyisir jenggot di depan cermin. Kemudian seorang wanita cantik berumur 20 tahun masuk sambil menaruh paper bag di atas meja rias. Rambut wanita itu panjang sepunggung dan berwarna pirang.


"Kenapa berdua? Aku lebih nyaman sendiri, Mi," jawab Fira sembari menatap sinis Tantri yang duduk dibibir kasur.


"Nggak perlu protes. Memang peraturannya begini. Satu kamar untuk dua orang."


"Eeemm... ya udah deh," sahut Fira dengan malas.


"Berhubung kalian sudah makan tadi, jadi sekarang istirahat. Nanti malam sekitar jam 8, kalian harus sudah dandan yang cantik dan pakai pakaian yang tadi Mami beli. Nanti asisten Mami yang bernama Kimmy akan datang menjemput."


“Kerjanya malem memangnya, Mi?” tanya Fira.


"Ya." Mami mengangguk, kemudian melangkah keluar dari sana dan menutup pintu.


Tantri perlahan naik ke atas kasur, kemudian berbaring di samping Fira. Berbeda dengan Fira yang tampak bahagia, tapi dia justru terlihat sendu. "Mbak kok kelihatan seneng banget? Apa Mbak memang sudah terbiasa menjual diri ya?"


Pertanyaan itu sontak membuat Fira melotot, dadanya langsung bergemuruh. Dia lantas menoleh ke arah Tantri.


"Enak saja. Apa yang kamu katakan? Aku perempuan baik-baik, Tri!" tegasnya marah.


"Perempuan baik-baik kok mau pergi sama Mami? Aku ikut saja karena terpaksa, Mama tiriku menjualku, Mbak."


"Menjual?" Kening Fira mengerenyit, wajahnya tampak heran. "Menjual ke siapa?"


"Ke Mami lah, ke siapa lagi?"


"Lho, Mami' kan memberikan kita pekerjaan. Ngapain dia beli kamu?"


Tantri berdecak kesal. "Mbak ini polos apa bodoh, sih? Memangnya Mbak nggak tahu, ya, kita datang ke sini mau menjual diri? Wajar kalau Mami membeli kita dulu."


"Apa? Menjual Diri?!" Fira tersentak dengan kedua mata yang melebar sempurna. "Ka-kamu jangan ngarang deh, Tri, nggak mungkin!" tambahnya sambil menggeleng cepat.

__ADS_1


...Wkwkwk 🤣 kagak percaya dia...


__ADS_2