
"Om hari ini sudah sah menjadi duda. Dan kalau boleh, Om ingin meminta restu supaya bisa menikahi Mbakmu," ucap Tian pelan.
Juna sudah tersenyum girang mendengar itu, lalu matanya menatap ke arah Steven dengan rasa penasaran akan jawabannya.
"Aku nggak mau," jawab Steven singkat tetapi mampu membuat rasa kecewa saat Tian mendengarnya.
"Nggak mau kenapa, Stev?" tanya Tian sedih seraya mencekal lengan Steven. Sebab pria itu hendak melangkah pergi. "Tolong berikan Om satu kali kesempatan, Om sudah berubah sekarang. Om mencintai Mbakmu, Stev."
"Tapi aku nggak mau dan nggak bisa. Om 'kan sudah jadi Omku. Masa jadi Kakak ipar juga?" Steven menatap Tian dengan sengit.
"Memang masalahnya apa, Om?" Juna membuka suara. "Jadi Om sekaligus Kakak Ipar 'kan nggak masalah."
"Iya, nggak masalah. Tapi Om nggak setuju kalau Om Tian menikah dengan Mamimu. Mamimu terlalu sempurna untuknya yang banyak kekurangan." Steven menatap remeh Tian, kedua tangannya bersedekap.
"Kok Om ngomong kayak gitu, sih?" Juna tampak tak terima mendengarnya. "Manusia di dunia ini nggak ada yang sempurna, Om. Sama halnya seperti Om Tian, Juna, Mami, Opa, Oma, Bude, Pakde bahkan Tante Citra dan Om Steven. Juna mau Om Tian jadi Papinya Juna," pintanya memohon.
Steven menggelengkan kepalanya, lalu melangkah cepat menuju kantin. Juna yang belum puas akan jawabannya itu segera berlari menyusulnya. Angga juga ikut menyusul, tetapi tidak dengan Tian.
Pria itu diam membeku, dia bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya, sebab restu Steven sangatlah penting menurutnya.
"Kamu kenapa, Ti? Dan mereka mau ke mana?" tanya Nissa yang baru saja melangkah menghampiri. Dia tak mendengar obrolan mereka tadi.
"Aku barusan meminta restu sama Steven, tapi dia bilang nggak mau," jawab Tian menoleh dengan wajah sedih.
"Apa dia memberikan alasannya?"
"Katanya kamu terlalu sempurna untukku yang banyak kekurangan."
"Aku akan membujuknya."
"Nggak usah, Nis." Tian mencekal lengan Nissa yang hendak melangkah. "Nanti aku coba bicara lagi dengannya. Sekarang kita lihat si Kembar saja, aku ingin mengendongnya."
"Kamu saja duluan sama Mama dan Kak Sofyan. Nanti berikutnya aku sama Mbak Maya."
"Ya sudah, aku duluan ya, Nis." Tian tersenyum, lalu melangkah menghampiri Sindi. "Bu, ayok kita melihat si kembar," ajaknya pada Sindi.
"Berdua doang?" Sindi berdiri.
"Sama Pak Sofyan juga. Nanti Nissa sama Bu Maya katanya." Tian menatap ke arah Sofyan. Pria itu langsung berdiri sambil mengecup kening istrinya.
"Ya sudah, ayok," ajak Sindi. Dia melangkah lebih dulu dan Tian di belakang bersama Sofyan.
"Kamu ini Omnya Citra?" tanya Sofyan. Dia dan Tian belum sempat berkenalan. Tetapi Tian sendiri sudah tahu Sofyan sebab namanya cukup terkenal di dunia bisnis.
"Iya, Pak. Maaf, kita lupa berkenalan." Tian mengulurkan tangannya, segera Sofyan membalas. "Namaku Tian Siregar."
__ADS_1
"Aku Sofyan Prasetyo. Kamu kok kelihatan dekat sama Juna dan Nissa. Apa mungkin hanya perasaanku saja?"
"Sebenarnya ...." Tian menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan bayi. Begitu pun dengan Sofyan. Sedangkan Sindi sudah lebih dulu masuk ke dalam sana. "Aku mencintai Nissa, Pak. Aku juga ada niat ingin menikahinya. Aku sudah meminta restu pada Pak Angga, dia merestuiku. Sedangkan Steven nggak. Tapi ... Bapak sendiri yang sebagai Kakaknya, apa mau merestuiku?" Tian menatap wajah Sofyan. Pria itu tampak terdiam beberapa saat.
"Memang, apa pekerjaanmu?" Restu nomor satu dari Sofyan adalah pekerjaan. Sebab menurutnya, yang utama dari laki-laki adalah pekerjaan. Apalagi, keluarganya cukup terpandang. Rasanya aneh, jika nanti Nissa yang banyak uang, sedangkan suaminya pengangguran.
"Aku jadi CEO, Pak. Tapi itu bukan perusahaanku sendiri. Aku hanya bekerja di bawahnya." Menurut Tian, kalau Sofyan bisa ikut merestui, akan banyak pula yang mendukungnya.
"Kamu nggak punya perusahaan berarti?"
"Dulu aku punya, tapi karena aku bangkrut jadi aku mulai lagi dari nol."
"Oh begitu. Selain jadi CEO, kamu ada usaha lain nggak?"
"Ada. Lima atau enam bulan yang lalu saya menernak lele dan alhamdulilah sudah dua kali panen, Pak."
"Berapa keuntungan dari sekali panennya?"
"Nggak besar sih, Pak. Tapi lumayan. Kemarin sekali panen dapat 10 jutaan kalau nggak salah."
"Makannya gampang, ya, lele itu. Tinggal kita buka celana terus jongkok."
"Maksudnya bagaimana, Pak?" Kening Tian mengerenyit. Tak paham dengan apa yang Sofyan katakan.
"Dih, kata siapa, Pak?" Tian tampak terkejut. "Leleku makannya sama pelet. Bukan dari pisang gorengku."
"Masa, sih? Temanku punya ternak lele tapi dia bikin tempat semacam jambban. Kamu tahu jambban, nggak?"
"Yang buat berak di sawah atau kali?"
Sofyan mengangguk. "Iya, temanku bikin jambban di atas kolam lelenya. Kalau dia, anak atau istrinya mau berak ... jadi beraknya di kolam lele. Nanti lelenya pada makan pisang goreng mereka."
Tian langsung menutup bibirnya kala merasakan mual saat membayangkan lelenya makan pisang goreng. Sungguh diluar nalar menurutnya. "Aku malah baru tahu kalau lele doyan pisang goreng orang, Pak."
"Mangkanya coba kamu berakin, nanti juga mereka makan," usul Sofyan.
Niat ingin meminta restu, obrolan mereka malah ngelantur.
"Nggak ah, Pak. Jijik." Tian menggeleng cepat. "Kasihan juga orang yang makan lelenya nanti. Sama aja makan pisang goreng dong."
"Ya nggaklah, rasanya mah tetap daging lele. Kan dia cuma makan."
"Bapak pernah memakannya?"
"Udah sering, biasanya kalau libur temanku mengajak ...."
__ADS_1
"Oeekk!" Tian cepat-cepat membungkam mulutnya kala perutnya terasa bergejolak. "Maaf, Pak. Aku mual. Aku ke toilet dulu sebentar." Tian bergegas berlari pergi. Dia benar-benar mual mengobrol masalah pisang goreng yang dimakan lele, ditambah dia juga sambil membayangkannya.
***
Di kantin.
Steven memesan kopi hitam, begitu pun dengan Angga yang memesan kopi luwak. Sedangkan Juna susu coklat.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja kantin.
"Kalian ngapain sih, ikut-ikut ke sini?" tanya Steven dengan sinis menatap Angga dan Juna yang berada di depannya.
"Papa juga mau ngopi. Sambil nungguin si kembar dipindahkan."
"Juna juga mau nyusu." Juna menimpali.
Steven menghela napasnya dengan berat, lalu pelan-pelan menyeruput secangkir kopi di tangannya yang masih beruap.
"Om, tolong dong restuin Om Tian. Kan Om Tian sudah bantu Om tadi. Masa Om nggak mau balas budi," pinta Juna sembari memberikan teguran. Dia masih berupaya membantu Tian untuk meminta restu yang cukup sulit dari Steven.
"Bantuin apa?" tanya Steven yang tampak tak mengerti.
"Dih, pura-pura lupa si Om." Juna berdecak sebal. "Kan tadi sebelum si kembar lahir Om Tian membantu." Juna menatap ke arah Angga, lalu mengenggam tangan kanannya. Dia hendak menceritakan apa yang telah terjadi tadi. Supaya Angga ikut membantunya. "Opa, Opa tahu nggak ... pas Juna sama Om Tian ingin main ke apartemen Om Steven, pas banget dengan Tante Citra yang mau melahirkan lho."
"Oh, terus?"
"Ya terus Om Tian bantuin untuk mengantar Tante ke rumah sakit. Dia menyetir mobil, Juna di sampingnya terus menelepon Mami. Memberitahu Tante mau melahirkan. Terus ... ditengah jalan macet Opa, mobil Om Steven terhimpit. Nggak bisa maju mundur cantik," celotehnya memberitahu.
"Terus?"
"Om Tian mencari bantuan. Dia menyewa dua tukang ojek. Yang satu sama Om Steven dan Tante Citra, yang satu sama Juna dan Om Tian."
"Muat itu kalian bertiga?"
"Muat, kan namanya juga darurat. Tapi, Opa, itu 'kan tandanya Om Tian sudah membantu Om Steven. Mungkin kalau nggak ada Om Tian ... Tante Citra bisa melahirkan di jalan. Tapi, kok ... Om Steven masih tega, ya, sama Om Tian?" tanyanya menyindir sambil melirikkan matanya ke arah Steven.
"Tega gimana?" tanya Angga. Sebenarnya dia sudah mengerti dengan arah pembicaraan bocah itu, tetapi Angga sengaja merespon seperti itu.
"Ya tega, masa minta restu saja masih nggak mau. Om Steven kayaknya memang nggak sayang deh sama Juna. Dia mah sayangnya sama Tante Citra dan si kembar doang." Juna menangkup tubuh Angga, lalu merengut dengan wajah sedih. "Juna 'kan juga mau punya keluarga lengkap, Opa. Masa Om Steven doang."
Angga menatap ke arah Steven. Terlihat jelas pria itu tampak cuek sekali mendengar rengekan Juna. Dia masih fokus menyeruput kopi.
"Udah Stev, lebih baik restui saja. Papa tahu ini sulit, tapi kamu lihat keponakanmu." Angga mengelus rambut Juna sambil menatapnya sebentar. "Dia kepengen banget Papi barunya Tian. Dan apa kamu tahu, 5 bulan yang lalu dia sempat mengalami kejang-kejang karena nggak Papa izinkan untuk bertemu Tian. Dia juga ada riwayat stres kayak kamu dulu. Memang kamu mau, sekecil Juna jadi orang gila? Kan nggak lucu."
...Restui aja kenapa sih, Om, sulit amat jadi orang 😑...
__ADS_1