
Setelah terkirim dan berhasil dibaca, Juna langsung menghapus pesan itu supaya tak membuat Tian curiga.
"Ini hapenya, Pi, udah," ucap Juna seraya menyerahkan ponsel ditangannya. Dan benda itu langsung diambil lalu dikantongi oleh Tian.
Setelah itu keduanya keluar sama-sama dari toilet, tapi Juna digendong oleh Tian sebab sepatu yang juga bau pesing sudah dilepaskan.
"Lho, kok kamu sudah pakai celana?" tanya Abi heran saat baru saja datang dengan membawa barang belanjaan. Yang berisi celana pendek, celana daalam dan sendal. Dia membeli semua itu untuk mengganti apa yang terkena air kencing.
Juna langsung melengos tak menanggapi, lalu memeluk leher Tian.
"Iya, Pak, aku gantikan celana pramuka karena kasihan tadi lihatnya," sahut Tian.
"Itu 'kan celana buat sekolah. Udah ganti lagi ayok, pakai celana baru yang Papi belikan." Abi hendak meraih tubuh sang anak, ingin mengajaknya masuk ke dalam toilet untuk mengganti celana. Akan tetapi bocah itu justru menepis tangannya dengan kasar lalu menggeleng cepat.
"Nggak mau!" teriak Juna kencang. Wajahnya yang merengut itu menunjukkan jika dia benar-benar marah saat ini kepada Abi.
"Udah biarkan saja, Pak," ujar Tian. "Lebih baik kita langsung ke toko tas dan sepatu. Soalnya masih banyak aktivitas kita hari ini." Dia berucap demikian sambil berlalu pergi, kemudian menuju toko sepatu dan tas.
Abi berdecak kesal, lalu mengekorinya dan masuk ke dalam toko untuk menyusul.
"Yang ini bagus, ya, kamu suka nggak?" tanya Abi sembari menunjuk sebuah tas ransel berwarna biru bergambar Doraemon yang berada di dalam etalase. Berjejer dengan beberapa tas yang lain.
"Nggak!" sahut Juna ketus dengan tatapan sinis. 'Masa iya, aku pakai tas Doraemon? Aku 'kan cowok. Papi Abi memang ada gila-gilanya.'
"Daddy! Aku mau tas gambar Superman!" seru seorang bocah sebaya Juna yang baru saja datang dengan Daddynya. Dia lantas menunjuk sebuah tas ransel di dalam etalase.
Juna menoleh ke arahnya, bocah laki-laki itu terlihat familiar. Seperti teman sekolahnya. "Robert! Kamu beli tas di sini juga?" tanyanya.
Bocah bermata sipit itu langsung menoleh, begitu pun dengan Daddynya.
"Eh Juna. Iya, aku mau beli tas baru buat masuk sekolah," sahut Robert.
"Pak Tian, ya?" sapa Daddynya Robert yang mendekat ke arah Tian. Wajah pria itu sama seperti anaknya, agak Chinese dan bermata sipit.
"Pak Joe? Lho, sudah lama kita nggak bertemu." Tian tersenyum manis dan langsung menjabat tangan pria yang dipanggil Joe itu. Pria tersebut kebetulan salah satu rekan bisnisnya dulu.
"Iya, kabar Bapak bagaimana? Oh, jadi Juna ini anaknya Bapak? Aku baru tau." Joe memerhatikan wajah Juna, kemudian beralih kewajah Tian.
"Dia hanya Papi tiri, aku Papi kandungnya!" sergah Abi dengan tatapan sengit. Dia jelas tak suka mendengar apa yang pria itu katakan. "Bapak juga sepertinya harus pakai kacamata, jelas-jelas wajah Juna anakku mirip denganku. Malah pakai ditebak-tebak mirip Tian segala." Mengelus pipi kanan Juna, lalu memutar bola matanya dengan malas.
"Oh, maaf, Pak. Aku nggak tau." Joe tersenyum dengan perasaan tidak enak, lalu menatap ke arah anaknya. "Kamu kepengen tas yang mana tadi, Rob?"
__ADS_1
"Yang gambar Superman, Dad!" seru Robert sambil menunjuk. Sang Daddy pun langsung memanggil pelayan toko.
"Juna juga kepengen tas Superman, Pi. Tapi beda warna kayak Robert." Juna berbisik ke telinga kanan Tian. Dilihat Robert temannya itu membeli tas berwarna merah.
"Kamu kepengennya warna apa?" tanya Tian.
"Hitam."
*
*
Seusai membeli dua tas dan dua sepatu, mereka beralih untuk mencari toko emas.
Seluruh barang belanjaannya dibawakan semua oleh Tian. Abi sendiri memang tidak mau membawa.
"Sini, Pi, biar Juna bantuin bawa paper bagnya." Juna meraih tiga paper bag pada tangan kanan Tian. Saat ini dia sudah tak lagi digendong, sudah berdiri dan memakai sendal. Melangkah bersama dengan kedua papinya.
"Nggak usah, Sayang, Papi juga bisa kok," tolak Tian sambil tersenyum dan gelengan kepala.
Namun, Juna sendiri tak mendengar perkataannya. Dia malah menariknya secara paksa lalu memberikan kepada Abi.
Abi sudah membuka mulut ingin protes, tapi semuanya gagal lantaran Juna kembali berucap, "Jangan hanya mengaku Papi kandung, tapi nggak mau membawa belanjaan anak kandung! Malu dong!"
"Iya, iya, Papi bawa!" balas Abi sambil berdecak kesal, lalu menenteng ketiga paper bag berukuran besar itu.
Mereka pun akhirnya melanjutkan langkahnya.
*
*
"Sekarang mau ke mana, sih? Kok berhenti di sini?" protes Abi kesal saat kakinya terhenti di depan sebuah toko emas yang bernama "Toko Emas Rama" Kebetulan toko emas itu adalah salah satu toko milik Rama.
"Ini 'kan toko emas, Pak, pastinya beli emaslah. Masa beli obat?" kekeh Tian, lalu menggandeng tangan Juna.
"Dek Juna! Ini pesanan Adek!" seru seorang pria yang berlari menghampiri.
Dia terlihat berkeringat banyak dan napasnya pun terengah-engah. Tangannya memegang sebuah sebotol minuman farian teh, kemudian mengulurkan kepada Juna.
Tian yang hendak mengajak sang anak masuk lewat pintu kaca urung dilakukan, dia langsung menoleh. Ternyata pria itu adalah sopirnya Nissa.
__ADS_1
"Benar-benar sesuai pesanan 'kan, Om?" tanya Juna memastikan kemudian mengambil minuman tersebut.
"Iya. Tapi boleh nggak Om bicara sesuatu dulu dengan Adek?" pintanya.
"Bicara apa?" tanya Juna dengan kening yang mengernyit.
"Berdua saja, ayok ikut Om sebentar, Dek." Sopir itu meraih tangan Juna, lalu menariknya hingga membuat tangan bocah itu terlepas dari tangan Tian.
"Sebentar, ya, Pi! Papi pilih saja dulu antingnya!" teriak Juna sambil melambaikan tangan kepada Tian. Dia sudah melangkah menjauh bersama sopirnya, kemudian menghentikan langkah.
"Maaf, Dek, minuman itu memang sudah Om masukkan obat yang buat orang bisa sakit perut. Tapi Adek mau memberikannya ke siapa?" tanyanya penasaran.
"Ini buat Juna, karena Juna nggak berak-berak dari kemarin." Juna terpaksa berbohong, tangannya mengelus perut. "Terus kata si Atta ... minum obat yang buat sakit perut bisa memperlancar buang air besar, Om. Jadi Juna mau meminumnya."
"Oh, tapi jangan banyak-banyak, ya, Dek, soalnya itu dosisnya lumayan gede. Adek juga harus izin ke Papi atau Mami dulu sebelum meminumnya," tegur sang sopir.
"Iya, Om tenang saja." Juna mengangguk cepat. "Sekarang Om balik lagi sana ke mobil, tapi terima kasih, ya, minumannya. Nanti uangnya Juna ganti kalau Juna sudah kerja."
"Iya." Sang sopir mengangguk, dia juga tampaknya percaya-percaya saja dengan apa yang dikatakan anak majikannya itu.
Setelahnya dia lantas melangkah pergi, sedangkan Juna melangkah menghampiri Abi yang berdiri di depan toko emas sambil bermain ponsel.
"Papi pasti haus, ini minum dulu, Pi," ucap Juna dengan lembut dan tersenyum manis. Perlahan dia mengulurkan tangannya untuk memberikan sebotol minuman. Memang niat dia ingin mengerjai Abi, dengan mencampurkan obat ke dalam minuman itu.
Abi mengalihkan atensinya, lalu memerhatikan botol di tangan Juna. Dia juga tampak ragu untuk mengambilnya. "Minuman itu bukannya minuman dari sopirmu itu, kan?" tebaknya.
"Iya. Tapi Juna sengaja memintanya membelikan untuk Papi. Karena Juna tau ... Papi pasti haus."
"Hanya untuk Papi?! Papi tirimu nggak dikasih?" Kening Abi mengernyit.
"Nggak." Juna menggeleng. "Hanya untuk Papi. Cepat minum." Kemudian menyerahkan secara paksa kepada Abi.
Pria itu pun mau tidak mau mengambilnya, kemudian membuka penutup botolnya. "Lho, segelnya kok udah dibuka, Jun?" tanya Abi heran.
"Juna yang buka tadi. Udah cepat minum, Pi! Orang dikasih anak kok banyak mikir." Juna mendengkus kesal, lalu melangkah masuk ke dalam toko.
Tanpa banyak berpikir, Abi langsung menenggak minuman itu sampai habis tak tersisa. Terasa manis dan menyegarkan tenggorokan, karena memang cukup dingin.
'Tumben, Juna baik banget? Apa jangan-jangan hatinya sudah luluh kepadaku ya?' batin Abi tersenyum senang. 'Bagus deh kalau begitu, berarti sebentar lagi dia akan mau kuajak pulang. Iya, kan?'
...Yang bener itu sebentar lagi Om kena mencret 🤣...
__ADS_1