Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
248. Sudah kubuang


__ADS_3

"Daripada bertanya ke Tian. Lebih baik ke Ahmad saja," ucap Angga seraya merogoh kantong di dalam celananya. Mengambil ponsel, lalu menghubungi pria itu.


"Ahmad itu siapa, Pa?" tanya Kevin.


"Papanya Janet. Masa kamu lupa?"


"Oh. Yang kribo, ya?"


"Iya, Papanya Janet 'kan cuma satu. Memangnya kamu, banyak!" sindir Angga. "Halo, Mad," ucapnya saat sambungan teleponnya diangkat oleh seberang sana.


"Sore, Pak. Ada apa?" tanya Ahmad.


"Kamu ada waktu luang nggak hari ini?"


"Ada. Kebetulan saya baru saja pulang kerja."


"Aku mau, kamu ke rumahku, Mad," pinta Angga.


"Mau apa memangnya, Pak?"


"Ini, si Janet sama Kevin sudah punya anak. Tapi aku sendiri nggak ngerti cara merawatnya. Kamu bisa nggak ajarin aku, sekalian ajarin melatih supaya mereka bisa ngomong juga," pinta Angga.


"Wah, sudah menetas rupanya. Dua-duanya sehat, Pak?" tanya Ahmad dengan penuh antusias.


"Sehat, alhamdulillah."


"Tapi maaf, Pak. Saya nggak tahu cara merawat burung bayi dan melatihnya."


"Kok nggak bisa? Kamu bukannya punya banyak burung Kakatua, ya?"


"Iya. Tapi saya membeli saat mereka sudah besar dan bisa bicara. Bukan dari bayi, Pak."


"Pas Janet juga sama?"


"Iya, sama. Dia tinggal bersamaku mungkin hanya setahun."


"Ah ya sudah deh. Aku kira kamu bisa membantuku," keluh Angga kecewa.


"Maaf ya, Pak."


"Iya." Angga mematikan sambungan teleponnya sambil merengut. Lalu menaruh benda pipih itu kembali ke dalam kantong celana. Sepertinya, terpaksa, saran yang digunakan Kevin akan Angga gunakan.


***

__ADS_1


Malam hari.


"Om Tian mau menginap di rumah Opa, ya?" tebak Juna dengan ceria. Dia berjalan berjingkrak-jingkrak menghampiri Tian di pos satpam, yang tengah duduk sambil menyuapi kedua anak Kevin dengan bubur.


Juna sudah keluar dari rumah sakit tadi sore, dan Tian yang mengantarkannya pulang ke rumah Angga pada saat pulang kerja.


Beruntung, di rumah Angga tidak ada Steven. Pria itu tengah mengajak Citra ke hotel. Seperti biasa, bercinta sambil melihat bintang.


Mungkin kalau Steven tahu, bisa heboh dia. Dan otomatis akan mengusir Tian apa pun alasannya.


"Nggak dong. Masa menginap." Yang menjawab Angga. Dia sejak tadi duduk di samping Tian sambil ngopi dan memperhatikan gerak gerik pria itu.


Benar-benar tidak perlu diragukan, Tian memang sudah berpengalaman mengurus burung Kakatua. Tampak begitu telaten sekali Angga melihatnya.


"Kok pulang? Padahal enak kalau menginap. Nanti tidur sama Juna dan Mami," ucap Juna sedih.


"Mana boleh begitu!" seru Angga sewot.


"Kok nggak boleh, kenapa?" Juna menatap wajah Angga. Lalu naik ke atas paha Tian. Duduk di atas pangkuannya.


"Kan belum nikah. Jadi nggak boleh," jawab Angga. Tian hanya tersenyum sambil terus menguapi.


"Oh, berarti nunggu menikah dulu dong. Ah lama." Juna mengerucutkan bibirnya, lalu bersedekap.


"Tapi Opa merestui Mami dan Om Tian, kan?" pinta Juna sembari memasang wajah memelas.


"Iya," jawab Angga malas.


Bola mata Juna langsung berbinar, begitu pun dengan Tian. Dia pun memutar badannya, lalu memeluk tubuh Tian dengan erat. Terdengar suara detak jantung yang berdebar di dalam sana.


"Alhamdulillah, Om. Opa sudah setuju."


"Iya, Jun." Tian mengulum senyum. 'Alhamdulillah,' batinnya.


Juna melepaskan pelukan, lalu menatap Angga. "Opa bilang dong sama Om Steven, untuk merestui Om Tian," pintanya.


"Om Tian dong harusnya yang minta restu. Ya, meskipun Steven hanya adiknya Nissa ... tetapi ada baiknya dia juga setuju," jelas Angga.


"Nanti aku akan minta restu kepada Steven, Pak. Bahkan ke semua anggota keluarga Nissa," ucap Tian dengan sungguh-sungguh. Sembari menatap wajah Angga.


"Bagusnya sih, kamu minta restunya setelah resmi bercerai saja. Biar enak," saran Angga.


"Iya." Tian mengangguk cepat.

__ADS_1


***


5 bulan kemudian.....


Besok, adalah sidang terakhir perceraian antara Tian dan Fira. Kalau keduanya sepakat, mereka sudah resmi menjadi mantan.


Sekarang, Fira berada di sebuah mobil taksi sambil menggendong bayi mungil yang terbedong rapih di tangannya. Bayi itu adalah anaknya, yang lahir kemarin dengan dibantu dukun beranak.


Sebetulnya, Fira sudah mencoba untuk membunuh bayi itu saat dalam kandungan. Dari mulai mencoba mengaborsi, meminum berbagai macam obat penggugur dan masih banyak lagi.


Namun, Allah sepertinya berkehendak lain. Bayi itu justru lahir ke dunia dengan selamat. Lahir dengan sempurna, cantik, putih dan berjenis kelamin perempuan.


Sayangnya, Fira justru sekarang berniat untuk membuang bayinya ke panti asuhan. Baginya, bayi itu adalah pembawa sial. Dan Fira tak mau untuk mengurusnya.


"Berhenti di sini, Pak!" titah Fira pada sang sopir saat melihat ada sebuah rumah panti asuhan yang tampak sepi. Berada di pinggir jalan.


Mobil berwarna telor asin itu pun lantas berhenti. Setelah membayar, Fira pun turun sambil membenarkan hijabnya.


Sengaja Fira memakai hijab, dan juga masker. Supaya nantinya tidak ada orang yang tahu jika dia membuang bayi. Pakaian yang dipakai wanita itu pun serba hitam.


Setelah melihat mobil taksi itu berlalu pergi, Fira melangkah pelan menuju rumah itu, sambil menoleh ke kanan dan kiri melihat situasi.


Saat sudah dirasa cukup aman, Fira pun segera meletakkan dengan hati-hati bayinya di dekat pagar besi. Bayi mungil itu tampak tertidur pulas. Kain bedongnya bergambar beruang, berwarna pink. Selimut yang dipakainya pun berwarna pink.


'Kamu lebih cocok tinggal di sini daripada tinggal denganku. Ayahmu yang kere itu juga pasti nggak akan bisa menghidupimu,' batin Fira lalu berlari pergi.


Tak lama kemudian turun hujan, langsung deras. Cepat-cepat dia pun melambaikan taksi yang baru saja lewat, lalu masuk ke dalam sana. Lantas mobil itu pun melaju pergi.


Fira menghela napasnya dengan lega. Setelah membuang bayi itu, rasanya beban di hidupnya sedikit berkurang. Sejak kemarin bayi itu dititipkan di rumah dukun beranak, sebab Fira sendiri berbohong pada Nurul. Mengatakan jika bayinya meninggal dunia.


'Sekarang semuanya sudah beres. Anak pembawa sial itu sudah kubuang. Dan besok aku akan resmi menjadi janda. Selanjutnya, tinggal aku menjebak Pak Rizky. Supaya dia bersamaku dan meninggalkan istrinya.' Fira tersenyum menyeringai, lalu mengambil ponselnya di dalam kantong celana.


***


Di rumah Tian.


Pria itu tengah duduk bersilah sambil mengangkat kedua telapak tangannya yang terbuka. Sehabis sholat tahajud, dia pun memanjatkan do'a.


"Ya Allah, besok adalah hari perceraianku untuk kelima kalinya. Aku berharap semoga semuanya lancar. Dan bolehkah aku juga berharap ... semoga Steven mau merestuiku untuk bisa menikahi Mbaknya?"


"Aku tahu, aku adalah manusia yang sangat tidak sempurna. Tapi cintaku pada Nissa begitu sempurna ya, Allah. Restu darimu juga sangat penting. Tolong, restui langkahku yang akan menghalalkan Nissa. Aku mencintainya, menyayanginya dan juga Juna. Amin, amin ya Rabbal alamin." Tian mengusap wajahnya saat sudah mengakhiri do'anya.


...Maaf telat upnya, Guys. Nanti aku up lagi kalau keburu, ya, kalau nggak ya mungkin besok 🤭...

__ADS_1


...Keknya besok ada yang resmi jadi duda nih 🤣...


__ADS_2