
"Aku ingin melamar kerja jadi sekertaris, Ma."
"Sekertaris siapa?"
"Ada lah pokoknya."
"Tapi kamu 'kan sedang hamil. Katanya udah males kerja?" Nurul ingat, saat anaknya itu baru berumah tangga—dia mengatakan jika tak mau lagi kerja, apalagi sekarang tengah mengandung.
"Iya, aku memang sebenarnya udah malas. Tapi niatku kerja bukan ingin kerja beneran kok."
"Maksudnya gimana?" Kening Nurul mengerenyit.
"Aku memang mau kerja jadi sekertaris, tapi nantinya aku akan berusaha merebut hati bosku. Menjadikannya pacar lalu kami menikah," jawabnya sambil berkhayal menjadi istri orang kaya.
Hari ini, Fira ingin melamar pekerjaan sebagai sekertaris oleh salah satu pria kaya hasil permintaannya kepada Soraya. Selain kaya, dia juga tampan dan umurnya tak jauh beda dengan Steven. Hanya saja dia masih punya istri.
Namun, tidak masalah menurut Fira, yang terpenting dia bisa menjadikan pria itu mesin ATMnya. Dan kebetulan sekali, kantornya sedang mencari sekertaris. Jadi ini adalah kesempatan emas bagi Fira, untuk bekerja di sana sambil menggodanya.
"Mana bisa, kamu 'kan lagi hamil, memang ada pria yang mau sama wanita hamil?" Nurul menatap tak yakin kepada anaknya.
"Bisa lah." Niat untuk mengaborsi bayi tentu masih ada, hanya saja dia tak mau cerita pada Nurul. Takut nantinya sang Mama tidak setuju. "Mama nggak perlu memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang Mama do'akan saja biar aku keterima kerja, lalu menjadi istri orang kaya. Kalau aku kaya Mama 'kan juga pasti senang."
"Ya sudah, terserah kamu. Mama do'akan semoga sukses. Ini, ada surat gugatan cerai dari Tian." Nurul memberikan amplop itu ke tangan Fira. Dan dia segera memasukkannya ke dalam tas. "Sebelum tanda tangan dan membaca isinya, kamu pikirkan dulu mateng-mateng, bener nggak mau cerai sama Tian. Jangan sampai nanti menyesal."
Terserah, Fira mau cerai atau tidak. Namun sebagai orang tua, tentu Nurul menegurnya terlebih dahulu. Sebab resiko menjadi janda itu berat menurutnya. Selain tak ada yang menafkahi, tidak ada pula yang menghangatkannya di atas ranjang.
"Nggak akan. Keinginanku sudah bulat, bercerai dengannya adalah jalan di mana aku akan mendapatkan jodoh orang kaya," ungkap Fira dengan penuh percaya diri. Dia lantas mencium pipi kiri Nurul, lalu melangkah keluar rumah.
Ada sebuah taksi yang baru saja lewat di depan rumahnya, segera dia pun melambaikan tangan dan masuk ke dalam sana.
***
Di tempat berbeda, Tian tengah menyetir mobilnya. Hari ini dia akan melamar pekerjaan menjadi CEO di perusahaannya Rizky.
Semalam, Thomi memberitahu dan betapa senangnya hati Tian. Pagi-pagi sekali dia bangun. Selain untuk melaksanakan sholat subuh, Tian juga menyempatkan untuk berolahraga dan memberi makan ikan lelenya.
"Saya pulang dulu ya, Om. Om hati-hati, semoga diterima dan sukses," ujar Kevin seraya memeluk tubuh Tian. Lalu terbang keluar dari mobil putih Tian yang berhenti di depan gerbang rumah Angga dan segera masuk ke dalam sana.
"Amin." Tian tersenyum manis sambil melambaikan tangannya menatap Kevin yang baru saja masuk ke dalam sangkar. "Terima kasih, Vin. Seharian kamu nemenin aku."
Senang sekali rasanya, seharian dia bisa menghabiskan waktu bersama Kevin. Hal yang sudah lama sekali tidak dia rasakan. Rindunya sudah terobati kepada burung itu.
Tian kembali melajukan mobilnya, berlalu pergi dari rumah Angga.
__ADS_1
*
*
"Dari mana saja kamu, Vin? Udah nggak betah tinggal di rumah Papa, ya?" tanya Angga dengan nada tinggi. Saat kakinya itu sudah terhenti di pos satpam.
Ini waktu yang tepat untuk mengintrogasi Kevin, setelah seharian dia tak pulang.
Tangannya menjulur ke dalam sangkar, lalu memindahkan Kevin ke sangkar burungnya yang dulu. Dipisahkan dengan Janet.
"Saya habis ke rumah Om Hidung Belang, Pa."
"Ngapain ke rumah Tian? Mau tinggal lagi kamu di sana?" Mata Angga melotot tajam. Kevin yang melihatnya langsung menundukkan kepalanya sambil menggeleng cepat.
"Tidak."
"Terus kenapa kamu pergi nggak bilang, sampai menginap lagi. Sengaja kamu?"
"Bukan sengaja. Saya tidak mau menginap sebenarnya, tapi saya kasihan sama Om Tian. Dia sedang setres."
"Ngapain kasihan sama Tian. Kamu 'kan sudah dijual sama dia dan kamu sendiri yang pengen jadi anak Papa."
"Maafkan saya, Pa." Kevin menatap wajah Angga dengan takut-takut. Pria itu kini tengah bersedekap. "Saya janji tidak akan seperti itu lagi."
"Iya." Kevin mengangguk cepat.
"Sekarang Papa ingin bertanya padamu. Tapi kamu harus jawab jujur, karena kalau nggak ... kamu akan Papa usir dari rumah," ucapnya dengan nada sedikit mengancam.
"Apa, Pa?"
"Kamu sama Janet sudah pernah kawin belum?"
Kevin langsung diam. Namun kepalanya menoleh ke kanan dan kiri.
"Cari siapa?" tanya Angga ketus.
"Janet."
"Janet ada di rumah bertelurnya. Mau apa kamu?" Angga melihat Kevin terbang keluar dari sanggar, lalu kembali ke sangkar yang ada Janet di dalamnya.
"Saya mau tinggal di sini saja, tidak mau di sangkar yang itu, jelek." Kevin berbohong, aslinya sekarang dia tak pernah bisa tidur jika tidak satu sangkar dengan Janet.
"Jawab dulu pertanyaan Papa, kamu sudah kawin sama Janet belum?"
__ADS_1
"Sudah," jawab Kevin pelan seraya menundukkan wajahnya. Angga langsung menghela napas dengan lega.
"Kenapa dari kemarin kamu bohong?"
"Bukan saya berbohong, tapi saya malu."
"Ngapain malu, lebay amat. Kakakmu saja nggak tahu malu." Yang Angga maksud adalah Steven. "Terus, pas kapan kalian kawin? Kok Papa nggak tahu?"
"Saat itu Papa tidak ada."
"Ke mana?"
"Mungkin tidur."
Angga menghela napasnya dengan berat."Ya sudah, nggak masalah. Kemarin Janet di bawa ke dokter hewan. Katanya dia bunting, dan sebentar lagi akan bertelur."
Mata Kevin sontak terbelalak. "Saya akan punya anak, Pa?"
"Iya."
"Tapi saya belum siap."
"Kenapa belum siap?"
"Saya masih terlalu muda, Pa."
"Muda apanya? Kamu sudah cukup tua, Vin. Dan malah Papa seneng kamu punya keturunan. Papa kira dulu kamu homo."
"Homo itu apa?"
"Nggak normal. Kamu harus siap dong punya anak, kan kamu yang bikin. Kakak Steven saja sebentar lagi punya anak. Tapi dia kelihatan siap banget."
Kevin diam saja, entah apa yang dia pikirkan. Namun matanya fokus menatap Angga.
"Sekarang, kamu harus ikut urusin Janet. Kalau dia butuh apa-apa kamu turuti. Tapi untuk sementara waktu kamu jangan ajak dia kawin dulu."
"Kenapa?" Kevin menatap sedih, bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Kata Dokter nggak boleh. Nggak baik untuk kesehatan Janet. Bolehnya nanti, kalau telurnya sudah menetas," jelas Angga.
"Kalau cium boleh tidak?"
...Idih si Kevin 🤣 nggak malu apa nanya kayak gitu🙈...
__ADS_1