Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
90. Terlalu manis untuk disakiti


__ADS_3

Steven memencet tombol tengah layar ponsel lalu membuka galeri untuk mencari foto. Setelah itu dia pun memberikan ponselnya ke tangan Angga.



Pria tua itu menatapnya dengan serius dan cukup lama sampai akhirnya keningnya mengerenyit. Merasa heran saja pikirnya. "Serius ini yang namanya, Citra?" tanya Angga yang tampak jelas tak percaya, sebab gadis imut-imut itu adalah Dedek Gemesnya.


Steven mengangguk. "Iya, cantik, kan?"


"Ini mah bukan cantik lagi, Stev. Tapi juga manis dan imut-imut," puji Angga yang mana membuat wajah Steven seketika merona. Tapi aneh, yang dipuji 'kan Citra. Namun mengapa Steven yang tampak senang?


"Kayaknya kamu salah deh, Stev," tambah Angga yang masih menatap layar ponsel tanpa berkedip.


"Salah kenapa?" Kening Steven mengerenyit.


"Dia itu Cicit, alias Dedek Gemes Papa. Kayaknya kamu salah orang atau justru mengaku-ngaku, ya?" Angga menunjuk-nunjuk layar ponsel Steven.


"Apanya sih yang mengaku-ngaku dan salah orang? Itu Citra, katanya 'kan Papa mau lihat fotonya. Ya itu orangnya," jelasnya.


"Bukan! Dia itu Dedek Gemes Papa, Stev!" tegas Angga sambil menggeleng. "Kamu salah orang!"


"Maksud Papa Dedek Gemes Papa itu Citra?" Steven mulai mencerna dengan apa yang Angga maksud.


"Bukan!"


"Kalau bukan kenapa Papa bilang dia Dedek Gemes? Sedangkan itu fotonya Citra?"


"Maksud Papa, ini Cicit. Bukan Citra! Namanya Cicit!" tegas Angga marah. Dia tampak kesal pada Steven yang menyebut nama gadis pujaan hatinya itu dengan nama Citra. Sebab yang dia tahu namanya adalah Cicit.


"Apa mungkin mereka orang yang sama?" tebak Steven. "Apa Papa punya fotonya Dedek Gemes?"

__ADS_1


"Punya lah, tapi kamu nggak boleh iri." Angga mengambil ponselnya di dalam kantong celana bahan, lalu memberikan pada Steven.


"Ngapain aku iri sama kakek ka ... dih, ini mah foto bugilnya Mama!" Steven langsung melemparkan benda pipih itu ke tangan Angga, dia begitu syok saat melihat layar itu adalah sebuah foto mamanya yang tanpa sehelai benang. Angga memang terkadang jahil, istrinya sedang mandi malah diintip dan malah mengabadikan momennya.


"Ini kegeser, Stev." Angga langsung mengusap layarnya ke kiri dan Steven segera memperhatikannya. Benar, foto itu adalah Citra. Foto itu diambil saat mereka berdua tengah makan es krim cone dan mata Steven langsung berfokus pada tangan kiri Angga yang bergelayut manja di atas pundak Citra. Mata Steven seketika merah, dia juga merasakan dua telur yang bergelantung di dalam celananya itu panas. Sepertinya terbakar oleh api, tapi entah api dari mana.


"Mirip 'kan dia, Stev? Papa yakin kamu salah orang," tebak Angga.


Steven menggeleng. "Nggak, ini benar Citra. Tapi kenapa Papa ganjen banget?" Rahang Steven terlihat mengeras, matanya menyorot tajam ke arah Angga.


"Ganjen apanya?"


"Ini maksudnya apa?" Steven menunjuk geram sebuah foto yang mengarah ke tangan Angga yang berada di pundak Citra. "Kenapa Papa sampai merangkul-rangkul dia segala? Ganjen banget, nggak ngaca sama umur!" umpatnya kesal.


"Dih, apa maksudmu? Memang salah orang merangkul? Lagian dia itu habis nangis dan ... Oh ...." Angga melebarkan kedua bola matanya saat sadar jika alasan wajah Citra yang begitu kacau waktu itu bersumber dari Steven. Seketika, emosi di dalam dadanya mendidih. Perlahan salah satu tangan Angga mengepal kuat. Dan tanpa berpikir panjang, dia pun langsung menonjok pipi kiri Steven dengan sekali hentakkan keras.


"Aaww!" Steven terbelalak. Mendapatkan serangan tiba-tiba dan tanpa alasan jelas membuatnya bingung. Apa kesalahannya? pikirnya. "Kenapa Papa menonjokku?!"


"Itu pantas buatmu! Karena kamu telah menyakitinya, Stev!" teriak Angga. Suaranya yang terdengar lantang itu membuat anaknya terperanjat.


"Menyakiti? Apa maksudnya?"


"Kamu membuatnya cemburu dan sakit hati! Apa kamu tahu ... foto ini diambil saat Papa bertemu dengannya. Papa bertemu dia di pinggir jalan tepat di depan pemakaman umum, dia sedang bersama temannya!" Entah mengapa Angga bisa seemosi ini. Rasanya dia tak terima jika anaknya lah yang membuat Citra sedih. Tergambar jelas, jika Angga amat menyayangi gadis itu.


"Temannya? Siapa?" tanya Steven penasaran.


"Papa nggak ingat namanya. Tapi yang jelas kamu di sini salah! Kamu tega padanya, Stev!"


"Iya, aku tahu aku salah. Tapi 'kan dia salah paham sama aku, Pa. Dia mengira aku menyukai Fira, padahal nggak." Steven menggeleng cepat.

__ADS_1


"Dia nggak akan salah paham kalau kamu jujur dari awal kalau kamu sudah punya pacar!" sergah Angga dengan dada yang naik turun. "Harusnya kamu bilang! Dengan begitu Papa nggak akan ngizinin kamu berduaan dengan Fira! Jangankan untuk menyuapi... mengizinkan Fira datang juga nggak akan terjadi! Karena dengan begitu Dedek Gemes nggak akan sedih!" teriak Angga. "Kamu tega sekali padanya, dia terlalu manis untuk disakiti, Stev!" Buliran bening pada kedua mata Angga seketika lolos membasahi pipinya. Dia juga tak mengerti mengapa bisa sesedih ini saat mengetahui Citra adalah Cicit.


Steven terbelalak. Dia tampak kaget melihat respon Angga sampai emosi dan menangis hanya karena tahu hal itu saja. Jika mungkin Steven jujur dan mengatakan segalanya, dia tak tahu akan semarah apa Angga. Bisa jadi bukan hanya marah, tapi murka.


"Maafkan aku, Pa. Aku lupa memberitahu. Aku sadar kalau itu kesalahanku." Steven menggeserkan bokongnya ke arah Angga. Sebab tubuhnya sempat bergeser saat ditonjok. Perlahan dia pun menyentuh punggung tangan papanya.


"Ngapain kamu minta maaf ke Papa? Kamu salahnya sama dia!" ketusnya seraya menepis tangan Steven. Angga pun berdiri dan mengantongi ponselnya. Baru selangkah kakinya bergerak, tetapi dengan cepat Steven mencekal lengannya.


"Aku akan minta maaf sama dia, Pa. Papa jangan marah," pinta Steven dengan wajah memohon. "Kalau memang dia Dedek Gemes, berarti Papa punya nomornya dong? Kasih tahu aku nomornya."


"Papa nggak punya nomornya." Angga menggeleng, dia menghentakkan lengannya hingga cekalan tangan Steven terlepas. Kemudian, kakinya melangkah keluar kamar.


Steven pun berlari mengejar Angga dan tepat di depan pintu ada Sindi, wanita tua itu sejak tadi diam-diam menguping.


"Pa! Katanya Papa mau membantuku?" Steven mengekori Angga yang masuk ke dalam kamarnya sendiri. Yang berada tepat di samping kamar Steven. "Berikan aku nomor Dedek Gemes, Pa."


"Kan Papa sudah bilang kalau Papa nggak punya, Stev!" Angga membuka pintu kamar mandi lalu masuk. Steven juga masuk. Kemudian, dia pun menurunkan celana luar dan dalamnya sampai lutut. Lantas duduk pada kloset yang baru saja dia buka penutupnya.


"Papa pasti berbohong. Fotonya saja punya masa nomornya nggak?"


"Serius. Sana pergi!" Angga mengibaskan tangannya mengusir anaknya sebab dia ingin mengejen. Perutnya sakit ingin buang air besar dan pisang gorengnya sudah diujung tanduk.


"Pergi ke mana? Aku nggak akan pergi sebelum Papa memberikan aku nomornya!" tekan Steven. Dia pun lalu menatap wajah Angga yang tampak merah dan seperti tertekan. Matanya agak melolot dan merah juga. Jangan lupakan giginya, nyengir dan terkunci dengan rapat. "Kenapa dengan muka Papa? Kok seperti ...?"


"Eeeuughhhh!"


...Ini bab kaga jelas banget isinya 🤣 bisa kali Om mintanya entar, si Opa mau berak itu 😂....


...Btw, makasih buat Votenya, Guys 😁🙏...

__ADS_1


__ADS_2