Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
310. Masa pubertas


__ADS_3

Seusai berziarah dimakam Tina, mereka bertiga pun pergi ke pusat perbelanjaan di pusat kota Jakarta. Kemudian masuk ke dalam sana.


Namun sebelum berbelanja, mereka mampir dulu untuk makan siang pada salah satu restoran yang ada di sana.


"Papi, nanti jadikan kita jadi manusia silvernya? Juna maunya pas selesai pesta. Kita ngamen di lampu merah, ya?" pinta Juna sambil mengunyah fried chicken paha ayam di tangannya. Tian langsung memberikan nasi ke mulutnya.


"Kok jadi manusia silver?" tanya Nissa bingung. "Bukannya tadi kamu bilang, kamu kepengen kita pakai kostum Superman, ya?"


"Iya. Tapi Juna mau jadi manusia silver juga sama Papi. Itu kado dia untuk Juna. Iya, kan, Pi?" Juna mendongakkan wajahnya ke arah Tian yang tengah mengunyah. Pria itu mengangguk cepat.


"Nggak apa-apa, Yang. Itu memang permintaannya sekitar seminggu yang lalu. Aku juga sudah mengiyakannya," sahut Tian santai.


"Tapi manusia silver 'kan dicat. Pasti catnya berbahaya. Udah gitu ngamen segala lagi di lampu merah, itu bener-bener nggak ada kerjaan banget. Mau apa coba?" Nissa merengut sambil geleng-geleng kepala. Merasa tak habis pikir dengan permintaan konyol anaknya. Sudah begitu Tian dengan mudahnya menuruti. Nissa terkadang merasa tak enak. Dia selalu merepotkan Tian.


"Kan ada cat khusus untuk tubuh, Yang. Apa itu namanya." Tian terdiam mengingat-ingat. "Yang orang sering pakai itu lho, buat ngegambar wajahnya. Kan banyak sekarang yang make up kayak gitu. Nanti aku sewa jasa khusus buat ngecatnya. Kamu tenang saja." Tian mengelus punggung tangan Nissa sambil tersenyum.


"Aman untuk kulit nggak? Aku takut kamu dan Juna alergi nanti."


"Insya Allah aman. Nanti carinya yang aman aku, Yang."


***


Keesokan harinya.


Acara ulang tahun Juna akhirnya terlaksana di depan halaman rumah Tian. Pria itu menyewa jasa dekorasi dan perlengkapan pesta yang lain.


Di atas meja besar ada bolu besar tingkat empat bergambar Upin Ipin dan kawan-kawan. Ada patung lilin kecil mirip Juna di atas bolu dan angka 7.


Di samping bolu itu ada nasi tumpeng besar yang dikelilingi telur, ayam, ikan lele, tempe, tahu, urap sayur dan lauk pauk yang lain. Aneka buah-buahan juga ada di atas keranjang.


Selain itu, Tian juga tentu menyewa satu prasmanan yang isinya hampir lauk apa pun ada. Beberapa kursi dan meja pun menghiasi pesta itu.


Tepat jam 10 pagi. Beberapa tamu undangan berdatangan. Semuanya hampir teman sekolah Juna. Dari kelas TK B sampai A. Guru-gurunya juga berdatangan. Apalagi anggota keluarga Prasetyo, mereka bahkan pagi-pagi sudah datang.


Dan keluarga burung juga ada. Hanya saja mereka tidak membawa kado.

__ADS_1


"Wow, kamu keren banget pakai baju Superman, Jun!" seru Atta sambil memamerkan dua jempol tangannya ke arah Juna, setelah memberikan sebuah kado besar ke tangan bocah itu.


"Iya dong. Udah gitu Papi dan Mami juga pakai." Juna menoleh ke arah Nissa dan Tian yang tengah menyambut orang tua dari tamu undangan, bersama Angga dan Sindi juga. Akan tetapi, Opa dan Omanya Juna tidak memakai kostum Superman, mereka malah memakai pakaian India. Acha-acha nehi-nehi.


Tian dan Nissa tampak begitu serasi memakai kostum Superman. Hanya saja kostum yang dipakai Nissa berbeda dengan kostum Juna dan Tian. Sebab dia memakai rok dan berlengan pendek. Namun tetap cocok. Cantik dan anggun. "Cocok banget 'kan mereka, Ta? Serasi banget," tambah Juna memuji. Kedua pipinya tampak merona. Hari ini dia betul-betul sangat bahagia. Pesta yang dia idam-idamkan sejak dulu akhirnya terlaksana.


"Iya, cocok banget," balas Atta sambil mengangguk. "Tapi bagian sempaak Papi Tian kayak kesempitan. Lihat deh." Atta menunjuk ke arah yang dimaksud. Nissa tengah menarik sayap dibaju Tian untuk menutupi kantong menyannya yang berwarna merah. Memang terlihat jelas begitu menonjol sekali.


"Nggak sempit sebenarnya. Tapi burung Papiku 'kan memang gede dan panjang. Jadi maklumlah," jawab Juna santai.


"Memangnya kamu pernah lihat burung Papimu?"


"Pernah, bahkan sering," jawab Juna. "Apa-apa aku lakukan bareng-bareng. Dari makan, tidur, berak, kencing dan sebagainya. Pokoknya luar dalam Papi Tian aku sudah tahu." Menepuk dadanya dengan bangga.


"Seperti apa bentuknya? Apa sama seperti kita?" Atta menarik kolor celananya, lalu menatap miliknya sendiri yang tengah tertidur pulas di dalam sana.


"Bentuknya sama. Cuma beda ukuran. Terus ... ada bulunya juga tahu."


"Masa? Di mananya?"


"Di sininya nih!" Tangan Juna masuk ke dalam celana Atta, lalu menyentuh burung mungilnya. Memberitahu dimana letak bulu yang dia maksud.


"Pokoknya disitu, Ta," ujar Juna.


"Kok dia ada bulunya, tapi aku nggak?" tanya Atta heran.


"Aku juga belum ada, Ta," jawab Juna. "Tapi Papi Tian ... kalau udah gede nanti kita juga akan berbulu. Itu namanya masa pubertas."


"Pubertas itu apa?" Kening Atta mengerenyit.


"Ya itu, tumbuh bulu. Nggak ngerti juga aku." Juna tertawa aneh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ah nanti kalau buluku sudah tumbuh ... aku mau langsung dicukur ah, Jun."


"Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Ya kayaknya jelek aja nanti burungku. Masa ada bulunya, geli dong."


"Aku malah rencananya nanti kepengen dipanjangin, Ta."


"Ngapain dipanjangin?"


"Mau dikepang."


"Jun! Selamat ulang tahun!" seru Baim yang berlari melepaskan tangan Papanya. Dia pun menghamburkan pelukan kepada Juna. Tangan kirinya memegang kado bergambar mobil.


"Terima kasih, Im," jawab Juna seraya melepaskan pelukan. Lalu menerima kado yang Baim berikan. Dia meletakkannya di atas meja.


"Sama-sama. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu, pinter. Serta Mami dan Papimu selalu sayang padamu," ucap Baim tulus. Juna dan Atta langsung mengusap wajahnya masing-masing.


"Amin." Juna berucap secara berbarengan dengan Atta. "Tapi do'amu belum lengkap, Im," ujar Juna.


"Kurang? Oh, semoga Papi Abimu yang payah itu berubah jadi sayang kepadamu," ujar Baim. Mungkin menurutnya tentang Abi. Hanya saja do'anya itu tak ada tanggapan amin oleh Juna.


"Bukan." Juna menggelengkan kepalanya. "Tapi aku kepengen punya adik dan menikah dengan Dedek Silvi."


"Silvi itu siapa?" tanya Atta.


"Anaknya Om Dono. Cantik dan manis banget tahu dia, kayak buah apel. Nanti kalian musti lihat kalau ketemu, ya!" Juna menatap ke arah gerbang. Dia juga menunggu kehadiran bayi mungil itu sebelum proses pemotongan kue dan tumpengnya berlangsung. "Dia gemesin banget. Aku suka sama dia."


"Tapi kamu 'kan masih kecil, Jun. Masa menikah?" tanya Atta heran. "Pacaran saja belum, masa sudah menikah? Nanti saja kalau sudah kerja, sudah kepala tiga dan pegang kantor. Baru boleh."


"Iya. Tapi nggak apa-apa kalau berdo'a dulu dari sekarang. Kata Opaku ... kalau banyak yang mendo'akan hal baik tentang kita, itu akan cepat terkabul tahu."


"Ya sudah. Kami do'akan, Jun," ucap Baim lalu membuka kedua telapak tangannya diudara. "Semoga Juna dan Silvi menikah kalau sudah besar ya, Allah. Amin."


"Amin ...." Juna dan Atta menyahut secara berbarengan sambil mengusap wajahnya.


"Oh ya, ngomong-ngomong ... kemarin Mami dan Papimu ke hotel mau apa, Jun?" tanya Baim.


...Indehoy, Im. 🤣 dari kemarin nanya Mulu kamu. penasaran banget, ya? 🤣...

__ADS_1


...Oh ya, ada yang mau masuk grupku nggak? Aku juga bingung sih bikin buat apa 🤣 tapi kalau ada yang mau masuk, masuk aja. Nanti aku konfir semua member. Kalau aku senggang kita bisa ngobrol bareng. cie ilah, kek berasa penting aja kan 🤣...



__ADS_2